
Pikiran Kartika melayang jauh. Ismaya kini mengacuhkannya. Kartika tau, Ismaya marah karena ketidak hadiran Kartika atas panggilan Ismaya. Kartika tau Ismaya kecewa padanya.
"Gue minta lo jauhi Ismaya. Lo udah bikin dia seperti sekarang. Jadi, setelah lo manfaatin dia, lo jangan berharap banyak!"
Ucap Gaby di malam ketika Mark meninggalkannya dan Ismaya menolongnya. Kartika tau hal itu. Dan si menyebalkan Gaby malah mengingatkan Kartika akan hal itu.
"Kenapa lo ke sini?" Tanya Gaby sinis saat Kartika datang di pagi hari setelah Ismaya mengiriminya SMS singkat tentang kematian neneknya. Tujuan Kartika satu, menghibur Ismaya. Tapi cewek itu malah menyadarkan Kartika pada batasan yang tidak seharusnya dia lewati.
"Kedatangan lo nggak bisa bikin keadaan kembali seperti semula," tegas Gaby. Bahkan dia tersenyum miring pada Kartika.
"Gue emang nggak bisa ubah keadaan. Tapi, gue setidaknya bisa bikin Ismaya kembali menemukan dunianya," balas Kartika mencoba mengalahkan segala rasa gentar dalam menghadapi cewek di depannya.
Gaby tersenyum sinis "Lo pikir Ismaya akan baik-baik aja setelah lo bikin dia jadi peringkat tiga?" Tanya Gaby yang membuat Kartika terdiam di tempatnya.
"Lo nggak mikir, setelah Ismaya peringkat tiga, dia bakal dikeluarkan dari sekolah," sembur Gaby. Kartika langsung bergetar karena ucapan Gaby.
"Itu yang lo sebut mengembalikan dunia Ismaya?" Lanjut Gaby. Kartika semakin diam.
"Hah, lo diam. Lebih baik lo pergi sebelum lo buat Ismaya lebih hancur dari ini!" Peringat Gaby. Dengan perasaan hancur, Kartika pergi dari sana.
"Tes, panggilan kepada Ismaya Putra Diwangga dari kelas sebelas IPA satu, untuk pergi ke ruang kepala sekolah sekarang. Sekali lagi, kepada Ismaya Putra Diwangga dari kelas sebelas IPA satu, harap untuk pergi ke ruang kepala sekolah, sekarang. Terima Kasih,"
Panggilan dari speaker sekolah membuat Kartika sadar sepenuhnya dari lamunannya. Cewek itu menoleh pada Ismaya. Begitu juga dengan guru dan teman-teman sekelas yang juga menatap Ismaya.
"Maaf, pak. Saya izin ke ruang kepala sekolah sekarang," ujar Ismaya tak enak hati pada guru yang tengah mengajar. Guru itu menganggu mengiyakan.
"Iya. Silahkan," ujar guru itu.
Ismaya berdiri lalu meninggalkan kelas. Tiba-tiba perkataan Gaby masuk ke pikiran Kartika. Ismaya dipanggil oleh kepala sekolah. Apakah... semoga saja perkataan Gaby tidak benar.
...****************...
"Permisi, pak," Ismaya mengetuk pintu ruang kepala sekolah sebelum masuk.
"Oh, Ismaya. Silahkan masuk, nak," ujar pria itu. Ismaya masuk dan duduk di depan kepala sekolah. Ini kedua kali Ismaya masuk ruangan ini. Yang pertama waktu dia registrasi masuk. Sebuah papan nama dengan tulisan Airlangga Adiasla beserta sederet gelarnya terpajang di atas meja.
Pak kepala sekolah merupakan seorang pria berumur empat puluhan. Pria ini sangat berwibawa. Garis wajahnya tegas. Sama seperti putranya, Surya, yang mewarisi ketampanan dari ayahnya. Pak kepala sekolah merupakan pria adil. Semua orang merasa segan padanya.
"Kamu pasti belum tau kenapa saya memanggil kamu ke sini secara personal, kan?" Tanya kepala sekolah.
Ismaya sebenarnya tau apa sebab dia dipanggil. Risiko ini sudah dia pikir matang-matang sejak lama. Tapi, cowok itu menggeleng sopan. "Saya belum tau, pak," jawab Ismaya.
"Ismaya, kamu merupakan siswa dengan beasiswa prestasi yang kami rekrut setelah olimpiade sains nasional tahun lalu, kan?" Tanya pak Airlangga.
__ADS_1
Ismaya mengangguk, "Benar, pak," jawab cowok itu lagi.
Terlihat pak Airlangga mengangguk. Beliau lalu mengambil sebuah kertas yang berisi sebuah laporan.
"Setelah kami pantau perkembangan kamu selama bersekolah di SMA Makuta Rama, nilai kamu baik-baik saja selama setengah tahun ini. Tapi, di ujian semester ganjil ini, nilai kamu menurun drastis," jelas pak Airlangga. "Hal ini menjadi pertanyaan bagi kami, para guru. Apa penyebab penurunan drastis nilai kamu. Kami dewan guru juga perlu menindak lanjuti kasus ini. Kamu tahu, kan, apa sangsi bagi murid beasiswa yang mengalami penurunan prestasi?" Pak Airlangga menatap serius Ismaya.
Sekali lagi Ismaya hanya mengangguk.
"Sangsi bagi siswa beasiswa prestasi yang mengalami penurunan nilai, adalah Drop Out,"
Ismaya mengangguk mengerti. Dia harus rela dikeluarkan dari SMA Makuta Rama. Ini semua salahnya yang memang bodoh dan pantas dikeluarkan.
