
...✨ Disaat Kita Melihat Sesuatu Berharga Itu Telah Hilang. Disaat Itu Jugalah Kita Menyesalinya ✨...
Malam itu setelah mengobati luka Aurelia dan memastikan gadis itu tidur dengan perut kenyang, Nanda melangkahkan kakinya mencari Diky.
Ia harus membuat perhitungan dengan pria yang sudah menyakiti gadisnya itu.
Setelah mendapatkan Informasi bahwa Diky berada di cafe belakang kantornya, Nanda segera datang kesana.
Nanda yang langsung memberikan bogem mentah kepada pria tersebut yang terlihat sedang asyik bersama teman-temannya.
"Jangan ikut campur jika masi ingin bekerja dikantor ini." tegas Nanda saat teman-temannya ingin membalas pukulannya.
Mendengar ancaman Nanda, mereka nampak mundur teratur. bagaimana pun mereka Masi menganggap Nanda orang terpenting dikantor pusat.
Diky yang baru bangkit langsung mengusap sudut bibirnya yang basah oleh darah akibat pukulan keras Nanda tadi.
"Kamu punya masalah denganku?" sinisnya menatap Nanda.
"Jika kamu mengganggu Aurelia maka kamu akan berhadapan denganku." tegas Nanda.
"Apa kamu naksir Aurelia juga hah?" Diky nampak tersenyum mengejek.
"Tapi sayangnya dia sudah menyukai Alif." imbuhnya ada nada getir disetiap perkataannya.
"Jangan pernah ganggu Aurelia, karna aku akan selalu melindunginya." tegas Nanda lagi. yang membuat Diky tertawa nyaring.
"Bro-bro kalau kamu tau siapa Aurelia, kamu pasti akan jijik padanya." ucap Diky.
"Apa maksudmu?" Nanda langsung mencengkram kerah kemeja Diky dengan geram.
"Aurelia memang cantik. tapi sayangnya dia sudah rusak." tukas Diky yang langsung mendapatkan pukulan kedua dari Nanda hingga ia jatuh tersungkur.
Nanda mengepalkan tangannya, siap menghajar lagi pria dihadapannya itu.
Sedangkan Diky nampak memegang rahangnya yang terasa denyut sakit, luka akibat pukulan Alif saja Masi basah kini ditamba lagi oleh pukulan Nanda karyawan baru dikantornya.
"Kamu bunuh akupun itu tidak akan mengubah keadaan Aurelia yang tak suci lagi dan sampai kapanpun dia akan tetap menjadi milikku, bukan Alif atau pria manapun." sinis, kemudian ia tertawa mengejek.
Nanda yang sedang naik pitam dan langsung menendang Diky terhempas, namun saat ia ingin menendangnya kembali teman-teman Diky melerainya.
"Bajingan !! sialan !! saya tidak akan pernah mengampunimu, awas saja jika berani mendekati Aurelia lagi, aku atau kamu yang akan pergi dari kantor." hardik Nanda dengan geram.
__ADS_1
Sementara Diky yang sudah babak belur nampak dibopong oleh teman-temannya meninggalkan cafe tersebut.
Sebenarnya Diky tidak berniat menyakiti Aurelia, bisa pacaran dengan gadis itu adalah impian semua pria yang ada di kantornya.
Namun saat ia mengetahui motif Aurelia menerima cintanya hanya karna ingin menghapus gosip buruk tentang gadis itu ia merasa dipermainkan dan di manfaatkan.
Oleh karna itu sebelum Aurelia mencampakkannya setelah berhasil dengan tujuannya, ia akan mencampakkannya terlebih dahulu.
Namun ternyata ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri, jika ia memang mencintai gadis itu.
Untuk itu ia ingin menebus kesalahannya dengan meminta maaf serta melamarnya, agar ia bisa membersihkan nama gadis itu akibat ulahnya.
******
Nanda yang baru masuk kedalam kamarnya nampak menatap wajah datar Aurelia yang sedang terlelap tidur.
Ia berjalan mendekati gadis itu, lalu membelai pipinya, namun saat mengingat perkataan Diky tadi ia langsung menjauhkan tangannya, kemudian ia berlalu keluar dari kamarnya.
Ia menghantam dinding sangat keras "Bagaimana pun keadaan Aurelia dia adalah milikku." gumamnya.
