Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Udah. Nggak apa-apa. Jagan nangis."


__ADS_3

Motor berhenti tepat di depan rumah Kartika. Cewek itu segera turun. Berdiri menunggu di samping Ismaya.


"Gue pulang dulu," ucap Ismaya.


"Eh, tunggu," cegah Kartika. Ismaya tidak jadi menjalankan motornya. Menatap ke arah Kartika bingung. "Nanti malam... lo mau jalan-jalan nggak?" Tanya Kartika malu-malu. Cewek itu menunduk, menatap sepatunya. Ismaya diam tak merespon. Padahal dia mati-matian menahan senyumnya. Kartika jadi deg-degan. Bagaimana kalau Ismaya menolak?


Ismaya berdehem. "Oke," jawab Ismaya. Kartika mendongak hanya untuk melihat Ismaya tersenyum menatapnya.


"Ntar gue jemput. Jam delapan," ujar Ismaya. Kartika mengangguk dan membalas senyum Ismaya.


"Bye," Ismaya melambaikan tangan lalu menjalankan motornya. Kartika balas melambai pada cowok itu. Perlahan senyum Kartika surut. Kartika tidak bersalah kan? Memperlakukan Ismaya begini.


***


Ismaya menatap liontin berbentuk bintang di tangannya. Liontin yang tadi dia pungut di lantai rooftop setelah menyuruh Kartika turun terlebih dahulu, waktu mereka baru pacaran. Ismaya menghela nafas. Apakah Kartika membuangnya? Tapi, kalau melihat sikap Kartika tadi siang, Ismaya tidak yakin jika Kartika membuangnya. Lalu kenapa liontin ini tergeletak di lantai rooftop?


Ismaya akan bertanya langsung pada Kartika nanti.


"Nenek," Ismaya membuka pintu kamar neneknya. Nenek yang tengah membaca Al Qur'an menoleh.


"Kenapa?" Tanya nenek sambil menaikkan kaca mata.


"Isma izin pergi malam ini," ucap cowok itu.


Nenek mengernyit. Menutup Al Qur'an yang beliau baca. Lalu mengamati Ismaya dengan lebih cermat. Tawa nenek berderai. Menyadari Ismaya berbeda dari malam minggu biasanya.


Malam minggu sebelumnya, selepas shalat Isya dan membaca Al Quran sebentar, Ismaya akan duduk di kamarnya. Ditemani secangkit teh hangat dan biskuit. Mengenakan kaus pendek dan celana training. Membuka kembali pelajaran minggu sebelumnya. Dan mempelajari pelajaran yang akan datang. Dan malam minggu ini, Ismaya dengan celana levis hitam, kaus putih dibalut jaket kulit hitam, meminta izin pergi pada beliau.


"Cucu nenek sudah besar, ya?" Gurau nenek. Ismaya salting sendiri. "Mau keluar sama siapa?"


"Ee... Mau pergi sama teman Isma, nek," jawab Ismaya gugup. Ismaya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Nenek tertawa kecil. "Iya," nenek megizinkan. Ismaya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


Ismaya akan berbalik pergi saat nenek menyuruhnya tinggal sebentar. "Ini, kamu bawa ini,"


Nenek menyerahkan sejumlah uang pada Ismaya. Ismaya menatap neneknya. Uang sebanyak itu? Sebenarnya nenek mendapat banyak uang dari mana? Nenek hanya bergantung pada uang peninggalan kakek yang mantan pegawai negeri. Jika uangnya dihambur-hamburkan seperti ini, tidaklah bijak.


"Tapi_"


"Udah, Isma. Bawa aja," paksa nenek. Ismaya dengan ragu menerima uang itu.


"Isma pergi dulu, nek." Ismaya mengecup tangan nenek. "Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam. Hati-hati,"


Ismaya segera pergi dengan motor maticnya. Menuju rumah Kartika yang lumayan jauh dari rumahnya. Cowok itu berhenti di depan rumah Kartika. Ismaya akan menelfon Kartika saat pintu gerbang terbuka. Ismaya melihat cewek yang mirip Kartika yang keluar. Cewek kemarin malam.


"Ismaya, ya? Pacar Tika?" Tanya Maya.


Ismaya mengernyitkan dahi. Darimana cewek iti tahu?


"Tika yang ceritain lo ke gue," ujar Maya seakan tau apa yang Ismaya pikirkan. "Oh, ya. Gue Maya. Kakaknya Tika," Maya mengulurkan tangan. Ismaya membalas dan meyebut namanya. Ngomong-ngomong nama mereka hampir mirip. Maya-Ismaya. Berpikir begini membuat Ismaya jadi canggung sendiri.


"Masuk aja. Tika masih dandan," ajak Maya. Ismaya mengangguk. Cowok itu masuk dan melihat rumah Keluarga Kartika yang minimalis tapi mewah. Semua dekorasi sepertinya terlihat mahal. Sangat berbanding terbalik dengan rumah kakek yang kecil dan sederhana. Ismaya menghela nafas. Memangnya dia mampu mengimbangi Kartika? Dinilai dari manapun, Mark jauh lebih pantas bersama Kartika. Ismaya jadi insecure.


