Asta Brata : Kartika

Asta Brata : Kartika
Mengikuti arus air


__ADS_3

Di sebuah Restoran, salah satu meja telah dipenuhi dengan makanan dan minuman. Dua orang duduk berhadap-hadapan. Sang cowok, mengenakan kemeja hitam dan celana hitam. Terlihat ganteng dengan rambutnya yang disisir rapi. Tampak serasi dengan si cewek yang memakai drees hitam selutut, tampak cantik dengan rambut yang tergerai bebas sampai punggung. Keduanya tengah memakan makanan masing-masing. Sesekali si cewek mengamati dekorasi yang terlihat indah. Lampu yang terang dengan bunga lili di tengah meja. Cahaya lampu terang dengan jelas menyinari wajah cowok di hadapannya.


Kartika tersenyum kecil dan Mark melihatnya. Mark meletakkan garpu yang tengah dia gunakan untuk memakan steak. Cowok itu sepenuhnya menatap Kartika membuat Kartika salah tingkah karena ketangkap basah. Kartika mengambil garpunya untuk memakan spagettinya.


"Lo lucu banget, sih," komentar Mark.


Kartika semakin salah tingkah. Membuat saus spagetti belepotan kemana-mana. Mark tertawa kecil. Meraih tissu di meja makan, lalu membersihkan ujung bibir Kartika. Kartika diam. Menikmati perlakuan manis Mark. Kartika suka itu.


"Makannya yang pelan, ya," pesan Mark lalu memakan makanannya lagi.


Kartika masih diam. Tangannya perlahan naik ke ujung bibir. Menyentuhnya. Tersenyum. Seketika, kupu-kupu berterbangan di perutnya. Kartika melanjutkan makannya.


Semua makanan sudah habis seiring waktu. Mark meminum minumannya. Kartika mengelap bibir dengan tissu. Dan saat padangannya tertuju pada Mark, cowok itu tengah menatapnya. Melihat tatapan Mark, jantung Kartika berpacu lebih cepat dari biasanya. Cewek itu terus menatap pergerakan Mark yang mulai berdiri dari kursi. Cowok itu berjalan mendekat ke arah Kartika. Berhenti tepat di hadapannya. Tangannya meraih tangan kanan Kartika. Perlahan Mark berlutut. Bertumpu pada satu kakinya. Dengan sebuah senyuman yang membuat Kartika lupa pada dunia. Kartika mendengar Mark berbicara.


"Will you be my girlfriend, Kartika ?"


Tangan Kartika yang bebas menutup mulutnya. Pikirannya melayang jauh kepada Ismaya. Cowok yang selama ini menemaninya. Cowok yang membantunya. Yang selalu ada. Ismaya yang selalu tersenyum manis padanya. Ismaya dengan segala yang dia punya, berusaha membuat Kartika bahagia.


Dan dengan suara bergetar, dia menjawab,


"....."


***


Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke kamar Aru lewat celah ventilasi. Suara burung berkicau merdu. Ikut membangunkan orang yang masih tertidur lelap di kasurnya. Tapi cowok itu hanya mengubah posisi tidur hingga matanya tidak silau lagi.


Seseorang masuk ke kamar tersebut, lalu berdecak kesal. Berjalan pelan menuju kasur, lalu mengoncangkan tubuh manusia malas di atas ranjang.


"Ismayaaaaa.... Bangun! Udah jam enam, woy. Bangun!"


Mata Ismaya terbuka kembali. Sayup-sayup dia melihat sosok Aru dengan baju koko. Sepertinya baru saja shalat subuh. Ismaya kembali menjatuhkan kepalanya ke atas bantal.


"Bangun, woy! Shalat subuh dulu. Udah telat ini!" Aru menampar keras pipi Ismaya. Membuat cowok itu segera bangun. Pipinya terasa cenat-cenut. Kejam sekali Aru ini.


"Shhh... Sakit," Ismaya menyentuh pipinya.


"Udah gue bangunin dari jam setengah lima, juga," ujar Aru.


Ismaya masih berdrama mengusap-usap pipinya. Membuat Aru kesal sendiri. "Cepetan, shalat subuh! Udah telat banget, ini. Gue laporin nenek lo, biar tau!"


