
Gelapnya langit tanpa bintang menjadi latar pada malam itu. Beberapa lampu jalan menjadi penerang. Hembusan angin membuat udara lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Membuat sebagian orang memilih berguling dalam selimut lebih awal.
Berbeda dengan Ismaya yang rela menembus sepinya jalanan demi membelikan neneknya telur di warung depan. Dan Ismaya Ikhlas melakukannya. Cowok itu tengah memikirkan banyak hal. Hingga krusak-krusuk dan pekikan seorang cewek dari semak di depannya.
"Akhhh," geram suara iti. Ismaya mulai waspada. Cowok itu dengan pelan mendekati semak. Dan saat dia melihat, sosok seorang cewek jatuh terduduk di balik semak. Cewek itu mendongak. Ekspresinya waspada. Mengamati sekitar lalu Ismaya yang masih bingung harus apa.
"Mbaknya nggak apa-apa?" Tanya Ismaya.
"Lo_" perkataan cewek itu terpotong oleh suara derap langkah kaki cepat dari kejauhan. Cewek itu langsung menarik Ismaya masuk semak. Membuat keduanya berjarak sangat dekat. Tangan cewek itu sigap membekap mulut Ismaya sebelum Cowok iti bisa bertanya.
Suara langkah kaki mendekat dan berhenti di dekat semak tempat keduanya bersembunyi. Disusul suara bersahutan laki-laki.
"Kok ngilang," ujar sebuah suara.
"Kemana tu cewek?" Sahut suara lain.
"Bahaya kalau sampai ngilang," suara lainnya.
Ismaya bingung di tempatnya sementara cewek di depannya terus melotot seolah mengatakan 'diam!'. Sesekali kepalanya ia julurkan untuk mengintip.
"Harus ketemu,"
"Oke. Kita nyebar. Kalian ke kanan, kita ke kiri,"
Suara itu terus bersahutan disusul langkah kaki cepat yang menjauh. Cewek itu mengintip lagi. Lalu menghembuskan nafas lega bersamaan dengan lepasnya bekapan mulut Ismaya. Akhirnya Ismaya bisa bernafas dengan bebas.
"Mbak kenapa, sih?" Tanya Ismaya sedikit terengah "Kok di kejar-kejar orang itu,"
Cewek itu menatap tajam Ismaya. Lalu mencoba berdiri. Tapi tubuhnya limbung dan kembali terdutuk.
"Akhhh," keluhnya memegangi pergelangan kaki.
"Kenapa mbak?" Tanya Ismaya panik tapi cewek itu tal menjawab.
"Kakinya terkilir kayaknya. Biar saya bantu," Ismaya meluruskan kaki cewek itu. Memegangi pergelangan kakinya, memijatnya agak keras. Membuat cewek itu mengerang. Bahkan memegangi leher Ismaya sedikit kuat. Tapi Ismaya terus memijatinya. Turun ke telapak kaki. Menarik kaki lalu menekannya.
"Sakit, Bangsat," umpat cewek itu yang membuat Ismaya meringis.
"Coba digerakin, mbak," interuksi Ismaya.
Cewek itu menatap tajam Ismaya dengan menahan rasa sakit.
"Coba dulu, mbak,"
Cewek itu menurut. "Udah baikan, Anjing,"
Lagi-lagi Ismaya meringis. Umpatan cewek ini mematikan juga.
__ADS_1
"Mbak bukan orang sini, ya? Nggak pernah lihat soalnya," tanya Ismaya. Cewek itu tak menjawab. Malah merogoh saku celana jeans yang sudah kotor karena tanah. Mengambil Hp yang langsung dia banting.
"Mati, Bangsat!" geram cewek itu.
Ismaya berdiri. Menatap langit yang tambah gelap. Cowok itu berpikir, tak mungkin membiarkan cewek ini pulang sendiri. Ismaya bingung harus bagaimana.
Cewek itu berdiri dan baru satu langkah berjalan, tubuhnya oleng. Ismaya sigap menopangnya. "Anjing!"
"Mbak rumahnya jauh, ya?" Tanya Ismaya.
"Pelang ke rumah saya dulu aja," tawar Ismaya yang dibalas pelototan tajam cewek di depannya. "Lo pikir gue cewek apaan, bangsat?"
Ismaya meringis lagi. Cewek di depannya toxic banget ucapannya. "Mbak jangan salah faham. Saya nggak bakal ngapa-ngapain, kok. Lagian hp mbak juga mati. Hp saya di rumah. Nanti saya pesanin taksi online," tutur Ismaya. "Ada nenek saya juga di rumah,"
Cewek itu menatap Ismaya lama. Ismaya balas menatapnya. Ada pancaran keberanian di mata cewek itu. Ismaya segera berkedip. Lalu melongos.
"Oke. Gue ikut lo," putus cewek itu akhirnya.
Keduanya berjalan beriringan. Ismaya memapah cewek itu yang kesulitan berjalan.
***
"Assalamu'alaikum," ucap Ismaya saat masuk rumah. Di kursi teras, cewek tadi duduk sambil memijati pergergelangan kakinya.
"Masyaallah, ini kenapa, nduk?" Nenek Ismaya yang baru keliar terkejut karena penampilan Cewek tadi. Di wajahnya ada tanah keringmenempel. Di rambutnya sda daun menyangkut dan bajunya yang kotor. Cewek tadi meringis.
"Namanya_"
"Saya Gaby, nek," potong Cewek tadi karena Ismaya tidak tau namanya.
