Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Thanks buat Catatannya, "


__ADS_3

"Sampai di sini pelajaran kita hari ini, ibu harap kalian siap menghadapi ujian senin besok. Wassalamualaiku warahmatullahi wabarakatuh. Selamat belajar," Bu Tia menutup pelajaran.


"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab murid kelas XI IPA 1 disertai Bu Tia yang keluar dari kelas.


Segera terdengar krasak krusuk. Para murid heboh membicarakan ujian. Yang katanya 'haduh, pusing gue' ada yang bilang 'mampus gue kalau sampai nilai gue jelek. Uang jajan gue pasti dipotong' dan lain-lain yang kebanyakan mengeluh. Ismaya hanya diam di tempatnya. Dia melirik Kartika yang tengah menyalin catatan dari papan tulis. Cewek itu serius sekali. Dan Ismaya sangat tau arti catatan bagi seorang Kartika.


Ismaya memilih beranjak keluar kelas. Sepertinya Baruna dan Candra sudah di kantin. Daripada Ismaya pusing soal Kartika, lebih baik makan saja. Tidak berisiko!


"Heh," panggil seseorang saat Ismaya melewati koridor kelas XII IPS 2. Ismaya mendapati seorang cowok tengah menatapnya dari pintu. Dengan tangan disilangkan dan pandangan meremehkan. "Jadi, lo pacar Tika?"


Ismaya menatap Mark yang kini berjalan keluar dari kelasnya. Berhenti di depan Ismaya. Ismaya sadar, dia bukan apa-apa jika dibandingkan cowok di hadapannya ini. Tapi, Ismaya dengan berani membalas pandangan kakak kelasnya itu. "Gue Ismaya, pacar Kartika,"


Mark terkekeh. "Gue harap begitu," cowok itu menepuk bahu Ismaya sebelum akhirnya berjalan mendahului Ismaya ke arah kelas XII IPA 1. Ismaya mengertakkan gigi geram.


Hingga beberapa menit, Ismaya berdiri diam menahan emosi. Membuat orang yang melihatnya mengernyitkan dahi. Bahkan ada yang terang-terangan berkomentar buruk.


Dan dengan langakah gontai, Ismaya kembali berjalan ke kantin. Pikirannya berkecamuk, hingga dia menabrak orang karena tidak fokus. Ismaya hanya meminta maaf dan berjalan kembali.


Ismaya membanting tubuhnya di kursi, membuat Candra dan Baruna yang tengah sibuk dengan urusan mereka-Candra dengan Hpnya dan Baruna dengan buku-buku prlajarannya-menoleh serempak. Melihat wajah merah Ismaya, mereka tau Ismaya sedang kesal.


"Kenapa?" Tanya Baruna yang sudah sepenuhnya menaruh perhatian pada Ismaya.


Ismaya mengusap wajahnya kasar. "Gue harus gimana?"


Menyadari arah pertanyaan Ismaya, Candra berdecak kesal. "Gue udah bilang dari dulu. Putusin aja! Repot banget," ucap Candra enteng yang langsung mendapat tendangan pelan di tulang kering dari Baruna.


"Jelas gue bercanda. Hehehe," ralat Candra segera saat menyadari raut marah Ismaya. Ismaya hanya melongos. Amarahnya naik kembali.


"Ismay_"


"ISMAYA!"


Perkataan Baruna terpotong oleh ucapan seorang cewek kelasnya yang berlari tergesa ke arahnya. Cewek itu berhenti. Nafasnya terputus-putus.


"Kenapa?" Ismaya mengerutkan kening. Cewek itu masih terengah.


"Kartika... buku catatan.... Mia... teman-temannya... Kartika... Rooftop," ucap cewek itu terbata.


Tanpa sepatah kata, Ismaya segera berlari menuju arah Rooftop. Ismaya mengabaikan panggilan dari Baruna dan Candra yang memintanya kembali.


Ismaya menaiki tangga dengan kecepatan yang dia bisa. Melewati dua anak tangga sekaligus. Naik ke lantai dua hingga lantai tiga. Menyeruduk orang yang menghalangi jalurnya. Mengabaikan saat ada yang memprotes perbuatannya. Ismaya berhenti di pintu rooftop. Nafasnya memburu. Dan dia melihat segerombol cewek-lima orang-mengelilingi sesuatu. Ismaya tak bisa melihatnya.


