
...✨"Saat seseorang mencintaimu, mereka tak harus mengatakannya. Kamu akan tahu dari cara mereka memperlakukanmu."✨...
"Kamu sudah datang?" Nanda nampak terkejut melihat Aurelia sudah duduk manis dimejanya.
Aurelia yang melihat Nanda sekilas kembali menatap komputernya, lebih baik ia fokus dengan pekerjaannya.
"Aurelia." Nanda berjalan mendekatinya.
"Hemm..." gadis itu hanya berdehem tak melihatnya.
"Kamu marah?" tanya Nanda kemudian sembari mengangkat kursinya ditempat Aurelia, setelah itu ia duduk disana.
"Aku lagi sibuk, tolong jangan ganggu." ketus Aurelia.
"Aku tidak menggangu kok." tukas Nanda
Pria itu sama sekali tidak berkedip manatap gadis itu. "apa benar yang pria itu katakan jika kamu sudah tidur dengannya?" gumamnya.
Rasanya tidak mungkin wanita polos ini melakukan seperti itu, bahkan berciuman saja sangat kaku.
Nanda nampak menghela nafas panjangnya, saat pikirannya sedang beradu argument mengenai Gadis yang dihadapannya itu.
"Kamu tidak kerja?" Aurelia mengeryit saat melihat Nanda.
"Hari ini aku masuk sore." sahut Nanda.
"Terus kenapa masuk pagi?" Aurelia semakin mengeryit.
"Ingin saja." sahut Nanda enteng.
Aurelia segera beranjak dari duduknya, berdua saja dengan pria itu sangat berbahaya pikirnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Nanda saat Aurelia ingin pergi.
"Bukan urusanmu." sahut Aurelia kemudian pergi.
Nanda menghela nafas wanita itu sangat polos namun ia sangat susah didekati.
Ia jadi iri dengan Diky yang begitu muda mendekati Aurelia padahal dibandingkan dengannya ia merasa punya segalanya.
Kemudian ia tersenyum nyinyir saat melihat komputer milik Gadis itu, entah apa yang pria itu rencanakan.
Sementara Aurelia yang baru kembali dari toilet nampak lega apalagi saat melihat pria itu tidak disana.
"Syukurlah." gumamnya.
__ADS_1
Ia langsung melangkahkan menuju meja kerjanya lalu menghempaskan tubuhnya di sana.
Saat wanita itu melanjutkan pekerjaannya, ia melihat ada yang aneh dengan komputer nya.
"Kok ngak bisa, perasaan tadi baik-baik saja." gerutuhnya sembari mengejek komentarnya.
"Bagaimana ini, siang ini akan dikirim kepusat." imbuhnya lagi sedikit panik.
"Dony ngak masuk lagi." Aurelia nampak mondar-mandir sambil berpikir, entah kenapa atasannya tidak masuk kerja.
"Ada apa Rel?" tanya pak Rama kebetulan lewat depan ruangannya yang tak sepenuhnya tertutup, ia pun langsung menyapa karyawan kesayangan tersebut.
"Komputer saya tiba-tiba eror pak." sahut Aurelia nada malas.
"Sebentar saya panggil Nanda." ucap Pak Rama yang langsung mengambil ponselnya kedalam sakunya.
"Tidak usah pak." tolak Aurelia, namun pak Rama tetap menghubungi Nanda.
"Sebentar lagi ia datang kesini." sela pak Rama, setelah itu ia berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Aurelia menghela nafas panjang ia takkuasa menolak perintah maneger nya.
Beberapa saat kemudian Nanda masuk kedalam ruangan. "apa ada masalah?" ucapnya.
"Komputer ku tiba-tiba eror Nan." keluh Aurelia yang terlihat duduk dimeja kerjanya.
Aurelia langsung mempersilahkan Nanda kekursinya.
"Bagaimana?" tanya Aurelia saat Nanda mulai memeriksa.
"Mudah saja." sahut Nanda gadis itu pun merasa lega.
"Benarkah?" ucapnya lega.
