Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Tergantung Lo yang Jalanin. "


__ADS_3

"Makasih, Kak Mark, buat hari ini," ucap Kartika setelah turun dari motor Mark. Cewek itu tersenyum lebar. Membuat Mark yang melihatnya ikut tersenyum.


"Gue yang makasih, Tika," Mark menimpali.


"Ya udah. Gue pulang dulu," ucap Mark.


Kartika melambaikan tangannya. Mark balas melambai sebelum memacu motornya menjauh dari halaman rumah Kartika.


Hingga sosok Mark menghilang dari pandangan, barulah Kartika masuk ke dalam rumahnya. Cewek itu senang saat mengingat tadi dia dan Mark pergi nonton bioskop. Dilanjutkan makan siang bersama dan jalan-jalan ke taman kota. Mark memperlakukannya dengan sangat baik.


"Kartika,"


Suara berat itu menyambar Kartika seperti guntur saat dia masuk rumah. Membuatnya seakan kehilangan daya untuk sekedar berdiri. Dan saat matanya menatap, sosok papanya tengah duduk di sofa ruang tamu, bersama mamanya. Keduanya menatap Kartika dengan pandangan yang membuat Kartika sulit menelan ludahnya.


"Dari mana kamu?" tanya papanya.


Kartika menunduk dalam.


"Kenapa diam?" pria itu tak mengubah suaranya. Masih dingin.


Dan Kartika masih saja menunduk.


"Kartika, sini!" perintah mama akhirnya.


Kartika terus saja diam. Cewek itu tidak berniat sedikitpun untuk maju. Jika bisa, dia memilih untuk menghilang saja. Tapi panggilan kedua dari papanya, membuat Kartika mau tak mau menghampiri kedua orangtuanya.


"Habis dari mana kamu?" interogasi mamanya.


"Belajar kelompok," jawab Kartika lirih setelah lama diam. Kepalanya masih menunduk dalam.


"Dari mana?" ulang mama karena kurang jelas mendengar jawaban anaknya.


Kartika diam sejenak. "Belajar kelompok," jawabnya lebih keras dari tadi.


"Mama nggak suka kebohongan, Tika," tekan Mamanya.


"Tika baru main sama teman," jujur Kartika setelahnya. Terdengar mamanya menghela nafas.

__ADS_1


"Ini apa, Tika?" papanya mengangkat sebuah kertas dengan coretan pena warna merah dengan angka tujuh puluh lima di sebelah kanan atas.


Kertas Ulangan Fisika Kartika!


Tubuh Kartika bergetar karenanya. Bagaimana orangtuanya tahu kertas tersebut? Hari ini Kartika sengaja tidak masuk agar tidak dibagi kertas ulangan. Siapa yang memberikan kertas itu pada papa?


"Papa dapat kertas ini dari guru fisika kamu. Jawab papa!" sentak papanya. Kartika tak berani menoleh. Papa meletakkan kertas tersebut dengan kasar di atas meja, lalu bangkit berdiri.


"Hp kamu papa sita!" putus papa sebelum menarik hp dari tangan Kartika dan pergi dari ruang tamu.


Kartika menatap kepergian ayahnya.


"Kamu itu. Semakin hari, bukannya semakin nurut, malah semakin kaya gini. Mama tuh capek, Ka. Capek. Coba aja kamu kaya Maya. Penurut, nggak suka ngebantah," mama membandingkan dengan Maya-kakak Kartika, "Kamu. Bukannya belajar, malah pulang malam, masih pakai seragam. Main, nggak tau waktu," tambah mamanya, "Mama tuh pengin kamu jadi anak yang berhasil. Dan kalau begini caranya, gimana kamu berhasil?"


Kata-kata mama ngena di hati Kartika. Tapi cewek itu diam. Tidak punya cukup kekuatan dan keberanian untuk melawan. Dan ketika mamanya beranjak pergi, Kartika hanya bisa menuju ke kamarnya. Menjatuhkan tubuh di kasur tanpa mengganti seragamnya.


