AURELIA

AURELIA
PERHATIAN NANDA


__ADS_3

Malam itu Nanda memejamkan matanya saat dinginnya lantai menusuk kulitnya.


Kemudian ia menatap Aurelia yang nampak menggigil dalam tidurnya. "Aurelia kamu baik-baik saja?" Nanda segera mendekati Gadis itu lalu meletakkan punggung tangannya ke jidat Aurelia.


"Sepertinya kamu demam lagi." ucapnya, lalu ia menempelkan keningnya dijidat Aurelia agar terasa panas untuk meyakinyak bahwa gadis itu demam.


Setelah itu ia melihat setiap sudut kamar yang terlihat sangat sederhana itu.


"Kamar ini kurang layak buat kamu yang sedang sakit." gumam Nanda, saat melihat kasur Aurelia sangat tipis.


Tanpa berpikir panjang Pria itu menggendong Gadis itu dan segera membawanya kedalam kamarnya.


"Kamu mau bawak aku kemana?" tanya Aurelia ditengah kesadarannya.


"Ke kamarku." sahut Nanda.


"Ngak mau, nanti kamu macam-macam lagi. terus kalau ada yang lihat gimana?" tolak Aurelia saat Nanda akan membuka pintu kamarnya, namun pria itu tetap saja membawanya masuk.


"Tidak ada yang melihat, kalau pun ada apa peduliku. sudah jangan mikir yang aneh-aneh sekarang intinya gimana kamu bisa cepat sembuh." ujar Nanda.


Setelah sampai dikamarnya ia segera menidurkan Aurelia diatas kasur yang empuk. kemudian ia menyelimutinya.


Setelah itu Nanda bergegas menyiapkan air hangat dan kain untuk mengompresnya.


"Tolong jangan sakit, aku ngak bisa lihat kamu sakit." ucapnya dengan wajah khawatir melihat Gadis itu berbaring dengan lemah.


"Kenapa?" tanya Aurelia menatap balik.


"Karna aku bisa gila." sahut Nanda dengan wajah serius.


"Kenapa bisa gila." tanya Aurelia lagi.


"Karna aku ngak bisa kehilangan kamu." tegas Nanda sembari meletakkan kain yang sudah basah dikening gadis itu.


Sedangkan Aurelia yang melihat perlakuan Pria itu padanya, tiba-tiba merasa terharu. karna kekasihnya itu mirip dengan Papanya yang perhatian ketika ia sedang sakit.


"Kenapa ngak bisa kehilangan aku." tanya Aurelia dengan maksud menggoda kekasihnya itu.


"Sudah jangan banyak bicara, sekarang kamu tidur." perintah Nanda setelah memastikan demamnya turun.


"Kenapa bilang cinta saja sesulit itu sih kamu." batin Aurelia dalam hati.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain?" Aurelia langsung meringsut menjauh saat Nanda merebahkan tubuhnya disamping Gadis itu, dan membuat Nanda terkekeh.


"Ku temani tidur, biar cepat sembuh." sahut Nanda beralasan, lagipula ranjang yang ada dikamarnya cuma satu ia tidak mungkin tidur dilantai seperti dikamar Gadis itu tadi.


Bisa-bisa ia akan ikut jatuh sakit, lalu kalau Pria itu sakit siapa yang akan merawat gadis itu pikirnya.


"Aku bisa tidur sendiri kok." tolak Aurelia dengan wajah ketakutan, sungguh ia tidak pernah tidur dengan pria, kecuali dengan Papanya.


"Sudah diam sayang, kutemani tidur." Nanda nampak meraih pinggang Gadis itu dan memeluknya, tak peduli gadis itu meronta.


"Biar sakitnya pindah ke Aku." imbuhnya lagi hingga membuat Gadis itu menatapnya.


Gadis itu nampak terpaku dengan perhatian Nanda terhadapnya. "Terimakasih." gumamnya.


Akhirnya ia pasrah dan berbalik badan dan membiarkan Pria itu memeluknya dari belakang, kemudian ia mulai memejamkan matanya.


^^^...Keesokan harinya......^^^


Nanda nampak mengerjapkan matanya, lalu menatap Aurelia yang sedang tidur disampingnya.


Senyumnya mengembang saat Aurelia memeluknya dengan erat, kemudian ia meletakkan punggung tangannya dikening gadis itu.


"Syukurlah kamu sudah ngak demam lagi." gumamnya.


