
Awal dari Semuanya
" Kartika, lo malam ini mau jalan bareng gue?" tanya Ismaya penuh harap. Cewek di depannya mengalihkan pandangan dari Hpnya ke arah Ismaya. Senyum yang tadi tersungging saat melihat Hp lenyap.
"Nggak. Gue ada janji sama kak Mark," jawabnya. Lalu berdiri. "Gue mau ke teman-teman gue sekarang. Mereka udah nunggu."
Setelahnya Kartika pergi. Meninggalkan Ismaya di kantin sekolah yang hanya bisa menatap punggung cewek itu menjauh. Cowok itu menghela nafas. Sudah dua bulan dia pacaran dengan Kartika, tapi selama ini, dia tak pernah jalan berdua. Miris
...***...
Ismaya. Bukan seorang cewek. Cuma namanya yang mirip cewek. Tapi dia seorang cowok. Tulen. Nama lengkapnya Ismaya Putra Diwangga. Cowok pintar yang sekolah di SMA Makuta Rama lewat jalur beasiswa. Cowok yang sedikit pendiam, dengan ketampanan wajah sedikit di atas rata-rata. Meski tidak setampan Zayn Malik, tapi dia lebih tampan dari Selena Gomez (Ya jelaslah, selena kan cewek).
Dan cowok ini tengah berjalan di koridor SMA Makuta Rama yang ramai.
"Ismaya!"
Ismaya menoleh saat seorang cewek memanggilnya. Ismaya tersenyum lalu cewek itu mendekat ke arahnya.
"Kenapa, Sin?" tanya Ismaya pada cewek yang sudah berdiri di depannya, Sinta.
"Gue nggak faham materi SPLTV Lo bisa ajarin gue kan?" tanya Sinta. Keduanya berjalan beriringan ke kelas XI IPA 1, kelas mereka. Kelas yang tidak berisik karena manusia penghuninya yang ambisius. Mereka lebih memilih belajar dari pada banyak bicara.
Ismaya terdiam sebentar. "Mmm.. Oke lah. Kapan?" tanya cowok itu.
"Sekarang aja gimana?" tanya Sinta saat sudah sampai kelas. Ismaya mengangguk. Cowok itu meletakkan tas di mejanya lalu menuju meja Sinta. Sinta sudah menunggu dengan buku terbuka di depannya.
"Yang mana?" tanya Ismaya yang baru saja duduk. Sinta menunjuk sebuah judul.
"Yang subtitusi, gue belum faham," ujar Sinta.
Ismaya mengangguk lalu mulai menjelaskan cara-caranya. Dia menjelaskan dengan mahir, sampai Sinta tersenyum saat mengamatinya.
"Nah ini hasilnya lo jumlahin sama salah satu persamaan...," ucapan Ismaya terhenti saat mendapati Sinta tengah tersenyum menatapnya.
"Sinta! Woy! Sin!" Ismaya melambaikan tangannya di depan wajah Sinta. Membuat cewek itu sadar.
"Malah senyum-senyum sendiri," komentar Ismaya.
"Habisnya lo ganteng sih," ujar Sinta terang-terangan. Ismaya terdiam canggung. Pulpen di tangannya langsung tergeletak ke atas buku.
"Sori, gimana tadi?" Sinta mencoba mencairkan suasana.
Tepat saat itu Ismaya melihat Kartika, pacarnya yang sekarang, masuk kelas. Ismaya menatap Kartika yang duduk di barisan depan. Di sebelah tempat duduknya lebih tepatnya. Cewek itu terlihat sibuk sekali.
"Ismaya," Sinta menepuk punggung cowok itu. Ismaya menoleh.
"Kenapa?" tanya Ismaya yang masih sesekali melirik Kartika yang bahkan tidak menyapanya. Bahkan sekedar menatap lsmaya saja tidak.
"Kartika marah ya?" tanya Sinta yang menyadari tatapan Ismaya. Ismaya tersenyum lalu menggeleng.
