AURELIA

AURELIA
NIAT BURUK DIKY


__ADS_3

"Lagi pulak kenapa kamu tidak pacaran dengan Nanda saja sih, sepertinya ia suka dengan kamu." saran Alif yang langsung membuat Aurelia menatapnya.


"Udah deh, jangan becanda. Nanda kan memang baik pada semua orang." sangkal Aurelia.


"Dasar Oneng, coba peka dikit deh, apa kamu tidak melihat dari caranya melihat kamu itu sudah membuktikan ia menyukai mu, lagian Nanda lebih baik dari pada Diky sialan itu. Nanda lebih tampan, pintar dan kaya tentunya." Nasehat Alif.


"Aku gak mau berekspekulasi Lif, selagi Nanda tidak mengutarakannya, aku hanya menganggap perhatiannya seperti sahabat kaiak kamu." Sahut Aurelia dan membuat Alif sedikit kesal.


Sementara itu setelah selesai mengerjakan pekerjaan bersama Pak Rama, Nanda segera berlalu kekantin karna ia sudah kelaparan.


Namun saat masuk ia melihat Aurelia sedang disuapin oleh Alif.


"Sialan kamu Lif, dasar modus." gerutuhnya kemudian ia berjalan mendekati mereka.


"Hemm ... "


Dehemnya hingga membuat Aurelia dan Alif menatapnya. "baru datang bro?" sapa Alif.


"Hem." sahut Nanda yang kesal. lalu ia memesan makanan.


Meski berada satu meja, Nanda makan dengan diam, ia menahan emosinya yang membuat pria itu cemburu.


"Kamu sedang sakit Gigi Nan?" tanya Aurelia saat Nanda tak mengindahkannya.


"Hem." sahut Nanda sembari mengunyah makanan.


Alif tau bahwa Nanda cemburu membuat dirinya kekeh melihat Nanda. sepertinya mengerjain pria ini sangat menyenangkan.


"Habiskan minumanmu Rel." Alif menyodorkan minuman kedepan Aurelia.


"Makasih Lif." sahut Aurelia dengan mengulas senyumnya dan ia membuat Nanda semakin meradang.


"Jam makan sudah selesai, cepat kembali kekantor." tegas Nanda kemudian beranjak dari bangkunya.


Aurelia yang terkejut melihat sikap Nanda langsung ikut berdiri, kemudian berlalu mengikuti pria itu.


^^^keesokan harinya...^^^

__ADS_1


Aurelia yang tidak tahan dengan gosip yang ada dikantor ia pun mendatangi Diky yang sedang berada di dapur kostnya.


Diky nampak menegang saat melihat Aurelia, kemudian ia segera pergi namun dihalangi oleh Aurelia.


"Jangan seperti banci Dik, udah dewasa gak usah menghindar sana-sini seperti anak kecil, ayo kita bicarakan selesai kan masalah kita." ucapnya kali ini ia bersikap tegas.


"Diantara kita tidak ada masalah, jadi tidak ada yang harus dibicarakan." sahut Diky menatap Aurelia.


"Tentu saja ada, aku dengar kabar kau memutuskan ku, kenapa gak bicara langsung denganku? kenapa harus dengan orang lain, kamu tau sindiran orang-orang yang membenciku, " protes Aurelia.


"Kita bisa bicara baik-baik kok kalau kamu memang mau putus, ngak usah seperti ini." Imbuhnya lagi walau hatinya sedikit tercubit.


Meski awalnya ia tidak memiliki perasaan apapun dengan pria itu, tapi karna terbiasa dengan pria itu ia mulai menyayangi nya.


"Kita ngak akan putus, kita baik-baik saja seperti biasa." tegas Diky yang masi menatap Aurelia.


"Mana bisa seperti itu, mereka menyalahkan ku karna kandasnya hubungan kita dan kamu harus bertanggung jawab." desak Aurelia dengan emosi.


Diky nampak mendesah kesal. "Kamu pernah mikiri perasaan ku ngak?" ucapnya mulai emosi.