Mama dan Papa tak pernah bersikap adil padanya!


...****************...


Dua puluh kali Ismaya mencoba menelfon Kartika. Dan dua puluh kali pula, telponnya tidak tersambung. Dia mengerutkan kening-ekspresi saat dia merasa khawatir. Menatap hpnya, menghela nafas lalu menaruh hp di atas nakas. Dan saat dia mau ambruk di kasurnya, seseorang masuk. Membuatnya urung untuk berbaring.


"Kenapa nek?" Tanya Ismaya sopan. Cowok itu sangat menghormati wanita itu.


Satu kenyataan yang Ismaya mencoba terima. Dia bukan cucu wanita di depannya. Nenek menemukan Ismaya bayi menangis di depan rumahnya, dan bersama pria yang biasa ia panggil kakek, memungutnya. Hal yang membuat Ismaya selalu mencoba mandiri, tak menyusahkan beliau berdua.


"Kamu ini, belajar terus. Nggak lelah?" tanya Nenek mengamati buku yang terbuka di atas kasur cowok itu-hasil belajarnya dari tadi sebelum mencoba menghubungi Kartika.


Ismaya tersenyum lalu menggeleng kecil. "Nggak, kok, Nek. Ini kan tugas Isma. Belajar," jawab cowok itu.


"Ya udah. Jangan sampai bikin kamu sakit. Kasihan tubuh kamu," ucap nenek sebelum beranjak pergi.


Ismaya menatap pintu yang sudah ditutup. Cowok itu menghela nafas. Nenek sangat menyayanginya. Setelah kakek pergi-empat tahun lalu-nenek hanya punya Ismaya. Dan Ismaya hanya punya nenek. Bagaimana pun, Ismaya harus membuat nenek bahagia.


Dia mengambil bukunya kembali. Mempelajari jauh-jauh materi sebelum guru menerangkan. Hingga saat guru mengajarkan, dia sudah faham baik materi tersebut. Ismaya tau, dia terlalu keras pada dirinya. Tapi, dia hanya anak beasiswa yang harus mempertahankan nilainya agar bisa terus bersekolah. Dia tidak ingin, semua yang dia bangun selama ini hancur.


Ismaya menarik selembar kertas diantara buku-bukunya. Matanya tertuju pada angka sembilan puluh delapan dengan pena merah. Lalu menghembuskan nafasnya.

__ADS_1


Nyaris sempurna! Nilai ulangan Fisikanya kemarin yang baru dibagi tadi siang. Dan cowok itu ingat Kartika tiba-tiba.


Dan soal Kartika, Ismaya tidak tau apa yang cewek itu mau. Cewek itu yang mendekatinya saat awal semester kelas sebelas. Dan Ismaya yang memang menyukai Kartika tentu saja menerimanya. Hubungan mereka lebih dekat, dan saat ada kesempatan, Ismaya menembak Kartika atas dorongan dari Candra. Tentu saja Kartika menerimanya. Hubungan mereka berlanjut sampai sekarang, dan Kartika selalu menganggapnya tak ada. Sikapnya berbeda dari Kartika yang sebelum menjadi pacarnya. Ismaya terlalu bingung untuk mencerna semuanya.


Ismaya melihat hpnya lagi. Kartika bahkan tak mau susah-susah menelponnya balik atau bahkan mengirimi pesan.


...****************...


"Tika," panggil Maya yang baru masuk kamar Kartika. Perempuan itu mengedarkan pandangan di seluruh ruangan, dan menemukan Kartika tengah duduk di sofa balkon kamarnya. Perempuan itu semakin masuk sampai balkon kamar kartika yang menghadap taman belakang rumah. Terlihat Kartika tengah memandang purnama terang tanpa bintang. Cewek itu tampaknya tak menyadari keberadaan Maya. Maya duduk di samping adiknya, yang akhirnya menoleh dan langsung membuang muka. Maya menghela nafas.


