
"Nan, ku mohon jangan lakukan?" mohon Aurelia dengan berderai air mata saat merasakan sesuatu yang keras di bawah sana sedang berusaha mengoyak miliknya yang selama ini selalu berusaha ia jaga.
Namun sepertinya Nanda tak mengindahkannya, nafsu sudah menutupi akal sehatnya. ia terus saja mencembu Aurelia serta berusaha memasukinya meski tampak sulit.
"Kenapa sangat sulit sekali sih, apa Diky hanya melakukannya sekali?" gumamnya.
Sebelumnya Nanda memang meminum Alkohol tapi hanya sedikit dan kini ia berada dalam kesadaran penuh.
Menitipkan kunci pada Aurelia hanyala akal-akalannya saja, karna di balik itu semua ia sudah rencanakan.
Katakanlah dia jahat, tapi ia lakukan ini semua demi bisa memiliki gadis itu. ia takut jika Diky atau laki-laki lain merebutnya.
Kemudian Nanda terus saja berusaha menembus pertahanan Aurelia, tak peduli Aurelia meronta dan memohon padanya.
sungguh ia mencintai gadis itu dan obsesi memilikinya amatlah besar.
Aurelia langsung terpekik saat merasakan sesuatu masuk kedalam miliknya dan bersamaan itu ia merasakan kesakitan yang teramat luar biasa.
Apa kesuciannya kini telah terenggut? sungguh kejam sekali pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu.
Nanda nampak terkejut saat merasakan darah mengalir dari area sensitif Aurelia.
"Bodoh, apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya saat mengetahui dirinya telah merenggut kesucian gadis itu.
Ternyata Diky hanya membual semata dan kini ia sangat menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku, Aurelia. Maafkan aku." memohon nya yang menatap Aurelia yang sedang lemah dan tak berdaya, sungguh pria itu menyesal karna telah menyakiti gadis itu.
"Kamu Jahat, Nanda. aku benci sama kamu." rutuk Aurelia disisa tenaganya, dan ia membuang muka nya tidak menatap Nanda.
"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab." Nanda nampak mengusap air mata Aurelia, setelah itu ia langsung memeluk gadis itu dan membiarkan miliknya Masi berada di dalam milik kekasihnya tersebut.
"Ku mohon lepaskan aku Nanda, menjauh dariku." mohon Aurelia dengan suara lemah.
Nanda yang mendengar itu nampak tidak tega, namun hasratnya juga belum terpuaskan. sungguh ia sangat dilema saat ini.
Setelah berperang dengan pikirannya, ia bukannya melepaskan Aurelia dan pergi menjauh tapi ia justru memulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan mengikuti nalurinya.
Nanda yang sebelumnya tidak pernah bercinta, nampak tak kuasa mengendalikan dirinya dengan rasa nikmat yang baru pertama sekali ia rasakan dalam hidupnya.
Aurelia menanggis, ia tak percayah bahwa Pria yang ia kenal sebagai pria yang melindunginya kini tega merenggut kesuciannya.
Dengan tega pria itu menikmati tubuhnya di balik rasa sakit yang ia rasakan, apa itu yang dibilang cinta? entahlah saat ini yang gadis itu rasakan adalah amarah dan kebencian.
"Maafkan aku." mohon Nanda di tengah hentakkannya, gerakannya yang tadinya lambat kini cepat mengikuti rasa nikmat yang ia rasakan.
Tubuh Aurelia bergetar, ia merasakan sakit sekaligus rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan. ingin sekali ia mengakhiri, namun nyatanya sentuhan Nanda begitu di terima tubuhnya dengan baik.
__ADS_1
Gadis itu hanya bisa menanggis, merutuki perbuatan Nanda yang tak kuasa ia tolak, pria itu mendominasi dan membuatnya tak berdaya.
Sedangkan Nanda nampak menikmati dan mendesah nikmat saat miliknya terasa di urut oleh milik Aurelia yang masi sangat sempit.
Nafasnya mulai memburu saat merasakan gelombang pelepasan segera ia dapatkan, hentakannya semakin cepat hingga membuat Aurelia terpekik namun pria itu langsung M3LUM4T bibir gadis itu.
Nanda mendesah panjang, nafasnya terengah-engah saat ia menyemburkan cairan percintaannya kedalam rahim sang kekasih.
Ia langsung jatuh kepelukan gadis itu dengan tubuh penuh dengan peluh.
Beberapa saat kemudian Nanda segera beranjak dari tubuh Aurelia, saat gadis itu mendorongnya.
"Aurelia .." Nanda nampak bersalah pada gadis yang baru saja ia nodai itu.
"Menjauhlah, aku benci kamu." teriak Aurelia saat Nanda ingin menyentuhnya.
"Rel ..." Nanda ingin meraih tangannya namun Aurelia langsung menepisnya.
"Jangan berani menyentuhku lagi." sungut Aurelia hingga membuat pria itu merasa bersalah.
"Maafkan aku." Nanda nampak menyesali perbuatannya.
"Aku membencimu, kenapa kamu tega melakukan ini padaku." teriak Aurelia dengan berderai air mata menatap Nanda.