"Kamu terlalu manja, dan kekanakan. Aurelia apa kamu yakin nanti hidup bersama ku?" sahut Diky yang masi tak dimengerti oleh Aurelia.


Aurelia sadar dirinya memang manja, bahkan memasak pun ia tak bisa tapi bukan berarti kekurangan nya itu jadi alasan.


"Dik, kita membicarakan masalah hubungan, bukan kekurangan ku." krutu Aurelia.


"Baiklah, jika kamu tidak mau dibilang manja sekarang minum air putih ini? yang lain saja bisa minum air putih ini, kenapa kamu gak bisa? apa karna kamu anak orang kaya jadi mau dimanja terus?" Diky menyodorkan minuman yang berisi air putih.


Air yang biasa diambil dari mata air dekat kantornya, biasa dikonsumsi oleh karyawan disana, kecuali Aurelia.


Gadis itu selalu saja muntah-muntah saat meminumnya, dan itu menjadi pergunjingan semua orang yang di kost.


Sejak itu Aurelia selalu meminum air mineral kemasan, lalu kenapa dipermasalahkan toh ia membeli dari uangnya sendiri.


Aurelia nampak pucat melihat gelas tersebut, tangannya gemetar saat menyentuhnya.


"Kenapa? takut? sudah tak usah diminum dasar manja, semua orang bisa meminum itu tapi kenapa kamu tidak? bukannya itu aneh?" cibir Diky.

__ADS_1


"Ya Allah, apakah ini menjadi akhir hidupku? padahal aku masi ingin menikah ya Allah." gumam Aurelia dengan polos.


Setelah itu ia langsung meneguk air putih itu hingga tandas, ia melakukan bukan demi Diky tapi ia mau menunjukkan dirinya tidak manja, bahkan ia rela meninggalkan keluarga nya agar bisa mandiri.


Beberapa menit Aurelia langsung merasakan mual dan pusing, ia merasa seperti Dejavu saat pertama ia dikost nya dulu.


Waktu itu ia juga merasakan hal yang sama saat ia pertama sekali di kostnya.


Merasa tidak aman, Aurelia berlari menuju westafel.


Wajahnya terlihat pucat dan tak menunggu waktu lama ia terjatuh dilantai.


"Aurelia." teriak Diky. ia segera berlari menuju kekasihnya itu, bersama itu Pak Rama ,Nanda ,Alif masuk kesana.


"Ada apa ini?" teriak pak Rama, ia terlihat panik saat melihat Aurelia dalam pelukan Diky.


"Maaf pak tadinya aku bercanda memberikan Aurelia minuman itu." Diky menunjukkan gelas yang ada dimeja.


"Astaga Diky, kalau becanda jangan kelewatan, kamu bisa membahayakan nyawa orang." tegur pak Rama.


"Maaf pak." sahut Diky.


Nanda yang melihat wajah Diky, langsung mendorong nya dan membawa Aurelia kerumah sakit.


Berapa hari kemudian, Aurelia sudah sehat segera kembali dari kost, ia juga mendengar bahwa air yang ia konsumsi itu sudah dicek ke laboratorium.


Hasilnya memang tidak layak dikonsumsi, meski tidak terlalu berbahaya namun sebagain orang bisa tidak menerima tubuhnya mengkonsumsi air itu seperti dirinya.


Sejak kejadian itu, Diky seperti hilang ditelan bumi, pria itu tak pernah menunjukkan batang hidungnya, bahkan Aurelia tak peduli lagi padanya.


Ia menyadari dan menerima itu semua dengan baik, jika masalah yang ia hadapi adalah sebagian dari hukuman untuknya, karna waktu itu ia mendekati Diky dengan maksud tertentu, walau lama kelamaan ia memiliki rasa.


Malam itu saat Aurelia sedang beristirahat dikamarnya, pintu diketuk, tanpa ada perasaan macam-macam ia membukanya.


"Diky." ucapnya dengan mata melebar saat melihat Diky yang berdiri disana.


...✨"Beberapa teman seperti uang receh, bermuka dua dan nilainya juga tidak seberapa."✨...

__ADS_1


__ADS_2