"Duduk dulu," Maya mempersilahkan. Ismaya segera duduk di sofs. Sementara Maya pergi ke dalam. Ismaya duduk sendiri sampai Kartika turun dari lantai dua. Dengan gaun merah muda selutut, rambut tergerai seperti biasa, heels dan tas selempang putih kecil, membuat Kartika terlihat lebih cantik malam ini. Di tangannya tersampir jaket putih cantik.


"Udah lama, Is?" Tanya Kartika langsung.

__ADS_1


"Baru aja kok," jawab Ismaya tersenyum simpul.


Tepat saat itu, Maya keluar. Membawa sebuah buku tebal di tangannya. Lengkap dengan kaca mata baca membingkai mata.


"Udah mau berangkat?" Tanya Maya.


Kartika mengangguk. "Kalau gue belum pulang, Kakak tidur aja dulu. Biar gue bawa kunci cadangan," ujar Kartika sambil memakai jaket putihnya. Lalu mengajak Ismaya. Keduanya berjalan keluar rumah.


"Mama papa kamu mana?" Tanya Ismaya saat sudah sampai di depan rumah.


"Luar kota," jawab Kartika pendek.


"Lo nggak apa-apa, kan, pakai motor gini?" Tanya Ismaya. Kartika menatap Ismaya.


"Emang kenapa?" Tanya Kartika.


"Soalnya lo udah cantik banget gitu,"


Kartika tertawa mendengar pujian tidak langsung dari Ismaya. Cowok itu lucu juga. "Ya nggak apa-apa, lah," ujar Kartika.


Ismaya mengulurkan helm pada Kartika lalu memakai helmnya sendiri. Cowok itu melihat Kartika kesulitan memasang pengaman helm. Ismaya mengulurkan tangannya membantu Kartika. Membuat Kartika diam di tempatnya.


"Yuk," ajak Ismaya yang sudah duduk di motornya. Kartika menyusul.


Motor berjalan dengan tujuan kafe Docca.


***


Yang perlu Kartika sesali, dia lupa jika kafe Docca itu punya Wisanggeni, kakak Hana.


Saat itu, setelah memesan makanan dan minuman, Kartika dan Ismaya menikmati hidangan sambil sesekali berbicara. Sekarang, Kartika berbicara panjang kali lebar kali tinggi (jadinya Volume persegi panjang dong?) pada Ismaya. Hal yang baru lagi bagi Ismaya. Selama ini, Kartika selalu bersikap seolah-olah Ismaya benda mati. Dicuekin terus. Dianggap nggak ada.


"Buku gue juga kebakar. Gimana dong?" Kartika cemberut meski tidak menangis seperti tadi siang.


Ismaya menelan makanannya lalu meminum jus jambu yang dia pesan. Ismaya menatap Kartika. Mengamati wajah murung cewek itu. Lalu berdehem pelan.


"Kartika, lo bisa pinjam catatan gue kok. Kita belajar bareng," ujar Ismaya. Kartika mendongak. Menatap Ismaya senang. Lalu sedetik kemudian wajahnya kembali murung.


"Tapi gue nggak yakin bisa peringkat satu. Soalnya lo..." Kartika menggantung ucapannya. Menunduk tak berani menatap Ismaya.


"Gue bakal bantuin lo kok, buat jadi peringkat satu," ujar Ismaya. Kartika kembali menatap Ismaya.


"Caranya?"


"Gue bersedia, kok, relain posisi gue di bawah lo. Gue rela, Kartika,"


Kartika menggigit bibir dalamnya. Memalingkan wajah dari Ismaya. Gelombang rasa itu datang bersamaan. Dia merasa senang. Tapi sesuatu dalam dirinya mengatakan dia salah. Hal ini salah. Tidak benar. Kartika duduk gelisah di kursinya. Dia harus.... Bagaimana?


Kartika di dalam dilema hingga bencana itu datang. Dari pintu kafe yang dibuka, munculah tiga orang cewek yang masuk bersamaan. Salah satu cewek dengan suara toa segera menyapa penunggu kasir di balik konter.


"Bang, mau minum," ujar cewek itu, Hana. Sementara dua orang lainnya-Ratih dan Mentari-sudah duduk di salah satu meja.


"Minta sama Deon," jawab Wisanggeni cuek. Hana mengerucutkan bibir. Sedangkan Kartika kalang kabut sendiri di mejanya. Akhir-akhir ini, Kartika sengaja menjauh. Dan bertemu saat seperti ini, bukanlah hal yang baik. Dia belum siap berkomunikasi dengan tiga temannya lagi.


"Ismaya," panggil kartika. Ismaya menatap Kartika bingung.


"Deon, gue minta cappucino tiga," ujar Hana malas pada Deon, sang Barista. Deon tersenyum sebagai balasan. Sedangkan Hana bersunggut kesal. Dan saat Hana berbalik, matanya menemukan Kartika tengah kalang kabut di mejanya.


