Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps. 10


__ADS_3

Arvella menatap dress yang di belikan Adam kemarin, dress yang sangat indah dan ia yakin sangat pas di tubuhnya. Kemudian menatap meja riasnya, ada kotak make up pemberian Shavira disana, kotak yang tidak pernah ia sentuh selama beberapa bulan itu, sebentar lagi William akan menjemputnya dan membawanya pergi ke tempat yang bisa membuat pikirannya tenang, hari ini Arvella tidak ingin menjadi mahasiswi teladan, untuk itu ia membolos hari ini dan mengajak William untuk pergi berdua dengannya.


Arvella mengganti bathrobenya dengan dress pemberian dari Adam, berputar-putar di hadapan cermin, memastikan bahwa dressnya memang sangat cocok dengannya. Setelah puas bercermin, Arvella menuju ke meja riasnya, membuka kotak berisi aneka makeup, mulai dari moisturizer, foundation hingga softlens ada disana.


Arvella ingat jika ia dan Shavira pernah sama-sama belajar makeup, dan untuk pertama kalinya Arvella memoles wajahnya dengan apa yang ada di kotak makeup tersebut.


Arvella berdecak kagum, kekuatan makeup benar-benar luar biasa. Wajahnya benar-benar terlihat sangat berbeda sekarang. Hanya satu saja yang kurang, ia bingung ingin mewarnai bibirnya dengan lipstik yang mana? Setelah bingung dengan lipstik-lipstiknya itu, Arvella memilih warna bibir saja, untuk mewarnai bibirnya. Arvella dari dulu tidak suka memakai softlens, untuk itu ia akan tetap memakai kacamata saja, menggantinya dengan kacamata pemberian Shavira yang tidak terlihat kuno dan besar seperti yang biasa ia pakai. Ia juga tidak lupa memakai flatshoes pemberian dari Gretta sebagai hadiah ulang tahunnya bulan lalu.


Arvella bukan tipe orang yang menyukai Dress atau semacamnya, tidak suka flat shoes, apalagi High heels seperti yang sering di gunakan Audrey, Arvella lebih menyukai segala jenis sweater rajut atau sweater biasa dan celana jeans panjang, sedangkan untuk sepatunya, ia menyukai jenis sepatu sneakers, dan sepatu sport.


Namun kali ini, Arvella mengesampingkan itu semua. Arvella ingin terlihat berbeda kali ini, tentu saja dengan melakukan hal-hal yang baru di hidupnya. Arvella meraih sling bag miliknya yang berwarba senada dengan warna flatshoes yang ia kenakan. Ia benar-benar siap pergi dengan William.


“Vella! Ada William di bawah!”seru Gretta.


Arvella sekali lagi tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Sebelum akhirnya ia berlarian kecil untuk segera menemui William yang sudah menunggunya.


William tidak berhenti menatap wajah cantik Arvella, sedang sebelah tangannya terus saja menggenggam tangan Arvella.


“William!” sahut Arvella. Namun William tetap tidak bergeming.


“William! Kau mendengarku?”sahut Arvella dengan nada sedikit keras.


“Ya?”ucap William yang baru saja tersadar dari lamunannya.


Sungguh hari ini Arvella terlihat sangat cantik dan mempesona hingga rasanya berat bagi William untuk mengalihkan tatapan matanya dari wajah Arvella.


Adam dan Gretta terkekeh kecil, melihat wajah salah tingkahnya William. Mereka berdua juga sama terpesonanya dengan William. Arvella memang cantik mengenakan apa pun, dan ini jelas pertama kalinya gadis itu memakai Dress dan flatshoes. Belum lagi wajahnya yang terlihat dua puluh kali lipat lebih cantik dengan polesan makeup tipis. Tentusaja membuat semua orang di rumah heran dengan penampilan perdananya Arvella kali ini.


“Maaf tadi aku melamun…”ujar William sembari menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


Ayolah, siapa yang tidak akan terpesona dengan Arvella? Gadis ini telah menjelma menjadi seorang putri yang cantik dan anggun. William tidak yakin bisa menjaga Arvella dari tatapan para pria hidung belang di luaran sana.


