AURELIA

AURELIA
AURELIA SAKIT


__ADS_3

...✨" Proses pendewasaan dalam hidup ini adalah melalui ujian-ujian yang terjadi dalam hidupmu." ✨...


Siang itu Nanda nampak mengerjapkan matanya saat ponselnya berdering.


"Ya Ma."jawabnya sembari mengucek matanya yang masi mengantuk.


"Nak kapan kamu pulang? ada seseorang yang ingin Mama kenalkan padamu." sahut Ibunya Nanda dari seberang menelpon.


"Nanda Masi karyawan baru disini Ma, belum dapat cuti kerja." sahut Nanda yang belum juga beranjak dari tempat tidurnya.


"Yaudah kalau begitu Mama bilang ke Om Hutama ya biar kamu dapat cuti." bujuk Ibunya kemudian.


"Ma, please. jangan ikut campur dalam pekerjaanku." Nanda nampak mendesah kesal hingga terdengar sampai ketelinga Ibu.


"Lagipula ngpain juga kamu minta pindah kecabang sudah bagus-bagus dipusat." keluh wanita parubaya keturunan Balanja tersebut.


"Iya Ma, iya nanti Aku usahakan untuk pulang." bujuk Nanda kemudian.


"Baiklah, Mama tunggu." sahut sang Ibu, setelah itu mematikan telponnya.


Nanda menghela nafas panjang saat memikirkan Ibunya, wanita yang melahirkannya itu selalu saja mengatur hidupnya meski Pria itu sudah dewasa seperti sekarang.


Kemudian Pria itu beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan tubuhnya dari sisa Alkohol semalam.


Setelah rapi dengan stelan kerjanya, Nanda segera meninggalkan kamarnya. ia nampak memperhatikan kamar Aurelia yang sepi.


Mungkin gadis itu sudah berangkat kekantor sedari tadi. pikirnya.


"Perusahaan Nenek Moyang nya kali ya jam segini baru masuk kerja." bisik-bisik beberapa karyawan saat Nanda baru masuk kerja kesiangan yang langsung membuat Nanda menghentikan langkahnya.


"Kelian sudah bosan kerja?" geramnya menatap mereka satu persatu.


"Pak Rama saja tidak protes, terus kenapa Kelian repot? lebih baik Kelian bekerja dengan benar jangan ngurusin kehidupan saya." imbuhnya dengan sinis dan langsung melangkah keruang kerjanya.


Begitulah Nanda saat menanggapi orang yang tidak menyukainya dan karna sifatnya itu pria tidak mau berteman dengannya.


Saat sampai diruangan. Nanda sangat terkejut melihat meja kerja Aurelia yang belum ditempati Gadis itu.


"Kemana Dia?" gumamnya kemudian menghubungi Alif.


"Lif kamu tau dimana Aurelia?" tanyanya pada Alif.


"Ngak tau bro, dari tadi pagi aku gak lihat. mungkin cek gudang sama Pak Dony." sahut Alif dari ujung telpon.


Setelah mengakhiri panggilannya, Nanda menghela nafas panjang. "Apa Aurelia sedang bertemu bajingan itu lagi?" gumamnya, saat ia mengingat letak gudang tak jauh tempat Diky bekerja.


Mengingat hal itu Nanda menggepalkan tangannya, kemudian ia mengahlikan pikirannya pada pekerjaan yang sudah menumpuk diatas meja.


Hingga sore hari Pria itu baru beranjak dari bangkunya, kemudian ia melangkah keluar meninggalkan ruangan.

__ADS_1


"Ly, Aurelia belum kembali?" tanyanya saat sedang berpapasan dengan sahabat Aurelia, Lyli.


"Kembali darimana? Aurelia hari ini tidak masuk kerja karna ia sedang sakit." sahut Lyli dengan wajah khawatir.


"Apa, sakit?" Nanda terkejut.


"Sepertinya sedang demam, aku sudah memaksanya minum obat tapi ia ngak mau. Gadis itu susah sekali minum obat." keluh Lyli.


"Baiklah terimakasih Ly." tukas Nanda kemudian dan bergegas pergi menuju Kostnya.


Namun sebelum itu ia mampir ke Apotik membeli obat untuk kekasihnya tersebut.


"Aurelia." teriak Nanda sembari mengetuk kamar Gadis itu.


"Aurelia." teriaknya lagi saat belum ada tanggapan.


Tak lama kemudian pintu terbuka dengan wajah Gadis itu tampak pucat.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Nanda nampak panik, kemudian memegang wajah Aurelia yang nampak pucat.


"Kamu demam sayang." ucapnya lagi.


"Aku baik-baik aja kok." sahut Aurelia meyakinkan.


"Bagaimana kamu bisa bilang baik-baik saja, badanmu sangat panas begini. Ayo masuklah aku membawakan mu obat." ucap Nanda kemudian.


