Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Lo, nggak ada niat bunuh diri setelah diputusin Tika, kan?"


__ADS_3

Cewek itu berjalan mondar mandir di kelas yang sudah sepi. Membuat cowok yg tengah duduk di meja mendengus geli. Keduanya belum pulang. Memilih menghabiskan waktu bersama. Lagi pula, seluruh sekolah juga tahu, mereka sudah dekat.


"Kenapa? Masih belum rela kalau lo nggak ikut olimpiade?" tanya si cowok. Cewek itu menghentikan kegiatan mondar-mandirnya. Menatap cowok tampan di depannya.


"Kak, Aru kalah di olimpiade. Padahal semua orang tau kalau aru pintar," ujar cewek itu.


"Harusnya kamu yang ikut lomba. Lo pasti menang, deh," ujar cowok itu.


"Kak, gue nggak ikut karena sakit. Kakak tau? Papa marah besar! Hah, papa berambisi agar gue jadi nomor satu," jelas cewek itu. "Aru, sih, masalah gampang. Dia cuma beruntung kemarin. Dia juga juara dua di olimoiade," cewek itu menghela nafas. "Masalahnya, orang yang jadi juara satu bakal dipanggil buat sekolah di sini,"


"Namanya Ismaya," ujar si cowok. "Ismaya Putra Diwangga. "


Si cewek membulatkan matanya. "Ismaya?" Ulangnya. Si cowok mengangguk.


"Kak Mark tahu dari mana?" Tanya si cewek.


Si cowok terkekeh. "Gue pasti tahu si cowok Diwangga ini, Tika,"


Cewek itu menatap cowok di depannya. "Gue nggak mau dia ngalahin gue, kak!"


"Yah, lo harus pengarughi dan manfaatin dia," cowok itu tersenyum miring.


...****************...


Ismaya duduk dan membaca buku di dalam kamarnya. Setelah mengambil motor kemarin, Gaby menghilang entah kemana. Malamnya pun dia tidak pulang. Mau tak mau Ismaya menghubungi cewek itu. Gaby malah menjawab dengan kasar. Ismaya jadi kapok sudah menghubungi cewek itu. Ismaya memilih menempati kamarnya selagi tidak ada Gaby.


"Assalamu'alaikum," suara seorang cowok. Ismaya segera berdiri. Keluar kamarnya dan mendapati Aru dan Candra berdiri di pintu.


Sejak perkelahian Ismaya dengan Candra, mereka jadi tidak pernah saling menyapa. Mengingat Ismaya sudah memukul candra, dia jadi bersalah. Padahal Candra berusaha berbuat baik padanya. Tapi Ismaya dengan kejam malah memukul cowok itu.


"Candra," dengan dramatis Ismaya memeluk candra. Tentu saja Candra berontak.


"Apaan peluk-peluk. Lepasin!" Candra berhasil melepas pelukan Ismaya. Wajahnya masih agak judes.


"Maafin gue, Ra. Padahal lo udah berusaha buat ngingetin gue. Tapi gue tolol. Gue nggak percaya sama lo. Gue malah nyakitin lo," Ismaya Ingin menangis rasanya.


"Nah, itu sadar," ucap Candra judes. Aru langsung menyikutnya. Melalui tatapan mata, Aru bilang 'kita ke sini mau hibur Ismaya, bukan malah sok sakratik sama dia'. Candra menghela nafas, lalu menepuk punggung Ismaya.


"Iya, gue udah maafin, kok." Ujar Candra. "Boleh masuk, kan?"


Ismaya mempersilahkan dua temannya masuk. Candra dengan kurang sopan memasuki rumah Ismaya dan duduk di kursi. Aru menatap tajam candra. Tapi Candra pura-pura tidak peduli. Dasar Candra.


"Mau minum apa? Gue buatin, deh," tawar Ismaya. Aru yang baru saja duduk mendongak menatap Ismaya.