“Dady, momy, aku pamit keluar dengan William ya…”ucapnya.


Pasangan Fanaro itu mengangguk, lantas masing-masing memberikan kecupan lembut pada kening Arvella.


“Hati-hati di jalan sayang.”ujar Gretta.


“William, jaga putriku ya”tambah Adam.


William mengangguk dan menyalami punggung tangan pasangan Fanaro dan setelah itu mereka berdua meninggalkan kediaman Fanaro.


Adam menggenggam lengan istrinya kemudian menciumnya. “Arvella benar-benar tumbuh menjadi gadis yang cantik ya sayang…”

__ADS_1


Gretta tersenyum, “Benar, rasanya masih kemarin anak itu menangis karena Audrey merebut boneka barbie miliknya. Rasanya aku tidak rela jika kelak Arvella akan kembali pulang…”keluhnya.


Adam mengerti bagaimana perasaan istrinya, ia juga tidak akan pernah rela jika kelak akhirnya mereka akan berpisah. Cepat atau lambat tidak ada yang tahu. Adam memberikan pelukan untuk istrinya yang sudah mulai terisak sedari tadi.


🍃🍃🍃🍃🍃


Ini untuk pertama kalinya selama William mengenal sosok Arvella, ia baru pertama kali melihat Arvella seperti ini. Gadis itu seolah menunjukan kecantikan dirinya yang sesungguhnya, tidak ada sweater rajut, celana jeans panjang ataupun sepatu sport yang di kenakan gadis itu. Gadis tomboy itu berubah total bak tuan putri. William bahkan sering tidak fokus hanya karena terpesona dengan tampilan Arvella yang benar-benar luar biasa.


“Aku akan membeli beberapa buku atau novel sebentar, kau mau ikut masuk ke dalam?”tanya Arvella.


Baru saja William ingin menyahut untuk setuju ikut masuk menemani Arvella memilih buku, ponsel di saku celananya bergetar menandakan ada panggilan masuk.


“Kau duluan saja, aku akan menyusulmu nanti”sahut William.


Dan dengan cepat Arvella mengangguk dan berlari kecil memasuki toko buku dan meninggalkan William yang sedang sibuk berbicara dengan ponselnya. Kemudian setelah itu, Arvella sibuk memilih buku dan novel di hadapannya.


Arvella memang suka membaca, dan jika kalian memgetahui isi kamarnya, kalian akan menemukan jejeran novel dan buku-buku tebal yang di susun rapi pada lemari kaca ukuran besar. Dan kalian akan mengetahui segila apa gadis itu kepada benda tersebut.


“Arvella?”sahut seseorang.


Arvella menoleh, dan mendapati sosok Shavira yang sedang menatapnya penuh tanya kepada dirinya. Ah, atau mungkin kepada penampilannya.


Arvella terkekeh kecil,”Kau disini? Bersama Bryan?”tanya Arvella.


“Oh astaga Arvella! Ini sungguh kau?”ujar Shavira.


“Ya tuhan, kau cantik sekali dengan dress dan¬---tunggu, siapa yang me-makeup wajahmu?”


Arvella terbahak, well menurutnya Shavira itu terlalu berlebihan memuji dirinya, ayolah Arvella hanya memoleskan makeup tipis di wajahnya dan kenapa Shavira seheboh ini? Dia bahkan ribuan kali lebih cantik darinya.


Dasar lebay!


Sesaat kemudian Arvella merasakan perih di keningnya, Shavira memang baru saja menyentil keningnya dengan keras, kebiasaan gadis itu.


“Dan lihat ini. Kau bolos kuliah hari ini huh?”Ketus Shavira.


See?setelah barusan anak itu memujinya, sekarang ia berubah ketus. Dasar moody-an.


“Kau sendiri kenapa berada disini?”sahut Arvella dengan nada sama ketusnya.


“Dasar bodoh! Hari ini aku tidak ada kelas, dan jangan lupa! Kita beda kelas!”sungut Shavira.


