
Ismaya memarkirkan motornya di parkiran SMA Makuta Rama. Cowok itu melepas helm lalu turun. Hari ini, hari pertama Ujian. Membuat semua tempat di SMA ini dipenuhi orang yang membawa buku. Mereka membaca buku. Sampai tidak peduli pada sekitar. Bahkan di parkiran juga banyak yang tengah membaca. Oke. Selamat belajar kebut semua!
Dan saat itu pandangan Ismaya terkunci pada dua sosok yang baru saja turun dari motor ninja merah. Si cewek turun dari jok belakang, melepas helm dan tersenyum saat menyerahkan helm pada si cowok, yang ternyata... MARK! Sesuatu dalam diri Ismaya berteriak. Itu Kartika! Kemarin waktu Ismaya menawarkan menjemput, Kartika bilang dia sudah ada yang mengantar. Jadi yang mengantar Mark, ya? Ismaya akan menghampiri mereka saat seseorang menepuk bahunya. Baruna.
"Biarin aja," ujar cowok itu santai. Di sampingnya, Maruta, bersikap cuek.
"Gue duluan," ucap Maruta lalu pergi. Rambut ekor kudanya bergoyang selaras dengan langkah cepatnya. Sangat Maruta sekali.
"Tapi...," protes Ismaya.
"Udah!" Potong Baruna. "Yok!" Baruna menarik pundak Ismaya. Ismaya berdecak kesal. Sementara matanya terus mengamati Kartika dan Mark yang tertawa bersama.
***
Ismaya memperhatikan Kartika yang duduk dua baris di depannya. Kelihatannya, Kartika sangat kesulitan mengerjakan soal. Ismaya sebenarnya sudah selesai dari tadi. Tapi dia belum ingin mengumpulkan hasil pekerjaannya. Dia masih ingin mengamati Kartika. Dilengkapi pertanyaan tentang Kartika dan Mark tadi. Padahak kemarin, Kartika sudah memperlakukannya selayaknya pacar. Bahkan ketika Ismaya menanyakan apa yang terjadi saat Kartika dan tiga temannya di kafe kemarin, Kartika dengan senang hati menjelaskannya. Cewek itu terlihat sedih. Lalu cewek itu bercerita banyak hal pada Ismaya. Hingga pada saat Ismaya menewarkan diri jadi sopir pribadi, Kartika menolak dijemput. Tapi dia mau pulang bersama yang dilanjutkan belajar bersama. Kartika kan kemarin sudah bilang ada yang menjemput. Kenapa Ismaya harus marah? Bukannya kemarin ismaya juga setuju?
"Ismaya! Soalnya dikerjakan!" Tegur guru pengawas di depan. Ismaya segera berpura-pura mengerjakan soal.
Siswa yang pertama menyelesaikan soal adalah Mia. Diikuti Disa dan yang lainya hingga tersisa Kartika dan Ismaya. Kartika lebih dulu mengumpulkan hasil pekerjaannya. Disusul Ismaya yang mengumpulkan lembar jawabnya.
"Eits," cegah sang guru. Ismaya berhenti lalu menghadap gurunya lagi. "Diberesin, dong, kertasnya," perintah pak guru. Ismaya meringis lalu membereskan kertas yang letaknya tak beraturan. Lalu membantu memasukkan ke map.
"Biar saya bantu bawa ke ruang guru, pak," tawar Ismaya. Guru itu mengangguk. Lalu berjalan keluar. Di belakangnya Ismaya mengikuti. Dan lagi-lagi pemandangan yang Ismaya lihat di seopanjang koridor adalah para siswa yang belajar dadakan. Hanya ada beberapa siswa yang terlihat santai saja. Contohnya Maruta yang sibuk berdebat dengan teman kelasnya-Bayu kalau Ismaya tidak salah. Ismaya suka heran pada Maruta. Padahal Baruna waras banget, kok Maruta sifatnya kaya angin begitu. Ismaya meringis sendiri. Sepertinya kalau ada artis datang tidak akan ada yang peduli. Bahkan kalau Ismaya goyang pargoy tidak akan ada yang peduli. Maruta dan Bayu sekalipun.
