
Ketiganya berada di sebuah kafe. Karena Ismaya utang penjelasan pada Aru dan Candra soal Gaby. Sekalian membelikan Gaby buku baru. Ismaya tidak mau kena teror cewek itu, jadi Ismaya harus beli buku tulis baru.
"Jadi, gue sama Gaby pernah ketemu sebelumnya. Waktu itu malam hari. Dia jatuh di semak-semak. Dia lagi dikejar-kejar orang, " kelas Ismaya. "Gue waktu itu nolongin dia. Gue bawa ke rumah. Soalnya kakinya terkilir. Mau nolong dia aja harus kena semprot sama ucapan pedasnya. Dia hilang gini 'Lo pikir gue cewek apaaan? ' waktu gue tawaran tinggal di rumah gue sebentar, "
Aru dan Candra serius sekali menyimak. Sampai melupakan minuman yang mereka pesan.
"Waktu itu dia langsung pulang. Gue pesenin taksi_"
"Lo biarin cewek pulang sendirian? " potong Candra.
"Dia yang maksa, " bela Ismaya.
Candra dan Aru mengangguk. Musik kafe yang bertema romantis tidak mengganggu mereka.
"Kita ketemu lagi waktu pengumuman ranking paralel. Dia sengaja Nabrak gue. Awalnya gue syok. Habis itu dia pergi gitu aja. Setelah itu gue diputusin sama Kartika, " Ismaya berhenti. Membahas putusnya diri sendiri sama mantan pacar nyesek juga, ternyata. Ismaya berdehem.
"Waktu pulang ban motor gue kempes. Gue bareng Gaby, deh. Sekalian sama dia mau ketemu nenek. Eh, ujung-ujungnya dia mau tinggal di rumah gue. Abis rumahnya Gaby diluar nalar banget. padahal dia kelihatan anak orang kaya, " cerita Ismaya
Ketiganya sangat fokus bercerita. Sampai tidak sadar kalau di luar sudah turun hujan.
"Emang nya rumah Gaby gimana? " tanya Aru kepo.
"Rumahnya, tu_" ucapan Ismaya terhenti saat matanya menemukan seseorang yang tengah berteriak.
"Kak, jangan gini. Apa, apa aku ada salah sama kakak. Kakak bilang. Biar aku perbaiki. Tapi, tolong jangan gini, " cewek itu mencoba menahan cowok yang berusaha pergi.
"Lepasan! " cowok itu menepis kasar tangan si cewek.
"Kak... Plis, kak. Jangan gini sama aku! " mohon si cewek. Berusaha mencapai kembali tangan cowok itu.
Tapi Lagi-Lagi dia ditepis. Cowok itu segera pergi dari Kafe itu. Ceweknya mengejar. Ismaya ikut berdiri dan mengejar dua orang itu. Membuat Aru dan Candra kebingungan sendiri
"Woi, Ismaya! "
__ADS_1
Si cewek menerobos hujan. Mengejar cowok yang kini naik di motornya. "Kak Mark! " teriakan cewek itu frustasi saat motor menjauh dari kafe. Dia mencoba mengejar, tapi seseorang menarik pergelangan tangannya. Saat cewek itu menoleh, wajah Ismaya yang terkena guguran hujan yang dia lihat.
"Ismaya, " Guam cewek itu. Tiba-tiba air matanya luruh. Jatuh bersama air hujan yang membasahi wajahnya. Ismaya merasakan cewek itu menubruknya. Tangannya dia lingkaran di leher Ismaya. Wajahnya dia sembunyikan di dada Ismaya. Perlahan, Ismaya membalas pelukan cewek itu.
Dibawah guguran hujan, Ismaya berbisik pelan, "Nggak apa-apa, Kartika. Ada aku. Jangan sedih, "
...****************...
Hujan sudah reda. Tapi angin masih mengembuskan udara dingin. Membuat siapa saja memilih di dalam rumah. Menutup diri dengan selimut dan tidur lebih awal.
Tapi Kartika dan Ismaya masih duduk di teras rumah Ismaya. Setelah menyuruh Aru dan Candra pergi-Candra dengan wajah datarnya karena melihat Ismaya bersama Kartika-keduanya pulang ke rumah Ismaya. Ismaya berganti pakaian dan menyuruh Kartika memakai pakaiannya dulu. Keduanya duduk ditemani dua cangkir teh yang masih mengepulkan asap. Tapi, kebisuan diantara keduanya membuat udara semakin dingin.
"Kak Mark bilang gue harus terima kalau bukan cuma gue ceweknya, " buka Kartika. Matanya masih merah akibat menangis tadi. Bertemu Ismaya bukan hal yang terpikirkan olehnya. Apalagi curhat soal Mark. Tapi dia tidak punya tempat curhat saat ini. Jadi Ismaya bolehlah.
Ismaya terdiam mendengar perkataan Kartika. Tak terpikirkan sebelumnya, bertemu Kartika dalam keadaan seperti ini. Jujur Ismaya belum siap. Tapi melihat Kartika menangis, tak bisa dia diam saja.
"Jelas saja gue nggak mau. Dan Lo tau apa yang terjadi? Kak Mark ngancem bakal ninggalin gue saat itu juga. Gue tetepi nggak mau dan Kak Mark ninggalin gue, " ucap Kartika diteruskan tawa sumbangnya. Tawa yang membuat Ismaya ikut merasakan pedih.
