
Penyesalan memang selalu datang di akhir, ketika seseorang yang dulu begitu berjuang dan mencintainya telah di miliki oleh orang lain. Gallen menyesal dulu tidak menjadikan Arvella sebagai kekasihnya, Gallen menyesal karena selama ini ia terlalu pengecut untuk mengungkapkan perasaannya. Harusnya ssjak dulu ia dan Arvella telah menjadi sepasang kekasih, bukannya memata-matai gadis itu diam-diam dari kejauhan.
Ia menyesal, sungguh benar-benar menyesal.
Gallen menatap sebuah jam tangan yang berada di dashboard mobilnya, ia ingat jika Arvella begitu sangat tertarik menatap jam itu. Jam pemberian gadis itu yang masih setia menemani kesehariannya. Jika kalian ingat-ingat, Gallen pernah membuang jam tangan itu di hadapan wajah Arvella yang Gallen yakin hati gadis itu semakin tersakiti dan terluka.
Andai kalian tahu, Gallen tidak pernah benar-benar membuang jam tangan itu, diam-diam tanpa sepengetahuan Arvella, pria itu mengetikan sebuah pesan kepada salah satu rekannya untuk mencarikan jam tangan itu di lokasi tersebut. Dan malam itu Gallen mengambil jam tangan itu di rumah rekannya tersebut.
Gallen tidak pernah membuang apa pun yang gadis itu berikan.
Tidak pernah.
Gallen justru menyimpan semuanya dengan rapi di dalam sebuah kotak besar yang ia buat khusus untuk menyimpan semua barang-barang yang gadis itu berikan. Termasuk tempat makan yang selalu ia buang di hadapan para mahasiswa, Gallen diam-diam meminta petugas kebersihan untuk mengumpulkannya dan kemudian pria itu membawanya pulang.
Gallen semakin melajukan mobilnya semakin cepat. Persetan dengan para pengemudi yang protes karena ulahnya. Ia ingin bertemu dengan Arvella dan mengungkapkan semua perasaannya, sebelum Arvella benar-benar telah menjadi milik oranglain. Setelah lama mengemudi, akhirnya mobil Gallen sampai di depan gerbang pintu rumah kediaman Ryan Danniells. Rumah yang benar-benar mewah dan megah, terlihat beberapa bodyguard berbaris dengan rapi di dalam gerbang. Kemudian Gallen melihat salah satu dari bodyguard itu berlari menghampiri mobilnya.
__ADS_1
Gallen menurunkan kaca mobilnya. “Siapa anda?”sahut pria berkepala plontos itu kepadanya.
“Saya Gallen Harisson, bisakah saya bertemu dengan Arvella?”tanya Gallen.
Pria itu nampak mengambil ponsel di saku jasnya, lalu tak lama pria itu menempelkan ponsel ke telinganya. “Maaf sebelumnya nona, ada seseorang yang mencari anda, pria itu bernama Gallen Harisson”sahutnya kepada ponsel yang sepertinya terhubung dengan Arvella.
“Baiklah nona!”lantas pria itu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya lagi. Lalu pria itu menatap Gallen dengan tegas.
“Maaf, nona bilang ia tidak mengenali anda. Dan meminta saya untuk mengusir anda dari sini”
Pria itu menerobos masuk ke dalam meski si kepala plontos itu sudah melarangnya. “BIARKAN AKU MASUK SIALAN! AKU INGIN BERTEMU DENGAN ARVELLA!”Teriaknya.
BUGH!
Pria berkepala plontos itu terpaksa berlaku kasar kepada Gallen, mengingat pria itu terus saja keras kepala ingin menerobos masuk. Gallen berdecih, sembari mengusap wajahnya yang baru saja terkena pukul itu. Lantas pria itu memberikan satu pukulan lagi kepada pria berkepala plontos itu, yang membuat selurih bodyguard lainnya bergerak meringkus dirinya, dan menghajar dirinya yang terus saja melawan.
__ADS_1
Arvella menyaksikan semuanya, menyaksikan kegigihan pria yang kini tengah bergulat dengan beberapa bodyguard yang di sewa oleh ayahnya, wajah pria itu sudah sangat babak belur. Ada banyak memar dimana-mana. “Jadi siapa pria yang sedang berkelahi dengan mereka?”itu suara Ryan.
Arvella menoleh ke belakang, mendapati ayahnya yang sedang berdiri di sampinya yang sama-sama sedang menatap Gallen yang sedang berkelahi dari jendela kamarnya. “Bukan siapa-siapa ayah…”dustanya.
Ryan tersenyum kecil, “Ayah tahu semuanya nak, termasuk.pria yang sedang berkelahi itu. Apa kau ingin ayah membunuhnya?”ujar Ryan yang membuat sekujur tubuh Arvella meremang, Arvella memang membenci Gallen, tapi ia tetap tidak akan permah mau jika ayahnya membunuh pria itu.
“Ayah! Itu terlalu berlebihan!”sahut Arvella
“Jadi kau ingin ayah melakukan apa?”tawar Ryan, sembari menatap putrinya yang kembali fokus menonton perkelahian itu.
“Aku ingin ia menderita dengan perlahan-lahan…”ujar Arvella.
Masih dengan menatap Arvella, Ryan menghembuskan napas panjang, kemudian menyentuh bahu putrinya. “Kau tidak ingin memberikannya kesempatan lagi?”ujar Ryan.
Arvella menatap sang ayah, “Entahlah, tapi aku ingin melihat sejauh mana perjuangannya untukku”
__ADS_1
Ryan mengangguk pelan, bagaimanapun semua keputusan berada di tangan putrinya. Mengingat Arvella adalah pihak yang sering tersakiti oleh pria itu.