
Liburan telah usai dan hari ini merupakan hari kembali lagi ke sekolah. Ismaya bangun pagi sekali. Sholat lalu mandi. Dia selesai mandi saat Gaby masih bergelung manis di balik selimut. Dia tidur dengan nyaman di atas kursi. Membuat Ismaya merasa bersalah kalau seperti ini keadaannya. Dia kan sudah menyuruh Gaby tidur di mana pun selain kamarnya dan kamar nenek.
Dengan handuk yang melilit setengah tubuhnya, Ismaya membangunkan Gaby. Cewek itu langsung terbangun saat Ismaya menyentuh lengannya.
"HUAAAAA..... NGAPAIN LO, ANJING?" teriak Gaby saking kagetnya dengan kondisi Ismaya. Dia juga melempari Ismaya dengan bantal. Membuat cowok itu berdecak kesal. Ismaya meraih tangan Gaby yang memegang bantal. Lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Gaby.
"Diam atau gue apa-apain lo," bisik Ismaya.
Gaby langsung melempar bantal ke wajah Ismaya. Membuatnya terjengkang ke belakang. Ismaya memejamkan mata saat merasakan benturan cukup kuat di bokongnya. Gaby berdiri dari kursi lalu menatap Ismaya tajam sebelum masuk ke kamar mandi.
Ismaya meringis. Gaby kejam sekali. Tidak lagi dia menganggu cewek itu. Bisa mati Ismaya. Cowok itu masuk ke kamarnya. Memakai seragamnya yang masih bersih. Dia bercermin di kaca lemari saat memakai dasi. Setelah selesai, dia mengamati pantulan dirinya di cermin. Sebenarnya Ismaya ini ganteng. Kulitnya sawo matang bersih. Eksotis malah. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi tidak pesek. Bibirnya penuh. Alisnya yang menantang langit meski tidak dibentuk dengan pensil alis. Dan yang paling menarik, iris matanya yang gelap. Orang yang menatap dalam matanya pasti akan tersihir.
"Ismaya, gue nggak bawa handuk,"
Hingga teriakan Gaby merusak acara memuji diri sendirinya Ismaya. Ismaya mengambil handuk Gaby yang memang dicantolkan di balik pintu kamarnya. Cowok itu menuju kamar mandi. Mengetuk pintunya dan pintu itu terbuka sedikit. Menampakkan wajah gaby yang tubuhnya disembunyikan di balik pintu. Gaby menatap tajam Ismaya sementara cowok itu menyeringai dan menaik turunkan alisnya.
"Mesum!" Desis Gaby lalu membanting pintu kamar mandi. Ismaya terkekeh pelan dengan kelakuan Gaby.
Ismaya menyeduh teh. Teh itu menenangkan. Ismaya belum sepenuhnya lupa pada nenek. Tapi, bukankah dia tidak boleh terpuruk? Ismaya mencoba ceria menjalani kehidupannya yang sudah tak bersisa. Dia sudah tidak punya hal berharga lagi. Jadi, dia hanya bisa berusaha.
"Mau makan apa?" Tanya Gaby yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingnya. Cewek itu sudah siap dengan seragamnya.
Ismaya tersadar. Seberapa lama dia melamun? Sampai Gaby sudah siap.
"Gue nggak lapar," tolak Ismaya. Gaby berdecak. Dan tanpa ba bi bu, Gaby memasak nasi goreng untuk sarapan pagi. Ismaya membawa tehnya menuju ruang tamu. Duduk di sana dan membuka kembali catatannya. Membaca ulang meski fokusnya tidak sepenuhnya pada pelajaran.
Beberapa menit Gaby sudah kembali dengan dua piring nasi goreng. Cewek itu duduk di samping Ismaya. Lalu menyerahkan satu piring untuk cowok itu. Ismaya ingin menolak. Tapi melihat tatapan Gaby, mau tidak mau Ismaya akhirnya meraih makanannya.
__ADS_1
Ismaya memasukkan sesuap nasi buatan Gaby. Merasakannya. Enak. Ismaya menyendok kembali nasi gorengnya. Memakannya hingga habis. Tanpa sadar Gaby memperhatikannya. Apalagi saat Ismaya minum. Leher cowok itu terlihat jelas apalagi jakunnya yang naik-turun saat menelan minumannya. Satu hal yang paling menarik dari cowok itu. Gaby menggeleng pelan. Mencoba menghalau pikiran kotor itu. Bersama Ismaya membuat pikirannya seperti ini.
