AURELIA

AURELIA
AURELIA GADIS YANG POLOS


__ADS_3

...✨"Kamu bagaikan hujan dan aku hanyalah rintik bumi yang gersang, yang kalau turun turun kamu sirami aku dengan rintik kebahagiaan." ✨...


Sore itu Aurelia bergegas pergi agar Nanda tidak melihatnya, meski ia menyetujui untuk membeli rok bersama nya.


Ia takut berjalan berdua dengan pria itu karna ia trauma ia sebisa mungkin menghindari pria itu.


Aurelia langsung melangkahkan kakinya menuju kost, ia mempercepat langkahnya agar cepat sampai dan tidak bertemu Nanda lagi.


Namun dugaannya salah, Nanda mengendarai mobil membuat ia memotong jalan Gadis itu berjijak kaget.


"Ayo naik." perintah Nanda kemudian.


"Ngak mau." tolak Aurelia.


"Naik atau ku gendong?" Nanda memberi pilihan.


"Aku bilang gak mau ya gak mau. siapa kamu berani memerintahku." sinis Aurelia menatap Nanda.


Nanda yang gemes langsung melepaskan sefty beltnya. "jadi kamu memilih opsi yang kedua?" ucapnya, kemudian ia segera keluar dari mobil nya.


Melihat itu Aurelia langsung menelan ludahnya. "jangan mendekat atau tidak ..." teriaknya saat Nanda mendekat kearahnya.


Nanda yang tak menghindahkanya terus saja mendekatinya. "atau tidak apa?" ucapnya dengan lembut namun mangandung tantangan.


"Aku akan berteriak." sahut Aurelia dengan nafas naik turun.


"Berteriak saja. kita akan dibawah ke KUA." tukas Nanda yang membuat Gadis itu melebarkan matanya.


"Tapi aku tidak mau ikut kamu, akukan bisa membelinya sendiri." tolak Aurelia saat Nanda mendekat.


Sedangkan Nanda tak menanggapinya dan langsung menggendong tubuh Aurelia dan langsung memasukkan kedalam mobilnya.


Gadis itu nampak meronta sembari memukuli dada pria itu, ia tidak berani berteriak takut dibawah warga ke KUA.


Membayangkan itu Aurelia nampak menggidik ngeri, ia sama sekali tak bisa menebak siapa Nanda yang sangat arogan, cuek, dingin dan sangat perhatian agresif seperti sekarang.


"Lepaskan aku." Aurelia memberontak, tubuhnya yang mungil dan tenaganya yang gak seberapa membuat ia tidak bisa melawan.


Setelah mendudukkan Aurelia didalam mobil lalu memasang sefty beltnya, Nanda segera memutar mobilnya kemudian masuk.


"Dasar pemaksaan." sahut Aurelia setelah mobil mulai melaju.


Sementara itu Nanda tidak menanggapi lagi, pria itu fokus dengan perjalanan didepan.

__ADS_1


Saat berhenti di traffic light, Nanda langsung meraih tangan Aurelia dan menggenggamnya hingga membuat Gadis itu terkejut.


"Lepaskan." Aurelia berusaha melepaskan tangannya yang berada dalam genggaman Nanda.


"Diamlah Oneng." tukas Nanda sembari melihat lampu lalu lintas tersebut.


"Kamu panggil aku tadi apa?" Aurelia langsung melotot.


"Oneng." sahut Nanda sembari menatap Aurelia sekilas, setelah itu ia kembali fokus kejalanan didepannya.


"Namaku Aurelia, bukan Oneng. nama bagus di kasih orangtuaku begini, seenaknya kamu mengganti." gerutu Aurelia dengan kesal.


Sedangkan Nanda tersenyum kecil, kemudian ia melanjutkan kembali setelah lampu lalu lintas berubah warna hijau.


Tangan sebelah Masi menggegam tanga Aurelia, sebelahnya lagi mengemudi.


"Kamu itu lelet dalam segala hal apalagi masalah perasaan, jadi pantas dipanggil Oneng." ucapnya kemudian membuat Aurelia menatapnya.


"Siapa yang bilang aku lelet? pak Rama saja bilang aku cekatan." sahut Aurelia tak terima.


"Huff... dasar ngak peka." Nanda berdecak dalam hati.


