
"Kamu Marah Nan?" Gumam Aurelia Saat Melihat Nanda Keluar Dari ruangan Pak Rama, dari tadi Pria itu diam saja saat sang meneger membahas Gadis itu dan Alif.
Kemudian Aurelia segera menyusul Pria itu untuk memberikan penjelasan.
"Nanda." panggil Aurelia saat baru masuk kedalam ruangan, ia melihat Pria itu saat sedang merapikan berkas yang ada diMejanya.
"Kamu marah?" Saat Aurelia mendekatinya dan Pria itu langsung menghentikan kegiatannya.
"Menurut Mu?" Sahut Nanda Datar.
Ia tahu bahwa Gadis itu tidak mempunyai hubungan dengan Alif, tapi ia ingin melihat bagaimana Gadis itu serius dengan hubungan mereka saat ini.
"Aku dengan Alif hanya berteman saja." Aurelia mencoba menjelaskan.
"Apa aku harus percaya?" sahut Nanda dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Ya tentu saja." Aurelia nampak membalas membuat Pria itu merasa gemes.
"Ya sudah buktikan saja kalau Kelian memang gak ada hubungan?" Pinta Nanda.
"Aku gak punya bukti." Aurelia nampak berpikir.
"Kamu mau Aku percayah?" tukas Nanda kemudian.
"HM.." dengan polos Aurelia mengangguk.
"Kalau begitu, cium Aku." Nanda Menunjukkan Pipinya Sendiri.
"Apa sih, dasar kamu memang mesum." Aurelia bersungut-sungut lalu pergi.
Namun Nanda meraih tangannya sebelum Gadis itu pergi meninggalkan dirinya.
"abiar aku saja yang melakukannya." tukas Nanda yang langsung membungkam bibir Aurelia dan menciumnya.
Aurelia yang saat itu belum siap langsung melotot melihat Nanda ******* bibirnya.
"Astaghfirullah." teriak Alif yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan tersebut hingga membuat Nanda melepaskan ciumannya.
Sedangkan Aurelia menunduk malu dengan wajah merahnya.
"Kelian pacaran?" Alif terkejut.
"Tentu saja." tegas Nanda langsung merangkul pinggang Aurelia dengan sigap.
"Tapi bukannya aturan di ..." Alif yang belum selesai melanjutkan perkataannya langsung dipotong Nanda.
"Kamu kemarin ingin membeli sepatukan? ini ambillah." Nanda langsung menyerahkan credit card miliknya pada Alif.
__ADS_1
"Benar bro." Alif nampak tersenyum ceria saat melihat credit card milik Nanda ada ditangannya.
"Tentu saja asal."
"Tenang saja bro, Aurelia itu sahabat terbaikku." sela Alif sambil mengangkat tangannya dan menyentuh lengan Aurelia, Nanda langsung melotot menatapnya hingga membuatnya langsung menurunkan tangannya kembali.
"Baiklah aku tidak akan menggangu kalian lagi." ucap Alif lalu pergi meninggalkan mereka.
"Terimakasih Ya." sembari mengangkat credit card milik Nanda.
Pria itu nampak bersiul tenang karna impiannya membelikan sepatu yang mahal ternyata tercapai.
"Dasar matre." gerutu Aurelia. karna sahabat nya itu lebih mementingkan uang dari pada Gadis itu.
Sedangkan Nanda nampak terkekeh melihatnya, segala tingkah Gadis itu selalu membuat pria itu Gemes.
Siang hari Aurelia berlalu kekantin bersama Nanda dan Alif, namun saat baru sampai dikantin Nanda ditarik Desi kemejanya.
"Disini saja Nanda, jangan ganggu mereka yang lagi hangat-hangatnya itu." Ucap Desi seraya menatap Aurelia dan Alif bergantian.
"Aku duduk dengan mereka saja." tolak Nanda.
"Yaudha, aku temani agar kamu gak jadi obat nyamuk bagi mereka." Desi nampak duduk disamping Nanda dan berhadapan dengan Alif, sedangkan Aurelia berhadapan langsung dengan Nanda.
Sepanjang makan pandangan Nanda tak lepas oleh Aurelia, meski Desi mencari perhatian pada pria yang dihadapan Aurelia.
"Aku belum ada rencana mau pulang." sahut Nanda sembari menatap Aurelia.