__ADS_1


"Air put_"


"Bobba milk tea rasa red velvet. Itu minum gue," Candra memotong perkataan Aru. Tentu mendapat pelototan Aru. Lama bersama Ratih, membuat Candra sama sintingnya dengan cewek itu.


Ismaya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue nggak ada Bobba milk tea, Ra. Adanya teh manis, mepet-mepetnya es teh. Es teh aja, ya," ujar Ismaya bernegoisasi.


"Nggak usah. Teh aja, Is," Aru yang menjawab. Dia kasihan pada Ismaya. Candra ini sedang suka jahil. "Buat dia nggak usah kasih gula sekalian," Aru menunjuk muka Candra.


"Apaan lo, Ru. Sirik banget sama gue," kesal Candra. Aru melirik Candra kesal.


"Minumnya apa?" Tanya Ismaya seperti pelayan kafe saja.


"Ya udah, teh manis ajalah," ujar Candra akhirnya.


Ismaya mengangkat kedua jempol tangannya lalu pergi ke dapur. Meninggalkan Aru dan Candra yang saling diam di ruang tamu.


"Lo ingat nggak? Pertama kali kita ketemu dan akhirnya berteman sama Ismaya?" Tanya Candra akhirnya.


Aru yang tadi melirik sebal Candra, kini menatap cowok itu baik-baik. Senyuman terkembang di wajah cowok itu. Mengingat pertemuannya dengan Ismaya, cowok baik itu. "Gue ingat banget lah. Waktu itu kita lagi berantem, kan?"


Candra mengangguk.


"Apa, lo Baruna jelek?" Sentak Candra yang saat itu menatap Aru galak.


Saat ini mereka tengah berkelahi di koridor sekolah yang sepi. Jam pelajaran masih berlangsung. Tapi keduanya malah berada di luar kelas. Padahal mereka beda kelas. Tapi, waktu itu, Candra marah karena Aru juara dua lomba OSN. Jadi, cowok itu bersumpah akan memukul Aru. Cowok itu sudah berjanji pada Candra untuk juara satu. Tapi tidak menepati. Candra jadi marah sendiri.


Menyulut emosi Candra. Membuat Cowok itu segera melayangkan pukulan. Aru terpelanting ke lantai koridor.


"Lo bilang mau juara satu. Mana?" Kesal Cantra. Aru berusaha bangkit. Dia mengusap pipinya yang tadi kena bogem Candra.


"Brengsek lo , Candra!" Aru balas memukul Candra. Membuat Candra gantian terjatuh di lantai koridor. Ismaya yang saat itu baru dari kamar mandi merasa panik ada yang bertengkar. Apalagi ini hari kedua dia sekolah di SMA Makuta Rama. Ismaya bingung harus apa.


Akhirnya Ismaya memilih melerai kedua anak itu. Ismaya meraih kerah Aru ke belakang. Membuat keduanya beradu pandang. Wajah Aru langsung berubah melihat siapa yang ada di depannya.


"Lo....," Aru menggantungkan ucapannya.


Candra saat itu berusaha bangun. Matanya menatap Ismaya. Siapa orang ini?


"Ini jam pelajaran. Kenapa kalian malah berkelahi di sini?" Tanya Ismaya.


Aru membuang pandangan. Candra menatap kesal Ismaya.


"Kalian sepertinya teman dekat. Kenapa berkelahi?" Tanya Ismaya lagi.

__ADS_1


"Gara-gara lo," desi Aru.


Ismaya dan Candra mengernyit heran. Perlahan, Candra tau apa yang dimaksud Aru. Dia menatap Ismaya lama, membuat Ismaya risih dipandang begitu.


"Lo Ismaya?" Tanya Candra.


Ismaya semakin bingung. Tapi perlahan dia mengangukkan kepalanya.


"Ohhh, jadi lo, si juara OSN tahun ini!" Simpul Candra. Ismaya semakin bingung.


"Jadi lo kalah sama orang beginian?" Tanya Candra pada Aru. Jarinya menunjuk Ismaya. Membuat Ismaya merasa direndahkan.


