
Hari ini tanggal 31 Desember. Nanti malam, Ismaya akan berulang tahun. Gaby berniat mengajak cowok itu jalan-jalan. Meskipun Gaby nyebelin, dia lumayan baik juga. Ismaya juga akan berpura-pura baik pada Gaby. Dia tidak mau Gaby curiga. Tadi pagi, waktu Ismaya membuka lemari kembali, kresek hitam itu sudah menghilang. Jujur Ismaya semakin curiga pada Gaby. Jangan-jangan cewek itu berniat jahat padanya atau pada nenek. Tapi apa untungnya menjahati dia. Sudah miskin, tidak terkenal. Hal ini membuat Ismaya bingung. Makanya Ismaya berniat memata-matai Gaby.
"By, lo kenapa jadi baik gini sama gue? " tanya Ismaya saat mereka berjalan beriringan melewati jalan setapak di wisata danau. Ismaya sadar Gaby melirik nya sinis.
"Gue orang baik-baik. Jadi nggak usah ngatain gue aneh:aneh, " ucap cewek itu sinis.
"Kan yang suka ngata-ngatain gue, lo sendiri, " Ismaya mengangkat bahu.
"Ih, Lo tuh, ya! " kesal Gaby. Ismaya hanya tertawa. Tapi tiba-tiba cowok itu menghadang jalan Gaby. Membuat Gaby menubruk Ismaya. Ismaya malah melingkarkan tangan di pinggang Gaby. Keduanya jadi berpelukan. Saat Gaby melihat sebuah bola menghantam punggung Ismaya, dia jadi tau apa yang Ismaya lakukan untuk melindunginya. Sedetik, pipi Gaby menjadi merah. Tapi dia langsung sadar dan melepas pelukan Ismaya.
"Apaan lo peluk gue? " omel Gaby. Ismaya mengernyitkan kening.
"Pacarnya tadi nolongin mbak, loh, " celetuk sepasang kekasih yang duduk di tepi danau dan melihat kejadian itu.
Seorang bocil mengambil bola lalu meminta maaf dan kembali ke gerombolannya yang sedang melakukan piknik. Orang di gerombolan itu menatap Ismaya dan Gaby. Gaby menatap sekitar. Banyak yang memperhatikan mereka. Gaby jadi malu. Dia terlonjak saat Ismaya tiba-tiba merangkulnya. "Maaf semua. Pacar saya memang rada sensian. Yuk, By, " Ismaya menggeret Gaby pergi. Dan mendapat siulan dari orang-orang. Gaby semakin malu.
"Apaan sih, Is, " Gaby melepas rangkulan saat sudah jauh dari keramaian. Ismaya tidak tau saja, jantungnya berdetak lebih cepat karena cowok itu.
"Kan, sensian. Jangan marah, dong. Gue kan, cuma mau nolongin lo. Kalau kena bola terus pingsan kan, gue yang repot, " Ismaya terkekeh pelan. Gaby cemberut. Ismaya menyebalkan!
"Yuk, jalan, " Ismaya akan menggandeng tangan Gaby. Tapi cewek itu menepis nya. "Jangan pegang-pegang! " pesan Gaby sebelum meninggalkan Ismaya. Ismaya terkekeh pelan menyadari kalau Gaby salting.
...****************...
Setelah berjalan-jalan, kini keduanya mampir di sebuah angkringan yang menyediakan nasi goreng. Ini angkringan kebanggaan Gaby. Jadi karena hari ini semuanya rencana Gaby, Ismaya ikut saja.
__ADS_1
Suasana ramai karena menjelang malam tahun baru. Dimana-mana orang menyalakan kembang api. Jalanan macet. Angkringan juga penuh. Tadi mereka harus menunggu satu jam lebih agar bisa mendapatkan makanan.
"Umur lo berapa, sih, besok?" Tanya Gaby. Ismaya yang sedang menikmati nasi gorengnya menoleh. Cowok itu mengunyah makanannya lalu menelannya.
"Nanti, Gaby, bukan besok," bukanya menjawab Ismaya malah komentar.
"Iya, nanti," Gaby melihat jam tangannya. Pukuk 11.49. Sebentar lagi Ismaya akan berulang tahun.
"Tujuh belas tahun," jawab Ismaya. Saat cowok itu menatap Gaby, ekspresi cewek itu seperti kecewa sebentar lalu berubah datar kembali.
"Ada nasi di pipi lo," ujar Ismaya menunjuk pipi Gaby. Gaby tertawa lalu mengusap pipinya. Tapi tidak membersihkan sebutir nasi di pipinya.
