
Malam ini, gerimis turun perlahan. Membasahi rumah-rumah dan pohon-pohon di pinggir jalan. Dari sebuah jendela, Kartika mengamati mobil yang lewat di jalan raya. Mengebut karena jalanan tengah sepi. Cewek itu mendongak ke langit yang dipenuhi awan hitam. Lalu menghela nafas.
"Lo kenapa, sih, Ka? Kangen sama Ismail?" tanya Ratih, sahabat baik Kartika. Saat ini Kartika tengah bermain ke rumah Ratih. Dia begitu resah karena Ismaya. Dan dia mau menceritakan hal ini pada Ratih. Kartika duduk di ranjang di samping Ratih yang tengah berbaring di kasurnya. Memainkan Hpnya. Mungkin sedang ber-chating ria dengan banyak pacarnya?
"Ismaya, Ra. Bukan Ismail, " koreksi Kartika.
"Gue maunya Ismail, " Ratih berbaring terlentang di kasurnya.
"Gue nggak tau harus gimana sama Ismaya," ungkap Kartika. Ratih membulatkan matanya.
"Ismail ngapain lo? Selingkuh dari lo? Wah, bener-bener ni anak, mesti gue hajar habis habisan," kesal Ratih. Membuat Kartika merasa lebih gundah. Bukan Ismaya, tapi dia yang selingkuh.
"Nggak. Ismaya baik, kok, ke gue. Cuma, gue nggak tau gimana ngadepin sikap baiknya itu," terang Kartika tak enak hati.
Jujur Kartika tak menyukai Ismaya. Dia menyukai Mark Alexander, kakak kelasnya yang super ganteng dan jago basket itu. Yang sudah sejak Kartika kelas sepuluh dekat dengannya. Ismaya kalah berat jika harus dia bandingkan dengan Mark. Dua bulan lalu, setelah kenaikan kalas, Kartika yang dengan agresifnya mendekati Ismaya. Hanya untuk main-main. Tapi siapa sangka cowok pendiam dan pintar seperti Ismaya bakal menerimanya? PDKT lalu menembaknya?
Dan selama menjadi pacarnya, Ismaya yang pendiam itu begitu manis saat bersikap di depannya. Kartika tak habis pikir, Mark saja tak pernah bersikap begitu padanya.
"Nggak tau gimana ngadepinnya?" tanya Ratih tak habis pikir sekarang. Cewek di depannya ini gimana sih? Cowoknya baik kok malah bingung.
Sebenarnya Ratih dulu tak setuju saat tau Kartika dan Ismaya pacaran. Dia menentang keras. Alasannya Ismaya itu model cowok nggak peka yang pasti nggak bisa ngurus Kartika dengan baik.
Berbanding terbalik dengan Hana dan Tari-sahabat Kartika dan Ratih yang lain-yang sepertinya setuju jika Kartika berhubungan dengan Ismaya. Mereka bilang Ismaya anak baik yang tanggung jawab. Jadi Kartika pasti baik-baik saja jika bersamanya.
"Ismaya terlalu baik buat gue, Ra," Kartika menekuri seprai bergambar Tayo milik Ratih. Cewek modelan Ratih ternyata suka kartun bis kotak warna biru itu.
"Terlalu baik gimana?" tanya ratih. Kartika berdecak kesal. Ratih ini nggak peka. Padahal Kartika berharap Ratih menjawab 'Ya udah, tinggalin aja' atau 'mendingan lo putus dari Ismaya'. Tapi Ratih tak berucap demikian.
"Tau, ah. Kesel gue ngomong sama lo," ketus Kartika lalu berdiri. "Gue pulang aja,"
"Mau kemana, Ka?" tanya Ratih kalang kabut.
"Pulang. Curhat ke lo nggak ada gunanya," Kartika segera pergi.
"Jangan pulang dulu, Ka," kepala Ratih nongol dari jendela kamarnya saat Kartika sampai di halaman rumah Ratih.
"Nggak. Gue pulang. Bye," teriak Kartika lalu menyetop taksi yang saat itu lewat. Masuk dan pergi. Mengabaikan Ratih yang memanggil-manggil namanya dan melarangnya pulang.
Masa bodo! Kartika tidak peduli!
...****************...
Aru menatap Ismaya lama lalau mengalihkan pandangan pada Candra yang tengah merengut. Keduanya duduk bersisian di sofa ruang depan rumah Candra, tapi saling memunggungi. Sesekali saling lirik sinis.
"Ck, kalian ngapain sih?" tanya Aru kesal saat mendapati Candra duluan melirik Ismaya dan Ismaya melirik sinis sebagai balasannya.
__ADS_1
"Dia yang ngeselin," ucap Candra dan Ismaya bersamaan dengan saling menunjuk.
