
Ismaya berdiri di sebuah taman indah. Di taman itu, tertanam macam-macam bunga indah. Ismaya bukan pengagum bunga. Tapi keindahan bunga tersebut mampu membuat tangannya terulur untuk menyentuhnya. Tapi saat tangannya menyentuh bunga itu, bukannya merasakan tekstur dari bunga yang dia peroleh. Tangannya justru menembus bunga tersebut. Ismaya sadar sesuatu. Tubuhnya transparan. Ismaya meraba lagi badannya. Dia benar-benar transparan.
Dalam sekejap, gelombang panik melanda nya. Dia meraba lagi seluruh tubuhnya. Berusaha menggenggam barang di sekitarnya. Tapi percuma. Semuanya dia tembus.
Hingga suara orang-orang tertawa mengambil fokus Ismaya. Dia mencari sumber suara tersebut. Dan dia menemukan sebuah danau, tempat dimana segerombolan orang berpakaian putih dan memancarkan cahaya berkumpul. Duduk di atas permadani dengan makanan di tengah-tengah.
Ismaya mendekat. Matanya membelak saat menemukan sosok nenek dan kakeknya ikut dalam gerombolan tersebut. Ismaya mendekat lagi. Tapi seperti ada dinding tipis transparan yang menghalanginya. Ismaya terus mencoba. Tapi gagal. Dinding itu menahannya. Kegiatan Ismaya mengundang perhatian nenek dan kakek. Beliau berdua kemudian berdiri dan keluar dari gerombolan. Menghampiri Ismaya yang kini hanya bisa melihat kedua sosok itu mendekat. Mata Ismaya panas. Tapi dia tidak bisa mengeluarkan air matanya.
Ismaya ingin memanggil kakek dan neneknya. Tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ismaya, " panggil kakek-nenek dengan suara yang terasa jauh. Padahal beliau sudah berada di dekat Ismaya. berdiri di balik dinding transparan. Wajah beliau berdua berseri. Dipenuhi dengan pancaran senyum kebahagiaan.
"Kamu Ismaya. Cucu kakek? " tanya kakek bahagia. Ismaya mengangguk. Lalu mencoba melewati tembok. Tapi lagi-lagi dia terpental.
"Kamu tidak bisa melewatinya. Ismaya, " tutur nenek lembut. "Kita sekarang berada di dunia yang berbeda, "
Ismaya menggeleng. Dia mencoba berucap. Tapi suaranya tetap saja tertahan.
"Kami sudah bahagia di sini Ismaya, " Kakek menunjuk gerombolannya. "Dan kamu harus bahagia di sana."
Ismaya menggeleng lagi. Isma mau ikut kakek sama nenek. Jerit nya dalam hati.
"Kamu harus menemukan ayah kamu. Hidup bahagia bersama ayah kamu. Kamu punya masa depan di sana, Ismaya. Kamu harus bahagia, "
Ismaya menggeleng. Cowok itu berusaha menggapai kakek dan nenek. Tapi sesuatu menariknya kencang. Membuatnya tertarik menjauh dari kakek dan neneknya. Sesuatu tersebut menyedot nya kuat. Hingga sosok kakek dan nenek menghilang beserta keindahan dunia tersebut.
Ismaya terbangun dari mimpinya. Nafasnya memburu. Dia menatap jam di dinding. Masih pukul sembilan malam. Tidur jam berapa dia?
Ismaya ingat, sepulang sekolah bersama Gaby, Ismaya mengantar cewek itu ke bengkel untuk memperbaiki motornya. Setelahnya dia mengajak Gaby makan yang ditolak oleh cewek itu. Ismaya langsung pulang saat itu. Dia sengaja berbaring karena lelah. Tahunya dia malah terlelap. Ismaya mencoba tidur lagi. Tapi, pesan kakek dan nenek dalam mimpi mengusiknya.
__ADS_1
Bagaimana ini? Apakah Ismaya harus mencari ayahnya? tapi di mana dia harus mencari?
Ismaya bangkit berjalan menuju lemari. Dimana dia menyimpan surat dari nenek. Mengambil surat itu di tumpukan baju, lalu membawanya menuju kasur. Membuka dan membaca surat itu kembali. Saat menyentuh kertas itu, Ismaya merasa kakek dan nenek ada di dekatnya.
"Diwangga, ya? " tanya Ismaya pada diri sendiri. kepalanya mengadah dengan mata terpejam. Seperti menanggung banyak beban.
