
"Kamu sudah baikkan Rel? kata Nanda kamu sakit." sapa Alif Pagi itu setelah dua hari Aurelia tidak masuk kerja.
"Aku baik-baik saja." sahut Aurelia.
"Wajahmu pucat sekali." Alif terlihat khawatir melihat Aurelia.
"Aku baik-baik saja Lif." Aurelia mengulas senyumnya menatap Alif.
Kemudian saat melihat Nanda berjalan ke arahnya, Aurelia langsung menggandeng lengan Alif menggajaknya memotong jalan.
Nanda nampak kecewa namun ia mengikuti langkah Aurelia di belakangnya.
Biasanya ia bersifat memaksa di karenakan rasa cemburunya, tapi setelah kejadian tadi malam itu Nanda banyak mengalah.
"Rel, kamu belum sarapan kan? aku membawakan mu makanan." Nanda meletakkan bungkus makanan di atas meja kerja Aurelia, saat ia baru datang.
Aurelia yang enggan berbicara pada Nanda tak peduli, ia terus saja menatap layar komputernya yang baru saja ia nyalakan.
Nanda menatapnya sejenak, setelah itu ia berlalu ke meja kerjanya.
Beberapa saat kemudian seorang OB nampak masuk kedalam ruangannya, lalu Aurelia langsung memanggilnya.
"Mas, ini buat kamu." Aurelia memberikan bungkus makanan yang di berikan Nanda kepada OB tersebut.
Nanda melihat itu hanya bisa menghela nafasnya, ia sudah berusaha melakukan segala cara agar kekasihnya itu mau memaafkannya namun sepertinya Aurelia benar-benar sudah membencinya.
Kemudian ia beranjak dari kursi kerjanya lalu melangkah mendekati kursi kerja Aurelia lagi.
"Rel, aku harus bagaimana supaya kamu memaafkan aku?" Nanda nampak memalas.
Aurelia nampak memejamkan matanya, kemudian ia membuka mulutnya. "Jangan pernah mendekati aku lagi dan pergilah dari hadapanku." ucapnya dengan menekan kata-katanya, pandangannya tajam menatap Nanda.
"Tapi Rel, aku tidak bisa melakukan itu. aku bisa gila kalau tidak melihatmu." mohon Nanda lagi.
"Aku bilang enyah dari hadapanku, atau aku saja yang pergi dari sini." sungut Aurelia sembari beranjak dari duduknya.
"Baik-baik aku pergi dari sini, tapi ku mohon jangan kamu kemana-mana." mohon Nanda, setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah Nanda pergi, Aurelia menghempaskan kembali tubuhnya di kursi kerjanya, ia mulai terisak lagi.
"Aku harus bagaimana?" gumamnya, ia memang cinta dengan Nanda tapi ia membenci pria itu setelah apa yang ia perbuat padanya kemarin itu.
Sedangkan Nanda yang telah duduk di cafe belakang kantornya seraya menghisap sebatang rokok di jarinya.
Penampilannya yang terbiasa sangat rapi kini berantakan, rahangnya yang biasanya bersih kini mulai lebat oleh bulu yang mulai tumbuh.
__ADS_1
Sungguh ia tidak memperdulikan penampilannya saat ini, di pikirannya hanya ada Aurelia dan Aurelia seorang.
"Nanda kamu lagi santai?" sapa Desi yang kini sudah duduk di depan meja Nanda.
"Hem."
"Aku temani ya, hari ini aku libur." Desi nampak semangat, jarang sekali ia mendapatkan kesempatan berduaan dengan Nanda.
Sedangkan Nanda nampak tak memperdulikannya, ia terus saja menghisap rokoknya hingga kandas beberapa batang.
"Kamu lagi ada masalah Nan? ayo cerita, dengan senang hati aku akan mendengarkan." bujuk Desi saat melihat Nanda yang hanya diam saja.
"Tidak ada, aku hanya ingin sendiri." sahut Nanda.
"Kamu kesepian disini ya Nan, aku juga. kamu kapan dapat cuti? kita sama-sama pulang nanti ya." ajak Desi yang kebetulan Nanda satu kota dengannya.
"Aku baru disini, mana bisa dapat cuti." sahut Nanda sekenanya.
Desi menghela nafas dengan pelan, ia harus mencari cara agar Nanda nyaman dengannya.
"Nan, mau kopi lagi? ku pesankan lagi ya." tawar Desi saat melihat cup kopi milik Nanda sudah kosong.
Nanda terdiam, biasanya Aurelia selalu mengomel jika ia banyak merokok atau minum kopi, apa gadis itu akan menegurnya jika ia melakukan itu di depannya.
