
Ismaya berjalan memasuki SMA Makuta Rama. Dia anak baru di sini. Setelah setengah satu tahun bersekolah di SMA Taruna Bangsa, dia mendapat surat panggilan dari SMA Makuta Rama untuk sekolah di sana. Sekolahnya jauh lebih besar daripada sekolahnya yang dulu. Sekolahnya hanya menampung dua kelas untuk setiap jurusan. Dan dalam satu angkatan hanya ada dua jurusan. MIPA dan IPS. Dan di sekolah ini.... Ismaya tidak akan menghitungnya karena itu mustahil baginya. Akan membuang banyak waktunya.
Ismaya berjalan mencari ruang kepala sekolah. Dan dia mau tidak mau harus bertanya pada seseorang jika mau menemukan ruangannya bukan?
"Permisi, " panggil Ismaya pada seorang cewek yang tengah menatap mading. Saat Ismaya ikut memperhatikan mading, ternyata itu peringkat paralel sekolah. Di kelas sepuluh, Ismaya melihat nama Kartika dari kelas sepuluh IPA satu di urutan teratas.
"Eh, kenapa? " tanya cewek itu yang sekarang fokus pada Ismaya. Ismaya menoleh. menunduk lebih tepatnya. Karena tinggi cewek itu yang sebatas dadanya. Ismaya dapat melihat wajah manis dan cantik itu. Sesuatu dalam diri Ismaya berdesir ketika melihat senyumnya. Ismaya dapat melihat nametag cewek itu. Kartika.
"Bisa tolong beri tahu dimana ruang kepala sekolah? " tanya Ismaya melawan segala rasa gugup, grogi, dan saudaranya.
"Ummm.. baiklah, biar gue antar, "
jawaban cewek itu yang malah membuat Ismaya ingin pergi saja.
"Nggak usah, " tolak Ismaya halus.
"Nggak apa-apa, gue juga lagi senggang, " bantah cewek itu.
Ismaya mengalah.
"Hana, Tari, gue mau ngantar orang ke kepsek bentar, ya, " teriaknya pada dua cewek yang baru keluar dari toilet. Tidak sendirian ternyata.
"Oke, "
Keduanya berjalan beriringan. Yang cowok merasa canggung. Yang cewek masih diam.
"Anak baru, ya? " tanya Kartika.
"Iya, " jawab Ismaya yang malah terkesan cuek.
__ADS_1
"Oh, iya. Gue Kartika, " cewek itu mengulurkan tangan yang malah membuat Ismaya tersenyum sekilas.
"Ismaya, " cowok itu balas menerima uluran tangan Kartika. Harusnya Kartika tau, di seragam mereka kan ada name tage nya.
"Lo dari sekolah mana sebelumnya?" tanya Kartika lagi. Jadi dia tipe cewek anggun dan ramah.
"SMA Taruna Bangsa, " jawab Ismaya seadanya.
"Gue tau, Yang kemarin muridnya menang olimpiade Sains Nasional kan? "
Pertanyaan Kartika membuat Ismaya terdiam. Tentu saja. Yang dapat juara kan Ismaya. Dia begitu giat berlatih, sampai dia mendapat hasil yang setimpal.
"Itu ruangannya pak kepsek, " Kartika menunjuk sebuah ruangan "Gue sampai sini, ya. Bye, " Kartika pergi meninggalkannya.
Gaby menepuk keras pundak Ismaya.
"Anjing! Lo bawa motor kayak siput kena reumatik, " protes Gaby dengan kalimat-kalimat kasarnya. Ismaya sebisa mungkin bersabar. Telinganya harus bertahan dari umpatan kasar yang sangat bertolak belakang dengan wajah cantik Gaby.
Gaby berdecak. "Berhenti di sana, " instruksi Gaby.
Ismaya awalnya tidak mau. Tapi Gaby kukuh sampai memelintir leher Ismaya. Dia nggak mau mati muda, jadi menghentikan motornya di pinggir jalan. Gaby turun lalu menyuruh Ismaya mundur. Ismaya menghela nafas pasrah lalu duduk di belakang. Gaby duduk di depan. Cewek itu menggeber motor sebentar sebelum akhirnya motor itu melesat sangat cepat. menyalip kendaraan-kendaraan lain. Ismaya reflek memeluk pinggang kecil Gaby.
"Gaby, pelanin dong, brutal banget. Gue belum pengen mati." Ujar Ismaya lirih tapi masih didengar Gaby. Bukannya berhenti Gaby malah semakin menaikkan kecepatan motornya. Ismaya jadi ingin mati saja rasanya.
