
Membosankan!
Arvella benar-benar bosan sekarang, tidak ada yang bisa ia lakukan di Apartement William, pria itu bahkan sudah menyewa jasa Cleaning Service untuk membersihkan Apartement, dan juga tidak memperbolehkannya memasak karena ia sudah membelikan banyak makanan cepat saji yang di simpan di dalam lemari es, yang hanya perlu ia panaskan jika ingin makan.
Tidak ada buku atau novel disini, yang ada hanya tumpukan berkas pekerjaan milik William yang sedang sibuk di tanda tangani oleh pria itu.
Benar-benar menyebalkan!
“William, aku benar-benar bosan!”geramnya.
William benar-benar possessif dan menyebalkan sejak dulu.
“Please, jangan bersikap possessif seperti ini padaku! Kau tahu jika aku tidak suka di perlakukan sangat possessif!”gerutunya.
William menggeleng, membenarkan letak kacamatanya yang hampir jatuh itu, kemudian menghentikan kegiatannya dan menatap Arvella yang benar-benar terlihat sangat kesal.
“Kau tahu betul jika aku begitu menyayangimu Arvella, aku tidak ingin kau kenapa-napa”ujar pria itu.
Arvella menggerakan bibirnya, mengikuti gaya bicara William tanpa suara. Ayolah, dirinya hanya akan keluar membeli makan di minimarket di seberang apartment ini saja, dan pria menyebalkan itu bilang ia tidak ingin dirinya kenapa-napa?
Oh ya tuhan…
“Aku hanya perlu menyebrang jalan untuk membeli makanan yang ku inginkan Will!”ketusnya.
“Justru karena kau hanya menyebrang jalan, aku khawatir bagaimana jika nanti ada mobil yang menabrak dirimu?”
Arvella memutar kedua bola matanya, William benar-benar ingin di cincang ya!
“Aku akan tetap pergi. Bye!”tandas Arvella.
BLAM!
“Benar-benar keras kepala!”ujarnya. Sebelum akhirnya ia segera bergegas menyusul langkah Arvella.
Arvella selalu saja keras kepala seperti biasanya.
Tidakkah Arvella mengerti, jika dirinya sedang sangat khawatir? Mengingat mental Arvella yang masih sangat terguncang karena hal semalam, ia hanya tidak ingin gadis itu bertingkah yang macam-macam seperti mencoba bunuh diri di jalanan, karena selama hidupnya gadis itu selalu meminta kepada tuhan, untuk mengambil nyawanya.
William mulai menyebrang jalan pelan-pelan agar dirinya selamat sampai tempat yang di tuju, ia akhirnya dapat bernapas lega setelah melihat dari luar minimarket jika gadis itu benar berada disana dan sedang sibuk memilah-milah varian jenis ramen.
William tahu dirinya memang terlalu possesif kepada gadis itu, namun apalagi yang bisa ia lakukan? Ia hanya ingin melindungi Arvella dari segala apa pun, termasuk dari seorang Gallen Harisson. Ia tidak ingin melihat gadis itu sakit dan terpuruk lagi. Ia tidak ingin Arvellanya kembali tersakiti lagi…
Ia hanya tidak ingin melihat Arvella lagi-lagi menderita karena pria itu, William tahu—bahkan sangat tahu sebesar apa rasa cinta yang di miliki gadis itu untuk pria bernama Gallen. Yang bahkan sama sekali tidak pantas untuk di cintai oleh gadis sebaik dan selugu Arvella.
William kembali memutar langkahnya kembali ke Appartement, kali ini ia harus percaya kepada gadis itu. Percaya jika gadis itu akan baik-baik saja dan tetap menjadi dirinya yang seperti biasa.
Ya. William percaya pada gadis itu kali ini.
Dan semoga, gadis itu akan baik-baik saja…
🍃🍃🍃🍃🍃
Arvella menghembuskan napas lega, menatap sosok tubuh William yang sedang menyebrang jalan berbalik arah menuju Appartementnya. Arvella tahu, jika sikap possesif William itu karena ia menyayangi dan tidak ingin melihatmya tersakiti dan menangis lagi karena Gallen.
__ADS_1
Arvella tahu, jika pria itu sudah bosan dengan dirinya yang selalu datang ketika ia di sakiti oleh Gallen maupun Audrey, karena dirinya juga sudah sangat lelah dengan itu semua. Lelah untuk mengejar sosok itu, lelah untuk menghadapi Audrey, lelah untuk menangis lagi dan lelah untuk semuanya. Jika saja dirinya sudah tidak waras, mungkin ia sudah menabrakan dirinya di jalanan tadi. Namun sialnya, ia masih waras untuk tidak melakukan hal itu.