"Iyaaa...." Ismaya berdiri dengan dan berjalan dengan oleng. Masih mengantuk sekali. Hampir saja dia menabrak Candra yang sepertinya baru shalat Subuh juga. Ismaya samar-samar mendengar Candra ngomel. Tapi dia tidak peduli. Ismaya berjalan ke kamar mandi lantai satu (harus bekerja keras agar tidak jatuh di tangga). Wudhu, lalu shalat di mushalla rumah keluarga Aru di lantai satu.


Setelah selesai, Ismaya pergi ke dapur. Disana, ada Maruta yang tengah menerjang air untuk membuat kopi. Ismaya duduk di salah satu kursi meja makan. Masih agak ngantuk. Hingga suara Maruta menyadarkannya.


"Mau kopi?" Tanya cewek itu.


"Boleh," jawab Ismaya.


"Gue juga, dong," Candra meminta pada Maruta lalu ikut duduk di meja makan. Disusul Aru yang tengah memainkan hp.


"Lo kopi juga, Ru?" Tanya Maruta.

__ADS_1


Aru mengangguk tanpa menoleh. Fokus sekali pada hpnya. Candra hanya menatap Ismaya yang kelihatan bingung. Lalu berucap tanpa suara pada Ismaya. Kurang lebih yang bisa Ismaya tangkap begini, 'Mau pergi sama Sam'. Ismaya mengangguk mengerti.


"Nih, kopinya," Maruta meletakkan nampan berisi tiga cangkir kopi. Setelahnya, dia mengambil camgkirnya sendiri di samping kompor, lalu membawanya ke ruang tamu.


Ismaya dan Candra mengambil cangkir mereka. Lalu menyesapnya perlahan. Candra dengan sopan mengambil gorengan bakwan yang tadi baru Tante Risa-mama Aru dan Maruta-beli. Candra meyantapnya dengan khidmad, sampai Ismaya jadi kepingin. Alhasil, Ismaya juga mencomot bakwan itu.


"Udah pada ngumpul, ini," Om Rastra-Papa Aru dan Maruta-ikut duduk di meja. Pria itu mengambil cangkir milik Aru lalu meminumnya. Sementara yang punya tidak protes samasekali.


"Iya, ini, Om. Hehe," ujar Ismaya. Cowok itu menyodorkan piring gorengan ke arah Om Rastra yang dengan senang hati ikut menikmati sepotong bakwan goreng tersebut.


"Aru, sibuk banget kamu," tegur Om Rastra pada Aru yang masih sibuk pada Hpnya. Ditegur begitu, Aru mendongak dari Hp dengan cengiran lebar.


"Bujangnya Om mau ngapel hari ini," timpal Candra. Tentu langsung mendapat tatapan maut dari Aru. Om Rastra tertawa.


"Biarin aja. Yang penting nggak macam-macam," ujar pria paruh baya itu.


"Aru nggak pernah macam-macam kok, Pa," bela Aru. Dia ini anak baik-baik. Apalagi Sam anak baik-baik juga. Udah coupel-coupel banget lah, baiknya.


Om Rastra tertawa lagi.


"Iya," pria itu mengiyakan. Menghabiskan sisa kopinya, lalu beranjak pergi.


"Papa lo hangat banget," komentar Candra. Ismaya mengangguk mengiyakan. Sementara Aru tertawa.


Candra dan Ismaya sering melihat foto Ayah Aru yang dipajang di spanduk-spanduk di pinghir jalan. Dengan senyum lebar dan ibu jari terangkat tentunya. Ternyata orangnya benar-benar hangat.


"Papa emang gitu," ucapnya. Ismaya meraih cangkir yang tersisa di nampan. Meminumnya. Dan mengernyit. Saat dia melihat Isi cangkir, hanya tersisa ampas kopi yang hitam pekat.


"Udah habis sama Om Rastra," jawab Ismaya dan Candra serempak.


"Papa....," teriak Aru setelahnya.


***


Ismaya bergerak gelisah di meja belajarnya di rumah. Matanya menatap jendela. Bulan malam ini tidak menampakkan diri. Tertutup awan hitam yang bergelung. Ismaya menghela nafasnya. Tangannya tak sengaja menyentuh luka lebam di pipinya lalu berdesis. Cowok itu teringat kejadian di rumah Aru tadi pagi.


