Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Nggak. Kita sahabat. Dan lo nggak boleh minta maaf, "


__ADS_3

Ismaya melongo menatap bangunan besar yang ada di depannya. Bangunan dengan cat warna hitam. Memiliki jendela-jendela besar yang menghiasi dinding-dindingnya. Atapnya yang tinggi sangat cocok untuk bunuh diri. Tapi Ismaya tidak berniat melakukannya tentu saja. Ismaya menelan ludahnya gugup. Dia menoleh saat pintu gerbang rumah itu terbuka. Gaby dengan seragam lengkap menghampiri Ismaya dengan wajah datarnya.


"Nggak usah pelototin rumah gue, bisa? " ucap Gaby sarkastis.


Ismaya menggeleng. Lalu menatap Gaby canggung.


"Yuk, berangkat! " ajak Ismaya. Sebenarnya dia minder sendiri. Di dalam rumah Gaby pasti banyak kendaraan yang lebih bagus dari motor matic buluk nya.


"Gue nggak matre, bangsat! " ketus Gaby seakan bisa membaca pikiran Ismaya. Ismaya semakin kikuk. Cowok itu mengulurkan helm yang diterima Gaby cepat.


"Gue mau cepat sampai sekolah, " ujar Gaby saat naik ke boncengan Ismaya. Ismaya cemberut.


"Suka banget ngatur:ngatur, lo, " bisik Ismaya.


"Gue masih bisa dengerin omongan lo, " desis Gaby.


Ismaya cepat menjalankan motor sebelum mereka adu mulut lanjutan. Ismaya malas jika harus menanggapi ocehan panjang lebar dan mematikan Gaby. Kata-kata yang keluar dari mulut cewek itu mengandung racun yang membuat kuping terasa panas.


Saat keduanya sampai, Gaby langsung turun dan menyerahkan helm pada Ismaya. Tanpa bicara sepatah kata cewek itu melenggang pergi. Membuat Ismaya mati-matian menahan hasratnya mencekik Gaby hingga mati.


Tapi, Ismaya tetap mengejar Gaby yang entah kenapa ngambek padanya. "By, tungguin. Gue anterin ke kelas lo, " Ismaya menyusul langkah pendek tapi cepat milik Gaby.


"Ck. sebel gue liat muka lo lagi! " kesal Gaby.


Ismaya menghembuskan udara dari mulutnya. "Gue mau bicarain hal penting sama lo. Ntar gue samperin lo waktu istirahat. Ya, nggak?" Ismaya dengan santainya merangkul Gaby, Padahal langsung ditepis oleh cewek batu itu.


"Nggak usah pegang-pegang, " sentak Gaby.


Ismaya terkekeh. Lalu berjalan dengan diam di Gaby. Hingga keduanya sampai depan kelas Gaby.


"Gaby, " panggil Ismaya. Gaby berbalik dan memutar bola matanya malas.


"Semangat belajar, ya! jangan nakal di kelas, " Ismaya mengacak pelan rambut cewek itu. Membuat Gaby terdiam di tempat.


"Bye, sayang, " mata Ismaya melirik ke dalam kelas Gaby. Tepat dimana seorang cowok tengah menatapnya. Lalu berbalik pergi. Meninggalkan Gaby yang hanya bisa menatap kepergiannya dengan jantung yang meronta-ronta.

__ADS_1


***


"Saya bagi kelompok tugas untuk biologi. " ucap bu lastri di depan kelas.


"Kelompok terdiri dari empat anak. kelompok pertama Dhea, saskia, Rafa, dan Jonathan. Kelompok dua Ismaya, Raven, dan Sinta. Kelompok tiga..., " ujar bu Lastri.


Kartika melirik Ismaya yang fokus kepada Bu Lastri. Dia ingin tau bagaimana reaksi Ismaya. Tapi cowok itu tenang-tenang saja. Bahkan balik melirik Kartika balik saja tidak. Jantung Kartika berdebar-debar gugup. Tapi bukannya hal ini malah baik? Ini kesempatan untuk dia memperbaiki hubungan, bukan?


Kartika segera mengalihkan pandangan saat Ismaya balas menoleh. Cowok itu mengangkat alisnya. Kartika merasa jantungnya semakin cepat beroperasi saat ketahuan mengamati cowok itu.


"Ada yang keberatan dengan kelompok yang saya ajukan? " tanya Bu Lastri setelah selesai membacakan kelompok tugas. Semua siswa tidak ada yang mengacungkan tangan.


"Semua sepakat. Sekian dari saya. Sampai berjumpa di pelajaran yang akan datang, " tutup guru itu sebelum meninggalkan kelas.


Kartika cepat-cepat membereskan buku saat Ismaya beranjak pergi. Dia harus bicara pada cowok itu. Disusul nya Ismaya yang berjalan di luar kelas.


"Ismaya! " panggil Kartika. Ismaya berhenti dan berbalik. Mengerutkan alisnya. Kartika mendekati cowok itu.


"Tugas kelompok... Di rumah gue aja ngerjainnya, " Kartika mencoba menatap Ismaya. Cowok itu mengangguk seadanya. Lalu menunggu Kartika mengucapkan sesuatu lagi.


Ismaya mengangkat satu alisnya. Membuat Kartika malu. "Bye. Gue mau ganti baju olahraga. " setelahnya Kartika pergi begitu saja. Entah kenapa, berada di dekat Ismaya saat ini membuatnya gugup.