Setelah waktu lama yang aslinya cepat Ismaya rasakan, mereka sampai rumah Ismaya. Keduanya turun.
"Assalamu'alaikum, nek. Ismaya pulang. Sama Gaby nih, " ucap Ismaya saat masuk rumah. Nenek yang tengah berasa di kamar segera keluar dan menyambut Gaby. Gaby pun bersikap sangat ramah. Ismaya jadi heran. Padahal Ismaya maunya Gaby berucap nggak pantas di depan nenek lalu nenek memarahinya atau apa. Kan seru!
Bodoamat sama Gaby dan nenek. Memori tentang Kartika masih berputar di kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah, Ismaya. Kamu masuk kelas X IPA 1." ucap bapak kepsek setelah sekian lama ditanya ini itu banyak sekali.
Ismaya mengangguk. mengalami sang Bapak lalu keluar dari ruangan tersebut. Ismaya menatap sekitar dan malah kebingungan. kelas X IPA 1 di mana, ya?
Bersamaan dengan itu, Kartika yang baru saja selesai ngapel dengan Mark(Ismaya tentu nggak tau) datang. Padahal bel sudah berbunyi lama. Tapi Kartika malah asik ngapel. Kartika menghampiri Ismaya.
"Lo kelas apa? " tanya Kartika.
Ismaya menjawab apa adanya.
"Sama, dong, kelas kita. Masuk bareng, yuk, "
Ismaya tidak bisa menolaknya. Keduanya berjalan menuju kelas X IPA 1. Selama perjalanan Kartika terus bertanya banyak hal pada Ismaya. Ismaya hanya akan menanggapi seadanya. Lalu saat Kartika bercerita, Ismaya memperhatikan cewek itu. Dan, Ismaya Lagi-lagi merasakan desiran aneh itu. Dan saat Kartika tertawa lembut, Tawa itu akan terus masuk dalam mimpi Ismaya.
Tanpa Ismaya tahu, A Kartika sebenarnya sudah tau banyak hal. Dia akan berusaha. Dan tanpa Kartika tau, dia tidak perlu berusaha, karena Ismaya sudah terlanjur jatuh pada awal pertemuan mereka,
...****************...
Kartika duduk di sofa ruang tamu keluarganya. Papa dan Mama duduk di seberangnya. Papa dengan ekspresi galaknya, mama dengan ekspresi dinginnya dan Kartika dengan ekspresi piasnya. Sementara Maya di lantai dua, mengintip sidang yang akan terjadi.
"Kamu peringkat dua? papa harus gimana lagi, tika? Kemarin Ismaya yang peringkat satu, sekarang Mia. Kamu itu gimana, sih? " ujar papanya frustasi.
"Tiap hari kamu kerjanya main terus. Belajar jarang. Papa sampai pusing. Kalau kamu gini terus. Papa malu, Tika! Malu sama keluarga besar. Lihat anak om juan, di Amsterdam, di SMP nya, dia peringkat satu, " Papa memulai ceramahnya.
"Kamu nggak bisa gini terus. Kamu harus bisa buktiin ke semua orang. Kamu harus bisa! " pesan papanya sebelum pergi. Pria itu pusing dengan perilaku Kartika. Dengan nilai Kartika.
Sementara itu, Kartika menunduk. Dia siap mendengar mamanya memarahi. Tapi wanita itu tak mengeluarkan suara. Hanya helaan nafas. Dan dengan lembut, wanita itu menyuruh Kartika mendekat. Semula Kartika ragi, tapi mendengar suara lembut Mamanya lagi, Kartika duduk di samping mamanya.
"Maafin papa, ya, Tika, " tak disangka, wanita itu memeluk Kartika. Kartika jadi sedih. Air matanya luruh dan dengan sekuat tenaga, dia membalas pelukan mamanya "Mama senang, kok, Kartika dapat peringkat dua. Yang penting atas usaha kamu sendiri, "
__ADS_1
Kartika merasa tertohok karena ucapan mamanya. Ini semua bukan usaha Kartika. Ini semua usaha Ismaya. Ismaya yang merelakan posisinya direbut Kartika. Tapi kalau dipikir kembali, Ismaya yang rela peringkatnya diambil Kartika, kok. Ismaya yang mengalah, Kan? Kartika tidak bersalah kan? Lagi pula Ismaya bilang mau menjadikan Kartika peringkat satu. Meski begitu Kartika tetap peringkat dua. Ismaya yang bersalah, Kan?