Arvella Danniells

Arvella Danniells
Eps.24


__ADS_3

“Kau tahu, apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu?”


Arvella menggeleng, membelai rambut hitam milik pria yang berbaring di pangkuannya. Pria itu masih saja senang berbaring di pangkuan Arvella, hanya saja saat ini mereka sedang berada di sebuah taman dan Arvella sedang duduk di rerumputan yang hijau. Mereka membolos kuliah hari ini, menghabiskan seharian penuh mereka dengan berkencan.


Arvella benar-benar sudah seperti gadis SMA yang baru saja di mabuk cinta, rona merah tidak pernah hilang dari wajahnya karena Gallen telah memperlakukan dirinya dengan sangat manis seperti biasanya.


“Kau itu gadis yang manis, gadis yang unik dan sama keras kepalanya sepertiku”ujar Gallen yang di selingi oleh kekehan kecil.


“Dan aku berpikir, mungkin menyenangkan jika memiliki kekasih yang sama-sama keras kepalanya sepertiku!”


Arvella terkekeh, tidak menyangka jika pria yang sedang berbaring di pangkuannya itu. Well…Gallen memang tidak pernah bisa di tebak seperti biasanya, Arvella mengira pria itu akan mengatakan alasan yang manis perihal mengapa pria itu jatuh cinta kepadanya, namun yang terjadi adalah semuanya jelas berbeda dari perkiraannya.


“Kau ini aneh sekali! Astaga…”kekeh Arvella. Dan pria itu juga ikut tertawa akan hal itu. Hal yang sederhana memang, namun bukankah bahagia itu memanglah sederhana?


“Aku serius, saat melihatmu yang pertama kali muncul di pikiranku adalah hal barusan”kekeh Gallen lagi.


Arvella menghelengkan kepalanya, Gallen benar-benar tidak bisa di tebak. “Lalu sekarang? Apa perasaanmu setelah memiliki kekasih yang sama keras kepalanya seperti dirimu?”tanya Arvella.


“Sangat merepotkan. Ternyata memang benar ya, jika ekspetasi tidak seindah realita”keluh Gallen. Yang membuat Arvella lagi-lagi tertawa.


Astaga….


Gallen memang benar-benar telah menjadi sumber kebahagiaan baginya, lihatlah hanya karena semua ucapan sederhana yang di lontarkan oleh pria itu, Arvella sudah sangat bahagia setengah mati.


Memang benar, jika bahagia tidaklah selalu tentang harta, kemewahan dan keromantisan. Arvella benar-benar merasakan hal itu, sama seperti Gallen yang selalu bahagia hanya karena hal-hal yang sangatlah sederhana.


“Kau ingin membeli balon itu?”tanya Gallen kepada sosok anak kecil yang sedang berlarian sembari membawa balon berbentuk kepala beruang yang ukurannya lumayan besar dari tubuhnya sendiri.


“Kenapa kau menawarkanku balon itu? Kenapa tidak menawarkan satu cup ice cream berukuran besar saja kepadaku?”tawar Arvella, yang mendapat gelitikan gemas di pinggangnya.


“Ahahaha Gallen hentikan! Gallen!!”teriaknya.


Oh ya tuhan… Gallen benar-benar pria menyebalkan!


“Ayo!”ajaknya yang sudah berdiri menjulang di hadapan Arvella yang masih terduduk di atas rerumputan hijau.


“Membeli ice cream?”tanya Arvella.


“Membeli balon itu!”tunjuknya kepada penjual balon yang nampak ramai dengan anak-anak kecil yang berebut menginginkan balon tersebut.


“Kau serius?”tanya Arvella dengan tidak percaya.


“Memangnya kapan kekasihmu yang tampan ini berbohong heum?”


Dan Arvella hanya mampu mengikuti langkah pria itu dengan pasrah.

__ADS_1


Dasar Harisson keras kepala!


🍃🍃🍃🍃🍃


Terlalu banyak hal di dunia ini yang sama sekali tidak di mengerti oleh Arvella, termasuk kebohongan yang Gallen lakukan. Beberapa saat yang lalu pria itu pamit dengan alasan memiliki janji yang sangat penting dengan kliennya. Hingga rencana Gallen membawa Arvella ke rumah keluarganya pun terpaksa harus gagal.


