
Pagi hari itu cerah. Matahari tampak pelan-pelan menaiki garis cakrawala. Burung-burung berkicauan merdu terbang kesana-kemari dan hinggap di pohon-pohon. Para bocil berlarian karena senang, hari ini merupakan hari libur yang mesti mereka manfaatkan sebaik-baiknya. Suara bising ibu-ibu yang sedang ngerumpi sambil belanja sayur. Mang Juja, si penjual sayur, mau tak mau kena getah dari ibu-ibu tukang gosip. Lumayanlah, bisa dikasih tahu istri topik trendi ini sekalian kasih uang hasil jualan. Pasti istrinya semakin cinta. Dan menu makan malamnya pasti berganti dari tempe goreng jadi ayam bakar madu.
"Ada kangkung nggak, Mang?" Tanya seorang Ibu-ibu membuyarkan ayam bakar madu dari pikiran Mang juja.
"Oh, ada atuh,"
Dan percakapa-percakapan yang mengisi pagi kala itu. Meskipun begitu, suara brisik itu tak mengganggu fokus seorang cowok yang tengah bimbang. Ismaya, cowok itu menatap hpnya. Bingung apakah harus menelfon Kartika.
Semalam, setelah Kartika dibawa ketiga temannya, Ismaya merasa cemas. Harapannya, masalah ketiga cewek itu cepat selesai. Delapan menit berlalu. Keempat cewek itu belum keluar dari dalam. Ismaya jadi gelisah. Cowok itu mengaduk-aduk jus jambu yang masih tersisa. Matanya menatap ke arah panggung kafe. Penyanyi cowok itu masih di sana. Ismaya tau cowok itu. Zyhan, anak SMA Makuta Rama. Kelas XI IPS 1. Cowok pendiam yang berteman dengan Maruta, kembaran Baruna. Suara cowok itu ternyata bagus. Tapi Ismaya tidak fokus pada Kartika. Hingga sepuluh menit dari mereka pergi, Hana keluar dari belakang dengan wajah merah padam. Cewek itu melewati penjaga kasir kafe yang memanggilnya. Tapi Hana tidak peduli. Di belakangnya, Mentari mrngejar Hana. Cewek itu meminta maaf pada barista dan penjaga kasir. Ismaya semakin gelisah. Terakhir Ratih keluar dari sana. Cewek itu berhenti saat menatap Ismaya. Lalu melongos begitu saja. Meninggalkan Kafe tanpa sepatah kata.
Ismaya segera berlari ke ruang pribadi pemilik kafe setelah meminta izin pada penjaga kasir yang hanya mengangkat bahu cuek. Dan saat Ismaya memasuki ruangan, Kartika tengah menangis. Dan semakin jelas, kalau masalah keempat cewek itu makin rumit. Ismaya berjongkok lalu memeluk Kartika. Membisikkan kata menenangkan. Perlahan tangis Kartika mereda. Setelahnya Kartika meminta pulang.
"Haaah. Gue harus gimana?" Ismaya mengacak rambutnya frustasi. Dia baru ingat jika Hp Kartika disita oleh papanya sejak beberapa hari lalu. Ismaya jadi pusing sendiri. Padahal hari ini dia harus belajar bersama Kartika untuk ujian besok.
Ismaya memutuskan memanggil orang lain.
"Gue harus gimana, Ra?" Tanya Ismaya langsung saat Candra baru mengangkat teleponnya.
"Brisik banget, sih, pagi-pagi," ketus Candra dari seberang. Dari suara seraknya Ismaya tau cowok itu baru bangun tidur.
"Iya maaf. Gue harus gimana?" Tanya Ismaya tak sabaran.
"Ck. Gimana apanya?"
"Jadi gini....," Ismaya menceritakan kronologi semalam. "Jadi gue harus gimana?"
Hening. Candra tidak menjawab hingga satu menit. Hinga suara nafas teratur terdengar.
"Candra! Bangun. Gue suruh lo kasih saran, bukan molor!" Teriak Ismaya kesal.
"Ai, gimana?" Tanya Candra loding.
"Gue haruz gimana?" Ulang Ismaya.
"Tinggal samperin aja," Candra menguap lebar, " Kerumahnya,"
Ismaya segera mematikan sambungan teleponnya. Dia segera menyiapkan buku-miliknya. Menyambar jaket kulit hitamnya dan segera pergi. Di halaman, nenek tengah menjemur pakaian. Ismaya mendekati neneknya.
"Ismaya mau belajar di rumah teman, nek," Ismaya menyalami tangan neneknya.
"Iya, hati-hati," pesan neneknya.
Motor matic Ismaya melewati tukan sayur yang masih ramai.
"Eh, si kasep. Mau kemana pagi-pagi gini?" Tanya ibu-ibu yang tengah memilih terong.