"Lepaskan tanganku." imbuh Aurelia kemudian, yang nampak berusaha melepaskan kan nya.


"Makanya lepaskan tanganku." sahut Aurelia.


"Nanti tunggu sampai " sahut Nanda melembutkan suaranya.


"Menyebalkan." gerutu Aurelia yang membuang wajahnya kesamping.


Sedangkan Nanda terkekeh dalam hati.


Beberapa saat merek sampai dan Nanda mengehentikan mobilnya disebuah Mall kota tersebut.


"Mau ngpain kesini?" protes Aurelia yang melihat Mall beberapa lantai itu.


"Beli rok kerjamu." sahut Nanda sembari melihat tempat parkir, setelah itu ia melepaskan tangannya Gadis itu untuk memarkirkan mobilnya.


Merasa terbebas Aurelia mengibaskan tangannya yang terasa kebas. ternyata bergandengan tangan tidak seromantis di film korea, tangannya seperti mati rasa.


"Ngpain beli disini? aku bisa beli dipasar." tolak Aurelia yang enggan turun.


Harga rok disini pasti mahal, jika ia ke pasar ia bisa mendapatkan beberapa biji.

__ADS_1


"Turun atau ku gendong?" ucap Nanda, saat Aurelia belum juga melepaskan sefty beltnya.


"Aku mau beli dipasar saja, selain lebih murah kualitas nya sama bagus." tukas Aurelia yang membuat Nanda gemes.


"Yasudah kalau kamu tidak mau keluar, mungkin kamu lebih suka kita berduaan didalam mobil." ucap Nanda yang langsung membuat Aurelia melepaskan sefty beltnya. kemudian segera keluar.


Aurelia pernah membaca surat kabar tentang mobil goyang, ia tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam sana.


Namun ia tidak mau digiring kekantor polisi seperti diberita yang ia baca.


Nanda yang lagi-lagi tersenyum setelah itu ia keluar menyusul Gadis itu yang sudah masuk ke dalam Mall.


Aurelia melihat semua sudut Mall, ia terkejut saat seseorang megenggam tangannya dari belakang.


"Anggap saja seperti itu." sahut Nanda.


"Kamu kenapa sih suka sekali menggegam tanganku? kamu kira kita lagi nyebrang." Aurelia bersungut-sungut.


"Lepaskan, aku bukan anak kecil." Aurelia berusaha melepaskan tangannya.


"Diamlah, kamu mau di culik?" tukas Nanda yang langsung membuat Aurelia menatapnya.


"Siapa yang mau mencuri orang dewasa seperti ku. makan banyk." ucapnya kemudian.


"Siapa yang bilang kamu dewasa, kamu pendek, apalagi seperti anak SD." cibir Nanda yang sontak Aurelia memukuli bidang Dadanya.


Nanda terkekeh, meski pukulan Gadis itu sangat sakit namun tak berarti baginya.


"Jadi diamlah, disini banyak Om-om yang kesepian mencari anak ABG." ucapnya menakuti Aurelia.


"Kamu bercandakan?" Aurelia yang merasa takut mendekatkan dirinya pada Nanda, kini mereka seperti sepasang kekasih yang lagi sayang-sayangnya.


"Siapa yang becanda, coba kamu perhatikan jika ada Om-om sendirian duduk dan ia pasti akan mengedipkan mata padamu, itu berarti ia mau denganmu." ucap Nanda yang membuat Aurelia bergedip ngeri.


Sepanjang jalan Aurelia memperhatikan pria dewasa dan ia kaget saat melihat pria setengah baya menggedipkan matanya kearah Gadis itu.


"Astaga aku takut." Aurelia langsung menyembunyikan wajahnya dilengam kekar Nanda.


Sedangkan Nanda tersenyum senang, Aurelia sebegitu polosnya, ia mudah sekali dimodusi, semoga saja Diky tidak berbuat lebih pada Aurelia.


Karna pria baik tidak akan pernah menghancurkan seorang wanita, namun jika itu terjadi ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, bukan seenaknya lepas tangan pergi begitu saja.


"Ya sudah peluk aja aku, kalau kamu takut." Ucap Nanda sembari menahan kekeh.

__ADS_1


"Dasar modus." Aurelia segera menjauh, wajahnya memerah mengingat ia memeluk Nanda tadi.


__ADS_2