
Sudah satu minggu ujian berlangsung. Dan hari ini adalah hari terakhir ujian. Ismaya tengah menunggui Kartika mengerjakan soal senibudaya. Menghafal adalah bakat Kartika, jadi soal seperti ini mudah bagi Kartika. Buktinya, Ismaya menjadi orang kedua yang mengumpulkan lembar jawab-setelah Kartika tentunya. Ismaya keluar kelas. Tapi, disana sudah tidak ada Kartika. Kemana cewek itu? Bukankah hari ini mereka akan pulang bersama?
Ismaya berjalan pelan menyusuri koridor. Masih agak sepi karena banyak yang belum selesai mengerjakan soal.
"Ismaya," panggil Mentari dari ujung koridor. Ismaya mendongak. Membiarkan Mentari menghampirinya.
"Ngomong bentar, yuk. Di perpus," ajak Mentari. Ismaya mengangguk dan mengikuti langkah Mentari ke arah perpustakaan. Mencari tempat di sudut. Lalu duduk berhadap-hadapan. Sejenak hening. Hingga suara Mentari memecah kesunyian.
"Kayaknya lo udah baik-baik aja sama Tika," itu bukan pertanyaan. Itu pernyataan. "Seminggu lebih, gue perhatiin, lo kayaknya udah sedekat itu sama Tika."
Ismaya diam saja. Dia sebenarnya jadi ingat masalah di kafe Docca tempo hari. Kapan itu keempat bespren poreper ini-Kartika, Ratih,Mentari, dan Hana-bertengkar. Sejak hari itu, Ismaya rasa mereka belum berdamai.
"Ya, gitu," jawab Ismaya. "Kalian sama Kartika... Belum baikan?" Tanya cowok itu hati-hati.
Mentari menghela nafas berat. Cewek itu menatap Ismaya serius. "Gue nggak mau yang kaya ginian di pertemanan kami. Cuma, Tika tuh, seolah-olah nganggep kita nggak ada," cerita Mentari. "Dia orangnya egois-nggak, gue ngerasa ada sesuatu yang bikin Kartika jadi gitu," Mentari menghentikan kalimatnya. "Dan gue rasa hal itu ada hubungannya sama lo."
Alis Ismaya bertautan. "Gue? Kenapa sama gue?"
Sungguh, pernyataan Mentari di luar nalar. Kenapa nyangkutinnya ke Ismaya. Ismaya kan tidak tahu-menahu hubungan pertemanan cewek. Yang dia tau, kalau cowok itu suka tonjok-tonjokan. Suka peluk-pelukan juga-ini terjadi pada Candra yang kalau bebas dari Ratih atau jalan bareng Aya. Yang pasti, kalau masalah cewek-cewek itu ada sangkut pautnya sama Ismaya, jelas sekali salah alamat. Dia juga tidak mau dijadikan kambing hitam.
"Coba lo pikir deh, sama lo aja baikan. Sedangkan lo tau, dari dulu Tika nggak suka sama lo. Dan sama kita yang notabenya bareng terus, dia malah ngejauh. Coba lo cari titik terangnya," jelas Mentari.
Ismaya terdiam di tempatnya. Ucapan Mentari sangat ngena. Apalagi di kata 'dari dulu nggak suka lo'. Jadi selama ini Kartika menganggap Ismaya apa? Mengingat sikap Kartika seminggu ini pada Ismaya, cowok itu menyangkal pendapat Mentari. Ismaya yakin sekali jika Kartika mulai menyukainya. Ismaya yakin.
"Udah?" Tanya Ismaya datar.
Mentari mengernyit mendengar nada dari pertanyaan Ismaya.
"Kalau udah, gue mau pergi,"
Karena Mentari hanya menatapnya, Ismaya pergi meninggalkan Mentari. Membuat cewek itu merasakan marah dan kesal.
***
Hingga jam istirahat berakhir Ismaya tak menemukan Kartika samasekali. Dia kembali ke kelas dan di sana, kartika tengah duduk di bangkunya. Ismaya menghela nafas. Lalu duduk di bangkunya sendiri. Dia tidak bisa bertanya langsung pada Kartika karena setelahnya guru pengawas masuk.
Ismaya memilih menundanya. Jadi di pelajaran terakhir, materi pendidikan jasmani, Ismaya memastikan dirinya jadi orang yang pertama keluar dari kelas. Cowok itu menunggu. Satu persatu keluar dari kelas. Ada yang menyapa Ismaya dan tersenyum. Ada yang sekedar lewat tanpa basa-basi. Ada yang meliriknya lalu berbisik bisik pada temannya. Ada juga yang mendelik seolah-olah Ismaya punya salah padanya. Meski begitu, belum terlihat sosok Kartika sekalipun. Ismaya berkali-kali mengintip ke kelas. Dan Kartika dengan wajah seriusnya belum ada tanda-tanda selesai.