Cowok itu menghela nafas. Lalu meraih hpnya. Mengirimi pesan pada seseorang yang mungkin bisa membantunya.
...****************...
Gaby baru saja menerima pesan . Dibacanya pesan tersebut. Lalu matanya beralih pada tiga sosok laki-laki yang tengah duduk bersamanya di ruang tamu rumahnya.
"Dia meminta saya untuk membantu mencari ayahnya, " beritahu Gaby pada tiga pria yang kini menatap datar ke arah Gaby. Matanya beralih pada sosok yang berseberangan dengannya. Pria itu menatapnya datar.
"Turuti saja apa kemauannya, "
...****************...
"Kak! " panggil Kartika kesal. "Aku butuh solusi! "
Maya menatap Kartika yang merungut ke arahnya.
"Kan, udah pernah dibilangin. Ismaya cowok baik-baik. Lo nya aja yang nggak nurut. Di mana-mana, orang baik sama orang baik. Dan sebaliknya, " petuah dari Maya membuat Kartika semakin merengut.
"Aku, kan, cuma mau minta maaf sama Ismaya. Lagian aku sama kak Mark udah baik-baik aja! " kesal Kartika. "Aku cuma ngerasa bersalah sama Ismaya. Udah buat dia.. mm... turun.. peringkat, " suara Kartika menelan di akhir kalimatnya.
"Ismaya relain peringkatnya ditempatin lo. Tapi, lo dengan ketololan lo malah bikin kecewa Ismaya karena ada di peringkat dua. Padahal dia udah berusaha semampunya." Maya menatap bintang dan bulan yang menghiasi langit malam. Lalu menghela nafas. Dipandangnya Kartika yang sepertinya memang merasa bersalah. Atau adiknya... Tidak. Maya tidak boleh menyimpulkan sepihak.
"Dan lo udah kecewain Ismaya. Juga gue, " ucap Maya. Membuat Kartika merasa bersalah. Cewek itu menunduk dalam.
__ADS_1
"Maafin aku, kak. Waktu itu yang aku pikirkan cuma supaya aku bisa ada di peringkat satu. Agar papa sama mama nggak banding-bandingin aku sama kakak, " cicit Kartika. "Aku nggak berpikir apa dampaknya ke orang lain. Ke papa, ke mama, ke kak Maya, dan ke Ismaya. Dia bisa aja kena DO. "
Maya menatap adiknya yang masih menunduk. "Gue harap lo bisa jadi lebih baik dari sebelumnya. Gue cuma mau yang terbaik buat adik gue. Satu-satunya saudara yang gue sayang, "
Ucapan Maya membuat Kartika terharu. Dia langsung memeluk Maya. Sebenarnya Maya bukan pengemar hobi teletubbies. Jadi, saat Kartika mengeratkan pelukan, Maya cepat-cepat melepasnya.
"Sebaiknya lo cepat turun. Mark udah jemput, " ujar Maya. Kartika melihat ke bawah. Di balik gerbang, Mark telah menjemputnya untuk pergi berdua.
...****************...
Mark tersenyum saat Kartika membuka gerbang.
"Masuk dulu, kak, " Kartika mempersilakan. Mark menurut saja. Keduanya memasuki rumah. Kartika menyuruh Mark duduk sementara dia mengambil tas. Mark mengamati sekeliling. Ini, pertama kalinya dia masuk ke rumah Kartika meski sudah lama mereka berdua dekat.
"Ini siapa, ya? " tanya mama Kartika yang baru saja turun. Mark segera menyalami tangan wanita itu.
"Saya Mark, tante. " Mark memperkenalkan diri.
"Maaf, siapanya Kartika? " tanya Mama kartika.
"Cuma teman, Ma, " Maya yang menjawab. Cewek itu baru datang dari lantai atas.
Mama mengangguk. Lantas pergi begitu saja. Menyisakan Mark dan Maya.
"Oh, kakaknya Tika. Saya Mark. Saya_"
"Iya, gue tau, " potong Maya. "Gue cuma minta lo nggak macam-macam sama adik gue, " pesan Maya lalu beranjak pergi. Di tangga, dia berpapasan dengan Kartika. Kartika menatap Maya yang melewatinya begitu saja. Lalu menuju arah Mark.
"Kakak aku ngomong apa? " tanya Kartika sambil menyampirkan tas di bahunya.
__ADS_1
"Cuma pesan seorang kakak, " jawab Mark. Mereka berdua berjalan keluar rumah. "Kayaknya kakak kamu nggak suka sama aku deh, "
...****************...