AURELIA

AURELIA
AURELIA DAN NANDA SUDAH BERTEMAN


__ADS_3

Malam itu Aurelia baru saja keluar dari ruangan Pak Rama. ia merasa kelelahan dengan pekerjaan Nanda, ia merasa sangat capek malam ini.


"Dasar pria gak bertanggung jawab." Gerutunya dengan kesal mengingat Nanda yang pergi begitu saja meninggalkan pekerjaannya padanya.


Saat ia berjalan. seseorang memanggilnya. "ngpain kamu dari ruangan Pak Rama malam-malam begini? habis godain pak Rama ya?" Tuduh seorang yang sedang dibelakangnya dan ia segera menoleh kearah Wanita itu.


"Desi." Sapa Aurelia yang kaget melihat gadis itu.


"Aku habis menyerahkan laporan." Sahut Aurelia kemudian.


"Malam ini? emang tadi siang ngpain aja?" sewot Desi.


"Aku tadi mengerjakan pekerjaan Nanda, ia pergi begitu saja meninggalkan pekerjaannya." Sahut Aurelia.


"Ah... kamu pikir aku begitu percayah. Nanda itu adalah pria yang pintar dan sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya." Bela Desi.


"Terserah kamu." Aurelia nampak jengah berlalu pergi meninggalkan wanita itu.


"Dasar ganjen cari alasan aja." gerutu yang kesal ditinggal Aurelia begitu saja.


Sedangkan Aurelia berjalan sambil menghela nafas panjang, dan berlalu begitu saja, tidak hanya ia saja lelah namun hatinya juga.


Setalah ia sampai dari ruangan. kemudian mengambil tasnya segera ia meninggal kantor tersebut. ia bukan langsung kembali ke kosnya namun ia menuju taman yang berada di dekat kantor nya itu.


Taman yang terlihat rimbun itu tempat ia berkeluh kesah saat dirinya sedang tidak baik-baik saja.


"Papa ,Mama Aurelia kangen." ucapnya saat ia mulai duduk dibangku taman itu.


"Apakabar Kelian? aku ingin bertemu. bertemu Kakak dan adikku." Imbunya lagi yang langsung membuat air matanya tak berbendung.


"Aku sedih Pah, kenapa mereka memusuhi ku. apapun yang kulakukan salah Dimata mereka, aku harus gimana?" keluhnya sembari terisak.


"Haruskah aku pulang? tapi aku ingin membuktikan bahwa aku bisa, aku gak gadis manja yang gak bisa apa-apa." Imbuhnya. yang menatap langit malam dipenuhi kelip bintang.


"Tuhan kenapa manjadi dewasa itu sangat sulit?" Imbunya lagi menatap langit.


" huuufff... "


Tiba-tiba suara deheman seorang pria yang membuat Aurelia langsung berdiri dan terkejut.


"Kupikir kuat, ternyata cenggeng dan rapuh." cibir pria itu yang tak jauh duduk dekat Aurelia.


Taman yang rimbun serta lampu yang minim, membuat Aurelia tak melihat pria itu.


"Nanda, apa yang kamu lakukan disini?" teriak Aurelia saat Nanda memunculkan wajahnya dari dedaunan.


"Suka aku dong, inikan tempat umum " sahut Nanda cuek.

__ADS_1


"Kamu selalu saja menggangguku." gerutunya sembari beranjak dan meninggalkan tempat itu.


Namun beberapa langkah ia dicegat oleh Nanda "tetaplah disini." perintah Nanda kemudian.


"Apa hak mu atasku." Sahut Aurelia kemudian.


"Aku bilang tetap disini dan duduk." perintah Nanda lagi yang langsung duduk dibangku Aurelia itu.


"Aku gak mau." tolak Aurelia.


"Kamu bilang rindu dengan keluargamu kan? aku juga sedang merindukan mereka." tukas Nanda yang langsung membuat Aurelia menoleh.


"Duduklah bukannya kita sama-sama merindukan keluarga kita." perintah Nanda dengan lembut.


Aurelia yang mendengarkan itu sedikit luluh dan langsung kembali duduk.


"Kamu rindu keluargamu kan? begitu juga dengaku, ternyata hidup jauh dengan mereka tidak semuda yang kita bayangkan." Ucap Nanda yang membuat Aurelia menatapnya.


"Benarkah ia pria itu? bukankah ia ini hantu." gumam Aurelia saat mendengarkan suara lembut Nanda. bukan ucapan pedas.


"Mari kita beradu senjata." Ucap Nanda sembari menatap Aurelia, gadis itu sangat lelah terlihat di wajah sembabnya.


