Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Selama liburan, gue mau tidur, makan, mandi, dan bernafas tentunya, disini. "


__ADS_3

Ismaya masih rebahan di kasurnya saat Gaby masuk kamarnya. Cewek itu Lagi-lagi menggunakan sweater kebesaran dan katok pendek Ismaya. Sangat imut, tentu saja. Yang membuat tidak enak di lihat adalah ekspresi dinginnya yang sok berkuasa. Dengan tangan di dada, dan pandangan tajam, cewek itu berkata. "Keluar, sana. Gue mau tidur, " perintah Gaby laksana ratu.


Ismaya menatap Gaby kesal. "Lo beneran mau nginep? " tanya Ismaya setengah berharap Gaby tidak jadi menginap.


"Iya, Selama liburan, gue mau tidur, makan, mandi, dan bernafas tentunya, disini, dikamar ini. " putus Gaby yang masih bersedekap.


Ismaya memutar bola mata. Lalu dengan terpaksa berdiri. Menuju lemari kayu, mengambil selimut dari sana dan membawanya keluar dari kamar. Tak lupa Ismaya membanting pintu kamarnya yang berujung nasihat nenek dari dalam kamar beliau.


Ismaya menghela nafas. Meletakkan selimut di kursi, menuju ke dapur dan membuat teh hangat. Dan saat dia kembali ke depan, nenek memanggil Ismaya agar pergi ke kamar beliau. Ismaya mengetuk pintu sebelum masuk. Dan saat dia masuk, nenek tengah duduk di pinggiran ranjang. Menepuk sisi tempat beliau duduk saat Ismaya datang. Ismaya menurut.


"Kamu lagi nggak ada masalah di sekolah, kan? " tanya nenek baik hati. Ismaya terdiam sebentar sebelum menggeleng lemah.


Tiba-tiba nenek memeluknya. Menepuk kepala Ismaya pelan. Membuat cowok itu seketika merasa lemah.


"Kamu kalau ada masalah di sekolah, cerita sama nenek. Jangan dipendam sendiri gini. Lagian, sebelum nenek pergi, nenek mau jadi orang yang berjasa buat kamu, "


Ucapan nenek membuat Ismaya semakin lemah. "Nek, jangan gitu. Nenek udah berjasa buat Isma. Isma sayang nenek. Dan nenek nggak perlu jadi apa:apa lagi buat Isma. Nenek udah lebih dari cukup jadi nenek Isma, " Ismaya menahan air matanya yang hampir jatuh.


Tiba-tiba, nenek melepas pelukannya. Beliau menatap mata Ismaya. Lalu berkata dengan suara lembut. "Kali ini peringkat kamu turun jadi tiga?" tanya nenek.


Ismaya diam membisu.


"Ismaya, nenek tau, seberapa keras kamu berusaha. Jadi kamu jangan sedih. Nenek yakin, kamu pantas peringkat satu. Dan nenek berharap, kamu nggak putus asa sama perjuangan kamu. "


Ismaya semakin terdiam. Nenek benar, harusnya dia bisa mendapat peringkat satu. Tapi, karena ketololannya sendiri, dia jadi peringkat tiga. Ismaya anak beasiswa, jadi kalau setelahnya dia harus diberi sangsi, Ismaya harap sangsinya tidak terlalu berat.


"Nenek, maafin Isma, nek. Ismaya udah serahin peringkat Isma buat seseorang. Ismaya jadi peringkat tiga. Padahal harusnya, Isma..., "


"Udah, Ismaya. Nenek tidak minta kamu jadi peringkat satu. Nenek cuma berharap, kamu bisa jadi apa yang kamu inginkan. Nenek cuma berharap kamu tetap bahagia jika nenek udah nggak ada, "


"Nenek..., " Ismaya mengeluh. Neneknya selalu saja mengatakan hal-hal yang membuat Ismaya takut.

__ADS_1


"Ismaya, kamu harus bisa jadi orang yang berguna. Minimal berguna buat diri sendiri. Setelahnya, orang lain." Nenek mengelus bahu Ismaya penuh kasih sayang.


"Udah malam. Kamu tidur. " tutur nenek. Ismaya mau tidak mau mengangguk. Dia segera keluar dari kamar neneknya.


...****************...


Ismaya terbangun saat seseorang membuka pintu kamar. Cowok itu segera duduk, mengucek matanya, lalu mencoba melihat siapa yang lewat. Gaby, dengan muka mengantuk, menatap diam Ismaya sebelum akhirnya melangkah pelan menuju kamar mandi rumah. Ismaya mengernyit heran. Gaby kenapa?


Tak mau berpikir lama, Ismaya berdiri. Melirik jam yang menunjukkan pukul setengah lima pagi. Lalu berjalan menuju depan kamar mandi. Suara air bergemricik yang dapat dia dengar. Beberapa saat, air mati. Disusul pintu kamar mandi terbuka, dan Gaby-dengan wajah masih basah-langsung berteriak.


"Lo mau ngapain, bangsat? mau ngintip ya? " dengan jahat, Gaby menuduh Ismaya.


Ismaya berdecak. "Brisik! awas, minggir, gue mau shalat subuh, " Ismaya menyerobot Gaby karena cewek itu menghalangi jalannya. Gaby merengut menatap Ismaya lalu pergi. Masuk kedalam kamar Ismaya dan menutup pintu.


Selesai berwudhu, Ismaya masuk ke kamarnya dan melihat Gaby tengah memainkan hpnya. Ismaya tidak mengacuhkan keberadaan cewek itu. Mengelar sajadah dan segera melakukan sholat subuh. Ismaya sangat khusyuk hingga dia selesai berdoa.


