
Dari nenek di tahun 2013
Untuk Ismaya di tahun 2023
Selamat Ulang Tahun yang ke-17 Ismaya(nenek nulis waktu malam tahun baru, waktu umur kamu 7 tahun. Berarti nenek saat ini berumur 50 tahun. Yah, masih muda lah ini )
Ismaya, kamu perlu tahu. Waktu itu, malam tepat tahun baru tahun 2006, seorang mengetuk pintu rumah kakek. Kakek yang saat itu tengah duduk di ruang tamu dengan rokoknya, memilih untuk membukakan pintu. Nenek yang saat itu duduk bersama kakek pun ikut bangkit. Saat pintu terbuka, muncullah seorang lelaki dengan setelan jas yang sudah berantakan. Pria itu membawa seorang bayi laki-laki yang sangat lucu. Bayi itu tidur sangat lelap Tahukah kamu, apa yang pria itu lakukan? Pria itu menyodorkan bayi manis itu.
"Tolong saya. Tolong jaga kan bayi ini untuk saya!" Pinta pria itu lemah. Sepertinya kepayahan karena berlari.
Dengan tangan bergetar, pria itu mengulurkan bayi mungil dan manis itu. Dengan perasaan campur aduk, nenek menerima bayi itu.
"Tolong jaga kan bayi itu, sampai saat saya siap untuk mengambilnya kembali." Pria itu menyodorkan selembar amplop. Setelah kakek menerima bayi itu, suara tembakan terdengar di kejauhan. Pria itu segera berlari pergi. Kakek cepat menggiring nenek masuk rumah, lalu mengunci pintu rapat-rapat. Kakek membawa nenek menuju kamar. Lalu meletakkan bayi manis itu di atas ranjang. Bayi itu masih terlelap. Matanya yang mungil tertutup rapat.
Kakek segera membuka amplop itu yang ternyata Isinya sejumlah uang tunai. Sebuah kertas juga terlampir di sana. Kakek membaca kertas tersebut yang ternyata isinya nama kamu, Ismaya Putra Diwangga serta sebuah tanggal yang nenek tebak adalah tanggal lahir si bayi, 1 Januari 2006. Nenek kaget saat tahu ternyata bayi mungil itu baru saja lahir ke dunia.
Setelah lama berunding dengan kakek, kami berdua memilih mengasuh bayi Ismaya kecil yang sangat mengemaskan. Berbekal sejumlah uang tunai yang cukup banyak dari sang pria, kami, sepasang suami istri sebatang kara, mengasuh bayi yang lama kelamaan tumbuh menjadi sosok cowok yang tampan dan manis.
Ismaya yang selalu patuh saat diperintah. Ismaya yang tidak malu dengan keadaan miskinnya kakek dan nenek. Dan, Ismaya yang selalu tersenyum ceria.
Tujuh tahun berlalu, dan kamu mulai memasuki dunia sekolah dasar. Kehidupan kita baik-baik saja, hingga seseorang datang. Pria itu mengaku utusan dari orang yang katanya ayah dari bayi tujuh tahun lalu. Ayah kamu, Ismaya. Pria itu bertanya dimana kamu akan di sekolahkan. Berakhir pria itu memberikan uang tunai dalam jumlah banyak. Katanya untuk membiyayai kehidupan keluarga kita. Pria itu bahkan menitipkan banyak uang saku untuk kamu. Bahkan untuk tahun-tahun selanjutnya, uang dari pria yang mengaku ayah kamu yang menunjang hidup kita.
Pria itu juga mengatakan, saat usia kamu sudah cukup, kamu harus mencari sosok pria itu. Pria yang bernama Diwangga, Ayah kamu.
Dan nenek rasa, di umur kamu yang ke tujuh belas tahun ini, kamu sudah berhak tahu. Maafkan nenek yang lama menyembunyikan hal ini. Nenek hanya menunggu waktu yang tepat.