"Tika," desis Hana. Ratih dan Tari yang dari tadi memperhatikan Hana, Ikut menoleh ke arah tatapan Hana. Kartika semakin gelisah.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Ismaya. Cowok itu mengernyitkan kening.


Kartika melihat Hana berjalan pelan ke arahnya.


"Ismaya... pulang," bisik Kartika. Tapi terlambat. Hana sudah berdiri di dekatnya. Menatapnya dengan pandangan marah. Di belakangnya Ratih yang menatap dingin Kartika dan Mentari, yang terlihat lebih santai dari keduanya.


"Tika," panggil Hana pelan yang terasa menggaung di telinga Kartika. Tika menunduk tak berani menatap Hana.


"Kalian di sini juga?" Ismaya memecah keheningan. Dia baru sadar ada tiga teman Kartika. Tapi Hana tak memperdulikannya.


"Kita bertiga butuh bicara sama lo," ujar Hana. Kartika mendongak takut. Dia masih diam di tempat, tak bersuara. Menatap Ismaya meminta pertolongan. Tapi Ismaya tidak peka.


"Apa kita harus minta izin dulu sama cowok lo?" Tanya Hana. Ismaya semakin bingung. Apalagi Hana menatapnya tajam.


"Yaudah. Kalau kalian mau bicarain sesuatu. Gue tunggu di sini," ujar Ismaya yang akhirnya faham karena Mentari tersenyum meyakinkan padanya.


"O.. oke," cicit Kartika.


Ketiganya menuju ruang pribadi Wisanggeni setelah Hana meminta izin pada kakaknya. Di ruangan ukuran 5×5 meter itu sunyi. Keramaian Kafe tidak terdengar samp


ai di sini. Kertika berdiri dan menundukkan kepalanya. Sedangkan ketiga temannya menatap penuh intimidasi.


"Selama ini, kenapa lo jauhin kita?" Tanya Hana langsung to the point.


"Gu.. gue nggak jauhin kalian kok," cicit Kartika. Terdengar Ratih mendengus.


"Lalu selama ini, saat kita papasan di koridor, lo selalu berpaling. Seakan kita nggak kenal. Seakan Kami nggak ada. Seakan, kita bukan teman," Ujar Ratih. "Padahal kita udah sahabatan dari SMP, Ka. Dari SMP! Dan lo bersikap seolah olah kami orang asing."


Kartika terdiam. Dia menciut seketika. Tiba-tiba perasaan bersalah dan menyesal menyelimutinya. Kartika tau, teman-temannya sangat menyayanginya. Dan Kartika tidak pandas menerima hal itu dari orang baik seperti Hana, Ratih, dan Mentari. Kartika tokoh jahat dalam cerita yang harusnya di benci. Dan dengan sekuat tenaga dia berkata,


"Kalian nggak tau apa masalah gue. Kalian semua terlalu egois sama perasaan kalian sendiri. Sama masalah-masalah yang kalian miliki. Dan sekarang kalian nyalahin gue!" Air mata Kartika luruh. Suaranya serak. Dadanya nyeri mendengar suaranya berkata begitu.


Tapi Hana, Ratih, dan Mentari malah kaget dengan serangan Kartika.


"Kita nyalahin lo?" Hana mengernyit tak percaya. "Oke, kita mungkin egois. Kita nggak pernah mau tau masalah lo," Hana mencoba mengontrol emosinya. Jika sudah seperti ini, Hana biasanya gampang meledak-ledak. "TAPI KITA NGGAK PERNAH SEKALIPUN NYALAHIN LO!"


Mentari mencoba menenangkan Hana. Membujuknya agar tenang kembali. Sedangkan Kartika tertunduk. Air matanya semakin deras mengalir.


"LO YANG EGOIS, TIKA!" Teriak Hana.


"Hana udah," Mentari mengelus pundak Hana lembut.


"TAPI DIA_"


"Iya. Udah," Mentari terus menenangkan Hana. Hana menatap Kartika yang masih menunduk. Dadanya naik turun karena amarah.


"Hah!" Kesal Hana yang berbalik pergi. Mentari mengikutinya.


Tinggal Ratih dan Kartika disana. Diam ditemani isak Kartika yang masih menunduk dalam.


"Nggak usah nangisin hal yang nggak berguna buat lo," ujar Ratih dingin. "Nggak penting."


Ratih berbalik pergi. Namun di langkah ketiganya dia berhenti. Menatap Kartika dari bahunya. "Lo bilang kita egois kan? Sekarang sampai seterusnya, gue nggak akan anggap lo ada,"


Ratih kembali berjalan. Meninggalkan Kartika yang jatuh terduduk bersama tangisnya. Bukankah ini yang Kartika inginkan? Tapi kenapa Kartika merasa sesak? Kartika benci pada takdirnya! Kartika benci!


"Udah. Nggak apa-apa. Jangan nangis," suara lembut dan pelukan menenangkan dari Ismaya yang kini dia dengar dan rasakan. Kartika membalas pelukan itu, dan kini, aroma harum yang Kartika sukai itu kembali menyapa indra penciumannya. Dan Kartika merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


***

__ADS_1


__ADS_2