Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Udah gue bilang, gue sukanya lo yang rambutnya dikucir, "


__ADS_3

Hari ini hari terakhir libur sekolah. Tapi Ismaya malah jadi orang nolep di kamarnya. Cowok itu hanya glintang-glinting di kasurnya. Kalau ada panggilan alam ke kamar mandi yang kalau udah selesai langsung ke kamar. Gaby tidak pernah menjumpai Ismaya makan barang secuil makanan. Gaby jadi pusing sendiri. Apalagi cowok itu mau tinggal di dalam kamarnya. Dan melarang keras Gaby memasuki kamar nenek. Jadilah Gaby tidur di kursi ruang tamu. Tidak apa-apa. Gaby pernah mengalami hal yang lebih sulit dari ini saat bersama ayah dan kakaknya. Gaby pernah tidur di ranting pohon dengan kakaknya yang berjaga dari. Saat ada pergerakan mencurigakan dari para pengejar, maka Kakaknya akan membangunkan Gaby. Lalu mereka berlarian mengelilingi hutan belantara. Atau saat mereka harus tidur di sebuah gua kecil yang banyak hewan kecil-kecilnya karena sembunyi dari para pengejar. Dan banyak hal menantang lainnya. Jadi tidur di kursi ruang tamu masih sebuah anugerah besar baginya.


Sekarang, hari sudah mulai gelap. Gaby memutuskan untuk memesan makanan cepat saji. Dia bisa memasak. Tapi dia latihan pada Ismaya yang sekarang seperti orang kehabisan saya hidup. Lagi pula sekarang ada dua temannya Ismaya Aru dan Candra. Mereka susah-susah datang dari hari nenek Ismaya meninggal. Tapi Ismaya cuek-cuek aja. Semula Aru dan Candra menggunakan jadwal shift. Tapi malam ini, mereka sengaja datang berdua.


"Nggak keluar-keluar juga, si Ismaya, By? " tanya Candra pada Gaby saat cewek itu masuk setelah mengambil dan membayar pesanan makanannya.


"Lo lihat dia apa nggak? anjing! " seperti biasa, Gaby akan bersikap kasar pada siapa saja. Candra yang hanya duduk ongkang-ongkang di kursi meringis. Begitu juga Aru yang bertugas menyiapkan piring. Makanya selama berada bersama Gaby, Aru tidak mau mengajak bicara pada cewek itu. Yang ada dia cuma kena semprot.


"Ya elah. Nanya doang aja marah, " ujar Candra.


Gaby yang tengah membuka makanannya menatap Candra tajam. "Pertanyaan lo nggak mutu, bangsat! "


"Iyaaaa.... Galak bener, " Candra menoleh ke arah Aru dan mendapatkan tatapan 'Rasain, tuh! semprotan dari si dingin Gaby'. Candra merengut menatap Aru.


Gaby beranjak menuju kamar Ismaya. Cewek itu mengetuk pintunya. Berharap Ismaya keluar. "Ismaya, makan, yuk. Dari kemarin lo nggak makan, loh, " bujuk Gaby. Tapi Ismaya tidak menyahut.


"Ismaya, ayo dong. Jangan nolep gini. Ada teman lo juga, nih. Makan dulu. Kalau habis ini lo mau nangis lagi nggak apa-apa. Yang penting lo makan dulu, " bujuk Gaby lagi.


"Setidaknya demi gue. Kalau ada lo, kan, ada orang yang bisa gue umpatin. Kalau nggak lo siapa lagi, coba? " coba Gaby lagi. Di belakang, Candra tidak Terima. Tanpa ada Ismaya, gabi juga mengumpat padanya. Dasar cewek!


Usaha cewek itu berhasil karena setelahnya pintu terbuka. Dan yang lebih mengejutkan, Ismaya berpenampilan rapi. Bukan seperti orang yang nolep. Bahkan lebih rapi dari Aru dan Candra. Rambutnya disisir rapi. Aromanya juga wangi. Dan dia menatap Gaby yang sekarang terpaku menatapnya.

__ADS_1


Aru dan Candra yang sadar situasi segera berdiri. "Ekhm, gue pulang dulu ya, Is. Cakra katanya kangen sama gue, " pamit Candra. Cowok itu langsung ngacir keluar.


"Gue ada panggilan mendesak dari Ruta. Pulang dulu, ya... Dada," Aru juga ngabrit pergi.


"Jangan lo apa-apain, Is. Anak orang. Bukan Mahram, " Candra berteriak dari luar. Tak lama terdengar suara motor pergi meninggalkan rumah. Menyisakan keheningan antara Gaby dan Ismaya. Gaby menatap Ismaya canggung.


"Ummm... Gue.. gue mau keluar sebentar, " Gaby berbalik badan tapi Ismaya memegangi tangan cewek itu. Lalu menariknya.


