
Pagi ini Aurelia nampak mengerjapkan matanya saat alaram diponselnya berdering nyaring, setelah mematikan ia beranjak dari ranjangnya.
Kemudian ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Aurelia, kamu kerja?" sapa Alif saat gadis itu keluar dari kamarnya.
"Tentu saja." sahut Aurelia sembari mengunci pintu kamarnya.
"Aku pikir kamu ikut pulang dengan Nanda." tukas Alif yang membuat gadis itu menatapnya.
"Dia pulang?" Aurelia nampak heran.
"Emangnya kamu ngak tahu?" Alif mengernyit.
"Ten-tentu saja." dusta Aurelia, ia tidak ingin Alif mengetahui masalahnya dengan Nanda.
Biarlah peristiwa naas itu hanya dirinya, Nanda dan Tuhan saja yang tahu.
"Kenapa kamu ngak pulang. lumayankan ada teman diperjalanan?" tanya Alif kemudian.
"Aku belum dapat ijin dari Pak Rama." sahut Aurelia membalas.
"Tapi Nanda kembali lagikan?" tanya Alif memastikan.
"Maksud kamu?" Aurelia nampak tak mengerti dengan perkataan sahabatnya tersebut.
"Kemarin saat ku tanyak, ngak tau. bisa kembali atau tidak." sahut Alif.
Mendengar itu Aurelia nampak tercengang, ia menyuruh Nanda pergi, tapi bukan untuk selamanya namun ia hanya ingin butuh waktu untuk sendiri.
"Rel, kamu baik-baik saja?" Alif nampak khawatir saat Aurelia terdiam.
"Kamu sedang tidak bertengkar dengan Nanda kan?" imbuhnya lagi menelisik.
"Tidak, kami baik-baik saja kok." sahut Aurelia meyakinkan.
"Yaudah yuk jalan." imbuhnya lagi mengalihkan pembicaraan. dan mereka berangkat ke kantor bersama.
Sepanjang jalan menuju kantornya, Aurelia nampak terdiam, apakah Nanda benar-benar akan meninggalkannya? memikirkan hal itu ia jadi galau sendiri.
"Kenapa sih Laki-laki begitu tidak peka, jika aku menyuruhnya pergi itu tandanya jangan pergi, dan kamu harus lebih bersabar lagi. jika aku berkata baik-baik saja, itu tandanya sedang tidak baik dan kamu harus menghiburku. lalu jika aku berkata tidak apa-apa, itu berarti sedang ada masalah dan kamu wajib cari tahu. masa gitu aja ngak ngerti." gerutu Aurelia siang itu.
__ADS_1
Sepertinya gadis itu lupa, jika seorang pria juga manusia biasa yang tak mampu mengerti kan sifat seorang wanita yang sangat rumit.
Jika bicara dengan inti permasalahannya, kenapa harus diputar-putar dahulu hingga menjadikannya rumit.
Aurelia manatap meja Nanda yang kosong, biasanya jika pria itu tidak sibuk pasti akan selalu berada di sekitarnya, sekedar mengganggunya atau menggodanya.
Kini ia merasa kesepian saat Nanda tidak ada, ia merasa seperti ada yang hilang darinya.
"Aku merindukanmu." gumamnya entah sadar atau tidak dengan ucapannya.
...****************...
Nanda yang pulang ke kotanya, bukan langsung menuju rumahnya, namun justru pergi ketempat lain.
kini ia berada di depan sebuah rumah yang terletak dipinggiran kota. kakinya dengan pasti melangkah masuk kedalam pagar yang sedang terbuka.
"Maaf Tante, ini benar rumahnya Aurelia?" tanyanya menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram bunga di halaman yang cukup luas.
"Iya benar, ada keperluan apa?" tanya balik wanita tersebut, pandangannya nampak menelisik Nanda dari ujung kaki ke kepala.
"Kenalkan Tante, saya Nanda." Nanda langsung meraih tangan wanita paruh baya tersebut lalu menciumnya dengan takzim.
"Saya Ita, Ibunya Aurelia." wanita itu tampak takjup dengan sikap santun ya Nanda.
"Oh ya tentu saja, ayo masuk." wanita itu langsung mengajak pria itu masuk kedalam.
Rumah yang lumayan besar untuk ukur perumahan dipinggiran kota menurut Nanda dan ia sangat kagum dengan keramahan wanita paruh baya itu
Wanita itu terlihat cantik meski tak muda lagi dan wajar jika kekasihnya itu sangat cantik karna ibunya juga cantik.
"Ayo duduk Nak, Tante panggilkan Om dulu." ucap Nyonya Ita ibu Aurelia.