"Udah shalat? " tanya Ismaya pada Gaby yang hanya mendapat lirikan dari cewek itu.


"Gue nggak shalat, " jawab Gaby enteng. Jawaban yang jika keluar dari mulut Ismaya dan nenek mendengarnya, pasti akan diusir dari rumah.


Hingga suara mengaji neneknya membuat Ismaya merasa lebih baik dari sebelumnya.


...****************...


Liburan, merupakan hal biasa-biasa saja bagi Ismaya. Karena, sekolah dan tidak sekolah yang dia lakukan hanyalah bangun pagi, belajar dan belajar. Yang membedakannya hanyalah jika liburan, setiap pagi dia akan berjoging keliling kompleks rumahnya. Dan saat ini, dia tengah melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Dan saat Ismaya tengah melemaskan otot kaki, dia menemukan Gaby juga tengah melakukan pemanasan. Cewek itu bermodal meminjam celana training dan kaus pendek putih milik Ismaya. Yah, tinggi Gaby yang sebatas telinga Ismaya, membuat celana training itu membalut pas kaki panjang Gaby. Dengan rambut yang dikucir satu, cewek itu terlihat manis.


"Ngapain lihatin gue? " ketus Gaby. Ismaya menghela nafas, lalu melakukan pemanasan nya yang sempat tertunda.


Keduanya berlari keliling komplek beriringan. Tanpa saling berbicara. Ismaya sesekali melirik Gaby. Gaby ini, memiliki aura yang lain dari cewek biasanya. Aura yang membuat banyak cowok tertarik. Lihat saja, banyak cowok yang menatapnya saat menjumpainya berlari melewati mereka. Dan jika kalian tanya, apakah Ismaya tertarik? Ismaya akan menjawab sejak awal dia bertemu dengan Gaby, dia sudah tertarik. Tapi mulut kasar cewek ini yang membuat Ismaya tidak terlalu menyukai sosok Gaby. Lagipula Gaby ini kakak kelas. Meski begitu, mukanya sangat cantik dan manis.

__ADS_1


Mereka berhenti di taman kota. Ismaya membeli dia botol minuman dingin, lalu memberikan satu untuk Gaby dan satu untuk dirinya. Ismaya meminum air tanpa tahu jika Gaby memperhatikannya.


"Lo beneran mau di rumah gue selama liburan? " tanya Ismaya memastikan. Masalahnya Gaby pasti akan selalu judes padanya. Bicaranya juga kasar. Ini yang menyusahkan.


"Emangnya kenapa? Nggak boleh? " Gaby meneguk minumannya.


Ismaya menggeleng. Mengamati seorang emak-emak bersama seorang bapak-bapak yang juga sedang berlari pagi. "Nggak, kok. "


Gaby menutup botol minumnya. Lalu menatap ke arah Ismaya sebentar sebelum mengalihkan pandangan ke arah cewek yang berlari kecil di depan mereka.


"Makan, yuk! " ajak Ismaya yang berjalan ke arah tukang bubur yang berada agak jauh dari sana. Gaby mengikuti Ismaya di belakang. Ismaya memerankan langkahnya, hingga keduanya berjalan beriringan.


"Bang, bubur ayamnya dia porsi, ya, " pesan Ismaya pada kang bubur. Dia lalu kembali pada Gaby dengan menyeret dia kursi plastik untuk dia dan Gaby duduk.


Hari beranjak siang. Dan saat itu masih ramai orang yang lalu-lalang karena berjoging. Ismaya menoleh ke arah Gaby yang tengah memainkan HPnya.


"Gaby, " panggil Ismaya.


Gaby mendongak dan menyimpan HPnya.


"Lo, orang tua lo mana? Kok lo mau tinggal di rumah gue selama liburan.? " tanya Ismaya akhirnya. Dia penasaran. Kenapa Gaby ini mau numpang di rumahnya. Apakah dia gelandangan? tapi, mengingat Gaby punya motor bagus dan sekolah di Makuta Rama, Ismaya jadi berpikir kalau Gaby anak orang kaya.


"Bokap gue sibuk kerja. Abang gue juga, " jawab Gaby cuek bersamaan dengan datangnya pesanan bubur mereka.


"Makasih, Bang, "


"Nyokap lo? " tanya Ismaya membuat sesendok bubur yang akan masuk ke mulut Gaby terhenti di udara.


"Nyokap meninggal waktu gue umur lima tahun, " jawab Gaby lalu memakan makanannya. Seketika, Ismaya merasa bersalah. Ingin minta maaf, tapi melihat Gaby sibuk makan, membuatnya mengurungkan niat. Ismaya makan makanannya.


Keduanya tidak saling bicara hingga Ismaya menghentikan makanannya. Disusul Gaby beberapa waktu kemudian. Ismaya membayar makanannya. Lalu mengajak Gaby pulang.

__ADS_1


"Kalau lo mau ke rumah gue, habis ini gue mau ambil barang-barang, " beritahu Gaby saat masuk rumah. Ismaya di belakangnya, masih berdiri di pintu, menatap punggung Gaby yang lalu menghilang di balik pintu kamarnya.


"Sekalian sama Ng ambil motor jelek Lo, " ucap gaby dari dalam tapi Ismaya masih bisa mendengar. Ismaya berdecak. Selain suka bicara kasar, Gaby juga suka ngenyek!


__ADS_2