Ismaya mengangkat bahu lalu menuju lokernya untuk mengambil baju olahraga.


***


Ismaya duduk di pinggiran lapangan Voli setelah timnya bermain. Cowok itu mengibaskan baju olahraganya karena gerah. Beberapa orang membubarkan diri. Jam pelajaran olahraga sudah selesai. Ismaya berdiri. Dia akan membeli minum di kantin.


Saat melewati kolam renang, dia mendengar suara-suara. Ismaya mengerutkan kening. Lama kelamaan, jelaslah itu suara tawa. Jenis tawa yang membuat orang yang mendengarnya pasti merasa kesal. Ismaya segera masuk ke kolam renang saat itu juga. Matanya menemukan Mia dan Disa tengah berdiri di pinggiran kolam renang setinggi seratus delapan puluh lima meter. Dan di dalam kolam renang, seseorang berusaha menggapai sesuatu agar bisa keluar dari kolam tersebut sementara Mia dan Disa masih tertawa bahagia. Menertawakan cewek yang Ismaya tahu benar siapa orangnya.


"Kartika! " teriak Ismaya. Disa dan Mia menoleh. Mereke segera lari saat melihat Ismaya berlari lalu masuk ke dalam kolam.


Ismaya mencoba meraih tubuh Kartika yang meronta-ronta di dalam air. Tangan dan kaki cewek itu bergerak cepat yang hanya menciptakan cipratan air. Ismaya memegangi pinggang Kartika. Perlahan, tubuh cewek itu berhenti bergerak. Ismaya segera berenang ke tepian. Diletakkan tubuh Kartika di pinggiran kolam. Mencoba membangunkan Kartika yang pingsan. Ismaya menepuk pipi Kartika pelan. Tapi hal itu tidak berhasil. Ismaya menekan perut Kartika. Beberapa kali dia melakukannya hingga air keluar dari mulut cewek itu. Tapi, Kartika tak kunjung sadar.


Dengan kemantapan tekad, Ismaya membohongi tubuh Kartika dan berlari menuju UKS sementara orang-orang menatapnya penasaran.

__ADS_1


***


Hal pertama yang dilihat Kartika saat pertama kali membuka mata adalah langit-langit putih UKS. Cewek itu mengerang. Kepalanya menoleh ke arah seseorang yang baru saja datang. Seketika, Kartika menahan nafasnya. Rasa canggung memenuhi perasaannya. Sementara Hana mendekat ke arahnya.


"Gimana keadaan lo? " tanya Hana sambil membereskan barang-barang yang dia gunakan untuk menolong Kartika selepas pingsan di kolam renang. Hari ini Hana kebagian tugas merawat di UKS.


Kartika tidak menjawab. Cewek itu mengalihkan pandangan. Menatap tembok daripada harus menatap Hana.


"Ismaya yang bawa lo ke sini, " cerita Hana. "Kebetulan hari ini gue tugas, "


Lagi-lagi Kartika hanya diam. Dia menyesal memutuskan pertemanan dengan Hana, Ratih, dan Tari. Jujur, dia selalu merasa kesepian. Salahnya yang dulu memilih Mia dan Disa. Padahal keduanya ingin Kartika jatuh. Kartika memang bodoh.


"Gue pergi, " ucap Hana setelah selesai membersihkan alat-alat. Hana membuka pintu saat Kartika berucap pelan.


"Maafin gue, gue salah karena ngira lo, Tari, sama Ratih nggak pedulian. Gue yang salah. Gue minta maaf, " ucap Kartika memberanikan diri. Tubuhnya masih lemas. Meski begitu, dia mencoba duduk.


Hana berhenti. Cewek itu diam tak bergerak di tempat.  Suasana UKS menjadi sunyi. Atmosfer ruangan menjadi dingin.


"Gue salah. Gue nggak bisa jadi orang baik. Gue selalu ingin semua berjalan sesuai keinginan gue. Gue ngecewain kalian semua. Gue egois. Gue munafik. Gue..., " Kartika mulai terisak. Sementara airmata mulai turun dari kedua pipinya. "Gue orang jahat. Gue, gue nggak pantas dimaafin. "


Hana berbalik. Cewek itu mendekati Kartika yang kini meletakkan satu lengan untuk menutupi mata. "Gue nggak pantas dapat maaf kalian, " Isak Kartika.


Hana menahan nafas. Dadanya merasa sesak. Pertemanan mereka... Haruskah mereka berakhir saling pura-pura tidak mengenal. Munafik sekali dia! Hana menyayangi Kartika. Dia menyayangi kartika layaknya saudara.


"Gue bodoh. Gue..., "


"Udah, " Hana memegang lengan Kartika yang tidak menutup mata. Hal itu tidak mengubah posisi Kartika. "Lo nggak kaya gitu. Lo orang baik. Bukan orang jahat, " Ucap Hana. Cewek itu kini memegangi pundak Kartika. Membuat Kartika menjauhkan lengan yang menutupi matanya.


Hana langsung memeluk Kartika. "Lo sahabat gue. Sahabat Tari dan Ratih. Kita berempat sahabat, " Hana berucap ditengah pelukannya. Membuat Kartika semakin sesenggukan.


"Maafin gue, Han. Gue minta maaf, " bisik Kartika parau.


"Nggak. Kita sahabat. Dan lo nggak boleh minta maaf, "


****

__ADS_1


__ADS_2