Arvella mempercayai Gallen, sangat-sangat mempercayainya. Hingga tidak pernah memiliki prasangka jika pria itu akan membohonginya, namun kenyataannya salah satu informan yang di sewa Ryan untuk memata-matai kehidupan putrinya dan Gallen baru saja membeberkan banyak foto Gallen yang sedang bersama Audrey, Gallen masih mengenakan pakaian yang sama dengan terakhir kali pria itu bersamanya. Lalu matanya memanas melihat sebuah foto dimana Gallen menggendong Audrey di punggungnya dengan Audrey yang tertawa lebar. Semua orang pasti dapat menyimpulkan jika kedua manusia itu sedang berkencan dan sangat menikmati moment tersebut.


Dengan napas yang memburu, Arvella meremas foto tersebut dengan kasar. Emosinya benar-benar sudah memuncak. Arvella tidak pernah suka di bohongi. Apalagi di khianati.


Arvella tidak suka…


Ryan tidak bisa berbuat banyak, dirinya sudah mencoba menenangkan perasaan putrinya berkali-kali namun Arvella selalu menepis semua yang ia lakukan untuk menenangkannya.


“Untuk kali ini biarkan aku yang bertindak ayah!”ujarnya. “Jika setelah ini ia terbukti menyakitiku lagi, kau boleh melakukan apa pun yang kau mau ayah…”tambahnya.


Jika sudah begini, Ryan tidak bisa berbuat apa pun. Meskipun dadanya sudah sesak dengan kelakuan pria yang tidak tahu diri itu, tanganya sudah sangat gatal ingin menghajar pria itu dengan tangannya sendiri. Namun Arvella tidak ingin membiarkannya melakukan itu sekarang.


Ryan bersumpah! Jika sekali lagi Gallen menyakiti putrinya, maka Ryan benar-benar akan membuat kehidupan pria itu benar-benar hancur.


Ryan bersumpah…


“Tolong antarkan aku kesana!”titahnya. Yang di jawab dengan anggukan singkat dari informan sewaan ayahnya.


Setidaknya ia harus memastikan semua kebenarannya…


Ryan tidak mengerti, kenapa setelah semua yang pria itu lakukan kepadanya, putrinya masih saja mencintai pria itu dan menerima cinta pria itu begitu saja?


Ryan tidak pernah mengerti terbuat dari apa hati putrinya itu, putrinya masih saja memberikan Gallen kesempatan walau pria itu sudah jelas menyakitinya. Ryan benar-benar tidak mengerti.


🍃🍃🍃🍃🍃


Arvella kembali menghubungi nomor ponsel Gallen berkali-kali, namun hasilnya nihil. Pria itu tidak menjawabnya sama sekali. Arvella kembali berdecak, mencoba kembali menghubungi nomor ponsel tersebut yang entah untuk ke berapa kalinya, dan semuanya berakhir sama, pria itu sama sekali tidak menjawab teleponnya.


“Kau yakin mereka masih disana?”tanya Arvella.


Sang informan itu mengangguk “Aku baru saja selesai menghubungi pemilik restorant tersebut, dan mereka mengatakan bahwa mereka berdua masih berada disana” sahutnya.


Ya tuhan…


Arvella menyandarkan kepalanya di kursi mobilnya, kenapa Gallen berbohong kepadanya? Kenapa Gallen tidak berterus terang saja kepadanya jika ia akan pergi menemui Audrey?


Dan kenapa Gallen menyakitinya?


“Nona, kita sudah sampai…”

__ADS_1


Arvella memgangguk, mengusap airmatanya yang baru jatuh dan bergegas turun dari dalam mobil dan memastikaan apakah Gallen benar-benar sedang makan malam bersama Audrey. Arvella tidak memperdulikan apa pun, ia terus berjalan masuk memastikan semuanya.