"Lo nunggu apa sih?" Tanya Sinta yang entah kapan sudah berdiri di depan Ismaya. Ismaya menatap Sinta. Cewek itu menyilangkan tangan di depan dada. Matanya menatap tajam Ismaya. Lalu melihat ke dalam lagi. Lalu Sinta lagi.
"Ck. Lo tu bodoh apa goblok sih, Is?" Kesal Sinta. "Lo tahu kan, Tika cewek tolol yang nggak mau hargain perasaan lo. Kedekatan kalian seminggu ini cuma akal-akalan dia aja buat manfaatin lo," serang Sinta. Rupanya dia belum menyerah menganggu hubungan Ismaya dan Kartika. "Ke sekolah dia berangkat bareng Mark. Pulangnya bareng lo lanjut belajar. Hhh, caranya buat dapat peringkat satu murahan banget."
Muka Ismaya merah padam mendengar ucapan-demi ucapan Sinta. Emosinya naik ke ubun-ubun.
"Lo harusnya sadar, ada yang lebih baik dari Tika. Banyak yang suka sama lo. Tapi lo seolah-olah buta, tuli, dan bisu. GOBLOK!" belum cukup Sinta menyerang Ismaya. "Dan lo harusnya tau, Gue suka sama lo!"
__ADS_1
Sinta berderap pergi meninggalkan Ismaya. Bukan hanya Ismaya yang marah. Sinta juga marah. Ketololan Ismaya membuat kesabarannya ada di ujung batasnya. Selama ini Sinta diam. Tapi, melihat Ismaya yang diperlakukan seperti itu, Sinta tak bisa diam saja.
Sementara Ismaya menatap kepergian Sinta dengan amarah. Ingin dia membunuh cewek itu.
"Ismaya," panggil Kartika yang baru saja keluar dari kelasnya.
Ismaya menoleh lalu mencoba tersenyum secerah mungkin. Dan Kartika membalas senyum itu dengan lebar. Ismaya menengok ke arah kelas. Dan kelas itu kosong. Tersisa guru pengawas yang baru saja keluar. Kartika tersenyum dan mengangguk sopan pada guru itu. Guru Itu balas tersenyum dan meninggalkan mereka.
"Pulang yuk!" Ajak Kartika. Ismaya mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan. Dan di ujung koridor, berdiri lima cewek. Kartika berhenti. Begitu juga Ismaya. Hingga salah satu cewek dari gerombolan itu mendekati keduanya.
"Selamat buat Kartika," ucap Mia. Di belakang Mia, anggota The Rose lainnya menatap remeh Kartika. Senyuman miring menghiasi wajah cantik mereka. "Gue doain lo peringkat satu kali ini. Eits, tapi lo jangan berharap. Karena... Yah, lo tahu sendiri siapa yang bakalan menang. Secara... Lo usahanya dengan kecurangan. Kan guys."
Anggota The Rose lainnya bersorak.
Ismaya menghentikan gerakan Kartika yang akan memukul Mia. "Udah. Biarin aja!" Ismaya mencoba menenangkan.
Mia tertawa melihat ekspresi marah Kartika.
"Ups. Ada pangerannya," celetuk Disa.
"Jadi takut, deh," Karina tak mau kalah.
"Ah, nggak asyik. Main lindung-lindungan," Lusi menimpali.
"Bye, orang curang,"
"Bye, Pengecut,"
Tawa ke lima cewek itu berderai mengiringi langkah anggun mereka.
Kartika mengatur nafasnya. Emosinya masih tinggi saat ini. Dan Ismaya malah menyuruhnya sabar. Mengelus pelan bahunya. Kartika menepis tangan Ismaya yang memegangi pundaknya. Mendengus kesal. Cewek itu berderap cepat ke parkiran. Ismaya dengan sabar mengikutinya dari belakang. Jujur, sesuatu dalam diri Ismaya bergejolak. Dia merasa tak nyaman saat banyak orang mengatakan Kartika curang. Seolah-olah, Kartika...
Ismaya segera menggeleng. Mencoba menepis pikiran tersebut. Berusaha meyakinkan dirinya, jika hal-Yang banyak orang katakan-itu tak benar.
***
Malam ini, malam minggu. Ismaya tengah berada di rumah Aru bersama dengan Candra. Satu minggu ini, mereka tidak pernah berkumpul. Ismaya sibuk dengan Kartika. Candra yang di ikuti Ratih kemana-mana. Dan Aru mencoba diam-diam mengejar Sam.
Malam ini, mereka baru bisa berkumpul di kamar Aru. Kamar yang di dominasi warna biru tua dengan paduan putih. Ismaya tengah berbaring di ranjang besar Aru. Menatap langit-langit kamar cowok itu. Candra tengah bermain ps-yang memang disediakan Aru untuk Candra. Aru tidak begitu suka bermain ps. Tapi, Candra yang lumayan kecanduan, menyogok Aru untuk meminjamkan ps milik Maruta. Cewek itu lumayan suka ps. Dan kadang bermain bersama dengan Candra. Sedangkan Aru tengah duduk ongkang-ongkan di sofa yang ada di kamarnya sambil makan keripik. Menyaksikan tv yang menayangkan kartun upin ipin.