"Nggak. Lanjutin aja," kata Ismaya lalu mulai mengajari Sinta. Sesekali dia melirik Kartika. Berharap cewek itu cemburu atau apa. Tapi Kartika terlalu sibuk menatap Hpnya. Ismaya menghela nafas.
Bel masuk berbunyi.
"Udah faham?" tanya Ismaya. Sinta mengangguk.
__ADS_1
"Makasih, Is. Oh ya. Ini, buat lo," Sinta menyodorkan sebuah kotak makan berwarna biru muda. Ismaya ragu ragu menerimanya.
"Makasih," ucapnya kaku. Lalu kembali ke tempat duduknya. Menyimpan kotak pemberian Sinta di laci meja.
"Hai, Kartika," sapa Ismaya pada Kartika. Cewek itu melirik sebentar.
"Hai," jawab Kartika cuek. Lalu fokus pada Hpnya lagi. Ismaya menghela nafas, lalu merebut Hp dari Kartika dan menyimpannya di saku kemeja seragamnya.
"Gue yang simpan. Guru udah masuk," ucapnya sebelum Kartika membuka mulut. Ismaya fokus pada guru. Meski tahu jika Kartika tengah marah padanya. Ismaya melirik Kartika yang tengah menatap guru di depan dengan cemberut.
Maafin gue, Kartika. Batin Ismaya.
...****************...
Ismaya menutup buku catatannya. Lalu menoleh ke arah Kartika yang masih fokus menyalin pelajaran dari papan tulis. Ismaya mengambil hp Kartika lalu berpindah duduk di samping cewek itu. Kartika hanya melirik sinis sekilas.
"Kartika," panggil Ismaya. Kartika tetap fokus menulis. Ismaya menghela nafas.
"Kartika," panggilnya lagi sambil menyentuh pundak Kartika. Kartika mengeliat menjatuhkan tangan Ismaya dari pundaknya.
"Kartika," panggil Ismaya sekali lagi.
"Apa sih?" ketus Kartika. Cewek itu menatap tajam Ismaya. Ismaya menyodorkan Hpnya. Kartika menyambarnya cepat. Lalu fokus menulis kembali.
"Maafin gue ya," ucap Ismaya. Tapi Kartika tak memperdulikannya.
"Plis, Ka, kalau lo nggak maafin gue, gue bakal sedih setahun. " Ismaya merengut pura-pura sedih.
"Apaan, sih? alay tau nggak?" Kartika mencubit perut Ismaya.
"Ih... Ismaya! jijik, ih!" Kartika mendorong pelan bahu Ismaya. Membuat Ismaya terkekeh pelan. Jika sudah seperti ini, Kartika sudah tidak marah padanya. Ismaya duduk di bangkunya. Lalu menumpu kepalanya dengan satu tangan. Mengamati Kartika yang tengah melihat hpnya.
"Lo cantik banget sih, hari ini," ucap Ismaya jujur. Dan langsung mendapat pelototan tajam dari Kartika.
"Ih, Geli gue, lo modusin gitu!" ucap Kartika. "Siapa yang ngajarin lo gombal?"
Ismaya hanya tertawa kecil. Lalu menatap Kartika tepat di mata. Membuat Kartika segera memalingkan wajah.
"Beneran, kok, lo cantik banget," Ismaya terus menatap Kartika.
"Emang gue cantik dari sononya kali," ujar Kartika lalu menatap Hpnya lagi. Ismaya baru mengingat sesuatu. Cowok itu meraba laci mejanya lalu mengambil tempat makan dari Sinta tadi pagi. Membawanya ke meja kartika. Cowok itu membuka tempat makan itu. Isinya beberapa potong sandwich dengan selai coklat.
"Nih, Sandwich coklat. Kesukaan lo kan?" tanya Ismaya. Tapi Kartika malah sibuk dengan Hpnya.
"Kartika," panggil Ismaya. Barulah Kartika menoleh. Wajahnya tampak sangat berseri.
"Lo mau sandwich coklat?" tanya Ismaya.
"Gue suka. Tapi gue harus ke kantin. Kak Mark ajakin gue makan," tutur Kartika. Cewek itu bahkan pergi tanpa susah-susah mengucapkan sesuatu pada Ismaya. Cowok itu hanya bisa menghela nafas.
