
...✨"Tidak ada yang namanya kehilangan jika salah satu tidak berniat melepaskan. Tapi sudahlah, aku sedang berusaha mengikhlaskan seseorang yang memang bukan untukku."✨...
Pagi itu Aurelia keluar dari kamarnya dengan mata yang masi mengantuk. kemudian ia melangkahkan kaki menuju kamar Nanda.
Sepanjang jalan, ia nampak merutuki pria itu yang telah menggangu tidurnya. "Menyebalkan." umpatnya dengan kesal.
Namun ia langsung menghentikan langkahnya, saat ia melihat seseorang sedang asyik berbincang didepan pintu sebuah kamar.
"Itu bukankah Diky?" gumamnya lagi saat melihat pria yang mikir dengan Diky.
Kemudian Aurelia berjalan dengan dekat. "benar itu memang Diky." Imbuhnya lagi.
Sedangkan Diky nampak terkejut saat melihat Aurelia yang tiba-tiba datang.
Pria yang wajahnya tegang itu menghindari pandangannya dengan Aurelia, kemudian ia berlalu pergi dengan jalan lain.
Aurelia terngegah, meski suasana Masi gelap namun ada lampu yang menerangi setiap sisi jalan yang memperlihatkan begitu jelas.
"Ini bukan mimpikan?" gumamnya yang menatap kepergian Diky.
Aku yang tak terlihat, atau Diky yang buta melihatku ada disini, lirihnya lagi yang masi belum percayah bahwa Diky setenga itu tidak melihat gadis itu dan berlaku pergi.
Setelah Diky pergi, Aurelia menatap kamar yang didatangin kekasihnya tadi.
"Bukannya itu kamar mantannya Diky?" gumamnya terkejut, pandangannya melihat kamar yang tadinya terbuka kini tertutup rapat.
"Baiklah aku akan meminta penjelasan nanti, aku yakin ia tidak akan mengkhianati ku seperti yang dikatakan Nanda." gumamnya kemudian, setelah itu ia pergi ke kamar Nanda dan mengetuk pintunya.
Sedangkan Nanda yang dari tadi melihat Aurelia dari jendela kamarnya langsung membuka pintu yang diketuknya.
"Ini berkasnya." Aurelia langsung menyerahkan berkasnya saat Nanda membuka pintu.
"Tidak jadi." sahut Nanda tanpa perasaan hingga membuat Aurelia membulatkan matanya.
"Kamu menipuku?" tuduhnya kemudian.
"Ngak, pak Rama membatalkan." sahut Nanda beralasan.
Aurelia menatap Nanda dengan kesal, namun saat melihat Diky tadi ia mulai melunak.
Berkat Nanda membangunkannya pagi buta, ia jadi tahu bahka Diky dan Naya Masi berhubungan.
"Baiklah kalau begitu." tukas Aurelia langsung kembali kekamarnya.
"Semangat Calon Mantan Orang." teriak Nanda saat Aurelia menjauh, namun gadis itu tidak memperdulikan.
"Semoga dengan kejadian itu matamu terbuka bahwa pria yang kamu banggakan itu ternyata bajingan." gumam Nanda melihat kepergian Aurelia.
Sebenarnya ia tak sengaja untuk membangunkan Aurelia saat melihat kekasihnya masuk kedalam kamar Naya. Nanda pikir lebih baik ia melihat kelakuan pacarnya.
__ADS_1
Matahari pun merangkak naik Pagi itu, semua karyawan di kost bersiap untuk bekerja.
Begitu juga dengan Aurelia, gadis itu terlihat berangkat lebih awal untu menemui Diky.
"Dik." panggilannya saat Diky baru keluar dari kostnya.
Sedangkan Diky melihat Aurelia nampak menegang, namun ia mencoba memasang wajah datarnya.
"Dik, tolong jelaskan apa yang sedang kamu lakukan tadi subuh dikamar Naya?" tanya Aurelia meminta penjelasan.
"Aku tidak melakukan apa-apa, Rel tidak ada yang harus dijelaskan." sahut Diky dengan nada datar.
"Tapi tadi aku lihat Kelian berdua.... " Aurelia belum selesainya dengan perkataannya tapi Diky sudah menyelanya.
"Aku hari ini banyak pekerjaan, tolong mengerti lah." potong Diky, setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Aurelia lalu bergabung dengan teman-temannya.
"Kamu kenapa sih Dik? tidak biasanya seperti itu." gumam Aurelia, ia masi berharap penjelasan bahwa mereka tidak ada hubungan apa-apa.
Aurelia yang sebelumnya tidak pernah pacaran, nampak sulit mencerna keadaan saat itu.
Kalau dibilang bodoh. ia memang apalagi manilai sebuah hubungan. dan ia selalu berpikir positif pada apapun dan karna itu ia sering dibodohi pada siapapun.