__ADS_1
"Iya, nih. Si Ismaya udah ganteng aja," celetuk ibu sebelahnya.
"Hehe. Mau ke rumah teman, teh. Saya duluan ya," Ismaya tersenyum ramah.
Semenit kemudian, dia sudah sampai di jalan raya. Ismaya terlalu bersemangat pagi ini. Hingga jalan macet tak membuatnya kesal. Ismaya dengan senang hati memberikan uang pecahan seratus ribu pada pengamen yang menyanyi untuknya di lampu merah. Dan saat lampu kembali hijau Ismaya menjalankan motornya. Bahkan bersiul riang. Hingga dia tiba di depan rumah Kartika.
Ismaya turun dari motor. Dia bersiap memencet bel rumah. Tapi tiba-tiba dia ragu. Apakah hal yang Ismaya lakukan saat ini tepat? Tapi tujuannya kan membantu Kartika belajar. Itu tidak salah. Ismaya menghela nafas lalu memencet bel rumah Kartika. Semenit kemudian, pintu gerbang dibuka dan muncul seorang wanita paruh baya. Ismaya tersenyum pada wanita itu.
"Maaf, cari siapa?" Tanya wanita itu.
"Oh, saya teman Kartika, tante. Hari ini saya mau belajar bareng. Kartikanya ada?" Tanya Ismaya.
Wanita itu mengangguk. "Oh, ada. Ayo masuk," wanita Itu mempersilahkan.
Dan untuk kedua kalinya Ismaya menginjak rumah Kartika. Dia segera duduk di sofa setelah dipersilahkan. Sementara wanita itu naik ke lantai dua dan Ismaya menunggu Kartika. Ismaya menatap sekeliling. Kemarin, dia belum sempat mengamati ruang tamu rumah kartika. Sebenarnya kurang sopan, sih. Tapi dia tidak bisa mengendalikan rasa kagumnya. Lihat, di dinding depan Ismaya terdapat lukisan manusia setengah kuda yang tengah membawa sebuah tombak. Di sebelahnya lagi ada foto berukuran besar. Di foto itu ada Kartika, Maya dan-mungkin-orangtua mereka. Maya tengah mengenakan toga. Itu foto wisuda SMA Maya. Dan kalau kalian menoleh ke arah kiri, ada sebuah etalase. Di sana banyak piala. Yang Ismaya tebak, adalah milik Maya dan Kartika.
Ismaya mendongak saat mendengar suara orang menuruni tangga. Kartika tengah berjalan turun. Dengan kaus gombrong kuning dan celana pendek hitam. Rambutnya acak-acakan. Matanya masih merah. Mungkin semalam dia menangis.
Ismaya berpikir, jika suatu saat nanti dia dan kartika menikah... Astaga Ismaya! Buang jauh-jauh pikiran kotor itu. Ismaya segera mengalihkan pandangan dari.
"Kenapa?" Tanya Kartika. Jenis pertanyaan yang punya banyak jawaban.
"Mau bantuin lo belajar," ujar Ismaya.
Kartika cemberut yang malah membuat Ismaya makin mengalihkan pandangan. "Males banget tau nggak." Kartika duduk di dekat Ismaya. "Ditunda aja, sih!"
Kartika berdecak kesal. "Yaudah. Ayok,"
Mereka berdua mulai membuka-buka buku pelajaran Kimia. Jujur, Kartika paling sulit memahami materi Kimia. Kartika lebih memilih ikut taekwondo atau judo daripada harus faham materi Kimia. Tapi ayahnya akan marah jika Kartika bisa judo tapi goblok Kimia.
"Ini gimana?" Tanya Kartika menunjuk sebuah soal yang dia coba kerjakan. Saat ini, mereka tengah belajar mengerjakan contoh soal. Dan jika Kartika tidak tau cara mengerjakan soal itu, dia akan bertanya pada Ismaya dan cowok itu akan menjelaskan dengan singkat tapi mudah dipahami. Lihatlah, Ismaya tengah menjelaskan. Fokus sekali sampai membuat Kartika malah menatapnya.
"Hasilnya ini. Paham?" Ismaya mendongak dan mendapati Kartika tengah menatapnya serius.
"Lo pintar banget ya?" Gumam Kartika. Namun Ismaya masih bisa mendengarnya. "Lo serius mau serahin peringkat lo ke gue?"
Ismaya berdehem. Tak nyaman dengan pertanyaan Kartika.
"Serius banget belajarnya," celetuk Maya yang baru datang dengan mug di tangannya. Cewek itu duduk di sofa terpisah dari Ismaya dan Kartika. Menatap jail ke arah keduanya. Kartika mendengus. Kakaknya ini 'sok akrab' sekali.
"Brisik banget, sih!" Kesal Kartika.
Maya menyesap pelan susu dari mug. Lalu menatap Kartika. "Lagian lo ada teman mampir, buatin minum sama sediain cemilan gitu apa gimana," tegur Maya. "Iya kan, Is?"