"Apa maksud mu?" sahut Aurelia tak mengerti. seharian otaknya sudah terkuas dan ia merasa mode lemot.


Nanda langsung mengangkat kelingking nya. " Ayoh kita berdamai?" Ucapnya kemudian.


"Baiklah aku memang salah. jadi kita baikan?" tukas Nanda dengan wajah berharap.


Aurelia nampak berpikir sejenak dan kemudian ia menautkan jari kelingkingnya pada Nanda.


"HM, Baiklah." Ucapnya kemudian dengan manatap Pria itu. seketika pandangan mereka seperti terkunci.


Namun Aurelia segera menjauhkan tangannya dan juga wajahnya.


"Aku mau pulang, ini sudah larut malam." Ucapnya sembari beranjak dari bangku dan di ikuti oleh Nanda.


Mereka nampak berjalan beriringan, menuju kostnya, setelah sampai mereka masuk ke kost masing-masing.


Tapi tanpa mereka sadari, Diky memperhatikan mereka dari kejauhan.


^^^keesokan harinya...^^^


Pagi itu seperti biasa Aurelia berangkat kerja dengan Diky. sepanjang jalan banyak wanita menyapa pria itu.


Melihat itu hati Aurelia sedikit tercubit. apa ia merasakan cemburu? entahlah. ia juga belum memastikan perasaannya.


Selain terkenal rajin ibadah dan tutur katanya santun. Diky juga tak kalah tampan dengan pria kantor lain.

__ADS_1


"Sayang, bisa ngak kamu menjauh dari teman pria mu." Mohon Diky yang memulai pembicaraan, melihat Aurelia lebih banyak berteman dengan pria ketimbang wanita.


"Aku gak pernah mendekati mereka, lagi pula selama ini entah kenapa tidak ada yang bisa membuat ku berteman dengan wanita selain Lyli." sahut Aurelia jujur.


Aurelia bukannya tidak mau bertanya dengan wanita tapi kata-kata mereka selalu menyakiti perasaannya, mereka kebanyakan pura-pura tapi menusuk dari belakang.


Jadi ia lebih nyaman berteman dengan pria, paling tidak walau mereka tidak menyukainya mereka tidak menunjukkan secara langsung berbeda dengan Nanda.


"Ya sudah kamu berteman dengan Lyli saja, jangan dengan pria." sahut Diky kemudian.


"Mereka mau berteman denganku, lagian mereka baik." Aurelia membela diri.


"Tapi aku cemburu melihat kamu dekat dengan mereka sayang." Tegur Diky yang langsung membuat Aurelia menatapnya.


"Baiklah." Sahutnya kemudian, ia tidak nyaman dengan sikap Diky yang mulai posesif dan ia menyanggupinya.


"Lagi pula mereka yang mendekati ku. bukan aku." imbuhnya lagi membela diri.


"Ia aku tahu mulai sekarang jangan dekati mereka lagi ya?" Mohon Diky.


"Hem." Aurelia langsung mengangguk setuju.


Sepanjang jalan mereka bergandengan tangan, dan membuat Nanda meresa cemburu.


"Pagi." Sapa Nanda pagi itu saat mulai masuk dalam ruangan.


"Hem." sahut Aurelia tanpa menoleh ke pria itu.


"Kamu yakin menyukai Diky?" tanya Nanda to the poin.


"Iya, kalau ngak ngapain kami pacaran?" sahut Aurelia menatap Nanda, meski ia sendiri belum yakin dengan perasaannya, jujur ia memang mulai ada perasaan sayang pada Diky.


"Kamu yakin Diky setia?" Pancing Nanda.


"Tentu saja. ia pria baik." bela Aurelia.


"Tapi aku kurang Yakin." tukas Nanda yang membuat Aurelia melotot menatapnya.


"Nanda, kamu ngak usah cari masalah." kesal Aurelia.


"Memang ia bukan pria baik." Keukeh Nanda.


"Kamu mau kita berantam lagi?" sugut Aurelia.


"Lihat saja nanti pria yang kamu banggakan itu tidak sebaik yang kamu pikirkan." cibir Nanda yang mengingat kejadian tadi subuh ia melihat Diky baru keluar dari kamar Naya mantan pacarnya itu.


Namun ia tidak bisa memberitahu pada Aurelia tanpa bukti yang membuat gadis itu semakin memburuk.

__ADS_1


...✨"Kamu belajar lebih banyak jika kamu lebih banyak mendengarkan dan berbicara lebih sedikit. Kamu belajar lebih sedikit jika lebih sedikit mendengarkan dan berbicara lebih banyak." ✨...


__ADS_2