Dan dirinya cukup sangat waras, menyadari jika Gallen juga berada di mini market yang sama dengannya. Dan entah kenapa, rasanya Arvella sudah tidak lagi tertarik kepada pria itu. Apalagi pria itu sedang bersama Audrey. Arvella tidak buta, Arvella dapat melihat jika Gallen baru saja turun dari mobil Audrey dan pria itu mengecup kening Audrey sebelum gadis itu meninggalkan mini market ini.
Gadis itu bergegas menuju kasir, setelah sosok Gallen masuk dan sibuk memilah beberapa jenis cemilan.
“Ada lagi yang ingin dit—
“Tidak ada”sergah Arvella
“Baiklah nona, semua---
“Bisakah kau tidak usah banyak bicara?”bentak Arvella. Yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
Oh ya tuhan…
Arvella bergegas merogoh saku celananya, sialan! Jangan bilang jika ia lupa membawa dompetnya?
Ah, benar-benar menyebalkan!
“Masukan saja tagihannya ke dalam tagihan belanjaanku!”ujar seseorang sembari menyodorkan kartu debitnya.
“Kau selalu saja bertingkah memalukan!”bisiknya tepat di telinga Arvella.
Gallen Harisson. Pria itu adalah Gallen Harisson. Sialan! Arvella benar-benar sangat sial sekali. Kenapa tuhan seolah selalu senang membuatnya terlibat dengan pria itu?
Dengan kesal Arvella menatap tajam kepada wanita penjaga kasir yang sedang menertawakan dirinya, kemudian merampas sekantung besar belanjaan miliknya dan bergegas pergi meninggalkan mini market tersebut, namun sialnya, tangan Arvella di tarik hingga membentur dada bidang milik Gallen Harisson yang lagi-lagi membuat jantungnya berdebar dengan tidak beraturan.
“Apa yang kau lakukan?”desis Arvella.
Arvella berdecih, “Kau benar, aku memang sangat senang mempermalukan diriku sendiri. Seperti bersusah payah membuat makanan untukmu, yang berakhir dengan kau mempermalukan ku di depan semua orang di kampus. Kau puas?”ketus Arvella.
Gallen mengangguk pelan, sembari mencebikan bibirnya, mengejek Arvella yang baru saja mengakui kebodohan terbesarnya.
“Lepaskan aku!”sentak Arvella.
“Aku akan melepaskanmu setelah kau membayar imbalan atas apa yang aku lakukan barusan”
“Kalau begitu apa imbalannya?”ketus Arvella, meski jaìuh di dalam lubuk hatinya, ia merasa sangat gugup sekali.
Gallen lantas melepaskan pelukannya, lalu beralih menggenggam lengan Arvella, menautkan jari-jari tangannya ke sela-sela jari Arvella. Menarik Arvella dan memberhentikan taxy.
“Kita mau kemana? Jangan macam-macam Gallen!”ujar Arvella.
Namun Gallen hanya menunjukan senyum sinisnya, yang membuat sekujur tubuh Arvella meremang.
“Masuk!”titah Gallen.
Arvella menggeleng, berhitung di dalam hati untuk mengambil ancang-ancang lari dari Gallen. Namun yang terjadi Gallen mendorong tubuh Arvella dengan paksa hingga akhirnya keduanya sudah sama-sama berada di dalam taxy.
“Harisson Photo’studio!”ujarnya kepada si pengemudi taxy tersebut.
Dan Arvella yakin, setelah ini Gallen akan kembali menyakitinya.
__ADS_1
Dan semua pikirannya barusan itu benar terjadi, Gallen benar-benar mempermalukan dirinya dengan menjadikan Arvella menggantikan tugas tim property. Belum lagi Gallen yang sepertinya sengaja untuk mempermalukannya itu, terus membentak dirinya yang berakhir menjadi tontonan semua orang di studio fotonya. Belum lagi Arvella melihat Audrey yang sedang tertawa mengejek dirinya yang sedang di permalukan oleh Gallen.
Arvella tidak ingin airmatanya tumpah di saat ini, ia tidak ingin terlihat semakin buruk di mata semua orang, terutama Audrey. Ini yang membuat Arvella marah kepada dirinya sendiri, harusnya ia tidak percaya begitu saja kepada Gallen. Seharusnya…
Namun yang terjadi adalah, ia tetap saja bodoh dengan tetap terpesona pada sosok pria yang sudah menyakiti dan melukainya ribuan kali. Arvella memang selalu bodoh! Bodoh dan bodoh!
“Kau ini bisa bekerja atau tidak?”sentak Gallen yang sudah menatap Arvella dengan kedua mata tajamnya.
Arvella berdiri, membanting dan menendang seluruh properti yang berada di hadapannya. Sudah cukup! Dirinya tidak ingin lagi di permalukan seperti ini lagi. Sudah cukup!
