Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
Tentang Keduanya


__ADS_3

Kartika tengah memainkan Hpnya saat Ismaya memanggil namanya. Kartika mendongak dan mendapati Ismaya berdiri di depannya dan menatapnya datar. Kartika hanya mengangkat alisnya.


"Gue perlu bicara," ucap Ismaya datar. Saat ini kelas kosong. Hari masih terlalu pagi. teman-teman sekelas mereka belum berangkat. Membuat suara Ismaya terdengar lebih jelas di telinga Kartika.


Kartika hanya menatapnya. Tidak berniat bergerak sedikitpun dari kursinya. Cewek itu bahkan menatap Hpnya kembali.


"ya udah, ngomong aja," ujar Kartika. Ismaya menghela nafas gusar. Lalu duduk di samping Kartika.


"Semalam gue telfon lo, nggak diangkat. Kenapa?" tanya Ismaya. Kartika berhenti sejenak dan fokus kembali ke layar Hpnya.


"Hp gue lowbatt," jawab Kartika.


Ismaya menghela nafas. Cowok itu memejamkan mata. Pikirannya tentang Kartika yang mengkhianati nya terus berputar dalam benak. Dan Kartika sudah memberikan jawabannya. Mau tak mau, Ismaya harus percaya "Maaf. Gue curiga sama lo," ujar cowok itu. "Gue berburuk sangka. Ngira lo yang nggak-nggak,"


Kartika tersenyum miring. "Udah bakat lo, kan?"


Ismaya terdiam. Cowok itu mengalihkan pandangan dari Kartika, meski ia tahu Kartika sama sekali tak menatapnya. Kini Ismaya berpikir, sejak kapan dia selalu mencurigai Kartika? Tak pernah sekalipun dia mencurigai Kartika. Ismaya memilih duduk kembali di kursinya karena teman-temannya mulai berdatangan.


"Ismaya," panggil Sinta. Ismaya menatap cewek itu. Matanya melirik Kartika sejenak. Tapi cewek itu masih fokus menatap hp.


"Bantuin gue materi Vektor, bisa?" tanya Sinta.


"Bisa kok," jawab Ismaya. Sinta mendekati Ismaya dan menarik kursi di dekatnya. Membawa menuju meja Ismaya dan duduk.


"Gue bingung soal ini," Sinta menunjuk sebuah rumus.


"Ini..." Ismaya melirik Kartika lagi. Dan Kartika masih sibuk dengan Hpnya. Ismaya memilih mengajari Sinta. Percuma sekali berharap banyak pada Kartika. Cewek itu sepertinya tidak pernah cemburu pada cewek yang dekat dengannya.


"Lo harus mencari..,"


"Mia, gue izin, ya,"


Ucapan Kartika mengalihkan fokus Ismaya. Saat cowok itu menoleh, Kartika sudah pergi dengan membawa tasnya.


"Izin apaan?" tanya Mia, sekertaris kelas.


"Sodara gue sakit," Kartika nyengir.


"Alah, bilang aja bolos mau ngapel," celetuk Disa, cewek yang duduk di depan Mia. Kartika lagi-lagi hanya nyengir. Lalu berjalan meninggalkan kelas. Menyisakan Ismaya yang hanya bisa menatap pintu kelas penuh kepedihan.


"Gimana, Is?" tanya Sinta kesal.


"Sori, gue lupa," Ismaya mulai menjelaskan kembali. pikirannya melayang kepada Kartika. Mau kemana cewek itu?

__ADS_1


...****************...


"Lo kok kaya kehilangan semangat hidup gitu, sih?" tanya Candra setelah menyesap jus alpukat kesukaannya. Dia dari tadi memperhatikan Ismaya yang lemas. Bihun goreng di depannya juga dibiarkan mendingin tanpa disentuh. Padahal Ismaya suka sama bihun goreng. Meski tidak terlalu suka. Tapi kan tetap saja suka.


"Apaan. Gue masih punya banyak impian kok," balas Ismaya tak terima. Tapi Candra menatapnya dengan pandangan curiga.


"Jujur sama gue, lo kenapa?" paksa Candra.


"Candra," teriak seorang cewek. Candra mengerucutkan bibir.


"Ngapain dia?" gumam Candra saat melihat Ratih melambai padanya. Lalu duduk bersama teman-temannya, Mentari, dan Hana.


"Lo pacaran sama Ratih?" tanya Aru yang baru kembali dari toilet. Cowok itu melihat semua kejadiannya.


Candra mendengus geli "Nggak!"


Aru hanya mengangguk. Dalam batinnya menyumpahi Candra dan Ratih berjodoh.