Seketika langkahnya langsung terhenti, ponsel yang ia pegang tanpa sadar telah terjatuh membentur lantai dengan keras. Di sana, di meja nomor 23 Arvella melihat semuanya, melihat Gallen yang sedang memeluk Audrey dengan erat. Dan Arvella dapat melihat jika Audrey tersenyum mengejek ke arahnya, seolah mengatakan jika dirinya belum benar-benar kalah dari Arvella.


Arvella menahan semua amarahnya, gadis itu mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai, kembali menghubungi nomor ponsel pria itu. Arvella dapat melihat jika Gallen melepaskan pelukannya dari Audrey, lalu tak lama panggilan mereka telah tersambung.


“Ya Sweetheart…”sahut pria itu


“Apa pertemuan dengan klienmu masih lama?”tanya Arvella dengan mata yang masih menatap punggung Gallen, sedang lengan pria itu bergerak menyuapi makanan untuk Audrey.


“Iya sweetheart. Apa kau merindukanku?”kekeh pria itu.


Arvella sedikit berdecih, bisa-bisanya di saat seperti ini pria itu malah tertawa tanpa dosa. “Kau tahu? Aku melihat seseorang yang sangat mirip denganmu sedang berkencan dengan seorang gadis di meja nomor 23” terang Arvella masih dengan kedua matanya yang memperhatikan gerak-gerik pria itu.


Arvella dapat melihat jika tubuh pria itu sedikit menegang, Gallen langsung berbalik dan menemukan sosok Arvella yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya bersama Audrey, Gallen gelagapan sendiri, kemudian memutuskan sambungan teleponnya. Gallen memilih menghampiri Arvella yang sedang menatap ke arahnya dengan tatapan kosong dengan ponsel yang masih di tempelkan di telinganya.


Arvella terkekeh, “Jadi Audrey adalah klienmu heh?”


“Arvella aku---


“Ayo kita pulang!”ajak Arvella kepada sang informan yang berada di belakangnya, tanpa membiarkan Gallen berjata sepatahpun.


“Arvella—aku bisa menjelaskannya!”


“Lepaskan aku!”teriak Arvella.


“Arvell----"


PLAK!


Arvella berhasil menampar wajah Gallen dengan keras, hingga keduanya benar-benar telah menjadi pusat perhatian semua orang. Gallen terdiam disana, merasakan sesak di dadanya. Gallen telah menyakiti Arvella satu kali, dan itu artinya tinggal ada satu kesempatan lagi untuk Arvella memaafkannya.


“Ayo pulang!”titah Arvella lagi.


Arvella melangkah sembari menahan sesak di dadanya, ia tidak ingin menangis sekarang, ia tidak boleh menangis di hadapan pria itu. Tidak boleh! Namun sayangnya, airmatanya sudah mengalir begitu saj tanpa di perintah. Pria itu bahkan tidak berusaha mengejar dan menjelaskan semuanya, dan itu artinya semua yang ia lihat barusan memang benar adanya. Gallen diam-diam berkencan dengan Audrey tanpa sepengetahuannya.


Dan tanpa sepengetahuannya, Gallen telah mengkhianatinya…


Arvella menangis dengan keras di dalam mobilnya, tidak perduli dengan sang informan yang sedang mengemudikan mobilnya, ini terlalu sakit baginya, benar-benar terlalu menyakitkan untuknya. Jadi selama ini Gallen masih berhubungan dengan Audrey di belakangnya? Jadi selama ini Gallen diam-diam sering berkencan dengan Audrey?


Benar-benar brengsek!


Arvella pikkr setelah ia dan Gallen bersatu, ia tidak akan lagi menangis dan merasakan sakit hati yang luar biasa. Namun ternyata, semuanya tidak sesuai dengan apa yang di harapkan. Gallen diam-diam masih berhubungan dengan Audrey di belakangnya, ini tidak adil! Pria itu selalu saja posesif terhadapnya, melarangnya berdekatan dengan pria lain, seolah sangat menyayanginya. Namun ternyata, selama ini semuanya hanyalah tipuan. Gallen tidak benar-benar menyayanginya.


**TBC

__ADS_1


Hoho maafkan, baru bisa update 😭**


__ADS_2