
Arvella tahu, dirinya akan menjadi sorotan banyak orang setelah pengakuan Ayahnya dua minggu lalu di sebuah acara televisi. Dan selama itu pula dirinya telah lama menghilang, dan hari ini gadis itu memutuskan untuk kembali ke kampus, dan dirinya benar-benar telah jadi sorotan banyak orang.
“Minggir! Minggir! Berikan aku jalan!”
Arvella terkekeh kecil, mendengar suara teriakan bar-bar milik Shavira yang sedang berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya, kemudian gadis itu segera memeluk tubuhnya dengan erat.
“Welcome back Arvella Danniells!”pekik gadis itu. Yang membuat Arvella terkekeh.
“Aku juga merindukanmu”balas Arvella.
Lima tahun berteman dengan Shavira benar-benar membuatnya mengenal gadis itu dengan baik. Dan ia tahu kebiasaan gadis itu ketika merindukannya, gadis itu lebih memilih mengatakan ‘Welcome Back’ ketimbang kata-kata ‘Aku merindukanmu!” dan untungnya Arvella sudah cukup mengerti dengan hal itu.
“Kau harus ikut denganku. Dan bercerita bagaimana rasanya menjadi orang kaya”kekeh Shavira yang juga membuat Arvella terkekeh.
Lalu keduanya berjalan beriringan seperti yang biasa mereka lakukan sejak dulu. Hanya bedanya, kali ini Arvella berjalan dengan kepala yang menatap lurus ke depan, dan tampilan yang berbeda. Arvella tersenyum lebar, dulu setiap kali dirinya melangkah ia akan mendapatkan makian dan cacian dari banyak orang. Namun kali ini yang ia dengar hanyalah pujian-pujian dari mereka semua yang terkagum dengan perubahan dirinya.
Ia benar-benar telah berubah total 180° jadi wajar saja jika sekarang dirinya telah menjadi sorotan banyak orang. Dan lagi pula dirinya sudah mulai terbiasa tampil percaya diri dengan penampilan barunya yang benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya.
“Kali ini, kau yang harus mentraktirku okey?”ujar Shavira. Yang lagi-lagi membuat Arvella terkekeh. Astaga… tanpa gadis itu minta pun, ia akan tetap mentraktir dirinya.
Dasar Shavira!
“Kau bisa memesan semua yang kau inginkan, jika perlu aku akan membeli kantin ini!”ujar Arvella dengan nada sombongnya.
Dan Shavira hanya bisa tertawa keras melihat tingkah sahabatnya itu. Arvella benar-benar telah berubah banyak, nada bicaranya juga sekarang sudah tidak di sertai dengan nada takut, atau malu. Shavira menyukai semua perubahan yang terjadi kepada Arvella setelah selama dua minggu ini gadis itu menghilang.
Dan Ryan Danniells benar-benar pandai dalam hal memilih fashion untuk putrinya. Ryan benar-benar telah berhasil mengubah Arvella menjadi gadis yang lebih cantik dan modis.
“Selamat pagi”ujar Gallen yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Arvella. Lalu kemudian pria itu mengecup pipi kiri Arvella.
“Selamat pagi”balas Arvella dengan wajah yang merona.
Astaga!
Arvella tidak pernah menyangka jika Gallen akan melakukan hal semacam itu di kampus. Arvella semakin tersipu ketika mendengar suara riuh dari semua orang yang menyaksikan adegan barusan.
Ya tuhan… Gallen benar-benar membuatnya malu.
Sedangkan Shavira melotot menyaksikan tingkah kedua manusia di sampingnya, apa-apaan itu barusan? Gallen mencium Arvella, dan Arvella yang nampak tersipu malu karena itu. Hell? Apa yang sebenarnya telah terjadi di antara mereka.
“Jangan menatapku seperti itu!”tukas Gallen, kepada Shavira yang masih memelototi dirinya.
“KALIAN HARUS MENJELASKAN SEMUANYA KEPADAKU!!”teriak Shavira yang membuat Gallen memutarkan kedua bola matanya, dan Arvella yang meringis mendengar teriakan itu.
🍃🍃🍃🍃🍃
“Kami baru saja berpacaran kemarin…”terang Arvella. Setelah mereka bertiga duduk kantin.
“APA?”pekik Shavira.
__ADS_1
“Jangan berteriak bodoh!”ujar Gallen.
