Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Lo bilang lo mau bikin gue jadi peringkat satu. Mana? "


__ADS_3

Ismaya melangkah memasuki koridor sekolah. Hari ini masih pagi, tapi sudah banyak siswa yang berangkat dan mengisi koridor hingga ramai. Pikiran Ismaya masih sibuk dengan soal Kartika dan Mark kemarin. Hingga dia mendengar krusak krusuk yang membuat telinganya terasa kosong panas.


"Iya, gue dengar Kartika main curang. " kata suara satu


"Gue juga dengarnya gitu. Dia main curang dengan manfaatin pacarnya, " ucap suara lain lagi.


"Ey, tapi kalian lihat postingan Kartika semalam? " tanya lainnya.


"Eh, iya. Bukannya dia post foto bareng Kak Mark, ya? "


"Astaga! Pakai pelet apaan sih, Kartika? Kok bisa laku gitu? "


"Pakai pelet dukun, kali. Hahaha, "


Ismaya memilih berjalan meninggalkan gerombolan cewek-cewek tukang gosip dan sok tau itu. Ismaya meradang mendengar Kartika di jelek-jelekkan. Tapi, biarkan. Mereka orang luar yang tidak tahu apa-apa.


"Awww, " rintih Ismaya saat dirinya menabrak seseorang. Ismaya segera sadar dan membantu cewek yang tengah berjongkok memungut buku-bukunya yang jatuh.


"Maaf, Nggak sengaja, " pinta Ismaya sembari mengambil buku di lantai.


"Gue kok yang sengaja, "


Ismaya mendongak saat mendengar ucapan cewek itu. Matanya melotot saat melihat siapa yang ada di depannya. Refleks, Ismaya berdiri. Membuat buku di tangannya jatuh di lantai. Cewek itu memungut semua bukunya. Lalu berdiri berhadapan dengan Ismaya.


"M.. Mbaknya kok..., " gagap Ismaya. Cewek itu tersenyum miring.


"Iya. Gue sekolah di sini. Kenapa? "


"Tapi... Mbak... Bukannya mbak..., "


cewek itu maju mendekati Ismaya. berjinjit sedikit untuk menyamakan tinggi badan, mendekatkan bibirnya ke telinga Ismaya. Lalu berbisik pelan.


"Gue Gabriella Adijaya. Understand? " cewek itu mundur tiga langkah. Menatap Ismaya yang diam di tempat dengan senyum miring. Lalu berjalan pergi. Ismaya berbalik menatap kepergian cewek itu.


"Oh, ya." Cewek itu berbalik. Menatap kembali Ismaya. "Jangan panggil gue mbak. Panggil gue Gaby, " setelahnya, cewek itu benar-benar pergi. Meninggalkan Ismaya yang masih terdiam lalu di tempatnya. Dan saat Ismaya sadar, dia tengah menjadi tontonan warga satu koridor. Ismaya segera menuju kelasnya.


...****************...


Ismaya berkali-kali menoleh ke meja Kartika yang masih kosong. Cowok itu menghela nafas. Ke mana Kartika saat Ismaya akan meminta kejelasan postingan Kartika semalam.


Tiba-tiba Ismaya teringat perkataan Gaby tadi. Tunggu, siapa nama Gaby? Gabriella Adijaya? Sepertinya Ismaya familiar dengan nama itu. Tapi di mana Ismaya pernah menjumpainya? Entahlah... Ismaya pusing!


"Woy, pengumuman peringkat udah ditempel di mading, " heboh seorang cowok di depan pintu kelas Ismaya. Para murid yang ada di sana langsung berderap keluar kelas. Seorang siswa berhenti di depan Ismaya.


"Ismaya, cepetan dilihat, " ujar cowok itu lalu pergi.


Ismaya berdiri dari kursi lalu berjalan keluar kelas menuju mading sekolah. Di sana, sudah ramai orang yang mengerumuni mading. Mereka mencoba mencari nama mereka yang berujung mendesah kecewa karena namanya tak ada. Ada yang sudah menebak dan senang saat tebakannya benar.


"Wiihhh, peringkat satunya bukan Ismaya, Teman-teman semua!"


Ismaya mendengar ucapan itu.

__ADS_1


"Siapa? " tanya suara lain yang beradu dengan suara-suara lain.


"Mia Amanda, "


Mendengar itu, Ismaya langsung menyerobot keramaian. Cowok itu maju hingga barisan depan. Matanya mencari di papan nama.



Gabriella Adijaya kelas XII IPS 2



Gaby mendapat peringkat satu? Ah, bukan ini yang Ismaya cari. Lalu berpindah pada kertas di sebelahnya. Peringkat untuk kelas sebelas. Dan mata Ismaya menemukannya.


1.Mia Amanda kelas XI IPA 1


Mata Ismaya membulat sempurna. Dia membaca barisan selanjutnya.


2.Kartika Nawangwulan XI IPA 1


3.Ismaya Putra Diwangga XI IPA 1


Ismaya menatap papan pengumuman itu dengan nanar. Kartika peringkat dua?


Dan saat Ismaya tak sengaja melihat ke samping kanannya, Kartika berdiri di sana. Menatap nanar papan informasi.


"Ih, Kartika peringkat dua ya?" ujar sebuah suara.


"Ya nggak lah. Dia kan, mainnya curang. Bawa-bawa Ismaya jadi korbannya, "


Ismaya menoleh ke arah orang yang mengatakannya. Cewek itu terdiam ketika sadar Ismaya menatapnya. Ismaya mendengus lalu menatap Kartika kembali. Tapi Kartika sudah membelah kerumunan mencoba pergi. Ismaya menyusulnya.


