Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
"Lo Ada Masalah Sama Tika?"


__ADS_3

"Nilai lo sembilan lapan, Is?" Tanya Revi, teman cewek kelasnya. Ismaya hanya meringis kecil.


"Wiiih, gila!" Timpal Arum, teman Revi.


"Gimana caranya, Is. Fisika ini. Lo dapetnya nyaris sempurna!"


"Lagi hoki gue," ujar Ismaya. Kedua teman ceweknya pergi dengan obrolan tentang Ismaya yang gila karena nilai ulangannya.


Sementara telinga Kartika panas mendengarnya. Cewek itu mencoret-coret dengan asal buku catatannya-hal yang akan dia sesali karena harus menulis lagi-karena kemarin tidak masuk.


"Mia," panggil Kartika terlalu keras.


Mia yang tengah berbicara dengan Disa menoleh. "Kenapa?"


Ismaya yang tengah membaca materi pelajaran mendongakkan kepala. Mengamati Kartika yang berwajah kesal.


"Nih gue balikin bukunya," Kartika menuju bangku Disa. "Sama gue izin ke UKS. Pusing banget gue."


Mia mengacungkan dua jempol. Sekretaris satu ini memang gampang diajak kompromi.


Kartika segera pergi dari kelas. Semuanya membuat Kartika muak!


***


Guru di depan kelas menjelaskan materi. Dan para murid memperhatikan dengan khusyuk. Hingga guru di depan sampai berpikir 'ni murid gue pada perhatiin beneran apa pura-pura ya?'


Dan kekhusyuan itu tidak berlaku paa Ismaya.


Jika kalian bertanya apa yang membuat Ismaya pecah konsentrasi? Jawabanya Kartika.


Setelah kepergian cewek itu, Ismaya jadi kepikiran. Lama memperhatikan Kartika sejak masa orientasi, membuat Ismaya tau, cewek itu tidak sakit, tapi butuh ketenangan. Jujur, Ismaya masih kesal perkara telfon semalam. Tapi jika melihat wajah keruh Kartika, Ismaya tau, ada sesuatu yang membuat Kartika merasa tak nyaman. Jadi, saat guru pergi setelah membagi kelompok untuk mengerjakan tugas, Ismaya langsung pergi dari kelas tanpa memperdulikan panggilan teman sekelompoknya yang bertanya Ismaya mau kemana.


Ismaya langsung menuju UKS. Dan benar, di sana tidak ada Kartika. Ismaya menghela nafas gusar. Dimana kartika?


Keadaan koridor yang sepi karena belum waktu istirahat, memudahkan Ismaya mencari Kartika. Cowok itu memutari sekolah, hingga sebuah pemikiran muncul di kepalanya.


Rooftop!


Ismaya segera berlari menuju Rooftop. Berlari tergesa di tangga. Hingga dia sampai di atas, nafasnya tersengal. Dan itu setimpal dengan menemukan Kartika di sana.


Cowok itu melangkah, dan baru saja zsatu langkah, Ismaya merasa ragu. Apakah dia melewati batas? Dan sekarang Ismaya mundur. Berbalik lalu pergi dari sana. Ismaya tidak boleh melewati batasnya.


"Ismaya!"

__ADS_1


Panggilan dari toilet cewek menghentikan langkah Ismaya. Cowok itu menoleh untuk mengetahui, Mentari tengah berjalan ke arahnya. Ismaya mengerutkan alis. Teman Kartika ini tidak pernah menyapanya. Dan sekarang tengah menghampirinya.


"Gue mau nanya," ucap Mentari saat berdiri di depan Ismaya. "Tika kenapa?"


Sejenak, Ismaya terdiam. "Gue juga nggak tau," jawab cowok itu. Saat ini, Ismaya merasa, dia dianggap orang asing oleh Kartika. Pacarnya itu, tak pernah sekalipun bercerita tentang masalahnya.


Melihat wajah keruh Ismaya, Mentari jadi mengerutkan alis. "Lo ada masalah sama Tika?"


Ismaya mengangkat bahu.


"Masalahnya, Tik_"


"Tari!"


Panggilan itu menginterupsi percakapan Ismaya dan mentari. Dari jauh, Ratih tengah memandang tak suka ke arah keduanya.


"Cepetan. Hana udah nunggu!" Ratih melirik sinis Ismaya.


"Oh, iya," Mentari mengangguk. Lalu menoleh ke arah Ismaya. "Kayaknya kita harus bicara," ucap Mentari. "Di kafe Docca. Pulang sekolah."


Mentari segera menyusul Ratih.


***


Alunan musik jazz dan aroma kopi tidak membuat perasaan seorang cowok yang tengah menunggu itu membaik. Secangkir frapucino di mejanya dibiarkan tak tersentuh di atas meja.


Ismaya mendongak saat Mentari duduk di depannya. Dan tak sengaja matanya menemukan Surya, pacar Mentari, duduk di meja yang tak jauh dari meja mereka. Seulas senyum miring terbit di bibir Ismaya. Pantas saja Mentari terlambat dari jam perjanjian.