“Jadi kau menerima cinta pria ini, begitu saja?”pekik Shavira, yang lagi-lagi membuat mereka kembali menjadi tontonan.
Gallen memukul lengan Shavira yang sedang menunjuk ke arahnya itu dengan keras, yang membuat gadis itu kembali melotot ke arahnya. Sedangkan Arvella hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Shavira barusan.
“Astaga!”tukasnya. “Kau ini sudah gila ya? Harusnya kau---Astaga Arvella!”
“Jangan menghasut Arvella!”ketus Gallen.
Shavira benar-benar pusing sekarang. Ia tidak habis pikir dengan pemikiran sahabatnya itu, kenapa gadis itu mudah sekali memberikan hatinya kepada Gallen yang sudah menyakiti hatinya ribuan kali?
Oh, ya tuhan… kepalanya sudah benar-benar pusing memikirkan itu.
“Aku tahu, aku memang terlalu baik. Namun apa salahya memberinya sebuah kesempatan? Aku yakin Gallen tidak akan pernah menyakitiku”ujar Arvella sembari menggenggam erat jemari Shavira.
“Dan siapa yang bisa menjamin soal itu? Bagaimana jika nanti dia kembali menyakitimu!”kesal Shavira.
Arvella menatap ke arah Gallen sejenak, kemudian kembali menatap wajah Shavira dengan lekat. “Maka aku akan meninggalkannya. Benar-benar hilang dari kehidupannya, dan tidak akan pernah kembali lagi kepadanya”
Bukan hanya Shavira yang terkejut dengan itu, tetapi juga Gallen. Tidak! Gallen tidak akan pernah menginginkan Arvella meninggalkannya dan menghilang dari kehidupannya. Gallen tidak pernah menginginkan itu…
“Aku hanya akan bertahan jika Gallen menyakitiku sebanyak dua kali, jika lebih dari itu---maka jangan harap aku akan memberikan kesempatan kedua untuknya..”
Gallen bersumpah dalam hati, bahwa ia tidak akan pernah menyakiti Arvella sekalipun! Tidak akan pernah. Karena Gallen tidak akan pernah sanggup jika Arvella benar-benar meninggalkannya.
“Kau dengar itu Gallen? Arvella itu sangat baik. Ia bahkan masih memberimu kesempatan setelah kau membuatnya terluka ribuan kali. Jika selanjutnya kau menyakiti Arvella-ku lagi, maka aku juga tidak akan pernah tinggal diam!”
Iya, semoga saja…
🍃🍃🍃🍃🍃
Arvella menghembuskan napas panjang, menatap dedaunan yang tampak bergoyang di atas pohon di terpa angin. Arvella memang sedang duduk dan bersandar di sebuah pohon besar yang berada di samping ruang laboratorium. Menjadi orang populer ternyata tidaklah menyenangkan. Seharian ini dirinya di pusingkan dengan banyak hal. Mulai dari segerombolan gadis-gadis yang mewawancarainya tentang bagaimana perasaannya menjadi putri seorang Danniells, tentang bagaimana ia bisa berubah menjadi lebih cantik dan tentang---hubungannya dan Gallen.
Benar-benar menyebalkan!
“Jangan terlalu di pikirkan sweety!”
“Astaga! Kau mengejutkanku Gallen!”pekik Arvella.
Gallen terkekeh kecil, meminta Arvella menerima kotak makan yang di bawa oleh pria itu. “Iya, itu pemberianmu”. Seolah dapat membaca pemikiran Arvella, Gallen menyahut dan menjelaskan jika itu memanglah kotak makan yang sempat Arvella berikan dulu.
“Bagaimana bi—sa?”
Gallen hanya mengangkat bahunya dengan acuh. “Aku akan menjelaskannya nanti, jika kau sudah selesai menyuapiku”.
Arvella terkekeh, kenapa pria ini mendadak sangat manja kepadanya?
Ya ampun..
__ADS_1
“Ibuku membuatkannya untukku, karena hanya satu, maka kita makan berdua saja bagaimana?”tawar Gallen yang kembali membuat Arvella terkekeh. Sedari kemarin Gallen selalu saja bersikap manja kepadanya, selalu memintanya menyuapkan makanan untuknya, dan tidak ingin jauh darinya.
“Baiklah, sekarang buka mulutmu Baby Boy…”ujar Arvella sembari menyuapkan sesendok penuh makanan yang di buatkan oleh pria itu.
