
...✨"Kepercayaan seperti selembar kertas. Sekali saja dia teremas dan kusut, dia tidak bisa kembali sempurna lagi."✨...
"Lif, tolong Bawa Aurelia pergi dari kamarnya." perintah Nanda pada Alif melalui telpon selulernya itu.
Setelah mendapatkan informasi dari Mona karyawan gudang, ia segera mengambil tindakan untuk menggagalkan lamaran Diky untuk Aurelia.
Aurelia adalah Gadis milik Pria itu dan hanya dia satu-satunya yang akan menjadi pendamping Gadis itu kelak.
Ingin sekali ia sendiri membawa Aurelia pergi jauh dari Diky, hanya saja ia sedang ada meeting dengan kantor pusat.
"Pergi kemana? emang ada apa bro?" tanya Alif kembali dari ujung telpon.
"Sudah jangan banyak tanya Lif, pergi bawa Aurelia dan jangan kembali sebelum aku suruh." sahut Nanda.
"Sebentar bro, memangnya kamu lagi dimana ini?" tanyanya lagi.
"Kerjaanku belum kelar." sahut Nanda.
"Tapi bro ..." Alif belum menyelesaikan pertanyaannya namun Nanda sudah menyelanya.
"Card ku Masi dengan kamu kan? belilah sesukamu dan bawah Aurelia pergi jauh dari kostnya." sela Nanda kemudian.
"Oke, baik bro." sahu Alif dari ujung telponnya.
"Makasi ya Lif, aku percayah padamu." ucap Nanda kemudian memutuskan panggilannya.
Sementara itu setelah menerima panggilan dari Nanda, Alif bergegas menuju kamar Aurelia.
Hari libur yang seharusnya ia gunakan untuk bersantai-santai sepanjang hari, kini terganggu oleh permintaan Nanda.
Lagipula mana mungkin ia menolak perintah Nanda, selain karna pria itu royar padanya, ia merasa Nanda itu bukan orang sembarangan dikantor dan ia tidak mungkin membiarkan Aurelia dalam bahaya.
"Aurelia?" teriak Alif setelah berada di depan kamar gadis itu.
Tak berapa lama Aurelia Masi terlihat pucat setelah demam ia membuka pintu kamarnya.
"Hm, ada apa?" ucapnya setelah ia membuka pintunya.
"Jalan-jalan yuk?" ajak Alif yang langsung membuat senyum gadis itu lebar.
"Benaran?" ucapnya tak percayah sekaligus senang, seharian ia merasa jenuh karna Nanda melarangnya keluar dari kamarnya padahal ia merasa sudah sangat sehat.
"Tentu saja." sahut Alif meyakinkan.
"Ngak ah, nanti Nanda marah." tolak Aurelia dengan wajah muram.
"Tenang saja Nanda yang suruh, katanya biar kamu ngak bosan." bujuk Alif, padahal ia juga belum tau apa alasan Nanda menyuruhnya mengajak pergi Aurelia.
__ADS_1
Padahal sebelumnya pria itu akan berubah menjadi Harimau kelaparan jika dirinya terlalu dekat dengan kekasihnya tersebut.
"Benarkah? baiklah, tunggu sebentar aku siap-siap dulu." Aurelia segera masuk kekamarnya kembali.
Berapa saat kemudian, gadis itu nampak cantik dengan rok span berbahan jeans sepanjang lutut dengan kaos span yang cocok untuk tubuhnya.
Rambutnya yang sepanjang bahu ia biarkan terurai dengan make up tipis yang ia aplikasikan diwajahnya membuat terlihat cantik dan lebih segar disore itu.
Alif melihat itu nampak terpaku sejenak, namun kemudian ia membuang wajahnya. ia nampak menyadarkan dirinya sendiri jika gadis cantik didepannya itu sudah menjadi kekasih pria lain.
Setelah itu ia segera mengajak Aurelia meninggalkan kostnya menggunakan sebuah taxi.
Malam harinya, Diky yang berada dikamarnya setelah pulang kerja nampak segera membersihkan dirinya.
Pria itu mengulas senyumnya sepanjang kegiatannya tersebut.
Apalagi saat melihat sebuah buket berwarna merah, kue tart berbentuk hati serta kotak perhiasan di atas mejanya ia nampak sangat bahagia.
Malam ini ia berencana meminta maaf serta memberi kejutan pada mantan kekasihnya tersebut dengan langsung melamarnya.
Ia nampak menyesali perbuatannya yang dulu dan kini ia akan benar-benar minta maaf pada gadis itu.
Setelah ia terlihat rapih, ia segera mengumpulkan beberapa teman-temannya.
Ia sengaja mengajak teman-temannya sebagai saksi permintaan maafnya pada Aurelia ia yakin gadis itu akan terharu dan menerimanya kembali.
Tok ... TOok ... TOOok ...
