
“Kurang Ajar kau!”
Plak
Suara tamparan menggema di sebuah ruangan yang temaram, kamar Arvella mendadak hening ketika tamparan itu melayang ke wajahnya.
“KAU BELUM PUAS RUPANYA UNTUK MEREBUT GALLEN DARIKU?! DASAR JALANG! BENAR-BENAR JALANG KAU ARVELLA!!” teriak Audrey.
Arvella disana, terisak pelan di hadapan Audrey yang juga meneteskan airmata. Sedang matanya terus menatap nyalang ke arahnya, Audrey bukan hanya menamparnya sekali, namun dua kali. Setelah gadis itu puas menjambaki rambut panjang Arvella.
“HARUSNYA KAU PUAS! KARENA KAU SUDAH MEREBUT KASIH SAYANG ORANG TUAKU ARVELLA. DAN SEKARANG KAU BERTINDAK LAYAKNYA SEORANG JALANG UNTUK MENGGODA DAN MEREBUT KEKASIHKU! KENAPA KAU SELALU MEREBUT APA YANG KU MILIKI!!”
“KENAPA?”
“Audrey dengarkan aku dulu. Itu semua tidak seperti—
“TIDAK SEPERTI APA? TIDAK SEPERTI APA YANG KU LIHAT BEGITU? IYA?!”sela Audrey dengan suara teriakan yang benar-benar sangat keras.
Tubuh Arvella terasa remuk ketika Audrey mendorong tubuhnya dengan kasar hingga jatuh ke lantai. Arvella menggelengkan kepalanya, tidak! Ia tidak menggoda Gallen sama sekali, Gallen yang menciumnya. Dan itu sama sekali bukan karena ia yang menggodanya, demi tuhan Arvella tidak sepicik itu. Ia juga tidak tahu jika ternyata Gallen mengikuti dan menunggunya di depan toilet, ia juga tidak menyangka jika Gallen menciumnya begitu saja disana. Dan mungkin Audrey melihat itu semua lalu berpikir Arvella yang mencium Gallen lebih dulu.
“Dengar ini jalang! Aku bersumpah akan membuat hidup mu tidak akan pernah selama---
“Audrey, Audrey. Ku mohon tolong dengar dulu penjelasanku. Aku sama sekal---
“DIAM!”Teriak Audrey. Arvella memejamkan matanya ketika lengan Audrey meraih sebuah vas bunga dan bergerak untuk melemparkannya.
__ADS_1
Namun hingga beberapa menit kemudian, terdengar bunyi sesuatu terjatuh dan pecah itu. Hingga kemudian ia membuka kedua matanya dan dirinya menemukan Gallen Harisson yang sedang memeluk tubuh Audrey dengan erat.
“Tolong jangan lakukan hal itu lagi, kekasihku bukanlah orang yang jahat. Aku tidak ingin kau mengotori kedua tanganmu untuk menyakiti gadis kuno itu.” ucapnya sembari mengecup lembut pucuk kepala Audrey yang menangis di pelukan Gallen.
Demi tuhan!
Lebih baik Audrey memukul kepalanya dengan vas bunga itu, ketimbang melihat drama di hadapannya yang jelas-jelas rasanya teramat sakit daripada di lempar oleh vas bunga yang barusan di pegang Audrey. Arvella menggelengkan kepalanya, tanpa sadar isakannya semakin keras. Ia tidak pernah bisa mengerti dengan jalan pikiran Gallen sama sekali.
Arvella benar-benar tidak mengerti.
“Lepaskan aku Gallen!”teriak Audrey, sembari terus memberontak, mencoba lepas dari pelukan yang Gallen berikan.
“Cukup Audrey! Cukup!”balas Gallen dengan sama sengitnya.
“Tapi Gallen, dia mencoba untuk merebutmu dariku…”sahut Audrey, namun dengan nada yang sedikit melunak.