"Oh, Gaby. Kamu dari mana? Malam-malam begini. Kamu nyasar?" Tanya Nenek lagi.
Gaby meringis. "Iya. Saya, saya lupa jalan," alasan cewek itu. Ismaya melongo. Cewek galak tadi berubah jadi sopan.
"Yaudah. Kamu disini dulu," ucap nenek. Menoleh pada Ismaya "Kamu kamarnya biar dipakai Gaby. Kamu tidur di ruang tamu dulu."
Ismaya mengangguk. Nenek masuk. Tersisa Gaby dan Ismaya di luar.
"Ayo, mbak, masuk!" ajak Ismaya. Gaby melangkah pelan mendahului Ismaya yang sengaja berjalan di belakang cewek itu. Mengantarkan menuju kamar Ismaya.
"Kalau mbak mau mandi, kamar mandinya di belakang. Mbak bisa pakai baju saya di lemari," jelas Ismaya yang malah ditinggal Gaby masuk dan menutup pintu. Senyum Ismaya pudar.
"Ni, mbak-mbak udah gue tolongin, juga,"
Ismaya menuju dapur. Membuat kopi karena tiba-tiba dia ingin minum kopi. Saat dia tengah mencari gula, neneknya muncul.
"Telurnya mana, Is?" Tanya nenek. Ismaya segera berhenti.
__ADS_1
"Isma lupa, nek," ujar cowok itu. Memasang wajah bersalah. Neneknya tertawa.
"Kamu habis nolongin orang. Telurnya lupa," ujar neneknya.
"Maaf, nek," ujar Ismaya lagi.
"Iya, nggak papa," jawab neneknya lalu pergi menuju kamarnya.
Ismaya segera kembali ke ruang tamu dengan segelas kopi. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.
"Mbak," Ismaya mengetuk pintu kamarnya.
Pintu segera terbuka. Menampilkan Gaby yang sudah mandi dan kini memakai sweater hitam kebesar Ismaya-yang membuat cewek itu tenggelam-dan celana pendek selutut warna krem milik Ismaya juga. Ismaya terdiam karena Gaby sangat lucu dengan pakian itu.
"Ngapain liatnya gitu?" Gaby mengangkat satu alis.
"Nggak," Ismaya menggeleng cepat. "Mau ambil Hp," ujar Ismaya. Gaby memberi ruang untuk Ismaya masuk.
Ismaya segera mengambil hp. Dan dia teringat sesuatu. Cowok itu menuju lemarinya. Berniat mengambil selimut saat Gaby bertanya.
"Mau ngapain lagi?" Tanya Gaby. Ismaya menoleh ke arah Gaby yang tengah menyilangkan kedua tangan. Sikap yang menantang.
Ismaya mendengus. Ini kan kamarnya. Kenapa Gaby sewot. Kesal juga Ismaya pada cewek itu. "Mau ambil selimut, Mbak," jawab Ismaya.
"Nggak usah. Gue bentar lagi pulang. Kan lo udah bilang mau pesanin gue taksi online," ujar Gaby. Ismaya melihat jam. Pukul sebelas.
"Udah malam, mbak," ujar Ismaya "Besok aja. Saya anterin mbak sekalian saya berangkat sekolah."
"Lo pikir gue nggak sekolah?" Tanya Gaby.
Ismaya baru sadar. Cewek itu tampangnya masih anak sekolah. Ismaya tolol.
"Tapi_"
"Intinya gue mau pulang sekarang," perkataan tegas Gaby membuat Ismaya mengalah. Cowok itu memesan taksi online.
Dan pada pukul sebelas lewat limabelas menit, Ismaya harus bernafas lega karena Gaby pergi.
***
Kartika berguling di kasurnya. Bosan dengan hari-hari seperti ini. Apalagi tadi sore, Ismaya datang ke rumahnya untuk mengembalikan tasnya. Kartika jadi ingin membuang tas itu rasanya. Yang pasti, Kartika membenci Ismaya. Cowok itu tidak mengerti, apa yang Kartika Inginkan dan apa yang tidak diinginkan.
"Mana hpnya, papa sita lagi!" Teriak Kartika frustasi. Karena tanpa adanya hp, dia tidak bisa berbalas pesan dengan Mark, kan? Kenapa hidup Kartika semenyebalkan ini? Kartika jadi ingin seperti Ratih yang bebas. Hana yang disayang orang tuanya. Dan Mentari, cowoknya sangat perhatian padanya.
Oh, ya. Ngomong-ngomong sudah lama Kartika tidak berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Terakhir kali, dia menemui Ratih untuk curhat soal Ismaya. Dan saat itu, Ratih mendukung Ismaya. Sejak itu, Kartika enggan untuk menemui mereka. Karena Kartika tau, orang-orang pasti akan menyalahkannya. Selalu menyalahkannya. Kartika memilih bersama Disa atau Mia saat di sekolah. Due lemes yang bikin kuping Kartika sakit kalau mendengarkan omongan mereka. Tapi, mereka asyik, kok. Mia, sekretasris yang gampang kerjasama saat Kartika minta izin jika harus pergi. Dan disa, yang selalu membicarakan keburuan cewek yang dekat dengan kak Mark. Hingga Kartika merasa, dirinya yang paling pantas bersanding dengan Mark.
"Kak Maaaark. Tika rinduuuu," Kartika mendekap boneka beruang pink besar. Menyembunyikan wajahnya di sana. Saat galau begini, boneka beruang ini selalu jadi penghibur Kartika.
__ADS_1
***