"Katanya mau makan? " tanya Ismaya dengan suara yang membuat Gaby ingin menghilang saja dari bumi.


"Gue udah.. udah kenyang, kok, " kilah Gaby.


Ismaya menaikkan sebelah alisnya. Matanya melirik makanan yang masih banyak. Lalu menatap Gaby Intens. Membuat cewek itu kelabakan.


"Ya, ya udah. Ayo makan, " Gaby melepas cekalan tangan Ismaya lalu duduk di kursi. Mengambil makanannya dan mencoba menghindari bertatapan dengan Ismaya. Ismaya tersenyum miring lalu duduk di sebelah Gaby. Terlalu dekat membuat Gaby bergeser.


"Ngapain duduk di sini? Anjing! " Umpat Gaby.


Ismaya tersenyum. "Terserah gue, dong, mau duduk di mana, " ujar Ismaya santai. "Emangnya kenapa? " Ismaya mendekatkan wajahnya pada wajah Gaby. Cewek itu memundurkan kepalanya.


"Lo, ngapain? " Gaby mengalihkan pandangannya. Ismaya tersenyum miring.

__ADS_1


Mendekatkan bibirnya ke telinga Gaby. "Udah gue bilang, gue sukanya lo yang rambutnya dikucir, "


Gaby merinding mendengar suara Ismaya di telinganya. Ismaya memundurkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya. Meraih rambut Gaby. Menyatukan dan mengikatnya menjadi satu dengan karet gelang. Gaby menatap Ismaya yang juga tengah menatapnya. Jarak mereka terlalu dekat. Jantung Gaby berdetak tak karuan karenanya. Sedetik kemudian, Gaby sadar. Dia mendorong dada Ismaya. Membuat cowok itu sadar.


"Udah, makan aja! " kesal Gaby. Cewek itu memakan makanannya dan menganggap Ismaya tidak ada. Ismaya tersenyum miring dan memilih mengambil makanannya.


Tanpa Ismaya sadari, saat cowok itu makan, Gaby diam-diam memperhatikannya.


...****************...


Kartika menghela nafas. Saat ini keadaannya tidak baik-baik saja. Papanya sering mengacuhkannya. Dan Mark? Cowok itu bahkan tidak pernah mau menghubunginya lagi. Kartika jadi pusing. Maya sering menyapanya. Dan itu mengganggunya. Kartika masih kesal dengan Maya.


Hubungan Kartika dan teman-temannya tidak membaik. Bahkan Kemarin, Hana dan Ratih melabraknya saat dia berjalan sendirian sepulangnya dari mini market. Mereka berdua awalnya menatap Kartika datar. Lalu Ratih memanggilnya. Kartika menghampiri kedua cewek itu dan yang dia dapat cacian dan makian. Mereka tentu saja jadi tim Ismaya sekarang. Dan satu hal lagi, Ismaya.


Soal Ismaya... Kartika merasa sepenuhnya bersalah pada cowok itu. Ada satu hal yang membuat Kartika menyesal. Kartika ada dalam ambang dilema. Malam hari itu, saat Ismaya menolongnya setelah Mark pergi, Kartika merasakan sesuatu saat menatap mata cowok itu. Mata dengan iris hitam itu mampu menggetarkan sesuatu dalam dirinya. Kartika tidak tahu itu apa. Karena jujur saja, dia belum pernah merasakan getaran yang demikian. Ditambah perasaan tak suka Kartika saat Ismaya dekat dengan cewek lain. Terutama Gaby.


Kartika sadar, dia sudah tidak berhak lagi atas Ismaya. Cowok itu juga mungkin sudah menghilangkan perasaannya. Tapi, mengingat pesan yang Ismaya kirimkan padanya tempo hari. Pesan yang membuat hati Kartika ikut hancur. Pesan yang membuat Kartika merasa bersalah karena tidak bisa ikut menguatkan hati Ismaya.


Pagi itu, saat pesan dari Ismaya itu masuk, Kartika langsung menyuruh sopir pribadinya untuk mengantar ke rumah Ismaya. Perasaannya campur aduk saat tau nenek Ismaya sudah meninggal. Kartika belum pernah bertemu beliau, tapi, dulu, Ismaya selalu menceritakan tentang beliau padanya. Cerita yang saat itu kartika anggap angin lalu. Tapi dia rela mengorbankan apapun demi Ismaya yang mau menceritakan hal itu padanya kembali. Kartika rela.


Hingga saat mobilnya memasuki halaman rumah Ismaya, yang dia lihat di teras cewek itu. Cewek yang membuat perasaannya jungkir balik karena dia tinggal di rumah Ismaya.

__ADS_1


Saat Kartika keluar, saat itu juga Gaby menghampirinya. Mengucapkan hal yang lebih pahit dari pada saat pertama kali mereka berbicara.


...****************...


__ADS_2