"Lo mau tinggal di sini sampai kapan?" Tanya Ismaya. Cowok itu segera sadar akan ucapannya. "Bukannya gue nggak suka lo di sini. Cuma nggak enak sama_"
"Gue mau pulang nanti. Udah disuruh sama kakak gue," potong Gaby lalu melanjutkan makannya yang tinggal sedikit. Ismaya mengangguk pelan.
"Padahal gue suka kalau lo tinggal di sini. Ada yang masakin. Apa kita nikah aja, ya, By?" Usul Ismaya. Segera saja Gaby menonjok pundak cowok itu. Enak sekali berbicara seperti itu.
"Mulut lo mau gue amplas?" Sinis Gaby. Ismaya meringis kecil.
"Gue mau berangkat," ucap Gaby yang sudah selesai makan. Cewek itu membereskan piringnya dan Ismaya. Lalu keluar dengan menenteng tasnya. Keluar rumah tanpa memperdulikan Ismaya yang tengah memasukkan bukunya ke dalam tas.
Ismaya mengangkat bahu dengan kelakuan Gaby. Cewek itu memang aneh. Ismaya keluar rumah dengan menenteng sepatu. Memakainya di teras bersama Gaby. Cewek itu diam saja. Bahkan Ismaya sudah selesai memakai sepatu, Gaby belum selesai. Ismaya menuju motornya yang diparkir bersebelahan dengan motor Gaby. Cowok itu memakai helm dan menaiki motornya saat Gaby baru saja datang. Gaby menaiki motornya dan mengernyit. Cewek itu turun kembali lalu melihat ban motornya. Dahinya mengernyit.
"Bangsat!" Desisnya.
***
Motor Ismaya berhenti di parkiran sekolah. Gaby langsung turun lalu mengulurkan helm dengan ekspresi siap membunuh Ismaya. Ismaya. Ismaya hanya terkekeh. Tadi, waktu di perjalanan, Ismaya sengaja menaikkan kecepatan motor. Membuat Gaby refleks memeluk cowok itu.
"Tungguin gue," Ismaya turun dari motornya dan mengejar Gaby yang sudah melangkah menjauh. Ismaya menjajari langkah Gaby. Berjalan beriringan di koridor. Membuat para siswa memperhatikan mereka. Selama ini, Gaby dikenal dengan cewek mengerikan. Cewek dingin dan pintar dari kelas dua belas. Tapi sekarang cewek itu berjalan bersama Ismaya. Anak kelas sebelas IPA 1 yang kemarin menjadi topik trendi karena mantan pacarnya.
Sungguh keajaiban.
"Ngapain, sih, lo ngikutin gue?" Kesal Gaby.
Ismaya pura-pura tidak mendengar. Ismaya bahkan melewati kelasnya. Keduanya berjalan sampai kelas Gaby berada dan berhenti saat sampai kelas Gaby.
__ADS_1
"Belajar yang pinter, ya, By," Ismaya mengusap kepala Gaby. Membuat bukan hanya Gaby yang syok. Tapi juga para siswa yang melihatnya. Juga seorang cowok yang tengah menatapnya kesal dari kelas XII IPS 1. Ismaya melirik cowok itu, Mark.
"Nanti siang gue jemput ke kantin," Ismaya pergi setelah mengatakan hal itu. Cowok itu tersenyum sepanjang koridor menuju kelasnya. Membuat orang yang berada di koridor heran sendiri.
"Pagi, semua," sapa Ismaya saat masuk kelas. Pandangannya berkeliling dan matanya menemukan Kartika duduk di kursinya. Menatap Ismaya dalam. Ismaya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Lo kaya senang banget, Is. Kenapa?" Tanya Adrian, teman kelas cowoknya.
"Kaya nggak tau aja, berangkat sama ceweknya, juga," timpal Radith, teman kelasnya yang lain.
"Lo sama Gaby beneran? Sumpah, hebat lo, Is,'' puji Alfian.
Ismaya hanya tersenyum. Lalu menuju mejanya yang berarti harus melewati Kartika. Ismaya tidak menatap cewek itu sama sekali. Padahal Kartika terlihat akan mengatakan sesuatu padanya.
"Isma_"
"Revi, gue pinjam bolpoin dong," Ismaya menoleh ke sebelahnya saat Kartika akan memanggilnya.
"Buat apa?" Tanya Revi.
"Gue nggak bawa," Ismaya nyengir.
"Ini. Balikin, ya!" Ancam revi. Ismaya hanya tertawa.
Sementara Kartika hanya menatap Ismaya penuh kekecewaan. Padahal Kartika tau, Ismaya membawa bolpoin di saku kemeja seragamnya. Cowok itu hanya menghindarinya.
...****************...
__ADS_1