
Sekarang, keduanya berada di sebuah kos kecil. Dari luar, kos ini sangat sepi. Tidak ada yang tinggal di sini sepertinya. Kaca jendelanya juga sudah pecah. Pecahan kacanya masih berserakan di lantai. Kursi yang ada di luarnya juga hancur. Saat Ismaya memasuki kos itu, Ismaya malah melihat pintunya dan pintunya masih bagus. Saat Ismaya melihat isi kos tersebut, isinya rapi. Sangat terbalik dengan keadaan luarnya. Ismaya menatap Gaby yang menarik gorden agar cahaya dari luar masuk. Cewek itu beranjak ke sebuah ruang kecil. Ismaya mengikutinya. Sampailah mereka di sebuah kamar. Kamar yang sangat rapi. Untuk seorang cewek bermulut kotor, ternyata kamarnya sangat rapi dan bersih. Gaby membuka lemari pakaiannya lalu mengemasi baju-baju miliknya kedalam sebuah tas yang berukuran tidak terlalu besar.
"Cepetan pergi dari sini! " Gaby menarik tangan Ismaya pergi. Padahal cowok itu tengah mengagumi sebuah foto seorang cowok yang sepertinya habis diremas. Fotonya lecek.
"Ta, tapi, " protes Ismaya saat sudah sampai di halaman rumah kos. Dia juga masih heran kenapa Gaby tinggal di rumah kecil seperti ini.
"Cepetan! " gertak Gaby.
Ismaya bedecak kesal. Dia segera naik motor Gaby diikuti cewek itu. Ismaya memacu motor saat Gaby berteriak ditambah mengumpat kasar padanya. Ismaya menggerutu. Karena cowok itu tidak tahu apa-apa.
Ismaya tidak tahu saat Gaby menoleh ke belakang, sosok berpakaian hitam itu berdiri di atap rumah kosnya. Tersenyum miring ke arahnya.
...****************...
Kartika berdecak kesal. Lagi-Lagi Mark menolak panggilannya. Padahal semalam cowok itu mengajaknya pergi. Tapi setelah Kartika berdandan cantik dari pagi hingga sekarang, cowok itu tak kunjung mengabarinya. Menjawab pesan dan panggilan Kartika saja tidak, apalagi bersusah-susah mengabarinya.
Kartika menatap jam tangan mungil di tangannya, pukul sembilan lebih. Menghela nafas, Kartika berdiri dari duduknya. Lalu berjalan keluar kamar. Dia merasa haus. Saat melewati papa yang tengah membaca Koran di ruang TV, Kartika berusaha acuh. Maka saja baik-baik saja dia dapat peringkat dua. Kenapa papa marah? Malahan semalam papa kembali menyinggung soal Ismaya. Yang kata papa 'Udah Les sama guru juga masih Aja peringkat dua'. Huh! asal papa tau, Ismaya kalah dari Kartika semester ini!
Air putih melewati kerongkongan Kartika. Rasanya sangat segar. Kartika menghabiskan satu gelas air. Lalu mengusap bibirnya dengan lengan.
"Mau kemana? " suara Maya mengambil fokus Kartika. Mata mengambil gelas. Dia butuh kopi. Bekerja di kantor ternyata sangat melelahkan. Ya, maya berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan di sebuah perusahaan. Gajinya cukup untuk keinginannya. Ditambah, dia wanita pekerja keras. Dan tambahan yang dilakukannya, lembur, dan lainnya juga mendapat bonus. Dia senang menjalani hidup barunya.
"Kepo banget, sih, Kak! " ucap Kartika yang memang sedang kesal. dengan Maya. Maya juga diseret papa dalam omelannya. Katanya contoh Maya lah, apa lah. Kartika kesal. cewek itu akan pergi ketika Maya memanggilnya.
"Tunggu! " cegah Maya.
Kartika memutar bola matanya kesal. Lalu berhenti dan menghadap Maya. "Apa lagi? " tanyanya malas.
"Lo putus sama Ismaya? " tanya Maya hati-hati.
"Iya. Kenapa? " sentak Kartika.
__ADS_1
Maya menatap adiknya tidak percaya. "Lo kenapa, sih, Ka. Ismaya tuh baik sama Lo. Dia juga sayang banget sama Lo, " Tegur Maya.
"Huh.Brisik deh! " kesal Kartika. "Tau nggak, Kak? Lo sama Ismaya tuh, sama-sama nyebelin." Kartika pergi dengan mulut yang berucap 'namanya Aja ada Maya-Nya semua! Pantesan nyebelinnya sama!'
Maya menghela nafas. Adiknya kenapa, sih!
...****************...