"Lo suka bintang, kan, Ka?" Maya membuka percakapan.


Kartika hanya berdehem. Maya menatap bulan sambil mengulas senyum. Maya tau, Kartika marah padanya.


"Bintang cantik. Ngalahin bulan. Selain itu, bintang juga nggak suka bergantung. Dia kuat," ungkap Maya. Kartika mengernyit, tidak tau apa maksud Maya.


"Tika, gue tau, saat kaya gini, saat paling menyebalkan," Maya terus menatap langit, "Di banding-bandingin, dipaksa, dituntut, dikekang. Padahal, keinginan kita cuma mau bebas. Melewati masa remaja yang harusnya memang dinikmati. Gue juga gitu, dulu,"


Kalimat terakhir Maya membuat Kartika menoleh. Meski maya masih menatap langit, perempuan itu sadar telah menarik perhatian kartika.


"Gue dibandingin sama sepupu kita, sama anak tetangga, sama anak-anak lainya. Waktu gue SD papa bilang 'Maya, kamu harus bisa dapat peringkat satu. Biar bisa bikin papa senang'. Dan waktu SMP. Saat gue lagi asiknya main, papa bilang 'Lihat teman kamu, Maya, dapat peringkat satu karena banyak belajar. Kalau kamu banyak belajar, kamu pasti bisa kalahin dia'. Gue yang waktu itu cuma bisa nurut. SMA, waktu gue lagi seneng-senengnya kumpul bareng teman, saat gue pulang, papa udah nunggu di depan lalu bilang 'Maya, kamu ini main terus kerjaannya. Lihat dong, sepupu kamu, bisa kuliah di luar negri, dapat beasiswa. Sekarang kerja mapan. Kenapa? Karena banyak belajar. Kamu harus bisa kaya sepupu kamu. Saat itu, gue yang udah banyak ngerti, merasa terkekang. Papa selalu maksa gue jadi nomor satu. Sebenarnya gue nggak bisa," cerita Maya panjang. Kartika sudah anteng menyimak.


"Waktu itu gue juga mencoba ngelawan. Masa UTS, saat papa nyuruh gue belajar, gue pergi sama teman-teman. Saat gue pulang, papa marah. Lo tau apa yang gue lakuin?" Maya kini menatap Kartika "Gue ngelawan Papa. Bilang ini-itu. Sampai papa marah dan hukum gue. Gue dikurung seminggu penuh buat belajar," Maya kembali menatap langit.


"Saat itu, gue nggak berani lagi ngebangkang papa. Gue ikutin semua yang papa perintahin. Hingga saat waktu wisuda tiba, gue dapat nilai tertinggi satu sekolah. Tapi nilai gue nggak bikin gue masuk kampus Internasional. Gue cuma bisa masuk kampus di Indonesia. Waktu itu papa marah. Tapi, untung mama mencoba bujuk papa. Bilang ke papa. 'Maya kan masuk UI, Pa. Udah bagus banget itu. Maya juga dapat beasiswa'.


"Akhirnya papa nggak marah lagi. Tapi dengan catatan, gue tetep jadi nomor satu."


Maya mengalihkan pandangan ke arah Kartika. "Gue tau, pasti berat buat lo, Tika. Tapi percaya sama gue, usaha nggak akan membohongi hasil."


Maya mengelus pundak Kartika. "Jadi, semua tergantung lo yang jalanin," Maya menepuk punggung Kartika sebelum beranjak pergi.


"Oh, ya. Jangan kelamaan di balkon. Angin malam, lo bisa sakit," pesan Maya sebelum menghilang di balik pintu.


Kartika diam. Dia masih terkejut dengan cerita Maya. Kakaknya... Tidak seburuk dugaannya. Dan apa yang tadi Maya bilang?


"Jadi semua tergantung gue, ya?" gumam Kartika.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2