Bahkan saat ia tahu tidak disukai oleh karyawan disana, ia tetap memperlakukan mereka dengan baik.
Hingga siang hari Aurelia Masi memikirkan Diky, wajahnya murung dan itu membuat Nanda merasa kecewa saat pria itu memperhatikan Gadis itu.
Malam hari Nanda dan Alif terlihat menunggu Diky pulang ke kost, entah dari mana pria itu tengah malam baru datang.
"Jelaskan apa yang telah kau perbuat dibelakang Aurelia?" tegas Nanda to the poin.
"Bukan urusanmu." sinis Diky.
"Apapun yang menyangkut Aurelia akan menjadi urusan kami." kali ini Alif ikut angkat bicara.
"CK, tak tahu malu, pria yang dicintai Aurelia itu cuma aku, jadi kalian jangan berharap." cibir Diky yang merasa diatas angin.
Kemudian ia menjadi pria satu-satunya yang diterima oleh Aurelia dari sekian pria yang menyukainya.
Nanda yang sangat marah langsung menarik kerah baju Diky.
"Jika kamu menyakiti hati Aurelia, aku pastikan kau tidak akan selamat." ancamnya dengan geram.
"Ingat itu." timpal Alif yang ikut emosi.
^^^keesokan harinya...^^^
Aurelia yang sama sekali belum puas dengan jawaban Diky, ia pun Masi menunggu kedatang pria itu.
"Dik." panggil Aurelia saat melihat Diky keluar dari kostnya.
__ADS_1
"Ada apa?" sahut Diky seolah mereka baik-baik saja.
"Aku butuh penjelasan." tukas Aurelia.
"Rel, belajarlah dewasa kamu bukan anak kecil jadi jangan bersikap kekanakan begini." tegur Diky.
"Tapi Dik..."
"Kalau kamu Masi bersikap manja dan selalu kecentilan dengan semua pria bagaimana kamu bisa hidup denganku." potong Diky.
Aurelia yang tak mengerti ucapan Diky, nampak terdiam mencerna. ia merasak disalahkan atas perbuatannya sendiri.
"Aku minta penjelasan tadi pagi Dik, apa benar yang dibicarakan orang-orang disini jika aku adalah pelakor? jadi benar selama ini kamu Masi menjalin hubungan dengan Naya." tanya Aurelia.
Diky menghela nafas panjang. "tidak ada yang perlu dijelaskan, aku tidak ada apa-apa dengan wanita itu, kita tetap pacaran dan tidak akan ada yang berubah." tegasnya dengan menatap lekat Aurelia.
"Tapi Mas..." Aurelia yang masi belum puas.
"Sayang, hari ini aku banyak pekerjaan. tolong mengerti lah." potong Diky dengan alasan yang sama.
Setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan Aurelia yang masi ingin berbicara dengannya.
"Kenapa murung?" Alif yang sedang berada disisinya.
"Sebenarnya pacaran itu gimana sih Lif? kenapa aku yang salah melulu." keluh Aurelia.
"Ngapain kamu pikir pria kaiak begitu, lihat wajahnya saja aku pengen nonjok." kesal Alif.
"Jangan gitu Lif, gimana pun juga ia pacarku." tegur Aurelia. membuat Alif geleng-geleng kepala melihat kepolosan Gadis itu.
Hingga beberapa hari kemudian hubungan Aurelia dengan Diky semakin merenggang, pria itu kembali menjauh jika Aurelia membahas itu.
"Makanya jangan sok kecantikan, kan jadi diputusin sama Diky." ucap salah satu wanita karyawan saat Aurelia baru datang kekantin bersama Alif.
"Iya Thu udah syukur dapat pria baik seperti Diky Masi di sia-siakan." ucap yang lain.
Aurelia yang mendengar itu terperangah ia merasa tidak diputusin oleh Diky, kenapa sekantor membicarakan itu.
Seolah-olah dirinya yang menyakiti Diky, padahal selama ia pacaran dengan pria itu selalu mengikuti kemauannya kecuali kontak fisik.
"Sudah ngak usah ditanggisi pria yang gak berguna itu." geram Alif.
"Aku gak naggisi dia kok, aku hanya kecewa aja ia bilang hubungan ini akan baik-baik aja ia memutuskan tanpa memberitahu ku." sahut Aurelia sembari menghapus air matanya.
"Yasudah sekarang makanlah, aku suapi? biar mereka panas melihat kita mesra." ucap Alif sembari menyuruh membuka mulut Aurelia.
"Ngak ngaruh Lif, dari dulu kan mereka tahu kita sahabatan." sahut Aurelia sedikit kekeh.
"Sudah jangan cerewet." Alif menyuapi Aurelia lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak sama Nanda saja sih, sepertinya ia suka dengan kamu." imbunya lagi yang membuat Aurelia melotot melihat nya.
Sementara itu Nanda yang baru datang kekantin. mendadak geram melihat Alif menyuapi Aurelia.