"Kemarilah duduk disini akanku ajari jika eror lagi nanti." Nanda nampak memukul pahanya mempersilahkan gadis itu duduk.
Namun gadis itu tidak menyambutnya dengan senang hati, ia malah melotot melihat pria itu.
"Mau dibenarin ngak?" ucap Nanda lagi. saat wanita itu mulai bersungut-sungut.
"Iya ngak harus duduk disitu juga kan?" protes Aurelia dengan kesal.
"Ngak mau yasudah, padahal sekalian aku bantu buat laporan." Nanda hendak beranjak, Aurelia langsung menahan tangannya.
Mendapat sentuhan dari gadis itu dengan lembut, Nanda merasakan darahnya berdesir deras.
__ADS_1
"Ku ambil kursi satu lagi ya." mohon Aurelia dengan wajah memalas.
"Baiklah." sahut Nanda pada akhirnya.
Aurelia mengambil kursi satu lagi dan membawanya didekat meja kerjanya.
"Duduklah dikursimu aku yang disitu." Nanda beranjak dari kursinya mempersilahkan Aurelia duduk di kursinya sendiri.
Tanpa berpikir macam-macam, Aurelia langsung duduk di kursinya. "terus bagaimana ini Nan?" Aurelia menatap komputer nya yang masi seperti itu.
"Aku akan memperbaikinya." Nanda melingkarkan tangan kanannya pada tubuh Aurelia agar ia bisa menjangkau keyboard yang didepan Gadis itu.
Kini posisi Aurelia seakan dalam pelukan Nanda.
Merasa ada yang tidak beres pada posisi mereka, Aurelia langsung protes. "Nanda, tangannya gak harus kek gini juga, heran sama kamu, mau buat laporan harus kek gini." protesnya.
"Astaga Oneng-oneng kamu gak lihat keyboard nya ada dihadapan mu." tukas Nanda memberi alasan.
"Kalau aku menjangkau dari sini susa karna terhalang oleh mu." imbuhnya sambil memperaktekkan, ia sengaja memepetkan pada lengan Aurelia agar ia tidak bisa bergerak.
Wanita itu menggaruk kepalanya binggung. "sudah jangan banyak berpikir, mau laporan mu beres ngak?" bujuk Nanda kemudian.
"Yasudah terserahmu saja yang penting komputer ku bagus dan laporan ku selesai." dan itu membuat Nanda merasa gemes sendiri.
"Astaga kamu kenapa polos sekali, bagaimana Diky mengatakan yang tidak-tidak denganmu." gumam Nanda, ia nampak menghembus rambut Aurelia mungkin setelah ini akan menjadi candu baginya.
Nanda melakukan berbagai cara agar ia bisa dekat dengan wanita itu, karna jika ia melakukan secara normal ia pasti menolaknya.
Setelah Aurelia bisa kembali mengoperasikan komputernya, Nanda memperhatikan wanita itu dengan meletakkan pundaknya pada dagunya Aurelia.
Aurelia yang merasa lelah pundaknya menoleh kesamping. "Astaga Nanda." Aurelia langsung mendorong wajah pria itu.
"Sudah sana pergi, ini sudah bisa. aku mau buat laporan." omel Aurelia dengan kesal saat Nanda tak kunjung pergi.
Bukanny marah karna diomeli, malah senang melihat Gadis itu.
Pria itu pun segera beranjak dari bangkunya, sebelum dirinya khilaf menerkam Gadis itu.
Sebelumnya ia tidak pernah merasakan seperti ini sebegitu sekali menyukai wanita.
Beda dengan Aurelia ia seperti memiliki sihir dengan kepolosannya.
Gadis itu berhasil membangunkan mikilnya yang berada dibawahnya itu. meski hanya menatap mata Gadis itu.
Sedangkan Aurelia yang sedang menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
__ADS_1
"Kaiaknya aku makin bodoh deh kalau ketemu Nanda akhir-akhir ini, aku yang bodoh atau pria itu yang pintar ya?" pikirnya.