Terlihat pak Airlangga menghela nafas berat. "Berat bagi kami untuk mengeluarkan siswa berprestasi seperti kamu. Kami dewan guru tau, kamu siswa yang sangat berpotensi besar, Ismaya. Maka dari itu, kami meringankan sangsi untuk kamu. Kamu tidak akan dikeluarkan dari SMA Makuta Rama dengan catatan kamu harus mengembalikan prestasi kamu yang sempat turun,"
Ismaya mendongak menatap kepala sekolah. Ekspresi serius beliau membuat sesuatu dalam diri Ismaya kembali hidup. Pak Airlangga tersenyum dan Ismaya membalas senyuman itu. Senyum kebahagiaan.
Pak Airlangga mengulurkan tangannya. Ismaya menerima jabatan tangan guru itu. "Selamat karena kamu masih bisa sekolah di sini, Ismaya. Semoga prestasi kamu lebih meningkat kedepannya," ucap pak Airlangga. Ismaya mengangguk.
"Terima kasih, pak. Saya akan berusaha sebaik-baiknya," janji Ismaya.
"Sudah. Silahkan lanjutkan belajar kamu," pak Airlangga mengusir halus Ismaya. Ismaya pamit undur diri.
"Oh, ya. Saya turut berduka cita atas meninggalnya nenek kamu," ucap Pak Airlangga. Sekali lagi Ismaya mengangguk.
Kartika melihat Ismaya dari kejauhan. Dari tadi dia cemas soal cowok itu. Bagaimana kalau Ismaya kena Drop Out? Kartika tidak bisa fokus sepanjang pelajaran. Cewek itu merasa tenang saat melihat senyum Ismaya. Hingga kemudian Ismaya menangkap sosoknya. Cowok itu menghentikan pergerakannya bahkan senyumannya. Cowok itu menatap Kartika lama. Membuat Kartika tidak bisa bergerak dan diam di tempatnya.
Ismaya tersadar dan membuang pandangannya. Cowok itu kembali memasang senyuman. Lalu berjalan ke arah kartika dengan tanpa menatap kartika sedikitpun. Ismaya bahkan melewatinya begitu saja. Mengacuhkan kartika seakan kartika hanya angin lalu. Kartika tersenyum kecut. Ismaya berhak memperlakukan Kartika seperti ini. Kartika hanya bisa berbalik. Menatap punggung cowok itu yang kian menjauh. Bahkan dia harus menyaksikan Ismaya yang menyapa Gaby dengan hangatnya di ujung koridor.
"Tika," panggil Mark yang tau-tau sudah berdiri di depannya.
Kartika terlonjak kaget dan menatap kesal pada Mark. "Kenapa kesini?" Tanya Kartika sinis.
Mark mengangkat alisnya. "Mau ngajak pacar aku ke kantin," ujar cowok itu.
"Ngapain ke sini?" Ketus Kartika.
"Pacar aku kan, di sini," jawab Mark.
Kartika menatap Mark tajam.
"Gue bukan pacar lo," ketus Kartika.
Mark tertawa kecil. "Kita belum putus, Tika,"
__ADS_1
"Ya udah. Gue mau kita put_"
"Shttt... nggak," Mark meletakkan telunjuknya di bibir Kartika. "Kamu pacar aku. Satu-satunya pacar aku. Nggak ada yang lain,"
Kartika terdiam mendengar ucapan Mark.
"Satu-satunya pacar aku," ulang Mark.
"Janji?" Kartika mengulurkan jari kelingkingnya.
Mark tertawa kecil sebelum akhirnya menautkan kelingkingnya pada kelingking Kartika. "Janji," ucap cowok itu.
...****************...
"Terus lo nggak dikeluarin, kan?" Tanya Gaby lalu memakan makanannya.
Ismaya menggeleng. "Nggak,"
Gaby hanya mengangguk. Ismaya jadi kesal sendiri. "Respon lo kok gitu doang?"
Gaby menatap Ismaya. Menelan makanannya lalu berbicara. "Gue harus gimana? Lompat-lompat? Joget Pargoy? Apa engkol?" Kata Gaby datar.
"Yah, minimal traktir gue atau apa gitu. Jangan lempeng gitu mukanya," Ismaya jadi banyak maunya.
"Yang harusnya traktir gue itu lo," Gaby kembali memakan makanannya. Tak mengacuhkan Ismaya yang terlihat kesal. Gaby nggak punya hati apa gimana, sih?
"Cepetan dimakan!" Gaby menunjuk mie ayam Ismaya dengan dagunya. Ismaya menurut. Dia baru makan tiga suap saat Gaby menutup foam bekas makanannya.
"Gue udah habis. Lo yang bayar, kan?" Gaby menghabiskan minumannya yang tinggal sedikit.
"Eh,eh, mau kemana?" Ismaya heboh sendiri melihat Gaby sudah berdiri.
"Kalau gitu gue pergi. Thanks buat traktirannya," Gaby meninggalkan Ismaya di tempatnya.
"Heh, awas aja lo Gaby. Gue nggak akan antar lo pulang," ancam Ismaya yang tidak dipedulikan oleh Gaby. Malah mengundang perhatian orang sekantin. Ditambah Aru dan Candra yang nyengir lebar saat ikut duduk di meja Ismaya.
"Nggak jadi di DO. Lo traktir makanan gue, ya!" Pinta Candra.
Ismaya menghela nafas pasrah. Dia akan benar-benar jatuh miskin setelah ini.
Sementara Kartika yang tengah duduk bersama Mark merasa panas sendiri dengan kedekatan Gaby dan Ismaya.
...****************...
__ADS_1