
✨ "Menetapkan tujuan bukanlah hal yang utama. Itu adalah memutuskan bagaimana kamu akan mencapainya dan tetap dengan rencana itu."✨
Pagi ini Nanda terbangun dari tidurnya meski keadaan Masi gelap, kemudian ia keluar dari kamar sambil mengambil sebatang rokok.
Saat sedang melewati beberapa kamar kost disana, ia tidak sengaja melihat seseorang keluar dari kost.
"Bukannya itu Diky?" Gumamnya saat manatap Diky yang baru keluar dari kamar Naya.
"Astaga, apa yang mereka lakukan?" Imbuhnya lagi, sayang sekali ia tidak membawa ponsel saat itu. untuk memberikan bukti pada Aurelia.
Kemudian ia terus berjalan mendekati pria itu nampak berjalan kearahnya.
Saat mereka berpapasan. Diky menyapanya terlebih dahulu. pria itu terlihat salah tingkah saat Nanda menatapnya.
"Sudah bangun bro?" sapanya dengan wajah yang tegang. berharap Nanda tidak melihat ketika ia di kamar Naya.
"Iya." sahut Nanda.
"Baiklah, aku masuk ya." tukas Diky kemudian, pria itu seakan ingin menghindar dari Nanda.
"Iya." sahut Nanda lagi.
Diky segera berlalu pergi. mereka memang satu kost tapi tidak terlalu akrab.
Sedangkan Nanda melihat Diky berjalan, Nanda tersenyum penuh arti. entah apa yang ia pikirkan.
Beberapa saat kemudian matahari terbit dengan cerahnya, karyawan yang kost nampak berlalu pergi untuk bekerja.
Mereka yang bekerja disebuah perusahaan bidang jasa mempekerjakan ratusan karyawan dibidang masing-masing.
Ada yang ditempatkan kantor yang disebut karyawan eksekutif ada juga dilapangan seperti beberapa toko dan restoran transportasi yang tersebar dibeberapa titik kota.
Meski hanya bekerja di kantor cabang, Aurelia bersyukur. tak jarang teman-teman nya iri dengan gadis itu karna mereka bekerja dilapangan.
"Rel, bisa minta tolong?" Ucap salah satu karyawan yang saat itu Aurelia berjalan masuk kantornya.
"Ada apa?" sahut Aurelia.
"Tolong beritahu Nanda, ada beberapa pekerjaan yang kami kurang pahami, kata pak Rama kalau ada yang kurang jelas beritahu pada Nanda, karna Nanda serba bisa." Sahut wanita itu.
"Apa kamu gak bisa bicara langsung ke orangnya?" Tolak Aurelia, meskipun mereka sudah baikkan tapi ia ngak mau terlalu berinteraksi dengan pria itu.
Karna ia melakukan itu demi Diky yang melarangnya mendekati pria lain.
"Enggak ah, aku takut. pria itukan galak dan jarang bicara." sahut wanita itu lagi.
"Apa. jarang bicara?" Aurelia menaikkian alisnya tak mempercayai. setahuku pria itu cerewet bahkan melebihi emak-emak kompleks ketika ia bersama.
"Iya benar, galak lagi." ucap yang lain membenarkan.
Aurelia mendesah pelan. "benarkah apa yang mereka katakan?" .
__ADS_1
"Baiklah akan aku coba, bicara padanya." sahutnya Kemudian. bagaimana pun ia gak tega melihat mereka sampai memohon.
Setelah itu Aurelia segera berlalu ke ruangannya, ia melihat Nanda sedang dikursi kerjanya.
Pria itu nampak serius didepan komputer, bahkan tak menyadari kehadiran siapa saja yang lewat termasuk dirinya.
"Nanda." panggila Aurelia kemudian, namun ia seperti tak mendengar.
"Nanda !" panggilnya lagi sedikit nyaring membuat Nanda langsung menatap Gadis itu.
"Apa." sahutnya sedikit terkejut, dan ia menatap Aurelia yang pagi ini terlihat cantik.
Rambutnya yang ia ikat seperti anak kuda hingga memperlihatkan lehernya yang jenjang Putih.
"Cantiknya calon orang." pujinya dalam hati.
"Nanda karyawan sebelah meminta tolong untuk membantu mereka bekerja." ucap Aurelia dengan nada bermohon.
"Ngak ah, malas." sahutnya dengan enteng, lalu fokus dengan layar komputer.