"Bukan itu," tangan Ismaya beranjak mengusap sebutir nasi di pipi Gaby. Gaby terlalu syok dengan perlakuan Ismaya. Cewek itu terdiam di tempatnya. Bahkan sesendok nasi yang baru ia angkat, ia jatuhkan kembali.
"Coba rambut lo dikucir kayak biasanya. Pasti cantik," ujar Ismaya yang malah membuat Gaby salting.
Gaby berdiri dari duduknya. "Gue mau ke toilet sebentar ," pamit Gaby. Cewek itu menghilang di antara kerumunan orang-orang. Ismaya tersenyum. Gaby kalau lagi salting sangat lucu. Ismaya melanjutkan makannya kembali. Dia tidak sadar jika ada seseorang yang duduk di sebelahnya.
"Bro," panggil orang itu. Ismaya mendongak saat orang itu melepas kepala hodienya. Seorang cowok tampan tengah manatapnya.
"Lo seneng banget hari ini sama Gaby," ujar cowok itu. Ismaya mengernyit. Siapa orang ini? Kanapa tau nama Gaby?
Cowok itu terkekeh menyadari kebingungan Ismaya.
"Gaby emang cantik. Tapi lo harus waspada sama dia. Cewe itu kaya belut. Licin, " cowok itu menatap Ismaya. Lalu menepuk pundak Ismaya sebelum berdiri dan pergi dari sana. Ismaya terus memperhatikan cowok itu yang memakai tutup hodienya lagi. Cowok itu juga berpapasan dengan Gaby yang tidak sadar sama sekali. Cowok itu kemudian menghilang di kerumunan orang-orang.
__ADS_1
"Ismaya, ngapain bengong, " tegur Gaby yang sudah duduk di depan Ismaya. Ismaya menatap cewek di depannya dan memikirkan perkataan orang asing tadi.
"Ada orang yang ngomong sesuatu sama lo? " tanya Gaby tepat sasaran.
Ismaya menatap Gaby lalu menggeleng. "Nggak ada. "
Gaby mangangguk.
Lalu suara kembang api yang keras terdengar dari kejauhan. Orang-orang bersorak gembira. Ucapan 'Happy New Year' terdengar samar-samar.
Saat itu, Gaby menatap Iris hitam legam Ismaya yang juga tengah menatapnya. Perlahan, senyuman Gaby terkembang. 'Happy Birthday' mulutnya berucap pelan. Ismaya mengangguk kecil. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Saat itu, bibir Gaby akan terbuka kembali. Tapi suara panggilan masuk di Hp Ismaya menginterupsi keduanya. Ismaya meraih Hp di atas meja. Mengernyit melihat siapa yang menelponnya. Ismaya mengangkatnya.
Mendengar apa yang dikatakan orang di seberang, jantung Ismaya serasa berhenti berdetak seketika. Dia menatap Gaby kosong. Gaby segera berdiri. Mengambil Hp Ismaya dan meminta orang itu mengulangi apa perkataannya. Gaby langsung menarik Ismaya pergi dari tempat itu setelah membayar makanan mereka dan mencari taksi untuk pulang.
...****************...
Dunia Ismaya adalah nenek dan kakek. Nenek dan kakek yang merawatnya dari Ismaya kecil. Saat Ismaya dibuang oleh orang tuanya, Nenek dan Kakek yang menerimanya. Hingga Ismaya seperti sekarang. Ismaya yang sudah besar. Ismaya yang kata orang pintar. Semua karena Nenek dan Kakek. Tapi dunia Ismaya runtuh saat kakek pergi empat tahun lalu. Begitu juga dunia nenek. Ismaya rapuh. Dunianya pergi. Tinggal nenek yang ada untuk Ismaya.
Sekarang, nenek telah pergi. Ismaya tidak memiliki dunianya lagi. Seluruh dunianya direnggut. Kenapa semesta begitu jahat padanya? Kanapa?
Ismaya menatap jasad neneknya yang dibalut kain putih. Suara orang mengaji surat yasin yang memenuhi kepalanya. Sedangkan pandangan Ismaya kosong. Dia begitu tak berdaya kini. Dia hancur. Sehancur-hancurnya.
Ismaya ingin menangis. Tapi air matanya sudah kering kerontang untuk menangisi nasibnya.
Ismaya bahkan tidak menangis saat melihat jasad neneknya dikubur. Saat melihat gundukan tanah itu. Ismaya sudah lelah menangis.
__ADS_1
Kepergian nenek kali ini harusnya menguatkan Ismaya.
...****************...