"Hai," sapa Sinta. Ketiga cowok itu menoleh. Cewek itu membawa semangkuk bakso.


"Boleh gabung?" tanya cewek itu. Aru menatap Sinta lalu matanya berkeliling. Masih banyak meja yang kosong. Aru hanya menatap Sinta, Ismaya diam saja dan Candra menatap sinis Sinta. Membuat cewek itu gugup sendiri.


"Duduk aja, Sin," Ismaya akhirnya mengizinkan.


"Sori, gue harus ke perpustakaan sekarang," izin Aru akhirnya. Lalu beranjak pergi.


"Gue udah nggak lapar," Candra mendorong mangkuk mie ayamnya yang baru dimakan separuh. Lalu pergi. Bahkan meninggalkan jus alpukat nya yang belum tandas.


Tinggal Sinta dan Ismaya di sana. Sinta melirik Ismaya rikuh. Cowok itu masih anteng di tempatnya.


"Sori, ya, Is. Teman-teman lo pergi gara-gara gue," ujar Sinta penuh penyesalan. Baksonya tidak jadi dia makan.


"Nggak kok. Mereka lagi pada sibuk," ujar Ismaya lalu pura-pura makan bihun gorengnya yang sudah dingin. Sinta menatap Ismaya lama, lalu kembali makan.


"Sinta," panggil Ismaya setelah meminum es tehnya. Dia sudah selesai makan.


Sinta yang tengah memakan baksonya menoleh.


"Gue udah selesai," ujar Ismaya lalu berdiri dari duduknya.


"Lo nggak mau nungguin gue?" tanya Sinta penuh harap. Setengah panik.


Melihat mata Sinta, Ismaya jadi tak tega. Cowok itu duduk kembali. Membuat Sinta menghembuskan nafas lega. Cewek itu tersenyum dan melanjutkan makannya kembali. Sesekali menatap Ismaya. Meskipun Ismaya tak menatapnya sama sekali. Kepalanya menunduk menatap sepatunya.

__ADS_1


Bel tanda masuk berbunyi. Sedangkan Sinta belum menyelesaikan makannya. Dia sengaja melamakan durasi makan.


"Sin," panggil Ismaya.


"Bentar lagi gue selesai kok," ujar Sinta. Lalu makan baksonya lagi. Terlalu pelan.


"Udah bel," Ismaya nampak tak nyaman.


"Iya. Bentar lagi. WOI!" Sinta berdiri karena seseorang menyiramnya dengan air putih. Ismaya juga ikut berdiri. Dan menatap pelaku penyiram Sinta.


"Ups. Sori, nggak sengaja," Ratih pura-pura menutup bibirnya.


"Sembarangan, lo, ya," teriak Sinta. Cewek itu menatap nyalang Ratih. Hana dan Mentari berdiri di belakangnya. Menatap Sinta dingin.


"Lo ngapain sih, Ra?" tanya Ismaya heran.


"Lo yang ngapain, Ismail?" Ratih mendorong Ismaya pelan.


"Ini kelakuan lo di belakang Tika?" teriak Ratih berapi-api.


Ismaya mengerutkan kening. Salahnya di mana?


"Maksud lo?" tanya Ismaya.


Ratih berdecak kesal.


"Lo masih nanya maksud Ratih?" Hana menimpali. "Maksudnya, lo kenapa berdua bareng sama cewek ini?" Hana menunjuk Sinta yang mengibas-ibaskan seragamnya yang basah. Ikut greget karena kelakuan Ismaya.


"Gue cuma makan bareng doang. Nggak ngapa-ngapain," kilah Ismaya.


Hana berdecak dan Ratih tersenyum miring. Mentari anteng saja.


"Terserah lo ajalah," ujar Ratih. Cewek itu berjalan pergi. Menabrak bahu Sinta saat melewatinya.


"Aw," keluh Sinta.


"Jangan harap lo bakal bisa deketin Tika lagi," ucap Hana menunjuk Ismaya saat melewatinya. Dan melewati Sinta tanpa menatapnya.


Tinggal Mentari di tempatnya. Cewek itu menatap Ismaya, lalu beralih menatap Sinta dan kembali pada Ismaya. Berjalan mendekati cowok itu. Berhenti di depannya.


"Pertahanin Tika." Mentari menepuk bahu Ismaya lalu pergi.


Ismaya menyentuh bahunya yang tadi disentuh Mentari. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, Ismaya menyukai Kartika. Di sisi lain, Kartika menyukai cowok lain. Kini pilihannya ada dua; bertahan dalam ketidakpastian? atau pergi meninggalkan?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2