
“Ada apa denganmu hari ini?”tanya Audrey, yang sedang berdiri sembari berkacak pinggang di samping meja kantin yang di tempati arvella.
“Kenapa memangnya?”ketus Arvella. Tanpa berminat melihat orang-orang tidak jelas itu.
Audrey bersama gank-nya itu tertawa mendengar ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Arvella.
“Seriously? Kau bertanya padaku? Kepalamu baik-baik saja kan? Ah, atau kepalamu baru saja terbentur?”ujar Audrey masih dengan wajah angkuhnya.
“Kurasa kepalamu yang terbentur Audrey!”tukas Shavira yang baru saja bergabung ke meja sahabatnya , Arvella.
Audrey berdecak. “Aku tidak sedang berbicara padamu Greyson!”geramnya.
Shavira mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja, dan matanya tetap fokus menatap wajah angkuh Audrey si musuh terbesarnya dan Arvella.
“Kalau begitu kau berbicara dengan siapa?”tanya Shavira. Yang lagi-lagi berhasil membuat Audrey muak.
Audrey memang selalu kalah jika berdebat dengan Shavira, dan mangkanya sebisa mungkin ia menghindari perdebatan dengan Shavira. Karena berdebat dengan Shavira hanya akan mempermalukan dirinya saja.
“Aku berbicara dengan si kuno ini!”geramnya sembari menunjuk wajah Arvella yang sedang memakan makanannya dengan santai.
Arvella memang selalu santai jika menghadapi Audrey, dan membiarkan Audrey lelah sendiri karena terus di abaikan.
“Oh benarkah? Kurasa Arvella-ku tidak sedang berbicara denganmu. Benarkan Arvella?”
__ADS_1
Arvella mengangguk, “Lagi pula aku tidak tahu di mana wujud manusia yang sedari tadi berbicara padaku”ucapnya.
Shavira terkekeh, mengejek Audrey yang benar-benar sudah terlihat kesal setengah mati.
“Audrey ku sayang, kasihan sekali ya dirimu”kekeh Shavira bersama Arvella.
“Awas ya kalian berdua!!”ketus Audrey, sebelum akhirnya Audrey dan komplotannya itu pergi meninggalkan kantin dengan kesal.
Shavira dan Arvella terbahak, puas sudah membuat Audrey kesal seperti itu.
“Kau tidak makan?”tanya Arvella.
Shavira menggeleng, dan mulai sibuk membaca buku tebal di hadapannya yang jelas lebih menarik ketimbang makanan yang sedang Arvella makan.
Sudah seharian penuh ini pikiran Arvella benar-benar kacau, semua karena ulah Gallen kemarin. Arvella memiih pergi ke toilet, membasuh wajahnya yang sudah sangat kusut memikirkan banyak hal hari ini. Jika boleh mengeluh, Arvella lelah menghadapi hidup ini, Arvella lebih memilih untuk tidak di lahirkan ke dunia ini jika hasilnya akan sangat rumit seperti ini.
Namun sayangnya, kehidupan tidak bisa di tentukan oleh manusia.
Selesai membasuh wajahnya, ia kembali menatap cermin di hadapannya sembari membenarkan letak kacamata minusnya. Ia tersenyum miris sekali lagi, harusnya dari dulu ia sudah menyerah memperjuangkan Gallen, harusnya dari dulu ia sadar diri bahwa ia tidak pernah pantas untuk bersanding dengan Gallen.
__ADS_1
Setelah lama merenung, Arvella memilih keluar dari toilet kampus. Namun lagi-lagi tuhan mempermainkannya, dengan membiarkan ia berpapasan dengan pria yang sangat ingin ia hindari selamanya.
“Kau menghindari ku?”tanyanya.
Arvella mengacuhkannya dengan melewati Gallen begitu saja, namun lagi-lagi tuhan mempermainkannya, Gallen menarik tangannya membawanya masuk ke toilet pria. Ia kembali menyudutkan Arvella ke tembok seperti kemarin.
“Kau menghindari ku?”tanyanya sekali lagi.
Arvella bergeming, enggan untuk menjawab ucapan Gallen, bahkan untuk menatap wajahnya pun ia sama sekali tidak mau.
“JAWAB AKU ARVELLA!”bentaknya
“Memangnya kenapa? Harusnya kau senang jika aku berhenti mengejarmu”jawab Arvella yang kini membalas tatapan tajam Gallen kepadanya.
“Aku lebih senang kau menderita di tanganku!”
Arvella terbahak, merasa lucu dengan ucapan pria di hadapannya itu. “Kau pikir aku sudi untuk terlibat lagi ke dalam kehidupanmu?”
“Jangan mengada-ngada Gallen, kau bukan tuhan yang bisa mengatur hidup orang lain sesuka mu”tambahnya, sembari mendorong tubuh Gallen. Dan itu berhasil.
“Kau dengar ini baik-baik Gallen Harisson. Aku menyerah, aku menyerah untuk semuanya. Dan aku ingin kau menjauh dariku!”Ketusnya.
Gallen menggeram, kemudian menghantam tembok di hadapannya dengan tinju miliknya setelah melihat kepergian Arvella. Sialan ! Arvella kini sudah berani membantahnya. Dan berani memintanya menjauh dari kehidupannya. Memangnya siapa dia? Sampai berani memutuskan berhenti mengerjarnya.
__ADS_1
Gallen sudah berjanji untuk tidak pernah melepaskan Arvella sampai kapanpun, ia belum puas untuk membuat gadis itu menderita. Sampai kapanpun Arvella tidak boleh menjauh walau sedikitpun.
Tidak akan pernah.