"Kartika! " panggil Ismaya. Cowok itu mengejar Kartika yang berlari di Koridor menuju gerbang sekolah.


"Kartika. Tunggu sebentar! "


Ismaya meraih tangan Kartika. Membuat cewek itu berbalik ke arahnya dengan wajah penuh air mata.


"Kartika. A, Aku_"


"Lo ngerusak segalanya! " teriak Kartika. "Mana ucapan lo yang bilang mau bikin gue jadi peringkat satu? "


"Kartika. Dengar dulu, "


"Apa yang harus gue dengar? " teriak Kartika parau. Mencoba melepaskan cekalan tangan Ismaya. Tapi Ismaya terus memeganginya.


Tak mereka sadari, murid-murid yang tadi melihat papan informasi kini berdatangan untuk melihat mereka berdua. Bahkan kamera HP sudah siaga satu.


"Tika..., "


"Lepasin! " Kartika menyentak tangan Ismaya. "Lo bilang lo mau bikin gue jadi peringkat satu. Mana? "

__ADS_1


"Kartika... "


"Dan lo gagal! "


Ismaya menatap Kartika. Sesuatu dalam dirinya terasa panas.


"Selama ini, gue ngedeketin lo. Biar apa? Biar lo bisa bikin gue jadi peringkat satu. Tapi nyatanya, lo nggak berguna! Sampah!"


Ismaya menahan sesuatu yang makin panas dan bertambah sesak. Melihat Kartika yang menangis dan berteriak membuka, pintu hatinya.


Kartika tertawa di antara derai air mata nya. Jenis tawa yang membuat Ismaya menciut. Dan bersumpah tidak mau mendengar tawa itu lagi.


"Orang bilang gue manfaatin lo. Dan lo harus tau. Itu benar. Gue cuma manfaatin lo. " ucap Kartika. Mengusap air matanya. Lalu menatap benci pada Ismaya. "Mulai sekarang, kita putus! "


Kartika berbalik dan menemukan Mark di sana. Cewek itu mengeluarkan air matanya kembali. Lalu berlari memeluk Mark. Ismaya terkekeh menyedihkan melihatnya. Cowok itu berbalik ke gedung sekolah. Dan semua orang menatapnya dengan pandangan memelas. Ismaya menerobos kerumunan lalu berjalan lemas menuju Rooftop.


Perlahan, air mata Ismaya luruh. Harga dirinya sebagai laki-laki telah dilukai.


...****************...


Hari sudah beranjak sore. Matahari perlahan turun ke persembunyiannya. Burung burung melintas pelan seakan mengikuti arah matahari terbenam. Pemandangan itu indah disaksikan dari Rooftop SMA Makuta Rama. Tapi sayangnya, orang yang berada di sana tengah merenung sedih. Pemandangan cantik itu tak bisa menyembuhkan luka hatinya.


Ismaya tersenyum miris. Semua orang-Temannya, Anggota The Rose, anak sekolahnya, seeemuanya-bilang, Kartika hanya memanfaatkan dirinya. Semua orang bilang, Ismaya tolol. Tapi Ismaya mencoba percaya pada Kartika. Membiarkan dirinya menjadi tolol demi gadis itu. Tapi apa? Kartika hanya memanfaatkannya. Membuat semua orang benar. Membuat Ismaya benar-benar tolol!


Ismaya mengusap matanya yang merah. Cukup dia menangis saat ini. Bukannya Ismaya lemah, dia hanya lelah. Dia sudah sangat mempercayai Kartika. Dan cewek itu malah dengan mudah mengkhianatinya.


Ismaya menghela nafas. Kenapa Kartika mengkhianatinya?


Ismaya memutuskan untuk pulang. Kasihan nenek pasti sudah menunggunya. Dia berjalan lemas dari atap sampai parkiran. Menuju motornya yang masih terparkir rapi di tempatnya sendirian. Motor-motor lain sudah pergi bersama pemiliknya yang sudah pulang. Ismaya menaiki motornya dan sadar sesuatu. Dia segera turun dan berjongkok.


"Sial! Bannya kempes! " rutuk Ismaya.


Sial sekali dia hari ini!


Suara derum motor yang kemudian berhenti terdengar jelas. Saat Ismaya mendongak dia mendapati seseorang dengan jaket hitam dan helm full face tengah menaiki sebuah motor sport di dekatnya. Orang itu membuka helmya, dan rambut panjang lurus terbang tertiup angin sore yang berhembus pelan.


Ismaya kalang kabut saat menyadari itu Gaby. Cewek itu turun dengan helm di tangannya. Menuju arah Ismaya dengan wajah balik kayunya.


"Kenapa? " tanya Gaby datar.


"Lo nggak perlu tahu!" Ismaya melakukan kesalahan dengan pura-pura menatap ban motornya karena setelahnya Gaby mendengus geli.


"Ban kempes, " gumam Gaby tapi Ismaya bisa mendengar.


"Bareng gue aja! " bukan permintaan. Lebih seperti perintah. Tapi Ismaya pura-pura tuli.


Gaby berdecak lalu melempar Helm pada Ismaya. Untung cowok itu tengah melirik. Jadi dengan sigap, dia menangkap helmnya. Ismaya berdiri. Menatap protes pada Gaby. Tapi cewek itu sudah mengambil helm milik Ismaya yang nyantol di kaca spion.


Ismaya menghela nafas. Mau tidak mau dia harus ikut Gaby. Dengan Ismaya yang membawa motor dan Gaby yang membonceng tentunya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2