Arvella benar-benar merasa ribuan pisau kembali menusuk-nusuk hatinya, di remas dengan kuat hingga hancur lebur tak bersisa, Arvella merasa benar-benar bodoh. Harusnya ia tahu jika Gallen memang teramat mencintai Audrey, dan semua ciuman yang telah terjadi di antara mereka berdua bukanlah apa-apa bagi Gallen.
Semua itu hanya akting. Iya, semuanya hanyalah sebuah akting.
Dan Gallen memerankannya dengan sangat sempurna.
🍃🍃🍃🍃🍃
Dengan tergesa-gesa Arvella berlari menuruni anak tangga, menghampiri suara deru mesin mobil yang berhenti depan rumahnya. Kemudian membuka pintu dan berlari memeluk sosok yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan erat.
__ADS_1
“Arvella…”gumam William, yang merasa heran dengan apa yang terjadi dengan gadis di pelukannya ini.
Beberapa menit yang lalu, gadis ini sempat menelponnya untuk menjemputnya dengan suara serak yang di iringi dengan isakan-isakan kecil. Yang tentu saja membuat William panik dan segera bergegas pergi ke kediaman keluarga Fanaro.
Arvella memang cenderung lebih dekat dengan William ketimbang Shavira. Karena William bukan tipe orang yang gegabah jika mengenai masalah Gallen, seperti Shavira. Untuk itu Arvella lebih terbuka kepada William. Meski posesif, William tidak pernah bertindak gegabah kepada siapa pun yang menyakiti Arvella. Dan itu membuat Arvella bangga kepada sosok pria di hadapannya.
William jelas marah, mengetahui Gallen berkali-kali telah menyakiti Arvella. Namun ia bisa apa? Menghajar Gallen pun rasaanya percuma. Karena semuanya tidak akan pernah perubah. William mengepalkan kedua tangannya, melihat mobil merah terparkir di halaman rumah keluarga Fanaro. Ia tahu menangisnya Arvella pasti ada kaitannya dengan pria itu.
“William bawa aku pergi william. Aku—aku---
“Kenapa kau tidak pernah setuju jika aku membunuh pria sialan itu?”geramnya. William sudah muak dengan semuanya, bukan kepada Arvella, tapi kepada pria bernama Gallen Harisson. Jika bukan karena Arvella melarangnya, mungkin sejak dulu William sudah membuat studio photo milik Gallen bangkrut atau hancur, dan mungkin menjadikan seorang Gallen sebagai gembel yang kehilangan segalanya.
“Kapan kau akan menyudahi ini semua Arvella?”
Arvella kembali terisak dengan keras di dada William, dan William membalas pelukan Arvella dengan sama eratnya, memberikan kekuatan pada gadis rapuh itu. Bahwa ia tidak sendirian di dunia ini.
William benar-benar menaruh dendam kesumat kepada Gallen dan juga Audrey, William yakin gadis bernama Audrey itu pasti telah melakukan kekerasan pada Arvella, mengingat Adam dan Gretta tidak berada di rumah. Karena saat ini mereka sedang pergi berlibur. Dan tentu saja Audrey memanfaatkan situasi ini. Suatu hari nanti, William bersumpah akan membuat keduanya menderita meski nanti Arvella tidak akan menyukainya, lagi pula William melakukannya demi kebaikan Arvella.
“Sementara ini kau akan tinggal di apartementku dulu, sampai perasaanmu membaik”ujar William sembari mengeratkan pelukannya pada tubuh Arvella, sembari tersenyum penuh kemenangan.
Ia akan membuat Arvella terus bergantungan kepadanya.
Dan mungkin, tidak akan pernah melepaskan Arvella. Terutama untuk Gallen Harisson.
Tidak akan pernah!
__ADS_1
“Ayo pulang!”ajak William.
Arvella mengangguk, dan segera masuk ke dalam mobil William. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya, bersiap-siap untuk di marahi semalaman oleh sosok pria di sampingnya