Berapa saat kemudian Aurelia nampak membuka matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya.


"Kamu sudah bangun?" tukas Nanda dengan mengulas senyumnya saat melihat Gadis itu sudah bangun dan ia duduk dipinggiran ranjangnya.


Sementara itu Nanda nampak sudah rapi dengan setelan kerjanya, Pria itu terlihat tampan dimata Aurelia.


Entah sejak kapan dirinya mulai mengangumnya, namun menatap Nanda lama-lama membuatnya tidak bosan.


Padahal dulu ia sangat membencinya, namun dengan berjalannya waktu ia mengenal Nanda. Pria itu sungguh luar biasa baiknya, meski terkadang sedikit sombong.


"Kenapa kamar mu bisa seluas dan sebagus ini?" tanya Aurelia mengahlikan pikirannya yang diam-diam mengangumi Nanda, ia mengedarkan pandangannya.


"Biasa aja." sahut Nanda sembari menata bubur yang ia pesan tadi.


"Padahal kamu karyawan biasa aja, tapi kenapa fasilitas kamu seperti seorang pemimpin." cibir Aurelia, mengingat jabatannya setara dengan Nanda tapi ia mendapatkan kamar kost yang sangat sempit.


"Apa mungkin benar yang dikatakan oleh Lyli, bahwa ia bukan pria sembarangan, jika itu benar aku takut kecewa nantinya." imbuhnya dalam hati.

__ADS_1


"Jangan berpikir macam-macam, ayo makan lah." Nanda nampak membawakan semangkok bubur lalu ia duduk disamping Gadis itu.


"Biar aku makan sendiri." pinta Aurelia.


"Ngak, aku suapi saja. kamu harus makan yang banyak biar cepat sehat, kalau kamu sehat aku akan tenang bekerja." bujuk Nanda.


"Aku sudah sehat kok, malahan aku ingin pergi bekerja." tukas Aurelia, sembari menatap jam dinding yang menunjukkan jam setengah delapan pagi.


"Aku ngak ijini kamu bekerja, ayo sekarang cepat makan." Nanda mengangkat satu sendok bubur didekat mulut Gadis itu.


"Aku makan sendiri, aku malu kamu suapi terus." mohon Aurelia.


"Makan sayang, atau mau aku suapi dengan cara lain?" ancam Nanda yang langsung membuat Aurelia melebarkan mulutnya.


"Dasar pemaksa." gerutu Aurelia kemudian.


Setelah memastikan Aurelia makan dan minum obat, Nanda segera berangkat ke kantor membiarkan gadis itu istirahat dikamarnya sendiri.


Seharian itu Nanda nampak sibuk karna harus menghandle pekerjaan Aurelia juga.


Selain menyelesaikan pekerjaan dikantor. ia juga menggecek kesediaan barang di gudang dan langsung mengorder barang yang sudah habis.


Menurutnya pekerjaan Aurelia sangat berat, tapi gadis itu sama sekali tidak pernah mengeluh.


"Nan, Aurelia kemana?" tanya Mona karyawan dibagian gudang tersebut.


"Lagi sakit." sahut Nanda.


"Aurelia beruntung ya, punya pacar seperti Diky." tukas Mona kemudian.


"Maksud kamu?" Nanda nampak tak mengerti.


"Kamu ngak tau ya, malam ini kan Aurelia akan dilamar oleh Diky." sahut Mona, yang membuat ia nampak geram. namun ia harus menahan diri agar ia mendapatkan informasi dengan Mona.


"Bukannya mereka sudah putus?" tanya Nanda kemudian.


"Tapi dibilang Diky, belum kok." mereka cuma break aja sebentar katanya. ia juga serius ingin melamar Aurelia sebelum diluan oleh Alif." sahut Mona membuat Nanda geram.


"Diky juga sudah menyiapkan beberapa bunga, kue tar dan cincin berlian. romantis banget ya Diky." imbuhnya lagi sambil memikirkan romantisnya Diky kepada Aurelia.


Mendengar itu Nanda nampak mengepal tangan dan segera pergi.

__ADS_1


"Nanda kenapa sih? seperti kesal gitu?" gumamnya saat Nanda telah pergi.


...✨"Beberapa orang berpikir jatuh cinta adalah ketaksengajaan, tapi aku tahu aku sengaja jatuh cinta padamu."✨...


__ADS_2