"Kemana Aurelia?" tanya pada teman-temannya tersebut.
"Mungkin tidur, sudah dua hari gadis itu tidak masuk kerja." ucap salah satu wanita disekitaran tersebut.
"Sedang apa kalian?" Lyli yang baru pulang kerja malam itu nampak terkejut melihat sekumpulan pria dan wanita yang kurang lebih agak banyak itu nampak berdiri didepan kamar Aurelia.
"Kamu lihat Aurelia?" tanya Diky dengan wajah khawatir.
"Dia sedang sakit dikamarnya." sahut Lyli mengingatkan tadi siang sebelum berangkat kerja ia melihat keadaan Aurelia terlebih dahulu.
"Tapi sepertinya ia sedang tidak ada." tukas Diky kemudian.
"Ntar ya, aku punya kunci serap kamarnya." Lyli yang sedikit khawatir langsung mencari kunci serap kamar Aurelia didalam tasnya.
Sebenarnya ia tidak menyukai Diky, namun mengingat Aurelia sedang sakit ia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya itu.
"Aurelia." panggil Lyli saat melihat kamar gadis itu nampak kosong.
"Kemana perginya Aurelia ya?" Diky mulai panik saat melihat Aurelia tidak ada dikamarnya.
__ADS_1
Lyli yang melihat Diky dan teman-temannya membawa bunga yang lain nampak mengernyit.
"Kalian ada urusan apa dengan Aurelia?" tanya kemudian menatap mereka satu persatu lalu berakhir pada Diky yang terlihat kecewa.
"Aku mau melamarnya." tegas Diky yang membuat Lyli tersenyum sinis.
"Kamu Masi punya muka untuk bertemu dengan Aurelia?" ejek Lyli menatap Diky.
"Bukan urusanmu." sahut Diky dengan wajah geramnya menatap Lyli.
"Aku tidak yakin Aurelia mau menerimamu kembali." tukas Lyli.
"Tentu saja ia mau menerimaku, Aku sangat mengenal Aurelia." tegas Diky, kemudian ia meletakkan hadiah tersebut diatas meja gadis itu.
Setelah itu ia segera meninggalkan kamar Aurelia setelah seorang temannya memberitahukan dimana Aurelia sekarang berada.
"Semoga Aurelia tidak bertemu dengan pria sialan itu." gerutu Lyli setelah Diky pergi, ia menghubungi sahabatnya namun ponselnya tidak aktif.
Sedangkan Aurelia yang berada ditaman kota nampak bercengkrama dengan Alif.
Mereka duduk dilesehan dan beberapa makanan yang manis ditangan gadis itu, gadis itu sangat senang, karna keadaan seperti ini jarang sekali ia lakukan.
Ia hampir tidak pernah mendapatkan hari libur untuk bersenang-senang, karna Pak Rama selalu saja membuatnya sibuk dengan alasan ia satu-satunya karyawan kepercayaannya.
Beberapa saat kemudian ia nampak terkejut saat seseorang memanggil namanya, ia segera menoleh kearah sumber suara itu.
"Diky?" gumamnya dengan wajah terkejut saat melihat Diky berjalan ke arahnya.
Lampu penerang taman terlihat terang membuatnya bisa melihat dengan jelas mantanya itu.
"Kurang ajar, beraninya kamu merebut Aurelia dariku." hardik Diky menatap Alif, kemudian ia langsung menarik kerah baju pria itu lalu memberikan bogem padanya.
Alif yang tidak terima langsung menghajarnya, hingga kini mereka berkelahi.
Aurelia yang melihat itu langsung melarai, namun ia terkena dorongan Diky hingga jatuh.
"Berhentilah Kelian dan kamu Diky, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, jadi tolong jangan menggangguku." teriak Aurelia setelah bangkit.
"Aku minta maaf Aurelia, aku ingin kita menikah." bujuk Diky setelah berhasil membuat Alif babak belur.
"Aku ngak mau Dik, kamu sudah memutuskan aku waktu itu. apa kamu lupa?" sahut Aurelia sembari melepaskan cekalan Diky ditangannya.
"Tidak, aku menganggap kita belum putus, waktu itu aku hanya emosi sesaat." tegas Diky seakan lupa dengan perbuatannya dahulu.
"Tapi aku tidak pernah mencintaimu, Dik." teriak Aurelia dengan kesal.
"Jadi benar kamu mencintai Alif Hah? jangan harap aku membiarkan itu." tegas Diky, ia nampak menarik tangan Aurelia namun Alif memukulnya dari belakang.
__ADS_1
"Aurelia, cepat pergi." teriak Alif saat Diky tersungkur dipinggir jalan.
Melihat Diky tak berdaya, Aurelia segera berlari menyusuri jalan sembari menanggis. ia tidak menyangka Diky yang dulu ia kenal pria baik-baik ternyata sangat menakutkan.