Keduanya makan dengan lahap dengan Arvella yang sangat sabar menyuapi pria itu, rasanya masih tidak percaya jika sekarang pria itu telah menjadi miliknya. Usaha keras memang tidak pernah mengkhianati. Benarkan?
“Kau harus bertemu ibuku nanti. Kau mau?”tanya pria itu yang baru saja selesai menenggak air mineral yang sempat ia beli.
Arvella menggeleng pelan, membuat dahi pria itu berkerut penuh tanya. “Kenapa?”tanya pria itu.
“Aku malu, bagaimana jika ibumu tidak menyukaiku?”sahut gadis itu yang di balas kekehan pelan dari pria di hadapannya.
Gallen mengacak pucuk kepala Arvella dengan gemas. Astaga! Kekasihnya ini benar-benar sangat pemalu sekali.
“Ibuku akan sangat menyukaimu. Ia akan senang karena memiliki calon menantu yang sangat manis”ujar Gallen yang membuat wajah gadis di hadapannya itu tersipu.
“Kau ini!”sahutnya sembari memukul bahu Gallen.
“Aku serius, kau itu sangat manis. Buktinya aku saja sangat tergila-gila kepadamu”goda Gallen.
“Kau menyebalkan!”ujar gadis itu masih dengan kedua pipinya yang merona.
Gallen merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, dia sungguh benar-benar menyayangi gadis yang sedang tersipu di dalam pelukannya itu. Besumpah untuk tidak pernah meninggalkan dan menyakiti Arvella, sekalipun dunia memaksanya untuk berpisah.
Gallen tetap tidak akan pernah meninggalkan Arvella sampai kapanpun.
“Gallen lepaskan! Bagaimana jika ada yang melihat kita?”sahut gadis itu.
Namun Gallen tidak peduli, ia malah semakin erat memeluk tubuh Arvella. Membiarkan semua orang tahu sebesar apa cinta yang ia miliki kepada gadis yang sedang berada di pelukannya. Gallen benar-benar tidak ingin kehilangan Arvella.
“Awwss kenapa kau mencubitku”ringis Gallen setelah dengan refleks melepaskan pelukannya, karena Arvella yang baru saja mencubit pinggangnya. Tidak sakit memang, namun itu cukup membuat Gallen terkejut.
Arvella lantas memukul kembali bahu Gallen dengan kesal. Bagaimana Arvella tidak kesal, pria itu tidak mempedulikan ucapannya. Sedangkan mereka berdua sudah menjadi tontonan sekarang.
“Kau malu eh?”goda Gallen.
Arvella hanya mendengus, kemudian berjalan meninggalkan Gallen yang sudah meneriaki namanya. Astaga. Gallen benar-benar telah banyak membuatnya merasa malu seharian ini. ArveLa memang sejak dulu tidak pernah suka jika dirinya menjadi perhatian banyak orang. Jadi wajar saja jika dengan hal sekecil itu dirinya beraksi sangat berlebihan.
Arvella tahu bagaimana konsekuensi yang akan ia dapatkan setelah semua orang tahu jika dirinya bersanding dengan seorang Gallen Harisson. Menjadi milik Gallen, maka ia harus siap menghadapi semuanya, termasuk Audrey Fanaro. Namun sampai detik ini Arvella tidak melihat sosok gadis itu di manapun. Arvella tahu pasti setelah ini gadis itu akan merencanakan banyak hal buruk kepadanya, termasuk untuk menghabisi nyawanya.
Karena sedari kecil, Audrey memang orang yang rela melakukan apa pun demi mewujudkan apa yang di inginkannya. Dan Arvella sudah terlalu kenyang menjadi pelampiasan kemarahan gadis itu.
“Kau ini benar-benar pemalu ya…”
Arvella benar-benar terkejut hingga dengan refleks memukul lengan pria yang baru saja mengejutkan dirinya.
“Gallen!!”pekiknya. “Kenapa kau selalu mengejutkanku?”kesalnya.
“Dan kau selalu saja kasar padaku!”ujar pria itu dengan wajah yang sama lesalnya dengan Arvella.
__ADS_1
Pria itu benar-benar---harusnya Arvella yang marah dan kesal karena pria itu. Tapi ini? Kenapa malah pria itu yang kesal?
Dasar menyebalkan!