"Thanks buat catatannya. Udah gue kembaliin kok," suara Mia. Segerombolan cewek itu tertawa sebelum akhirnya pergi. Mereka berhenti saat melihat Ismaya.


"Ups, pangerannya datang," Mia menutup mulutnya dengan ekspresi pura-pura kaget.


"Uh, so sweet banget coba," tambah Disa yang diikuti seruan 'uuuu' yang lainya.


"Gimana Ratu?" Tanya Mia pada pemimpin geng mereka.


"Skip aja, ah. Biarin pangeran menolong putrinya," ucap Ratu yang langsung melewati Ismaya. Diikuti yang lainnya.


Ismaya segera sadar. Dia keluar ke rooftop dan mendapati Kartika berjongkok memandangi buku catatan yang separuhnya telah menjadi abu. Cewek itu meraih bukunya yang lebur dalam genggaman.

__ADS_1


"Kartika," panggil Ismaya. Kartika menoleh dengan wajah berlinangan air mata.


Tanpa aba-aba Kartika langsung bangkit memeluk Ismaya. Membuat cowok itu kaget. "Catatan gue, Ismaya."


Tangan Kartika yang terkena abu mengusap seragam milik Ismaya. Meninggalkan noda hitam kelabu disana.


Perlahan, Ismaya melepaskan pelukan Kartika. Menuntunnya duduk lesehan di pinggir. Lalu mengusap lembut kepala Kartika. "Iya. Gue tau," bisik Ismaya di tengah isak tangis Kartika.


...***...


Kartika menutup buku setelah menyelesaikan catatannya. Dia menghela nafas lelah. Pagi tadi, papanya marah-marah. Berujung menasihati Kartika tentang banyak hal. Menuntut ini-itu. Jujur, Kartika lelah.


"Pinjam buku catatan," pinta seseorang. Kartika mendongak, mendapati Ratu-ketua cheerleader dan the rose-tengah mengulurkan tangan.


"Buat apa?" Tanya Kartika heran. Setahu Kartika, Ratu anak Bahasa. Ngapain meminjam catatan Matematika lintas minatnya?


"Lama banget!" Ratu menyambar buku Kartika di atas meja. Kartika berdiri. Dia tidak suka cara Ratu meminjinjam. Tapi Ratu sudah berjalan ke meja Mia. Disana empat orang-Mia, Disa, Lusi dan Karina-berdiri.


"Nih, buku lo," Ratu menyerahkan pada Mia.


"Balikin buku gue," ucap Kartika yang sudah menyusul ke meja Mia.


"Oh, ini punya lo?" Tanya Mia polos.


Kartika menatap Mia tak suka.


"Gue pinjam sebentar doang kok,"


"Lepasin!" Kartika meronta. Tapi dua lawan satu tetap tidak seimbang.


"Seret aja," perintah Ratu. Cewek itu keluar dari kelas diikuti Mia yang membawa buku catatan Kartika.


"Sekalian tasnya," perintah Mia. Lusi memutar bola mata sebelum mengambil tas Kartika dengan malas.


"Lepasin nggak?" Perintah Kartika pada Disa dan Karina.


"Bacot banget lo," kesal Karina. Cewek dari Ceerleader itu menunjukkan sifat aslinya.


Mereka membawa Kartika menuju Rooftop. Menyeret tepatnya. Lusi menjatuhkan isi tas Kartika di lantai Rooftop. Mia melempar buku catatan yang ada di tangannya bersama barang Kartika yang berserakan.


"Ambil liontinnya," perintah Ratu. Mia mengambilnya.


Liontin? Kartika mengernyit heran.


Kartika menatap benda di tangan Lusi. Liontin berbentuk bintang pemberian dari Ismaya dulu. Kartika waktu itu memasukkan ke dalam tas karena tidak peduli. Dan sekarang benda itu masih ada di sana. Sengaja disisihkan oleh Ratu.


"Ambil bensin sama koreknya," perintah Ratu. Mia segera mengambil benda yang memang sudah disiapkan di sudut rooftop.


"Apa yang lo lakuin?" Desis Kartika.


"Bakar!"


Mia menuangkan bensin ke buku-buku Kartika. Membuat Kartika melotot. Mia membalas dengan senyum menyebalkan.

__ADS_1


"Stop. Jangan bakar buku gue." Kartika meronta lagi. Tapi dia tetap gagal. "Lepasin gue!"