Rupanya Mark lebih penting dari Ismaya, ya?
...****************...
"Sumpah, ini enak banget. Lo bikin sendiri, Is?" tanya Candra yang tengah memakan sandwich coklat pemberian Sinta.
__ADS_1
"Dari Sinta," jawab Ismaya pendek. Cowok itu menatap ke sisi lain kantin. Di sana, Kartika dan seorang cowok tengah makan bersama dan sesekali tertawa. Darah Ismaya mendidih melihat itu. Tapi dia bisa apa? toh Kartika tidak menganggapnya seperti pacar.
"Cobain deh, Ru. Enak banget nggak bohong. Ini pasti dibuat dengan penuh cinta," Candra menawarkan pada Aru yang menatap Candra ngeri.
"Lo ngomongnya bikin gue pingin muntah," komentar Aru.
"Lah, lo nggak percaya," Candra menatap serius Aru. "Semua yang dibuat dengan cinta itu, hasilnya pasti beda. Ya, kan, Is?"
Candra menatap Ismaya yang sepertinya tidak mendengarkannya. Cowok itu malah sibuk menatap sesuatu.
"Ismaya," panggil Candra. Ismaya menoleh. "Gimana?"
Candra menatap Ismaya curiga. Lalu menoleh ke arah pandangan Ismaya tadi. Raut wajahnya segera berubah datar.
"Putusin aja, sih, Is!" kesal Candra. Ismaya mengernyit. Aru menatap Candra bingung.
"Cewek kaya gitu nggak pantas buat lo pertahanin," ucap Candra. Aru mengedarkan pandangannya. Dia langsung faham pada apa yang dimaksud Candra.
"Nggak, Ra," Ismaya menatap Candra serius.
"Ck, lo, tuh, goblok apa gimana?" kesal Candra. Aru hanya diam menyimak. Dia tak mau ikut memanas-manasi suasana.
"Gue akan pertahanin dia," kukuh Ismaya.
"Cewek bukan cuma dia, Ismaya," sentak Candra terlalu keras. Cowok itu sudah kepalang emosi. Marah karena temannya terlalu bodoh mencintai Kartika dan Kartika yang terlalu tolol karena Menyia-nyiakan cowok seperti Ismaya.
"Apapun yang terjadi. Gue akan pertahanin dia," balas Ismaya tak kalah keras. Bahkan cowok itu berdiri dari tempat duduknya. Ari kalang kabut. Masalahnya orang-orang di kantin sekarang menatap meja mereka ingin tahu.
"Harusnya lo mikir, cewek kaya dia_"
"Terserah!" potong Ismaya sambil meninggalkan Kantin. Menyisakan Candra yang marah dan Aru yang mencoba menenangkannya. Keduanya tak mencoba mengejar Ismaya.
"Udah, Ra. Harusnya lo nggak ngomong itu ke dia," Aru menenangkan Candra yang masih emosi.
"Gue ngelakuin itu juga buat kebaikan dia, Ru," Candra menaikan volume suaranya. Membuat seisi kantin makin penasaran padanya.
"Jangan kencengen suara lo," Aru membekap mulut Candra. Candra meronta.
"Tangan lo bau, Aru!" Candra mengusap-usap mulutnya. Gimana nggak? Aru habis makan pakai sambal terasi.
"Ya , maaf,"
Di sisi lain kantin, Kartika yang melihat kejadian tadi langsung terpaku. Dia jadi kehilangan selera makan.
"Kartika," panggil Mark. Kartika mendongak, dan kakak kelasnya itu tengah menatap khawatir.
"Lo nggak papa?" tanya Mark.
"Nggak papa kok, Kak," jawab Kartika sambil tersenyum. Mark mengangguk lalu mulai memakan makanannya kembali.
Sementara di pikiran Kartika terngiang perkataan Ismaya tadi.
Apapun yang terjadi. Gue akan pertahanin dia.
Apa, sih, yang ada di pikiran Ismaya?
__ADS_1
...****************...