Gallen benar-benar terlihat sangat marah, apalagi saat Arvella sengaja melempar sebuah kostum untuk para model ke wajahnya. Bahkan Audrey, Kru, dan para model disana hanya mampu terdiam melihat apa yang telah di lakukan oleh gadis itu. Dengan wajah merah padam, Gallen mencengkram rahang Arvella dengan sangat keras, terlihat dari ekspresi wajah pria itu yang benar-benar sangat marah sekali. Arvella tidak bersuara, ia hanya menatap nyalang kepada kedua mata coklat milik pria itu.
Meski jauh di dalam lubuk hatinya, ia menangis. Ia takut, tapi ia harus menahan semua itu. Ia ingin menunjukkan kepada pria di hadapannya bahwa dirinya bukan lagi Arvella yang lemah dan cengeng.
Masih belum ada yang bersuara, termasuk Gallen dan Arvella. Mereka masih saling menatap, dan Gallen semakin mencengkram rahang Arvella dengan keras. Napas pria itu terdengar sangat memburu, Gallen benar-benar marah dan merasa terhina sekaligus karena perbuatan gadis kuno di hadapannya itu.
“Jika saja kau bukan seorang perempuan, aku mungkin sudah meninju wajahmu!”desisnya, kemudian pria itu melepaskan cengkramannya dari rahang Arvella dengan kasar.
Arvella menatap punggung Gallen dengan tajam, tersenyum sinis kepada sosok yang sudah menjauh itu. Kenapa Gallen tidak menampar atau menyiksanya seperti yang sering ia lakukan di kampus?
Atau pria iti tidak ingin sifat aslinya di ketahui oleh para kru dan modelnya?
Dasar picik!
PLAK!
Arvella tersentak ketika sebuah tamparan mendarat begitu saja di pipi kirinya, yang membuat pipinya semakin bertambah sakit saja. Demi tuhan! Luka dari efek semalam saja masih terasa, dan sekarang seseorang telah menamparnta lagi?
Arvella mendongkak, menatap si pelaku yang baru saja menamparnya, kemudian tersenyum getir. Lagi-lagi Audrey yang melakukannya. Belum puaskah ia menyakiti Arvella? Audrey dan Gallen benar-benar pasangan yang serasi.
Benar-benar sangat serasi…
“Puas kau? Puas telah mempermalukan Gallen huh?”ketus gadis itu.
Arvella tertawa, jenis tawa yang terdengar sangat mengerikan di setip telinga yang mendengarnya.”Kau bertanya apakah aku sudah puas?”ujar gadis itu.
Arvella melangkah, mendekati sosok Audrey yang beringsut mundur menghindari Arvella. Lalu tanpa di duga, Arvella melayangkan tamparan ke wajah Audrey sebanyak tiga kali, hingga gadis itu tidak bisa berkutik sedikitpun. Tidak ada yang mencoba menjauhkan keduanya, karena semua yang berada disana tahu bahwa Arvella benar-benar sangat marah kepada Audrey.
“Maafkan aku Audrey, aku sungguh tidak sengaja menamparmu. Sungguh aku tidak sengaja”ujar Arvella, yang kembali berjalan mendekat ke arah Audrey.
Sedangkan Audrey terus beringsut menjauh dari Arvella, hingga lagi-lagi Audrey merasakan wajahnya kembali di tampar lagi dan lagi.
“ARVELLA CUKUP!”Teriak Gallen yang sudah bergerak memeluk Audrey. Melindungi gadis itu dari Arvella.
“Ikut aku sekarang!”tegas pria itu setelah meminta Assistentnya membawa Audrey ke rumah sakit.
Pria itu menarik tangan Arvella dan menyeretnya dengan kasar, tidak memperdulikan Arvella yang terus berontak meminta pria itu untuk melepaskan tangannya. Gallen menyudutkannya di bagian belakang mobil milik Audrey, kemudian tanpa di duga, pria itu mencium bibirnya dengan kasar. Menahan kedua tangan Arvella dengan sebelah tangannya, seolah tidak memberikan kesempatan untuk gadis itu memberontak.
Arvella menangis, ia benci dengan Gallen dan dirinya sendiri. Ia benci! Sangat-sangat benci.
Arvella menampar wajah Gallen setelah ciuman itu berakhir, tidak memberikan kesempatan pada pria itu untuk bicara, ia melilih berlari meninggalkan tempat itu. Tempat yang akan menjadi daftar tempat yang tidak akan pernah ia kunjungi lagi.
Mulai saat ini, ia membenci Gallen dan semua tentangnya.
__ADS_1
Ia benci Gallen, dan semua yang berhubungan dengan pria itu.
Ia benci….