Mia melempal botol bensin sembarangan lalu menyalakan korek. Dilemparnya api ke barang-barang Kartika. Seketika api menyala. Membakar buku-buku milik Kartika. Kelima cewek itu segera tertawa.


Disa dan Karina melepas cengkraman mereka. Kartika segera mencari barang untu memadampan api. Kartika menemukan tasnya tergeletak di dekat kaki lusi. Kartika meraihnya, lalu mencoba memadamkan api dengan memukulkan tasnya. Api itu berhasil padam. Kartika langsung terduduk lemas. Menatap Bukunya yang kini setengah menjadi abu.


"Nih, makan tuh, liontin bintang lo," Lusi melempar liontin pada Kartika. Tapi cewek itu hanya diam menatap abu di depannya. Matanya mulai berair.


"Thanks buat catatannya. Udah gue kembaliin, tuh," ucap Mia. Mereka tertawa lagi. Perlahan, mereka meninggalkan Kartika masih dengan tawa jahat.


...***...


"Padahal catatan itu penting banget buat gue," ujar Kartika. Setelah selesai menangis, dia menceritakan kronologi kejadiannya pada Ismaya. Ismaya menjadi pendengar yang baik. Sesekalai Kartika menangis, dan sebagai pacar yang baik, Ismaya berusaha menenangkannya.


Kartika melirik Ismaya. "Gue nggak bisa apa-apa tanpa catatan gue," Kartika menjeda ucapannya. "Papa nuntut gue buat peringkat satu," Kartika berhenti lagi "Tahun lalu, waktu gue peringkat dua, papa marah,"


Ismaya berjengit kaget.


"Dan kalau semester ini gue nggak dapat peringkat satu," Kartika mulai yerisak "Papa bakal pindahin gue ke asrama," Kartika menangis lagi.


"Kartika," panggil Ismaya lirih. Kartika mengusap matanya. Membuat wajahnya kotor karena abu.


Ismaya melepas baju seragamnya. Menyisakan kaus putih yang pas di tubuhnya. Dengan perlahan mengusap wajah Kartika menggunakan bajunya.


"Jangan nangis," ucap Ismaya.


Kartika tertegun. Dia menatap Ismaya yang juga tengah menatapnya. Bau wangi menguar dari baju Ismaya ke hidung Kartika. Aroma yang belum pernah Kartika rasakan dimanapun. Aroma yang, ah! Entahlah. Kartika.... Menyukainya.


Ismaya segera sadar. Dia berpaling. Mengulurkan bajunya pada Kartika. "Bersihin muka lo. Sama tangan lo. Kotor banget," ucap Ismaya.


Kartika menatap tangannya yang abu-abu. Menerima baju Ismaya yang sudah kotor. "Maaf, baju lo jadi kotor gini." Kartika mengusap wajahnya, lalu tangan.


"Nggak apa-apa. Udah aku pakai dua hari, kok, seragamnya," ucap Ismaya cuek. Kartika mendelik. Tawa Ismaya berderai.


"Masih bersih kok,"


Kartika manyun mendengarnya.


"Pulang yuk," ajak Ismaya yang sadar hari sudah sore. Kartika mengangguk. Cewek itu berjalan mendahului Ismaya. Beberapa saat mereka sudah berjalan beriringan.


Sekolah sudah sepi. Ternyata mereka terlalu lama di Rooftop hinga jam pulang sekolah.


"Lo ke parkiran dulu aja," titah Ismaya. Kartika mengangguk. Ismaya pergi ke kelasnya, mengambil tas miliknya lalu menyusul ke parkiran.


"Maaf lama," ucap Ismaya saat menaiki motornya.


"Nggak kok," Kartika naik ke boncengan Ismaya.


Ismaya segera menjalankan motornya. Rasanya, baru tadi Kartika memeluknya sejak mereka berpacaran. Rasanya baru tadi Kartika berterus terang tentang sesuatu padanya. Rasanya, baru kali ini Kartika naik motornya sejak mereka berpacaran. Dan, rasanya baru kali ini Kartika memeluknya erat saat naik motor bersamanya.


Dan, apa tadi kata Kartika? Ayahnya akan memindahkan Kartika ke asrama jika dia tidak mendapat peringkat satu? Baiklah. Ismaya rela jika dia harus menyerahkan posisi peringkat satunya pada Kartika.


...***...

__ADS_1


__ADS_2