"Akhir-akhir ini gue ngerasa ada yang aneh sama Kartika," ungkap Mentari setelah memesan jus stroberi pada pelayan.


Gue rasa, Kartika aneh sejak jadi pacar gue.


"Gue juga ngrasa gitu," Ismaya menyetujui.


"Dia ada masalah sama lo?" Tanya Mentari lagi. Ismaya menghela nafas. Dia juga tidak tau. Apakah dia bermasalah dengan Kartika atau tidak.


"Gue... Nggak tau," jawab Ismaya jujur. Mentari tampak heran.


"Lo...," Mentari berdehem. Tidak jadi meneruskan kalimatnya. Keheningan menyelinap diantara keduanya.


"Tika udah hampir dua minggu nggak nggabung bareng gue sama teman-teman yang lain," cerita Tari. "Kalau kita papasan, dia pura-pura nggak liat. Dan kalau kita manggil, dia pura-pura nggak dengar atau pergi. Dia juga nggak balas pesan yang gue atau teman-teman lain kirim,"


Mentari berhenti. Dia menatap Ismaya yang juga diam menatapnya.

__ADS_1


"Kita mikir. Apa gue sama yang lain ada salah sama dia atau gimana. Tapi Tika diem. Nggak ngasih tau apa-apa. Dia ngilang. Di sekolah, gue juga jarang lihat dia."


Sekarang Mentari terlihat berpikir. "Apa jangan jangan..." Mentari berhenti, menatap Ismaya dengan pandangan yang membuat Ismaya gelisah sendiri. "Tika khianatin lo?"


Perkataan Mentari membuat Ismaya bergerak tak nyaman di kursinya. Cowok itu ingin marah. Tapi marah pada siapa? Kenyataan Kartika mengkhianati Ismaya, sepertinya benar adanya.


Mentari terdengar menghela nafas. "Ismaya, gue tau, ini berat buat lo. Tapi dulu, Tika suka sama kak Mark. Hingga tiba-tiba dia ngomong kalau dia dekat sama lo," jelas Mentari. Ismaya semakin gelisah. Sesuatu dalam dirinya terasa kebas.


"Ismaya, gue tau kalau kak Mark nggak betul-betul suka sama Tika. Gue sama yang lain udah nyoba jelasin itu. Dan saat lo nembak Tika, gue dukung Tika buat jadian sama lo. Gue harap, lo bisa kasih Tika sesuatu yang nggak bisa Kak Mark kasih ke dia. Makanya, gue mau lo buat Tika bahagia. Gue tau, lo cowok bertanggung jawab yang nggak bakal nyakitin Tika gitu aja," penjelasan panjang Mentari.


Untuk sesaat, Ismaya tidak bisa berpikir jernih. Hingga Surya, memanggil Mentari.


"Sori, Is. Surya udah panas. Gue cabut dulu, ya," Mentari bangkit berdiri. "Pesan gue, pertahanin Tika, ya. Buat dia merasa dicintai."


Dan Mentari pergi bersama Surya. Meninggalkan Ismaya dengan secangkir frapucinonya dan segala pikiran tentang Kartika.


Lima belas menit berlalu. Tapi pikiran Ismaya masih buntu. Cowok itu memilih pulang. Hingga dia ingat. Dia harus mengembalikannya.


***


Maya bangkit dari ranjangnya. Setelah lama berkutat pada laptopnya untuk menyaksikan melodrama, dia merasa lelah. Saat dia berdiri di balkon kamarnya, tak sengaja matanya menemukan seorang cowok tengah kebingungan di depan gerbang rumahnya. Sesaat dia menyangka itu maling hingga dia sadar jika cowok itu mengenakan seragam sekolah yang sama dengan milik adiknya, Kartika.


Maya segera turun. Keluar dari rumah dan membuka gerbang tinggi rumahnya. Membuat cowok itu tersenyum.


"Maaf. Cari siapa ya?" Tanya Maya ramah.


"Oh. Saya cuma mau ngembaliin tasnya Kartika. Tadi tertinggal di sekolah," cowok itu menyodorkan tas kulit hitam yang langsung diterima Maya.


"Yaudah, mba. Saya pamit,"


Cowok itu akan berbalik saat Maya mencegahnya.


"Nggak mau nemuin Tika dulu?" Tawar Maya.


Cowok itu menggeleng. "Nggak usah mba. Saya_"


"Siapa Kak?" Tanya Kartika yang baru keluar dari gerbang. Masih menggunakan seragam SMA Makuta Rama. Hingga matanya menemukan cowok itu di sana.


"Ismaya," sebut Kartika refleks. Matanya bertemu dengan mata Ismaya.


Ketiganya diam. Hingga Mata sadar situasi.


"Ini tas lo," Maya memberikan tas pada Kartika "Gue masuk dulu," ujar Maya lalu masuk. Tersisa Ismaya dan Kartika yang saling diam. Hening kembali merasuk diantara keduanya.

__ADS_1


"Gue pulang dulu," ujar Ismaya akhirnya. Cowok itu sudah akan menaiki motor maticnya. Sementara Kartika membuang pandangan. Membiarkan Ismaya pergi tanpa satu kata perpisahan.


***


__ADS_2