Sedangkan Nanda nampak menghela kan nafasnya dengan berat, sungguh ia juga sangat menyesal.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melihat kamu dekat dengan laki-laki lain apalagi Diky. aku seperti orang gila, aku benar-benar takut kehilanganmu." sahut Nanda menatap Aurelia, matanya tampak mengembun.
"Tapi kenapa harus memperkosaku?" rutuk Aurelia sembari menanggis mengingat kini ia tak gadis lagi.
"Maaf jika yang ku lakukan itu salah dan keterlaluan, tapi sungguh aku tidak bisa kehilangan kamu Aurelia." mohon Nanda.
"Aku sudah kotor, siapa yang mau menikah dengan aku nanti?" Aurelia semakin terisak saat membayangkan masa depannya kelak.
Belum lagi jika kedua orangtuanya tahu kalau anak gadisnya sudah tidak perawan lagi, kepercayaan yang mereka berikan kepadanya mungkin akan hancur, mereka pasti akan kecewa dan terluka.
"Aku akan tanggung jawab, kita menikah. kapanpun kamu mau kita bisa menikah, tapi mulai sekarang tolong jauhi semua orang yang berjenis kelamin laki-laki aku benar-benar Cemburu." tegas Nanda hingga membuat Aurelia yang tadinya menunduk sembari terisak kini langsung mengangkat wajahnya untuk menatapnya.
Apa kekasihnya itu sudah gila? setelah ia merenggut kesuciannya kini bisa-bisanya ia mengancamnya, lagipula siapa pria yang mau mendekatinya jika mengetahui dirinya sudah tidak perawan lagi.
Tak ingin mendengar alasan Nanda lagi, dengan tertatih Aurelia segera turun dari ranjang. kemudian ia memunguti pakaiannya yang berserakan dilantai.
Lantas segera memakaikannya kembali, ia nampak berdesisi kesakitan saat merasakan miliknya di bawah sana terasa perih luar biasa.
"Sini biar ku pakaikan." Nanda yang merasa tidak tega ingin membantu Aurelia memakaikan roknya, namun gadis itu lagi-lagi menepis tangannya.
"Aku bilang jangan sentuh aku." bentak Aurelia menatap Nanda.
__ADS_1
Setelah memakaikan pakaiannya, kemudian dengan berpegangan dinding Aurelia berusaha keluar dari kamar Nanda malam itu.
Hujan Masi saja turun dengan deras, hingga membuat kost tersebut yang biasanya ramai menjadi sepi.
"Aku gendong ya?" bujuk Nanda, meski Aurelia menyuruhnya menjauh ia terus saja mengikuti gadis itu.
"Jangan sentuh aku." teriak Aurelia saat Nanda membantunya ingin berjalan.
"Aurelia ..." Nanda merasa sangat bersalah mengingat ia tadi memasukinya dengan paksa hingga membuat Aurelia kini merasa kesakitan.
"Pergi, aku tidak mau bertemu denganmu lagi." teriak Aurelia lagi yang kini sudah berada di depan pintu kamarnya sendiri.
Setelah itu ia segera masuk kedalam, lalu menutup pintunya dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring.
Beruntung hujan belum berhenti kalau tidak mungkin seluruh penghuni kost itu akan segera keluar.
Nanda memejamkan matanya saat pintu kamarnya itu di banting di depannya.
"Maafkan aku." gumamnya.
Ia enggan untuk kembali kekamarnya, ia justru berjalan mondar-mandir di depan kamar kekasihnya tersebut.
Ia khawatir jika Aurelia melakukan hal gila dan ia harus menjaganya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.
Beberapa saat kemudian saat hujan mulai reda, Alif yang baru pulang nampak terkejut saat melihat Nanda yang nampak berdiri di kamar Aurelia.
"Ngpain disitu bro?" tanyanya yang langsung membuat Nanda berjinggat kaget.
"T-tidak, aku hanya ingin mengecek keadaan Aurelia. kamu tahu sendirikan dia takut petir." sahut Nanda beralasan.
"Sepertinya dia udah tidur." tukas Alif saat melihat kamar Aurelia nampak gelap.
"Bisa jadi." ucap Nanda.
"Baiklah aku masuk dulu ya, aku kehujanan tadi." ucap Alif seraya memperlihatkan bajunya yang cukup basah, dan ia segera berlalu berjalan.
Sedangkan Nanda yang masih berdiri di depan kamar Aurelia, bahkan hingga sudah menjelang pagi, pria itu Masih setia berada di depan kamar gadis itu.
Namun saat para karyawan mulai bangun dan keluar kamarnya masing-masing, Nanda segera berlalu pergi.
Sepertinya ia mempunyai cara agar bisa masuk ke kamar Aurelia, lalu ia bergegas pergi.
Saat Pagi menjelang Nanda nampak membuka pintu kamar Aurelia dengan kunci cadangan yang ia minta dari penjaga kostnya tersebut.
Setelah pintu terbuka, dengan mengendap-endap ia segera masuk ke dalam kamar Aurelia. namun nampa ia tahu seseorang melihatnya dari kejauhan.
"Seperti Nanda bukan sih?" gumam Naya saat melihat seorang masuk ke dalam kamar, keadaan yang masih gelap membuatnya tak begitu jelas melihat orang tersebut.
__ADS_1