Lalu ia segera beranjak untuk memesan kopi dan tak berapa lama ia kembali dengan segelas kopi di tangannya.
"Ini Nan, Masi panas." ucapnya meletakkan cup kopi di depan meja Nanda.
"Terima kasih." Nanda mengulas senyumnya sedikit, lalu beranjak dari duduknya dengan membawa kopi tersebut.
"Nan kamu mau kemana?" protes Desi saat Nanda hendak meninggalkan mejanya.
"Aku akan kembali kekantor. terimakasih untuk kopinya." sahut Nanda, kemudian ia berlalu meninggalkan cafe tersebut dengan membawakan segelas kopinya.
Melihat kepergian Nanda, Desi nampak bersungut-sungut. ia sengaja membelikan kopi agar pria itu bisa lebih lama ngobrol dengannya nyatanya dugaannya salah.
Sungguh Desi tidak bisa menebak sosok Nanda yang sulit di dekati, terkadang pria itu sangat ramah tapi di lain kesempatan sangat dingin.
Menurutnya Nanda bukan tipe pria yang tebar pesona, pria itu selalu bersikap dingin dengan semua wanita dan itu membuat dirinya menyukainya.
"Cepat atau lambat, kamu akan menjadi milikku Nan, Aurelia sudah pacaran dengan Alif jadi tak ada lagi saingan terberatku." gumamnya dengan tersenyum sinis saat menatap kepergian Nanda.
Nanda yang sudah sampai diruangan nya nampak meletakkan cup kopi diatas meja, matanya melirik ke arah Aurelia.
Biasanya wanita itu langsung protes saat mencium aroma kopi diruangnnya.
__ADS_1
"Kamu tadi pagi sudah minum kopi, masa sekarang minum kopi lagi. aku ngak mau tahu, cepat buang kopinya. terlalu banyak minum kopi itu tidak baik buat kesehatan." ucap Aurelia kala itu dan saat Nanda mengingat hal itu ia nampak mengulas senyumnya.
Sungguh ia merindukan senyum dan cerewet Aurelia, ia rela di omeli oleh gadis itu.
Namun senyumnya mengurut saat melihat Aurelia tak lagi peduli dengannya.
Gadis itu seakan tak melihat keberadaannya dan sama sekali tak terganggu saat dirinya menyesap kopi yang sengaja ia bawa.
Merasa di abaikan, Nanda beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati gadis itu.
"Aurelia tolong jangan seperti ini." mohon Nanda pada Aurelia.
Sementara Aurelia tetap saja sibuk menatap komputernya, gadis itu seakan tak mendengar dan melihatnya.
"Aurelia, aku bisa gila kalau kamu mendiamkan aku seperti ini." Nanda mengulurkan tangannya untuk menyentuhnya namun langsung di tepis oleh Aurelia.
"Jangan pernah menyentuhku lagi." ucap Aurelia, wajahnya langsung memucat seperti seorang dilanda ketakutan.
"Aurelia, ku mohon jangan seperti ini. tolong jangan takut padaku, aku tak bisa jauh darimu." Nanda nampak memohon dengan suara memalas.
"Aku membencimu. kamu sudah menghancurkan hidupku." ucap Aurelia, matanya nampak mengembun. namun segera ia usap sebelum jatuh ke pipinya.
"Tolong, jangan seperti ini. aku akan bertanggung jawab. ayo kita menikah." mohon Nanda lagi.
"Pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu. kamu sudah membuat orangtuaku kecewa, mereka pasti akan hancur jika melihat anak gadisnya sudah kotor." Aurelia berbicara sambil terisak.
"Aurelia." Nanda nampak berkaca-kaca menatap kekasihnya itu.
"Pergi Nanda. pergi." Aurelia memohon.
"Jadi kamu tidak mau melihatku lagi?" ucap Nanda, ia nampak menghela nafasnya berkali-kali untuk meredakan dadanya yang bergemuruh itu.
"Pergi." Keukeh Aurelia.
"Baiklah aku akan pergi, tapi tolong jaga kesehatanmu. jangan sakit-sakit lagi, karna aku pasti akan sedih." ucap Nanda menatap Aurelia yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Pergi." ucap Aurelia lagi.
Nanda menghela nafas beratnya, kemudian dengan berat hati ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara Nanda yang sedang menghubungi seseorang melalui telpon selulernya, ia segera pulang ke kostnya.
Ia nampak mengeluarkan tasnya dari dalam lemari, mengambil tumpukan pakaian lalu memasukkan kedalam tasnya tersebut.
"Mungkin ini yang terbaik, maafkan aku Aurelia." gumamnya.
__ADS_1