"Jadinya berapa bang? " tanya Ismaya pada tukang tambak ban motor. Kemarin setelah sampai rumah dengan motor Gaby, dia langsung menelepon tukang tambak ban motor untuk mengambil motornya di sekolah dan memperbaikinya. Dan sekarang matic hitamnya sudah beres. Tinggal bayar Aja.
"Lima ratus ribu, " ucap si mas-mas tambak ban. Ismaya menyerahkan uang dalam nominal yang disebut. Yah, yang Ismaya hampir habis kalau begini.
"Makasih, bang, " Ismaya keluar dari bengkel itu dengan mendorong motornya. Di luar, Gaby baru saja menelpon seseorang. Mukanya terlihat sangat waspada.
"Kenapa, sih By? " tanya Ismaya. By itu Gaby, ya, teman-teman. Jangan salah paham dulu.
"Berisik, anjing! "
"Ya udah, pulang Yuk! " Ajak Ismaya.
Gaby langsung menuju motornya. Menaikinya dan pergi tanpa menoleh ke arah Ismaya. Ismaya jadi heran sendiri. Gaby ini manusia atau apa, sih! Membuatnya pusing saja!
Ismaya menjalankan motornya. Dan saat dia melewati sebuah rumah, seorang cewek tengah berdiri di sana. Ismaya menghentikan motornya dan menatap cewek yang juga tengah menatap ya itu. Beberapa detik setelahnya, Ismaya melongos. Dia langsung menjalankan motornya kembali. Mencoba menghilangkan rasa yang membuatnya gelisah. Rasa senang karena dia dapat melihat Kartika lagi. Tapi rasa kecewanya datang saat dia sadar, Kartika telah mengkhianati nya. Kartika hanya memanfaatkannya saja. Dan dengan enteng, Kartika memilih kembali dengan Mark.
Ismaya tersenyum miring saat dadanya terasa nyeri. Ismaya cepat-cepat berusaha menghilangkan bayangan cewek itu. Tapi, sekeras apapun dia berusaha, sekeras itu juga bayangan itu berusaha menetap.
...****************...
Sementara itu, Kartika merasakan sesuatu saat tadi dia bertatapan dengan Ismaya. Tapi, saat Ismaya membuang pandangannya dan pergi, Kartika merasakan sesuatu dalam dirinya terasa sesak. Kartika tidak tau mengapa dia menjadi seperti ini. Tapi, jika dia berpikir soal Ismaya, dia jadi merasa bersalah. Dan tidak ada siapa pun yang tau, jantung Kartika berdebar saat dia menatap mata Ismaya. Dan kemarin saat dia berucap kata putus, dadanya terasa sesak.
"Hajah! Niatnya nungguin kakak Mark. Malah jadi lihat Ismaya, sih! " kesal Kartika. Dia tidak mau menjadi lemah begini.
__ADS_1
Suara bising motor yang berhenti di depan Kartika mengambil fokus cewek itu. Di sana, Mark duduk di motornya dengan gagah. Jaket hitam menempel di badannya. Helm full Face menutupi kepalanya. Dan dengan tangannya, dia mengulurkan sebuah helm pada Kartika.
"Kenapa lama? " tanya Kartika kesal. Tak lupa bibirnya dia kerucutkan.
"Maaf. Aku ada pekerjaan tadi, " Ujar Mark.
Kartika mengaitkan pengaman helmnya. Lalu naik ke motor Mark. Tangannya dia lingkaran ke pinggang cowok itu. "Kan bisa kabari aku dulu. Aku, tuh, udah lama nungguin nya. Cape tau! " rengek Kartika.
"Iya, sayang. Maaf, " ulang Mark.
"Kaaak," rengek Kartika. Demi mendengar kata sayang dari bibir Mark, Kartika menyembunyikan wajahnya di bahu cowok itu. Mencoba menyembunyikan pipinya yang sudah semerah tomat itu. Membuat Mark tersenyum dengan tingkah pacarnya itu. Kartika ini sangat menggemaskan.
"Kenapa sayang? " Mark semakin menggoda Kartika.
"Ihh, Malu tau Kak, " Kartika semakin menyembunyikan wajahnya.
"Coba kamu panggil aku sayang," tantang Mark. Cowok itu merasakan Kartika menggeleng di punggungnya.
"Nggak mau. Motornya dijalanin, kenapa?" protes Kartika.
"Nggak sebelum Lo panggil Gue sayang, " goda Mark.
Kartika melepas pelukan dan duduk tegak. "Sayang. Udah, puas? "
Mark tertawa kecil. "Coba hilang gini 'sayang, motornya dijalanin, dong', " Ujar Mark. Kartika menggeleng horor.
"Ayo! " paksa Mark.
"iyaaa, Sayang, motornya dijalanin, dong! udah! " Kartika mengerucutkan bibir.
Mark tertawa kecil sebelum akhirnya menjalankan motornya.
__ADS_1
...****************...