"Ya ngak sekarang juga Nan, kalau hari raya tiba nanti sekalian aku main kerumah kamu Nanda, aku ingin kenal dengan keluarga, kamu punya adik perempuan juga kan? pasti sangat cantik. boleh ya Nan aku kerumah kamu." Mohon Desi.
"Terserah kamu." sahut Nanda yang tak mau peduli.
"Benaran Nan, aku senang sekali. siapa tau nanti kita jadi keluarga." tukas Desi yang membuat Aurelia tersedak.
Nanda ingin menyodorkan minuman nya kedapa Gadis itu namun keburu duluan oleh Alif.
"Pelan-pelan." ucap Alif.
"Duuh, mesranya. jadi iri deh." goda Desi sembari menggeser kursinya agar mendekat kepada Nanda.
"Kamu ngak pengen kaiak mereka Nan, aku gak nolak kok kalau kamu mau." imbuhnya lagi sembari menatap Nanda.
Aurelia yang merasa cemburu langsung bangkit dari duduknya. "Aku sudah selesai." ucapnya kemudian, setelah itu berlalu pergi.
Alif yang melihat Gadis itu sedang tidak baik-baik saja segera menyusul.
Nanda yang ikut mau pergi, tapi keburu dicegah oleh Desi.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Desi.
"Nanda akan meeting diluar bersamaku." Dony datang menimpali.
"Aku masi ada urusan bro." Nanda mencari alasan, bagaimana ia bisa pergi melihat Gadis itu yang sekarang sedang cemburu. Gadis polos itu bisa berpikir macam-macam.
"Ini penting bro, dan pak Rama sudah menunggu kita." desak Dony yang menatap jam tangan miliknya.
Nanda mendesah kasar. "Baiklah." ucapnya kemudian, meski ia tak ingin tapi pria itu bersikap profesional.
Saat ia berjalan menuju parkiran, ia melihat Aurelia berbincang dengan Alif.
"Apa yang mereka lakukan?" Gumamnya, namun ia langsung bergegas pergi saan Dony menghidupkan kelekson Mobilnya.
"Apa selama ini mereka bertemu di belakangku diam-diam?" Gumam Nanda, saat Mobil melaju meninggalkan kantor.
"Huff dasar murahan, sudah ada yang baru tetap aja diam-diam bertemu dengan mantan." cibir Dony sembari mengemudi Mobilnya.
"Apa maksud mu bro?" Nanda langsung menatap Dony.
"Aurelia bro, kamu jangan gampang tertipu dengan kepolosannya. kamu liat sendirikan dia bertemu dengan mantannya itu. dan dari gosip yang kudengar mereka sekamar bareng sering." sahut Dony, membuat Nanda menggepalkan tangannya secara diam-diam.
"Terserah kamu sih, tapi Diky sendiri yang bilang begitu, orang Diky juga yang minta putus karna bosan." tukas Dony.
Saat itu Aurelia yang ingin menghindar saat tidak sengaja berpapasan dengan Diky, akhirnya gagal karna pria itu sudah mengejarnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Diky. sejak mereka putus untuk pertama kalinya ia menyapa Aurelia.
"Seperti yang kamu lihat." sahut Aurelia.
"Jadi benar dengan gosip yang beredar jika kamu pacaran dengan Alif?" tanya Diky to the poin.
Aurelia nampak tertawa kecil. "Aku berhubungan dengan siapapun itu bukan urusan kamu, kita sudah selesai dan tidak ada alasan untuk ikut campur." tegas Aurelia. setelah itu ia pergi meninggalkan Diky yang masi ingin berbicara.
Malam hari Aurelia nampak menghubungin Nanda beberapa kali tapi ponsel pria itu sedang tidak aktif.
"Apa dia Marah? bukannya yang seharusnya marah itu aku?" gumamnya mengingat bagaimana Desi menggoda pria itu.
Hingga tengah malam Aurelia nampak tidak bisa memejamkan matanya, bahkan ia sesekali mengintip kamar Nanda yang masi gelap.
Disisi lain Nanda yang sedang berada di cafee dekat kantornya sedang menikmati minuman beralkohol didepannya.
Pria itu setengah sadar ketika ia meminum beberapa kaleng.
"Aku harus mempercayai siapa? kamu atau mereka semua." sahut Nanda ditengah kesadarannya yang akan hilang.
...... ✨"Kita tidak ditakdirkan untuk disukai semua orang. Yang benci, biarlah benci dengan alasan-alasannya sendiri."✨......
__ADS_1