"Gue nggak tau harus gimana lagi, Ismaya, " Kartika menutup wajahnya dengan tangan. Ismaya berdiri dari duduknya. dia mengelus pundak Kartika. Membuat Kartika kaget dengan perlakuan cowok itu.
Kartika mendongak. Menatap Iris hitam legam Ismaya. Begitu juga Ismaya. Dia menatap Iris kecoklatan Kartika. Keduanya diam. Saling berbicara lewat tatapan. Kupu-kupu berterbangan di dalam perut keduanya.
"Anjing, lo dipanggil nenek! " celetukan Gaby membuat keduanya tersadar. Ismaya cepat menoleh ke arah Gaby. Cewek itu tengah menatapnya datar. Ismaya menatap Gaby dengan pandangan 'Gue? '. Gaby berdecak.
"Iya, lo bangsat! "
Kartika terlonjak mendengar umpatan Gaby. Kartika tau Gaby. Cewek pintar dan dingin di sekolah. Banyak cowok yang suka. Gaby dekat dengan Kak Mark. Kartika tidak suka itu.
"Cepetan, Anjing! " umpat Gaby. Ismaya segera masuk ke dalam. Menyisakan Gaby dan Kartika yang saling pandang. "Gue butuh bicara sama lo, " ucap Gaby dingin.
...****************...
Ismaya mengetuk pintu kamar neneknya sebelum masuk. Terlihat neneknya tengah merapikan sesuatu. Dan saat Ismaya mendekat, ternyata sebuah amplop surat warna coklat. Nenek menyuruh Ismaya duduk di ranjang. Ismaya menurut. Nenek masih sibuk di lemarinya. Beberapa menit, nenek bergabung bersama Ismaya.
__ADS_1
"Isma, " nenek menyentuh pundak Ismaya. "Kamu sudah besar. Nggak kerasa, udah hampir tujuh belas tahun nenek merawat kamu. Lusa tanggal 1Januari, kan. Kamu ulang tahun, " ujar nenek. Ismaya baru ingat jika lusa ulang tahunnya.
"Wah, nenek selalu ingat. Padahal Ismaya sendiri lupa. Hehehe, " ujar cowok itu.
"Iya. Kamu selalu lupa, " nenek mengelus rambut Ismaya.
"Ini, hadiah dari nenek, " nenek mengulurkan amplop tadi. "Bukanya waktu kamu ulang tahun, ya, " pesan nenek.
"Tapi kenapa ngasihnya sekarang? " tanya Ismaya heran.
Nenek tersenyum. Pandangannya kosong. "Nenek takut, nenek nggak bisa ngasih ini buat kamu nanti, Isma "
Ismaya merinding mendengarnya. "Nek, jangan ngomong begitu. Ismaya nggak suka, " ujar Ismaya. Nenek tertawa kecil. Lalu menyodorkan suratnya kembali. "Ini, buat kamu, "
Ismaya menggeleng. "Nggak. Isma maunya nenek kasih waktu Isma ulang tahun, " Ismaya takut....
"Nggak apa-apa. Kalau hari kamu ulang tahun, nenek akan kasih kamu sesuatu yang lebih sepesial., " rayu nenek.
Ismaya dengan berat hati menerima surat tersebut.
"Simpan dulu, " pesan nenek.
Ismaya lalu keluar dari Kamar nenek. Masuk ke kamarnya sendiri. Membuka lemari dan menyembunyikan surat diantara tumpukan baju. Tapi, sebuah benda mencuri perhatian Ismaya. Kresek hitam. Ismaya mengambilnya. Dia tidak pernah menyimpan kresek hitam. Saat Ismaya menyentuh bagian bawah kresek itu, Ismaya merasakan benda dingin. Ismaya merabanya. Jantungnya berdetak cepat saat tangannya merasakan bentuknya. Ismaya akan membuka kresek saat Gaby membuka pintu kamarnya.
"Mantan pacar lo mau pulang, " ujar Gaby dingin. Ismaya segera meletakkan kresek itu kembali tanpa sepengetahuan Gaby. Ismaya menutup lemari pakaiannya. Lalu segera keluar tanpa menatap Gaby. Pikiran Ismaya berkecamuk. Siapa yang menyimpan benda itu di lemarinya. Apakah Gaby.... Tapi untuk apa Gaby menyimpannya.
Saat Ismaya sampai di luar rumah, Dia mendapati sebuah mobil sudah bergerak menjauh. Kenapa Kartika pergi tanpa pamit padanya? Apakah dia dan Gaby habis berbicara sesuatu? Apa yang mereka bicarakan?
Ismaya segera masuk kamarnya kembali. Gaby tengah duduk di ranjang dan memainkan Hp. Dia hanya melirik saat Ismaya masuk.
"Apa yang lo omongin sama Kartika? " tanya Ismaya dingin.
Gaby menyimpan Hp lalu menatap Ismaya tepat di mata. "Hal yang harus gue omongin, " ucap Gaby dingin. "Dan lo nggak perlu tau, " ucap Gaby saat Ismaya baru saja akan membuka mulut.
__ADS_1
...****************...