“Shavira, kau disini?”seru William yang baru saja memasuki toko buku.

__ADS_1


Shavira mengangguk, lantas memperhatikan sepasang manusia di hadapannya itu dengan dahi berkerut.


“Jangan berpikiran yang macam-macam!”ketus Arvella. Ia tahu jika Shavira sedang berpikir jika ia dan William sedang pergi berkencan.


“Memangnya aku berpikir apa? Jangan sok tahu!”ketus Shavira, seolah tidak terima dengan pemikiran Arvella. Padahal benar, bahwa Shavira mengira jika sepasang manusia itu sedang berkencan.


“Kalian unik”kekeh William.


“Ah, aku lapar. Bagaimana jika kita makan bersama?”tawar Shavira.


William hanya mengangkat sebelah alisnya, bukankah barusan gadis itu sedang bersikap ketus? Dan kenapa sekarang---


“Shavira memang aneh will…”bisik Arvella. Kemudian William mengangkat bahunya acuh dan merangkul bahu Arvella, menyusul langkah Shavira yang jauh di depan. Dan semua itu tidak lepas dari pandangan seorang Gallen Harisson.


🍃🍃🍃🍃🍃


Demi tuhan, kenapa dari seluruh tempat di muka bumi ini, kenapa Gallen dan Audrey bisa berada di tempat makan yang sama dengan tempat yang Arvella, Shavira dan William tempati? Bahkan tempat duduk mereka hanya terhalang dua meja saja dari meja mereka bertiga. Demi tuhan! Kenapa Arvella harus bertemu kembali dengan Gallen bahkan di mana-mana.


Oh ya tuhan...


Kepala Arvella benar-benar terasa pusing, kenapa? Kenapa ia harus bertemu dengan Gallen yang sedang bermesraan dengan Audrey disini? Dan nampaknya Shavira dan William tidak menyadari hal itu, mengingat posisi duduk mereka yang berlawanan arah dengan kedua manusia itu, berbeda dengannya yang justru menghadap kepada sepasang manusia sok romantis itu.


Shavira yang menyadari keanehan di wajah Arvella, lantas mulai berbisik “Ada apa? Apa ada hal aneh?”tanya Shavira.


William ikut menatap wajah Arvella yang terlihat jelas berubah, “Tidak apa-apa. Aku ingin ke toilet sebentar”jawab Arvella.


Keduanya lantas mengangkat bahunya acuh, membiarkan Arvella pergi menuju toilet. Tanpa curiga sedikitpun.


Gallen yang sedang tertawa bersama Audrey, menoleh sedikit ke meja yang di tempati Arvella, namun ia tidak menemukan sosok itu. Tanpa sadar dirinya mulai celingukan mencari sosok itu di penjuru restorant ini. Namun lagi-lagi ia tidak menemukannya.


“Kau cari apa Honey? Mencari seseorang?”tanya Audrey.


Gallen tidak menjawab, raut wajahnya jelas mulai berubah menjadi dingin dan datar. Dan itu tentu membuat Audrey heran, pasalnya baru beberapa menit lalu mereka tertawa bersama dan sekarang—Gallen kembali pada sifat aslinya. Jauh di dalam lubuk hatinya, Audrey merasa lelah untuk memahami pria di hadapannya ini, karena Gallen benar-benar tidak bisa di tebak. Audrey takut jika Gallen sama sekali tidak mencintainya mengingat selama beberapa minggu mereka berhubungan, Gallen tidak pernah meluangkan waktunya untuk sekedar pergi kencan dengan Audrey.


Tapi apa pun yang terjadi, Audrey tetap tidak akan pernah melepaskan Gallen sampai kapanpun.


Tidak akan pernah.


“Aku ke toilet sebentar”ujar Gallen.


Audrey mengangguk, kemudian menatap kepergian Gallen. Hingga akhirnya sosok itu menghilang dari penglihatannya. Dan sesaat kemudian kedua matanya membesar seketika.


“Shavira?”gumam Audrey.

__ADS_1


__ADS_2