"Ayohlah, kasihan mereka. kamu kan karyawan baru yang serba bisa. bahkan lebih pintar dari Dony." bujuk Aurelia memuji.
Aurelia mengaku Nanda adalah karyawan yang serba bisa, tapi pria itu suka sekali membebani pekerjaannya.
"Ada imbalannya." Tanya Nanda kemudian.
"Ya minta saja dengan mereka." Aurelia mulai tak sabar.
Namun saat melihat wajah membalas temannya tadi, ia menurunkan sedikit egonya.
"Baiklah, nanti siang aku traktir makan." sahutnya dengan terpaksa.
"Maafkan aku Diky, aku terpaksa." gumamnya dalam hati mengingat kekasih.
"Dan nomor telepon." Tamba Nanda.
"Apa, ngak ah. untuk apa itu?" tolak Aurelia.
"Yasudah kalau gak mau." tukas Nanda dengan angkuh dan membuat Aurelia kesal.
"Baiklah " ucapnya menyetujui dan itu membuat pria itu bahagia.
Nanda langsung beranjak dari bangkunya dan langsung ke meja Aurelia.
"Berapa?" tanyanya sembari memegang ponselnya.
"Buat apa sih, kan setiap hari bertemu juga." gerutuh Aurelia.
"Berapa?" tanya ulang oleh Nanda.
Dengan keadaan terpaksa Aurelia langsung menyebutkan nomor ponsel dan langsung disimpan oleh Nanda.
__ADS_1
Awan memberi nama di nomor ponsel nya "Calon binik" .
Ia pun mengirim pesan pada gadis itu pertama kali.
Ia mengetik, dan mengirim "tersenyum dong calon mantan orang."
Tak lama kemudian ponsel Aurelia bergetar, gadis itu membuka pesan yang tertera.
Saat baru membacanya ia melihat pria itu nampak tertawa, ingin rasanya ia menjambak rambutnya.
Namun tiba-tiba suara seseorang sedang datang yang membuat mereka berdua saling melihat kearah pintu ruangan kerja mereka.
"Oh jadi Kelian sudah baikan?" tanya seseorang tersebut.
"Pak Rama." ucap mereka secara bersamaan.
Pak Rama yang berdiri diambang pintu. entah sejak kapan beliau ada disana.
Aurelia dan Nanda yang melihat meneger nya itu langsung menelan devilnya.
"Jadi betul kelian berdua sudah baikkan?" ulang pak Rama.
"Siapa bilang " ucap mereka secara bersamaan. dan membuat pak Rama terkekeh.
"Bahkan saat menjawab saja Kelian kompak." ejeknya.
Aurelia langsung membuang wajah merehanya kearah yang lain. "Sial." gumamnya.
Sedangkan Nanda kembali ke tempat meja nya.
"Oh ya Nan, bapak minta tolong bantu teman kamu karyawan sebelah." perintah pak Rama yang langsung diangguki Nanda.
Setelah itu mereka keluar meninggalkan ruangan itu.
"Huuff... tau gitu aku tadi tidak memberi nomor ponsel ku." gerutu Aurelia dengan kesal. kemudian ponsel nya bergetar lagi.
"******Ayam****** bakar didepan restoran sepertinya enak. jika makan berdua " Isi pesan yang dikirim Nanda.
"Dasar nglunjak." Aurelia langsung meletakkan ponselnya diatas meja. setelah membaca pesan dari pria itu.
Beberapa jam kemudian, jam istirahat makan siang tiba, Aurelia terpaksa mentraktir Nanda direstoran yang tak jauh dari kantornya.
Namun ia tak sendiri, ia bersama sahabatnya bernama Alif sahabat baiknya. Alif adalah keponakan Pak Rama yang ia sudah anggap seperti saudara, begitu juga dengan Alif.
Sedangkan Nanda yang baru keluar dari mobilnya mengulas senyumnya menuju restoran.
Namun saat ia melihat Aurelia bersama pria yang sedang duduk disana, ia langsung berubah dan geram ingin memakan pria itu.
Disepanjang perjalanan ia membayangkan makan berdua dengan Aurelia kencan, namun harapannya sirna saat ia melihat gadis itu bersama pria lain.
"Beruntung kamu keponakan Pak Meneger, kalau tak sudah ku tendang ke mars." Geramnya menetap Alif.
__ADS_1