"Apa lo?" Candra melotot.
"Lo yang apa?" Ismaya balas melotot.
Aru cemberut di tempatnya. Dua temannya ini menyebalkan sekali.
"Lo yang apa," kesal Candra.
"Lo kali," Ismaya tak mau kalah.
"Lo kali,"
"Lo,"
"Lo yang ngapain,"
"Lo yang_"
"Berisik!" kesal Aru. "Kaya bocah tau!"
Candra dan Ismaya diam. Mereka saling melirik.
"Kalian coba mikir," lanjut Aru. Rupanya dia akan mengomel panjang. "Udah pada gede. Kalo makan kalian udah nggak di suapi lagi. Coba kalau ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin!"
"Lo berdua pada punya otak nggak sih? umur kalian udah hampir dua puluh," cerocos Aru "Eh, nggak. Masih agak lama maksud gue," ralat nya. Lalu menggeleng "Aahh... Terserah. Mau dua puluh atau belum, kalian kan udah dikasih otak dan udah disunat. Jadi bisa mikir kan?"
Candra mengangkat tangannya. "Sepupu jauh gue masih bayi dan udah sunat. Tapi belum bisa mikir baik," ujar Candra.
Ismaya giliran mengangkat tangan. "Gue punya tetangga yang belum sunat, tapi udah bisa mikir. Namanya Nenek Sumi,"
Aru mendidih di tempatnya. "Terserah kalian!" Aru keluar ke teras.
Ismaya dan Candra saling bertatapan lalu tawa mereka pecah.
"Aru, jangan pulang dulu!" Candra keluar diikuti Ismaya yang menyusulnya. Mereka mendapati Aru yang tengah berdiri di teras rumah. Memunggungi mereka.
"Jangan marah, dong, ntar mirip cewek," goda Candra.
"Sam sukanya cowok sejati," tambah Ismaya.
"Apaan sih?"
"Jangan ngambek gitu!" bujuk Ismaya. " Ya kan, Ra?"
__ADS_1
"Iya dong," Timpal Candra lalu merangkul Ismaya.
Selama beberapa detik semuanya terdiam. Ismaya dan Candra saling menatap.
"Apaan lo?" Ismaya melepas rangkulan Candra.
"Lo yang apa?" Candra membalik kalimat. Keduanya beradu tatapan, dan terlonjak saat tawa Aru berderai.
"Nggak mau baikan? " tanya Aru. Cowok itu memasang wajah datar.
Candra dan Ismaya bertatapan lagi. Menghela nafas dan tersenyum.
"Maafin gue, Ra. Udah bentak lo," ucap Ismaya.
"Gue yang minta maaf. Nggak seharusnya gue ngomong gitu ke lo," Candra menimpali.
"Nah, gini baru bener," Aru merangkul Ismaya dan Candra.
...****************...
Kartika tersenyum saat Mark mengiriminya pesan singkat. Menanyakan beberapa hal remeh seperti 'udah makan belum?' atau 'udah kerjain pr?' dan hal remeh lainnya. Kartika kemudian membalasnya sesuai dengan yang dia alami. Jika sudah dia akan menjawab sudah dan jika belum dia akan menjawab belum.
Dan malam ini Mark tengah menelponnya. Selepas kekesalan Kartika pada Ratih, Mark menelponnya dan membuat Kartika lupa pada hal itu.
"Gue sayang lo, Kak," bisik Kartika, Cewek itu mendengar tawa Mark berderai di ujung telpon.
"Kok ketawa sih, Kak," rajuk Kartika. Mark menghentikan tawanya.
"Lo lucu, Kartika," ujar Mark "Dan karena itu gue suka lo,"
Pipi Kartika memanas. Meskipun lewat telpon, jantung Kartika berdetak cepat. Cewek itu membenamkan wajah di bantal.
"Ih. Kak Mark," rengek Kartika. Mark tertawa lagi.
"Jangan ketawa, ih," Kartika semakin merengek manja.
"Iya, ini udah nggak ketawa," Mark menahan tawanya tapi langsung meledak.
"Kak.." Kartika berguling di kasurnya.
"Udah nggak ketawa sumpah," ujar Mark "Udah malam, tidur, ya. Night Kartika,"
"Night Kak,"
Kartika tersenyum lebar. Mark benar-benar membuatnya merasa bahagia. Cewek itu berjengit saat hpnya berdering. Dengan cepat dia membaca layarnya. Lalu senyumnya surut. Dia menolak panggilan itu dan menghidupkan mode silent. Menyelimuti seluruh tubuhnya dan segera tertidur. Membiarkan Ismaya mengernyit saat telfonnya tak tersambung hingga sepuluh kali.
__ADS_1
...****************...