^^^Keesokan harinya ...^^^
Aurelia nampak melangkahkan kakinya pagi itu kekantornya, biasanya Nanda atau Alif menemaninya tapi entah kedua pria itu tidak nampak batang hidungnya.
Sedangkan Nanda entah kemana pria itu pergi, sejak keluar dari kamarnya tadi pagi ia tak melihatnya lagi bahkan kendaraannya sudah tidak ada di parkiran.
Mungkin saja pria itu Masi marah padanya karna barang pemberian Diky semalam.
Tak berapa lama saat ia melangkah menuju kantornya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya.
"Nanda." ucapnya saat pria itu membuka kaca mobil.
"Ayo masuklah !!" perintah Nanda menatap Aurelia.
"Ku pikir kamu sudah berangkat." ucap Aurelia seraya membuka pintu mobil, lalu ia menghempaskan tubuhnya dikursi samping kekasihnya itu.
"Kenapa berangkat sendiri? sudah ku bilangkan kalau tidak ada Alif kamu berangkat dengan aku. " tegur Nanda menatap Aurelia sejenak, lalu ia mulai melakukan mobilnya.
"Aku pikir Alif sudah berangkat duluan." sahut Aurelia membela dirinya.
"Kamu kan punya ponsel, kenapa ngak di manfaatkan?" tegur Nanda lagi.
__ADS_1
"Aku ngak kepikiran." sahut Aurelia. setelah itu tidak ada lagi pembicaraan dari mereka.
Beberapa saat kemudian Nanda nampak mengurangi laju mobilnya saat jalanan mulai macet.
Kemudian pria itu langsung mengambil telapak tangan Aurelia yang sedang berpangku diatas pahanya lalu ia langsung menggenggamnya hingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Fokuslah mengemudi, aku belum mau mati, aku masi mau menikah." tegur Aurelia yang langsung membut Nanda menatapnya dengan intens.
"Memang kamu mau menikah dengan siapa?" tanyanya kemudian.
"Aku tidak tau siapa jodohku kelak." sahut Aurelia jujur, namun itu membuat pria itu meradang.
Wanita itu seakan tak mau memasukkan dirinya kedaftar calon suaminya kelak.
"Seandainya Diky melamarmu saat Kelian Masi jadian, apa kamu mau menerimanya?" tanya Nanda setelah itu.
Aurelia nampak berpikir sejenak, kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Mungkin saja." sahutnya tanpa ada perasaan bersalah jika saat ini telah menyakiti perasaan pria disampingnya itu.
Nanda nampak mencengkram dengan kuat saat mendengar jawaban Aurelia, apa hubungan mereka memang sudah sejauh itu hingga gadis itu mau menerima pinangan Diky.
Ia jadi mengingat perkataan Diky semalam, jika hubungan pria itu dengan Aurelia sudah melampaui batas.
"Tidak sampai kapanpun, Aurelia akan menjadi milikku." gumamnya dalam hati.
"Kamu ngak jalan? mobil dibelakang sudah membunyikan kelekson berkali-kali loh." Aurelia nampak menguncang lengan Nanda saat perkataannya tak di dengar.
Nanda terkejut kemudian ia melanjutkan mobilnya kembali.
Pria itu terdengar beberapa kali mendesah kasar dan Aurelia mendengarnya itu tak berani bertanya, mungkin saja Nanda memiliki masalah yang ia tidak ingin tahu.
"Aurelia bisa aku titip kunci kamarku." tukas Nanda sesampainya mereka di kantor.
"Buat apa?" Aurelia nampak tak mengerti, ia hanya menatap sebuah kunci ditangan pria itu.
"Hari ini aku ada ngecek stok barang di gudang, jika aku bawa takut jatuh." sahut Nanda beralasan.
Aurelia nampak berpikir sejenak, kemudian ia mengambil kunci ditangan pria itu.
"Baiklah." ucapnya kemudian, setelah itu ia segera berlalu keluar dari mobil tersebut.
"Tumben menitip kunci padaku." imbuhnya dalam hati, tak mau berpikir macam-macam ia segera berlalu kedalam ruangannya.
__ADS_1
Sementara Nanda yang melihat kepergian Aurelia nampak menghela nafas panjangnya.
"Maafkan Aku." gumamnya.