Setelah kepergian Nyonya Ita kebelakang, Nanda memperhatikan beberapa bingkai foto yang terpajang di dinding depan.
Terlihat foto Aurelia dari kecil hingga remaja ada disana, Nanda langsung senyum-senyum sendiri saat memandang foto imut kekasihnya itu dan sangat mengingat wanita itu yang muram.
Ehmmm...
Nanda terkejut saat mendengar dehem seseorang, kemudian ia langsung berdiri ketika melihat seorang pria paruh baya berkulit bersih dengan perawakan tinggi besar sedang melangkah ke arahnya.
"Selamat sore Om, saya Nanda, teman kerja Aurelia." Nanda langsung meraih tangan Pak Budi lalu menciumnya dengan takzim.
__ADS_1
Pak Budi nampak menelisik pria yang ada diseberangnya itu, pemuda berkulit putih, berwajah tampan dengan hidung mancung.
Pria paruh baya itu meyakini jika pemuda di hadapannya tersebut bukanlah pria Indonesia asli meski logat dan tata kramanya sangat Indonesia.
"Duduklah." perintahnya kemudian pada Nanda.
"Baik Om, terima kasih." sahut Nanda lalu mendudukkan kursinya di sofa ruang tamu tersebut.
"Jadi benar kamu teman kerjanya Aurelia atau justru pacarnya?" tanya Pak Budi to the poin.
"Saya ..." Nanda tiba-tiba gugup menggantung ucapnya saat Pak Budi menyelanya.
"Tidak perlu gugup Nak, saya tahu kamu hanya temannya Aurelia. karna jika anak gadis saya itu mempunyai pacar, pasti akan cerita pada kami orangtuanya. lagipula siapapun yang akan menjadi pacar anak saya harus mendapatkan restu saya, Aurelia adalah kesayangan kami, dari kecil kami menjaganya dengan sangat baik." ucap Pak Budi menatap pemuda di hadapannya itu hingga membuat Nanda langsung menelan ludahnya sendiri.
Pria baruh baya itu terlihat begitu menyayangi Aurelia, namun dirinya justru menghancurkan putrinya itu.
Sepertinya Nanda langsung sadar duluan, sebenarnya ia ingin mengatakan jika ia memang kekasihnya Aurelia namun melihat Pak Budi yang tegas ia langsung mengurungkan niatnya.
Nanda takut jika calon mertuanya itu membencinya, apalagi saat mengetahui ia sudah memperkosa putri kesayangannya. belum lagi kini hubungannya dengan Aurelia juga sedang tidak baik-baik saja.
Lebih baik ia mencari cara mendekati pria itu untuk mengambil hatinya agar hubungannya dengan Aurelia di restui.
"Jadi kedatanganku kesini dalam rangka apa?" tanya Pak Budi dengan curiga, apalagi saat melihat banyak sekali oleh-oleh yang di bawa oleh pemuda itu.
"Kebetulan saya pulang untuk menjenguk orangtua Om, jadi sekalian saya berkenalan dengan orangtuanya teman dekat saya." sahut Nanda sembari menatap calon mertuanya tersebut, ia ingin tahu bagaimana reaksi pria paruh baya itu saat dirinya mengatakan berteman dekat dengan Aurelia.
Sedangkan Pak Budi nampak menatapnya sejenak, kemudian mulai membuka suaranya lagi.
"Jadi orangtuamu juga tinggal di kota ini ?" tanyanya kemudian.
"Benar Om." sahut Nanda.
"Di mana?" tanya Pak Budi lagi.
"Di Perumahan Candika, Om." sahut Nanda yang langsung merubah mimik wajah Pak Budi yang tadinya Rama langsung datar.
Perumahan Candika adalah salah satu perumahan elit yang ada di kota tersebut dan itu berarti teman dekat Aurelia ini bukan orang sembarangan pikir Pak Budi.
"Kamu benar hanya teman dekatnya Aurelia kan? saya harap hanya sebatas itu, dari kecil Aurelia kami sayangi dengan sepenuh hati, kami tidak pernah memukulnya bahkan memarahi jadi saya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang menyakitinya kelak." tegas pria paruh baya yang bekerja di salah satu perusahaan milik Negara itu.
Lebih baik ia bicara terus terang, karna hubungan beda kasta hanya akan menyakiti putrinya. mengingat dirinya dengan istrinya dulu juga berbeda kasta dan ia sangat mengerti bagaimana kesedihan istrinya kala itu.
__ADS_1
Nanda lagi-lagi menelan ludahnya saat mendengar perkataan calon mertuanya tersebut.
Sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati orangtua kekasihnya itu.