"Terimakasih Ismaya," ucap pak guru saat sudah sampai di depan ruang guru. Ismaya menyerahkan map pada guru itu lalu mengangguk sopan. Cowok itu berbalik pergi dan kakinya menendang sebuah benda. Ismaya menoleh ke arah kakinya. Sebuah buku. Ismaya menatap sekitar yang sepi. Lalu merunduk untuk memungut buku tersebut. Ismaya membuka halaman pertama. Kosong. Buku tulis itu kosong. Bahkan hingga halaman terakhir. Yang dia temukan hanyalah tulisan 'Gabriella Adijaya' di salah satu halaman tengah buku.
"Ismaya!" Panggil Kartika dari kejauhan. Ismaya mendongak lalu tersenyum. Dia berjalan mendekati Kartika. Membawa serta buku di tangannya.
"Aku nyariin kamu, loh," ujar cewek itu.
"Aku baru bantu guru pengawas," Ismaya tanpa sadar mengangkat buku di tangannya. Kartika menatap buku itu.
"Buku apa?" Kartika menunjuk Buku.
Ismaya menatap buku di tangannya. "Oh, buku tulis baru," jawab ismaya. Kartika ber-oh pelan.
"Makan yuk!" Ajak Kartika dengan sebuah senyum. Ismaya jadi ingat Mark gara-gara senyum itu.
__ADS_1
"Yuk,"
Keduanya berjalan beriringan menuju kantin sekolah.
***
Sesuai kesepakatan. Pulang sekolah, Ismaya dan Kartika pulang bersama. Tapi meteka tidak langsung pulang ke rumah. Tapi pergi ke kafe untuk belajar. Bukan kafe Docca tentunya. Mereka pergi ke kafe di selatan kota yang damai. Kafe ini dekat dengan danau. Jadi, pas sekali yempatnya untuk belajar. Tempat tersebut sepi dan segar.
"Ismaya, ini gimana?" Kartika menunjukan soal Matematika. Dalam hal berhitung, Kartika pintar. Tapi tak sepintar Ismaya.
"Mana?" Ismaya yang tengah mengerjakan pun segera melihat soal itu.
"Ini," Kartika menunjuk salah satu nomor.
"Oh, ini?" Ulang Ismaya. Cowok itu menghalau rambutnya yang jatuh menutupi mata. Lalu dengan lancar dia menjelaskan. Dan lagi-lagi, bukannua memperhatikam penjelasan, Kartila malah memperhatikan orang yang menjelaskan. Apa ya? Ismaya itu jika sedang menjelaskan memiliki daya tarik sendiri. Membuat orang yang sedang dia ajari akan menatapnya. Kartika yakin, jika Ismaya menjadi guru, muridnya tidak akan menjadi pintar! Kartika menumpu kepala pada tangannya. Matanya tak berkedip menatap Ismaya. Sudut bibirnya perlahan naik, membentuk sebuah senyuman.
"Terakhir kamu jumlahin hasilnya. Nah, ketemu," pungkas Ismaya. Cowok itu menatap Kartika. Lalu berdecak.
"Kan, malah senyum-senyum," komentar Ismaya. "Susah-susah aku jelasin, loh."
Ismaya salting dipuji begitu. Dia mengambil gelas jusnya. Tapi, bukannya dia minum malah dia tumpahkan. Memalukan! Dan Kartika dengan tak berdosanya malah tertawa. Dasar!
"Kok salting sih?" Goda Kartika.
Ismaya mengambil tissu untuk mengelap jus yang mengenai tangannya. Cowok itu melirik Kartika. "Nggak salting kok." Dan perbuatan Ismaya sangant menunjukkan kalau cowok itu salting. Kartika tertawa lagi.
"Ketawa terus! Nggak usah belajar sekalian," Kesal Ismaya. Kartika berhenti meski dia menahan tawa mati-matian. Ismaya kenapa sekarang jadi lucu begitu?
"Terserah kamu aja." Ismaya mengerjakan latihan soalnya kembali.
"Yah, yah, ngambek," ujar Kartika. "Jangan ngambek gini dong. Nggak seru jadinya." Kartika menggoyang-goyangkan tangan Ismaya. Tapi Ismaya menepisnya.