"Kamu jangan masuk kekamarku." Aurelia menghalangi saat Nanda ingin masuk kekamarnya.


"Pokoknya gak bisa masuk." Keukeh Aurelia dengan wajah pucat.


"Ya sudah aku akan merawatmu dikamarku saja." Nanda langsung menarik tangan Aurelia, namun Gadis itu sepertinya enggan untuk pergi.


Nanda langsung membawa Gadis itu masuk kedalam kamarnya. sebuah kamar yang hanya berisi kasur busa dan lemari.


"Kamu belum makan kan?" Nanda nampak menyiapkan bubur yang ia bawakan tadi.


"Aku tidak selera makan." jawab Aurelia.


"Tapi kamu harus makan." bujuk Nanda.


"Benaran aku ngak selera." tolak Aurelia, membuat Pria itu sudah tidak sabar.


"Kamu makan atau aku yang akan makan kamu?" ucapnya sedikit mengancam.


"Menyebalkan ngak bisa apa sedikit romantis." gerutu Aurelia dalam hati, setelah itu dengan terpaksa ia membuka mulutnya.


Nanda yang menyuapi Aurelia dengan telaten hingga membuat makanan itu habis tak tersisa.


"Sekarang minum obat." perintah Nanda pada Aurelia yang langsung membuat Gadis itu beringsut menjauh.

__ADS_1


"Aku ngak suka obat." tolaknya.


"Tapi kamu harus minum obat." bujuk Nanda.


"Tapi aku ngak suka minum obat, Aku ngak bisa menelannya, dan rasanya pasti pahit." tolak Gadis itu lagi, dulu setiap ia minum obat Papanya yang menghancurkan dengan lembut.


"Ini obat herbal, ngak pahit." bujuk Nanda lagi.


"tetap saja pahit, pokoknya aku ngak mau. kalau kamu mau minum saja." Keukeh nya lagi.


Nanda mulai tak sabar langsung mengambil obatnya yang berbentuk sirup tersebut dan langsung meminumnya.


"Benaran kamu minum?" Aurelia nampak melebarkan matanya saat Pria itu meminum obatnya, namun ia kaget saat Nanda membungkam bibirnya dengan bibir Pria itu.


Bahkan ia hampir tersedak saat merasakan obat yang diminum Nanda tadi berpindah kedalam mulutnya.


Setelah Aurelia benar-benar meminum obatnya, Nanda langsung melepaskan pungutannya. dan ia segera memberikan segelas air putih.


"Kamu itu ya, selalu saja mencari kesempatan." Aurelia nampak bersungut-sungut.


"kalau kamu tidak menurut, itu berarti kamu ingin memberikan aku kesempatan." sahut Nanda sembari terkekeh.


"Menyebalkan." gerutu Aurelia dengan kesal.


"Sekarang tidurlah, aku temani disini." perintah Nanda kemudian.


"Ngak mau, kamu kembali ke kamarmu ." sahut Aurelia.


"Ku temani disini, atau ku gendong ke kamarku." tegas Nanda yang membuat gadis itu mencibirkan bibirnya.


"Dasar pemaksa, baiklah tapi kamu tidur dilantai jangan dekat-dekat aku." akhirnya Aurelia menyerah dan merebahkan tubuhnya.


"Kenapa ngak boleh?" goda Nanda.


"Ya ngak bolehlah, cuma Papaku satu-satunya Pria yang boleh tidur denganku. cukup kamu mengambil ciuman pertama ku, jangan yang lain." gerutu Aurelia yang membuat Nanda tersentak.


"Benarkah waktu itu ciuman pertamamu? lalu apakah gosip dikantor itu tidak benar." Nanda nampak bertanya-tanya dalam hati.


"Aurelia apa ...." Nanda ingin menanyakan langsung pada kekasihnya tersebut, namun tiba-tiba ponsel nya berdering.


Nanda hanya menatap layar ponselnya sekilas. kemudian ia mengabaikan panggilan dari Ibunya.


"Kenapa ngak diangkat. memang dari siapa?" tanya Aurelia kemudian.


"Bukan dari siapa-siapa, ayo tidurlah." sahut Nanda mengahlikan pembicaraan, kemudian ia membawa bantal yang diberikan Gadis tadi padanya, lalu diletakkan disamping kasur Gadis itu, setelah itu ia merebahkan dirinya diatas lantai.


"Tidurlah dikamarmu, kamu pasti kedinginan disini." perintah Aurelia saat melihat Pria itu nampak gelisah.


"Ngak apa-apa, kamu tidur saja biar cepat sehat besok." sahut Nanda.

__ADS_1


"HM." Aurelia nampak memejamkan matanya.


"Mungkin besok saja aku tanya lagi." gumam Nanda, kemudian ia ikut memejamkan matanya.


__ADS_2