"Woi. Lagi pada ngapain?" Tanya Maruta yang tiba-tiba masuk kamar. Aru dan Ismaya hanya menoleh sebentar. Lalu fokus pada kegiatan masing-masing. Merasa tidak diacuhkan, Maruta langsung masuk dan duduk di samping Candra. Candra kaget.
"Astaghfirullah," Candra nyebut. Alim sekali lisannya.
__ADS_1
"Biasa aja kali," ujar Maruta yang sudah mengambil stik ps. "Mabar dong,"
Candra berdecak. Menghentikan permainannya yang sudah kalah karena diganggu Maruta. Lalu mengganti mode mabar. Keduanya bermain. Heboh sendiri. Meneriakan kata-kata yang biasa dikatakan saat main ps. Aru yang kupingnya panas mendengar umpatan Candra dan Maruta berdecak kesal. Kamarnya jadi tidak suci lagi.
"Ngomongnya yang baik-baik bisa nggak?" Kesal Aru. Masalahnya orangtuanya di rumah. Pulang kemarin setelah pergi melakukan kegiatan sosial partai ke desa-desa pelosok di ujung utara negeri. Ketemu harimau sumatera sama orang utan. Atau cosplay jadi tarzan mungkin.
"Nggak," jawab Maruta langsung. Aru berdecak. Lalu menoleh ke arah Ismaya yang masih fokus menatap langit-langit kamar. Seakan-akan Ismaya bisa dapat sebuah anugerah hanya dengan pekerjaannya itu.
"Lo ngapain sih, Is?" Tanya Aru. "Lo lagi ngarep hujan uang?"
"Gue lihat ada masa depan," jawab Ismaya.
Aru mematikan tv lalu menuju kasurnya. Mengikuti apa yang Ismaya lakukan. Tapi dia tak menemukan apapun kecuali warna putih di sana dan sebuah bohlam lampu yang menjadi penerangan kamar.
"Nggak ada," ucap Aru polos.
Tapi Ismaya diam saja. Aru melirik cowok itu. Lalu menatap langit kamar kembali. Dan lagi lagi warna putih dan bohlam lampu yang dia lihat. Tidak ada hujan uang atau anugerah apapun di sana. Aru berdecak. Lalu bangkit duduk. Kakinya sudah menyentuh lantai saat Ismaya tiba-tiba berujar.
"Malam ini, Kartika nggak mau gue ajak jalan," curhat Ismaya akhirnya. Aru s
menoleh ke arah Ismaya. Mengamati cowok itu lekat. "Dia lagi ngapain, ya?" Ismaya menatap menerawang. Seakan-akan bisa melihat Kartika.
"Gue lihat dia sama Mark," celetuk Maruta yang menatap layar monitor.
Ismaya segera duduk. Menatap Maruta dengan pandangan ingin tahu. Begitu juga dengan Aru dan Candra-yang sudah melupakan permainannya.
"Lo lihat Mark sama Kartika di mana?" Tanya Candra mewakili Ismaya. Tapi Maruta fokus menatap monitor tanpa susah-susah menjawab.
"Yak. Yes! Gue menang. Yeeee," Maruta melempar stik ps sembarangan. Menjulurkan lidah kepada Candra yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan tadi.
"Nah. Lo kalah lagi kan. Gue emang keren," Maruta berkacak pinggang. Ekspresinya kaya penyihir jahat baru ngubah pangeran jadi buruk rupa.
Candra berdecak. "Gue nanya, Bocah," tangannya mengetuk pelan kepala Maruta. Membuat Maruta mengaduh meski tidak sakit.
"Idih. Ngapain sih. Gue tau lo dendam karena kalah. Tapi nggak bawa kekerasan juga!" Protes Maruta. Candra semakin kesal. Maruta ini ajaib sekali.
"Maruta kembaran gue yang paling cantik, tadi Candra nanya, lo lihat Mark sama Kartika dimana?" Tanya Aru yang sudah tak sabaran. Punya adik model Maruta adalah sebuah ujian hidup buat manusia waras seperti Aru.
"Tapi gue nggak suka candra pakai kekerasan_"
"Lo lihat dimana?" Kor tiga cowok itu bersamaan. Maruta berjengit kaget.
"IYA, Ya Allah. Gue lihat waktu gue beli sesuatu sama Edgar. Nah, gue papasan sama Mereka. Terus Edgar sama Mark sapa-sapaan. Mark bilang mau nge-date. Puas?" Jelas Maruta setengah tak ikhlas. "Dasar cowok-cowok kepo."
Maruta meninggalkan kamar itu. Tinggal tiga cowok itu yang saling pandang.
__ADS_1
Nge-date?
***