Setelah minum kopi, Ismaya dan Candra kembali ke kamar Aru. Sedangkan Aru menemui papanya. Saat itu Candra langsung membuka hpnya. Matanya langsung membulat melihat sebuah notfikasi. Cowok iti membukanya, lalu segera memanggil Ismaya. Ismaya yang tengah memakai jaketnya menoleh. Melihat ekspresi datar Candra, Ismaya merasakan sesuatu yang tidak baik akan terjadi. Ismaya mendekat. Dan saat Candra menunjukan layar hpnya, Ismaya langsung terdiam di tempat. Rasanya dia disiram air dingin saat itu juga.


Postingan akun media sosial milik Kartika paling baru. Di foto itu, Kartika tengah bersandar pada bahu Mark. Menggunakan baju berwarna sama. Dengan latar berada di dalam sebuah restoran. Mereka terlihat sangat dekat di foto itu. Ismaya turun ke caption yang ditulis Kartika.


'My Alexander this night'


Kartika bahkan men-tag akun sosial media milik Mark.


"Udah gue bilang putusin aja!" Ujar Candra dingin.


Ismaya langsung tajam menatap Candra.


"Lo sadar, dong. Cewek tolol itu cuma manfaatin lo doang! Sadar Ismaya! Sadar!" Sentak Candra.


Sebuah pukulan mendarat di pipi Candra. Cowok itu terhuyung. Dan saat mendongak, Ismaya menatap Candra dingin. "Jaga bicara lo!"

__ADS_1


Candra meringis. Pukulan Ismaya tidak main-main. Cowok itu mendengus. Lalu berbalik. "Goblok!" Desis Candra yang dapat didengar Ismaya. Ismaya bereaksi menarik kerah Candra lalu memukulnya lagi. Membuat Candra terjembab ke lantai kamar Aru.


Candra segera berdiri lalu membalas pukulan Ismaya. Ismaya terbanting menabrak ranjang lalu jatuh ke lantai. Meringis karena sikunya terbentur kaki ranjang.


"Astaghfirullah," Aru kaget. Baru masuk kamar melihat secara live pertandingan tinju. Aru segera membantu Ismaya berdiri. Lalu menatap tajam Candra.


"Lo apain Ismaya?" Tanya Aru tajam.


Candra mendengus lalu melempar hpnya pada Aru. Unting Aru bisa menangkapnya. Dan saat Aru melihat layar hp Candra, emosinya segera naik. Kini matanya nyalang menatap Ismaya. Ismaya mengalihkan pandangan. Cowok itu tahu arti tatapan Aru. Tatapan yang sama seperti Candra.


"Ismaya!" Panggil Aru tajam. Ismaya bergumam lirih. Aru menghela nafasnya. Lalu mengembalikan hp pada candra.


"Putusin aja, sih, Is. Nggak ada gunanya lo pertahanin dia," saran Aru yang tentu saja ditolak Ismaya mentah-mentah.


"Nggak lo, nggak Candra sama aja!"


Ismaya meninggalkan kamar Aru. Turun ke lantai satu. Keluar dari rimahnya. Lalu pergi dengan motornya.


Ismaya menghela nafas. Meraih hpnya dan membuka postingan Kartika itu lagi. Kekecewaan itu datang melandanya. Tapi dia berusaha menyangkalnya. Baiklah. Ismaya akan menanyakan hal itu pada Kartika langsung. Kartika sudah menyalakan akun sosial medianya. Berarti hpnya sudah dikembalikan oleh papanya.


Ismaya mengetikkan pesan. Lalu saat dirinya akan mengirimnya, rasa ragu melandanya. Ismaya segera menghapusnya. Besok, Ismaya akan menanyakan langsung pada Kartika di sekolah. Besok, hari pengumuman peringkat ujian. Dan Ismaya yakin Kartika pasti akan mengatakan dia dan Mark tidak menjalin hubungan apapun.


Ismaya meraih sebuah buku. Lalu menuliskan kata-kata disana.


Mengikuti arah angin bertiup.


Hingga sang angin menyapa sehelai daun.


Membawa daun itu terbang bersama.


Hingga daun itu jauh di aliran air.


Mengikuti arus air mengalir.


Hingga sang air membawa daun jatuh hanyut.


Menyebrangi panjangnya aliran air.


Hingga sang daun bermuara di tengah samudera.


Terombang-ambing dalam luasnya samudra.


Naik turun terbawa arus ombak.


Terhempaskan oleh kapal-kapal besar nelaya.


Hingga daun itu hacur.


Lebur bersama kerasnya hantaman air pasang.


Membuat daun tinggal sisa kenangan diantara kokohnya batuan karang.

__ADS_1


***


__ADS_2