"Iya. Gue Ismaya. Dan teman lo ini kalah sama gue. Dan lo tau? Apa yang bikin teman lo makin kalah? Lo yang ngehina dia kaya gini. Bikin teman lo semakin merasa kalah," tutur Ismaya. Cowok itu menatap Candra intens. "Jadi, apapun hasilnya, lebih baik lo hargai dia. Jangan cuma nyalahin. Lo belum tentu bisa kayak dia,"


Setelahnya Ismaya pergi. Candra dan Aru saling pandang sebentar. Candra kemudian memanggil Ismaya yang sudah melangkah agak jauh. Ismaya berhenti.


"Ismaya, lo mau kan, jadi teman kita?" Teriak Candra. Ismaya menoleh ke belakang dan mendapati Aru dan Candra tersenyum padanya. Ismaya balas tersenyum. Kepalanya mengangguk kecil sebelum akhirnya kembali berjalan.


"Ismaya waktu itu keren, ya," puji Aru. Dan dia samar-samar mendengar 'keren tapi tolol' dari bibir Candra. Aru memilih mengabaikan ucapan Candra. Aru tau, Candra masih agak kesal pada Ismaya tentang Kartika kemarin. Apalagi setelah Ismaya peringkat tiga, Kartika memutuskannya. Aru juga kesal. Meskipun dia peringkat empat, dia tidak terima Ismaya peringkat tiga. Harusnya Ismaya mendapat peringkat satu.


"Nih, minumnya," Ismaya datang membawa tiga gelas teh hangat di atas nampan. Dia ikut bergabung bersama dua temannya.


"Lo, nggak ada niat bunuh diri setelah diputusin Tika, kan?" Tanya Candra setelah menyesap minumannya. Ismaya sampi tersedak minumannya.


"Ehh, jangan bunuh diri pakai kesedak air minum. Nggak elite banget kalau lo mati karena kesedak. Nggak lucu!" Komentar Candra. Aru berusaha menghentikan batuk Ismaya.


"Lo kalau ngomong sukanya ngawur," komentar Aru pada ucapan Candra.


"Iya, bercanda, kok, Is. Jangan ambil hati, yaa," ujar Candra.


Ismaya yang sudah selesai batuk menatap Candra. "Gue nggak ada niatan buat bunuh diri, kok, Ra. Gue emang kecewa sama Kartika. Tapi gue nggak segitu bodohnya. Udah cukup gue tolol. Gue nggak mau ngecewain nenek," tutur Ismaya memuat Candra merasa tak enak sudah berbicara seenak hati.


Seorang cewek yang melintas mengambil fokus ketiganya. Apalagi saat cewek itu masuk kamar Ismaya dan menutupnya. Candra dan Aru menatap Ismaya.


"Emangnya ada cewek yang tinggal di sini?" Tanya Aru.


"Apa jangan-jangan selama ini lo udah nikah. Trus lo sembunyiin kenyataan ini. Trus lo_"


"Gue nggak nikah, Candra. Cewek itu cuma lagi numpang tinggal di rumah gue. Dia itu Gab_"


"Ismayaaaa.... Lo curi buku gue dan lo coret-coretin?" Teriakan cewek dari kamar Ismaya membuat ketiganya menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka. Disana, Gaby dengan ekspresi marah menatap Ismaya. Tiba-tiba dia melempar buku pada Ismaya. Ismaya sigap menangkapnya dan membukanga. Berakhir menepuk keningnya sendiri.


Astaga! Ismaya lupa dia pernah menemukan sebuah buku yang ternyata milik Gaby. Pantas saja dia tidak asing dengan nama Gabriella Adijaya. Ternyata buku ini milik Gaby. Matilah Ismaya.

__ADS_1


Saat Ismaya mendongak, Gaby tengah menyeringai jahat bak penyihir kegelapan. Sedetik, muka Gaby berubah datar. "Balikin buku gue," ucap Gaby sedatar mukanya.


...****************...


__ADS_2