Satu pesan nenek. Ayah kamu adalah orang baik. Jadi jangan ragu untuk mencarinya.
Dari Dunianya Ismaya.
Nenek.
Ismaya melipat kembali surat tersebut. Matanya menerawang jauh. Ayahnya, ya? Ayah..... Selama ini Ismaya tidak mengenal figur ayah. Apakah dia harus mengenal sosok itu sekarang? Sosok yang menurut orang-orang seorang pahlawan. Tapi dimana kepahlawanan ayah Ismaya. Pria itu malah memberian Bayinya pada sepasang suami-istri sebatang kara. Yang tak punya anak. Dimana kepahlawanan ayah Ismaya? Pria yang hanya berani mengutus seorang pria lain untuk memberikan uang saku dan sejenisnya. Mana kepahlawanan ayah Ismaya? Saat putranya menangis kehilangan dunianya. Saat putranya terpuruk. Saat putranya berada dalam fase paling buruk.
__ADS_1
Tidak sekali pun pahlawan itu muncul. Kenapa? Kenapa ayahnya selalu bersembunyi? Kenapa ayahnya tidak petnah menemuinya?
Ismaya tidak ingin ayah. Dia ingin kakek dan nenek kembali.
Ismaya menghela nafas. Dia tiba-tiba ingat sesuatu. Ismaya mengambil hpnya lalu mengetik sebuah pesan untuk seseorang. Membaca kembali pesan yang sudah dia kirim, lalu mematikan hpnya lagi.
Sekarang, yang Ismaya butuhkan hanyalah ketenangan. Ismaya merebahkan tubuhnya di kesur. Bodo amat soal Gaby. Cewek itu sangat sibuk sejak semalam. Bahkan saat nenek dikebumikan pukul tujuh, Gaby juga sangat sibuk. Mungkin cewek itu tengah menerima tamu yang berbela sungkawa. Biarlah. Yang Ismaya butuhkan saat ini hanyalah ketenangan dan kehadiran seseorang.
...****************...
Gaby mengecek jam tangannya. Sudah pukul sepuluh lebih seperempat. Dan orang itu belum juga datang. Padahal perjanjiannya pukul sepuluh. Orang itu malah mengulur waktu.
Suasana jalanan saat ini tengah ramai. Orang-orang menikmati hari yang masih libur sekolah. Dua hari lagi, sekolah kembali dimulai. Dan, jujur, Gaby sama sekali tidak bisa menikmati masa sekolahnya. Hingga matanya menemukan seorang cowok yang tengah berjalan menuju ke arahnya. Cowok dengan tudung hodie menutupi kepalanya. Cowok itu berhenti saat berdiri di depan Gaby. Lalu membuka tudung hodienya.
"Kenapa?" Tanya cowok itu. Tadi pukul setengah sepuluh, cewek di depannya menyuruhnya datang. Harus datang. Dengan malas, cowok tampan itu akhirnya datang.
"Lo telat lima belas menit," ujar Gaby dingin. Cowok di depannya malah memutar bola mata malas.
"Iya. Terus apa mau lo manggil gue?" Tanya cowok itu
"Lo bilang apa?" Ulang cowok itu.
"Nenek Ismaya meninggal, bangsat," ujar Gaby disertai umpatannya.
Cowok itu mengangguk. Kemudian menatap Gaby intens. "Lo udah dapat hati cowoknya, kan?" Tanya cowok itu. Gaby mendelik.
"Bukan itu tugas gue, anjing," kesal Gaby.
"Kirain. Habisnya cowoknya agak ganteng. Cocoklah, sama lo," ungkap cowok itu. Gaby menatap cowok itu datar.
"Lo kemarin malam ngomong apa sama Ismaya?" Tanya Gaby datar. Matanya menatap tajam. Membuat cowok di depannya meringis. Dia membatin 'yah, ketahuan deh'. Padahal cowok ini sudah diam-diam mendatangi Ismaya saat Gaby pergi. Padahal dia berpapasan dengan Gaby dan cewek itu sama tidak meliriknya. Kenapa Gaby tau?