"Udah. Belajar lagi aja!" Perintah Ismaya.
Kartika cemberut. "Yaudah," cewek itu kembali mengerjakan soal. Alisnya mengernyit. Matanya tajam mengamati soal. Sementara itu, jarinya ikut menghitung angka. Bibirnya komat-kamit tanpa suara. Sesekali menggaruk kepala jika kesulitan menjawab. Ismaya yang tengah melirik tersenyum sendiri. Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Kartika," panggil Ismaya. Kartika hanya bergumam sebagai jawaban. Sementara fokusnya masih pada soal. "Yang jemput kamu ke sekolah emangnya siapa?"
__ADS_1
Oke, Ismaya terlalu overprotective.
"Kak Mark," jawab Kartika tanpa menoleh. Dan saat itu Ismaya tau, dia tidak boleh marah, kan? Kartika sudah bilang akan ada yang menjemputnya kan?
Tapi kenapa harus Mark?
***
"Kamu mirip ayam," Kartika tertawa. Saat ini mereka tengah keluar dari kafe. Sedari tadi, cewek itu menyama-namakan muka Ismaya dengan hewan. Kelinci lah, burung merpati lah, beruang lah, macan lah. Dan yang paling parah; kecoa.
"Iya. Kamu mirip hamster," balas Ismaya.
"Nggak apa-apa. Hamster lucu," bela Kartika. Dia menjulurkan lidah.
Hari sudah petang. Matahari merangkak turun untuk kembali ke persembunyiannya. Dan matahari cahaya matahari senja kala itu memantul di danau yang jernih.
"Ismaya. Bagus banget," Kartika menunjuk danau. Cewek itu berlari mendekat. Sosoknya menjadi bayangan hitam diterpa cahaya sunset. Dengan sigap, Ismaya mengambil ponselnya dan memotret Kartika. Ismaya melihat hasil potretnya dan tersenyum.
"Pulang, yuk!" Ajak Ismaya. Kartika mengangguk antusias. Lalu mengikuti Ismaya dengan mata menatap sunset.
"Bagus banget, tau," beritahu Kartika. Seolah-olah Ismaya tak menyaksikan sunsetnya.
Ismaya mengangguk lalu memasangkan helm pada Kartika. Mengaitkan pengamannya. Dan saat selesai Ismaya melihat di seberang jalan, seorang Mark tengah berjalan bersama seorang cewek yang tak Ismaya kenal. Posisi Kartika yang memunggungi cowok itu, membuat cewek itu tak bisa melihatnya. Ismaya menatap mereka sampai hilang di ujung jalan.
"Kok malah bengong," tegur Kartika.
Ismaya merunduk lalu tersenyum sementara matanya menatap ke arah hilangnya Mark tadi. "Hehe. Tadi kayak lihat uang terbang,"
"Uang terbang apaan," komentar Kartika. Ismaya nyengir. Lalu memakai Helm dan naik motornya. Kartika menyusul. Sedetik kemudian, motor sudah berjalan. Setengah dari diri ismaya berteriak 'kasih tahu'. Tapi, dari dalam hatinya, menolak untuk memberitahukan pada Kartika.
"Hati-hati," pesan Kartika setelah sampai rumahnya. Ismaya melambai yang dibalas Kartika. Cowok itu segera sampai di rumahnya. Dia langsung merebahkan tubuh di kasur. Menatap langit-langit kamar. Perbuatan Mark tadi bisa dia jadikan bukti pada Kartika siapa Mark sebenarnya. Tapi ini bukan hal yang tepat. Kartika sudah menyukainya. Jadi, kenapa Ismaya harus melibatkan orang lain?
Ismaya menghembuskan nafas. Dia duduk dan meraih tas sekolahnya. Membongkar isinya. Dan dia menemukan buku tulis tadi siang di dalamnya. Ismaya berdecak. Kenapa bukunya malah dia bawa pulang? Harusnya Ismaya mengembalikan buku itu.
Sudahlah. Buku ini bisa dia kembalikan besok. Ismaya beranjak ke kamar mandi. Membersihkan diri, bersuci, lalu menunaikan shalat Maghrib.
***
__ADS_1