Ismaya hanya tersenyum. Kartika melirik Maya sinis lalu berdiri menuju dapur. Menghentak-hentakkan kakinya saat menapak di lantai. Ismaya menatap Maya bingung. Maya hanya mengangkat bahu lalu menyesap minumannya lagi.
__ADS_1
Ismaya menatap Maya agak lama lali merunduk mengerjakan kembali latihan soal. Hingga suara Maya terdengar kembali.
"Kartika minta lo ngalah?" Tanya Maya. Gerakan tangan Ismaya yang tengah menulis berhenti sebentar. Lalu dia menulis kembali. Berdehem lalu menggeleng pelan. "Nggak."
Maya menyesap minumannya lagi. "Gue harap lo nggak bersedia," Maya berdiri dari sofanya bersamaan dengan Kartika yang kembalu dari dapur dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan snack kemasan.
"Nah, gitu. Ada tamu dijamu," ucap Maya saat berpapasan dengan Kartika. Kartika hanya melirik sinis.
"Nyebelin," gerutu Kartika saat duduk kembali di samping Ismaya.
"Maaf. Nggak seharusnya gue ngerepotin lo," ujar Ismaya tak enak.
"Nggak ngerepotin, sih. Maya aja yang nyebelin," sunggut Kartika. "Tuh, diminum." Kartika merunduk kembali. Mulai mengerjakan soal-soal yang tadi dia belum bisa. Bibirnya mengerucut. Tapi dia begitu fokus mengerjakan soal. Sementara Ismaya yang kini memandangnya. Memperhatikan cara Kartika mengernyit saat dia kesulitan memecahkan soal dan gerakan tangannya yang luwes membentuk tulisan rapi yang cantik. Kini kata-kata Maya melayang dalam benaknya. Terus berputar berulang-ulang seperti karset rusak. Membuat kepala Ismaya berdenyut.
"Gini nggak?" Tanya Kartika meminta Ismaya memeriksa hasil pekerjaannya.
"Hah?" Tanya Ismaya linglung.
"Kamu kenapa? Sakit?" Tanya Kartika cemas. Sengatan rasa aneh menjalari Ismaya saat pendengarannya menangkap kata 'kamu' yang Kartika lontarkan untuknya. Kartika menyentuh dahi Ismaya dengan punggung tangannya.
"Nggak apa-apa," Ismaya menggeleng kecil.
"Makanya, ini tehnya diminum," Kartika meraih teh di nampan dan menyerahkan pada Ismaya. Ismaya menerimanya lalu meminumnya.
"Pusing?" Tanya Kartika lagi. Ismaya menggeleng. "Nggak,"
Suara deheman membuat keduanya menoleh. Seorang pria paruh baya tengah menatap mereka tajam.
"Papa," ucap Kartika refleks.
Ismaya mencoba tersenyum pada pria itu. Dia sudah mendengar dari Kartika, betapa keras papa dalam segala hal. Hal itu membuat Ismaya sedikit ciut.
"Siapa?" Papa menunjuk Ismaya. Pandangannya tetap pada Kartika.
"Gu, guru les aku pa," jawab Kartika lirih. Papa mengangguk. Menatap dingin Ismaya lalu berjalan keluar rumah. Beberapa menit, suara mesin mobil menggerung meninggalkan rumah. Kartika tersenyum kecut.
"Papa kamu..,"
"Iya, nyebelin," potong Kartika. "Kamu bayangin, nggak ada weekend, nggak ada kumpul keluarga, nggak ada liburan bareng, nggak ada hal-hal menyenangkan. Yang ada papa kerja, mama kerja, kak Maya kuliah, Aku sekolah. Yang ada nomor satu. Jadi yang terbaik. Kalahin semuanya. Berada di puncak tertinggi," Kartika menjeda ucapannya. "Aku capek! Padahal aku pengin kaya teman-teman lainnya. Weekend bareng. Kumpul bareng. Cerita bareng. Sharing masalah. Kasih solusi. Tap nggak.
"Papa selalu nuntut aku. Aku capeeek!" Keluh Kartika. Bahunya melemas. Tubuhnya dia sandarkan di sandaran sofa.
Ismaya menatap Kartika. Mengulum bibir lalu mengelus kepalanya pelan. "Nggak apa-apa. Aku juga gitu," bisik Ismaya.
Melihat Kartika yang seperti ini, suara-suara Maya lenyap dari batinnya. Dia sekarang tau harus bagaimana.
__ADS_1
Sementara Itu, Maya yang dari tadi mengamati dari ujung tangga hanya tersenyum. Dia sekarang tau, usahanya membujuk Ismaya telah gagal. Dan lihatlah! Maya tau, Ismaya sangat menyayangi Kartika.
...^^^***^^^...