"Gue cuma ngomong lo cantik, kok," cowok itu nyengir. Tapi Gaby masih menatapnya datar.
__ADS_1
"Asal lo tau, Ismaya kayaknya udah tau kalau gue nyimpan benda itu di lemarinya. Gue nggak mau dia curiga sama gue. Tapi kalau lo rusak rencana gue, gagal misi gue. Dan lo tau apa yang akan terjadi," ucap Gaby datar lalu berbalik pergi meningalkan cowok yang kini menatap punggung Gaby kesal.
"Udah datang, ditinggal gitu aja!" Gerutunya lalu memakai tudung hodienya lagi sambil berjalan berlawanan arah dengan Gaby.
...****************...
"Nenek.... Kakek....," teriak seorang anak kecil dari kejauhan. Sepasang suami istri paruh baya yang tengah duduk bersama saling tatap.
"Nenek.....Kakek....," panggil anak kecil itu yang kini sudah masuk ke dalam rumah. Wajahnya merah dan matanya menahan menahan tangis. Air mata tetlihat jelas di pelupuk matanya. Tapi dia mencoba menahannya agar tidak keluar.
"Isma kenapa?" Tanya sang nenek saat anak itu maju dan menyembunyikan wajahnya di paha wanita itu. Tangannya membelai lembut kepala bocah laki-laki delapan tahun.
Bocah itu menggeleng. Masih meletakkan wajah di paha neneknya. Sang nenek menoleh pada kakek yang menatap cucu laki-laki mereka bingung. Tapi pria paruh baya itu juga menggeleng tidak tahu.
"Isma kenapa? Cerita dong sama nenek," bujuk wanita tua itu.
Bocah kecil itu akhirnya mendongak. Menatap sang nenek dengan wajah sedih. "Kata teman-teman, Isma jelek karena nggak punya ayah sama ibu. Mereka bilang Isma anak jelek. Nggak boleh main sama Isma. Kalau main sama Isma nanti ikutan nggak punya ayah sama ibu," ujar bocah itu. Membuat Kakek dan Neneknya bingung.
"Kan Isma punya Kakek sama Nenek," ujar Kakeknya. Beliau tersenyum membuat matanya yang sudah keriput menyipit.
"Kalau ada yang bilang begitu, Isma bilang 'Isma punya kakek super kok. Kakek bisa angkat benda delapan kilo. Hebat, kan, kakek Isma," ujar pria itu.
Ismaya mulai tersenyum. "Bilang juga Isma punya nenek yang masakan rendangnya paling enak seduia," Nenek menimpali. Ismaya kini tersenyum lebar.
"Berarti Isma punya Kakek sama nenek super dong," girangnya. Bocah itu lalu pergi ke luar rumah. Memamerkan pada semua temannya jika dia punya kakek dan nenek yang hebat.
Ismaya membuka matanya. Meskipun dia mencoba untuk tidur, bayangan demi bayangan kenangan masa lalu bersama kakek dan neneknya terus berputar. Usahanya untuk tidur gagal. Ismaya mencoba duduk. Dia mengambil hpnya. Melihat jam yang sudah pukul sebelas malam lebih. Ismaya menghela nafas. Dia membuka chatnya kepada Kartika siang tadi.
Me : Nenek meninggal, Kartika
Gue harap lo mau datang
Kartika hanya membaca pesan itu. Tidak membalas. Tidak juga datang. Ismaya memijat pelipisnya yang terasa pusing. Entah kenapa dia masih memikirkan Kartika. Padahal cewek itu sudah banyak menyakitinya. Tapi, rasa sakit yag Kartika beri, masih kalah dengan rasa sayang yang Ismaya miliki.
__ADS_1
...****************...