Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
hajatan


__ADS_3

Gemerlap cahaya lampion memenuhi setiap sudut area pesta. Nuansa dekorasi yang ditata dengan sedemikian rupa membuat gedung itu semakin glamor, ditambah lagi mobil mobil mewah kisaran milyaran terpajang memenuhi area parkir yang terletak di samping gedung. menandakan yang punya hajat adalah orang yang sangat berpengaruh besar dalam dunia bisnis.


Sedangkan di dalam gedung tampak disesaki oleh tamu undangan dengan penampilan formal. Canda tawa semakin menambah ramai suasana pesta. Para pemuda berkeliaran kesana-kemari. Ada yang ingin mencari minum, ada yang hanya ingin cuci mata tapi ada juga yang lagi cari jodoh.


Disisi lain para pejabat mulai membentuk kelompok membahas perkembangan dunia bisnis terbaru. Sedangkan para ibu ibu tak kalah heboh saat bertemu dengan sesama istri rekan bisnis. Mereka juga langsung membentuk kelompok membahas sesuatu.


Apalagi kalo bukan soal perjodohan.


Sebagian ada yang langsung menjodohkan anak anak mereka dengan alasan menambah ikatan silaturahmi dan sebagainya. Tapi ada juga yang hanya cipika cipiki bertukar kabar terbaru, sebagai teman lama yang sudah lama tak pernah jumpa.


Di pojokan gedung juga tampak sekelompok ibu ibu rempong.


"Hai jeng Vera apa kabar?" sapa Mama Kinan memeluk Vera dengan erat, tak lupa dengan cipika-cipikinya .


" eh iya jeng kabarku baik donk tentunya" jawab Vera dengan nada centil khas emak emak.


" eh kamu gimana jeng , udah lama lho kita ga ketemu, kalau ga salah udah sepuluh tahun ya? duh kangen banget tau jeng pengen jalan bareng kaya dulu. Apalagi sekarang kita udah punya keluarga jadi ga pernah ada waktu, orang waktu kita udah habis di rumah jadi ga sempet keluar bertingkah kaya ABG 😌." cerocos Vera panjang kali lebar sampai membuat anak anaknya menepuk jidat kesal, karena melihat emaknya udah kehabisan obat.


Kinan tersenyum geli mendengar ucapan Vera. Tapi iya juga sih, apa yang dikatakan Vera ada benernya. Semenjak mereka menikah, mereka jadi lebih fokus menjalani hidup bersama keluarga masing masing. mereka jadi jarang kumpul kumpul kaya masa kuliah dulu.


Jangankan untuk jalan bareng, makan bareng, ke salon bareng, sekedar komunikasi lewat dunia maya pun juga nggak sempat, jadi sekali ketemu pengennya cerita panjang kali lebar.


"Aduh jeng ga nyangka kamu masih cantik aja ke dulu,resepnya apa sih" puji Vera


Kinan tersenyum " ada donk jeng nanti aku kasih tau deh" bisik Kinan pelan dibalas Vera dengan senyum girang


"oh iya anak kamu udah pada besar ya, mana cakep cakep lagi, euhh pengen atuh jeng ngambil satu buat dijadiin mantu" kelekar Vera


"Ada tuh kalo mau" jawab Kinan serius


" becanda jeng" balas vera panik


"beneran lho jeng ga boong, emang mau minta yang mana?" tanya kinan kembali tersenyum jahil


Vera menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia jadi bingung sendiri niatnya cuma bercanda malah jadi serius, apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan. Sedangkan Kinan berlalu meninggalkan Vera yang masih bengong. Karena bingung akhirnya dia menyusul kinan yang sudah berbaur bersama suami dan anaknya.


"Jeng kenalin ini anakku yang pertama namanya Melinda udah mau wisuda S2 sarjana lulusan IT. Yang kedua cowok namanya Aldi, hari ini dia ga bisa ikut katanya sibuk ngurusin tugas kuliah. Terus yang paling bontot namanya Jesica, masih SMA kelas tiga, dia juga ga ikut." ucap Kinan panjang lebar memperkenalkan anggota keluarganya satu persatu. Vera hanya menanggapi dengan kepala mengangguk angguk kayak burung pelatuk.


"Jeng mau yang mana hayo" ucap Mama Kikan menawarkan produknya sambil terkikik geli.


" anakku dua cowok semua jeng, yang pertama udah mau lamaran tinggal yang buntut, masih kuliah semester lima" sahut Vera kalem.


Kinan memegang dagu menimang-nimang siapa kira kira yang cocok dijadikan tumbal dalam perjodohan ini. Kalau Melinda jelas tidak mungkin, jesica juga tidak mungkin umurnya masih muda banget. Setelah cap cup cup siapa yang lebih pantas akhirnya Kinan memutuskan Jesica yang harus ditumbalkan.


" baiklah jeng aku akan menjodohkan Jesica dengan putramu yang bontot itu" ucap Kinan yakin, membuat vera juga Melinda yang berdiri di sampingnya terkejut.


" ma.....mama yakin?" tanya Melinda gusar


" yakin banget" jawab Kinan serius


" tapi maa.."


" Ini udah jadi keputusan mama, Mama kepengen menyambung silaturahmi yang udah lama putus. Bukannya begitu jeng Vera? tanya Kinan meminta pendapat Vera.


"Wah niatnya bercanda jadi serius, tapi okelah jeng, kalau Jesica tidak keberatan" Jawab Vera dengan wajah sumringah.


"Tapi ma....!"

__ADS_1


husss diem! komennya nanti aja. lagian kamu mau menggantikan Jesica?"


Jesica menggeleng pelan.


" Ya udah diem, malu diliatin tante Vera" ucap Kinan cepat.


Melinda menatap Mamanya dengan kesal.


"Bener bener nih mama, ga mikirin perasaan Jesica" gerutu Melinda kesal.


Obrolan demi obrolan dua ibu ibu yang menolak tua itu masih berlanjut tanpa ada putusnya kaya rel kereta penghubung antara Jakarta Surabaya. Sedangkan Melinda terlihat bosan mendengar obrolan mereka.


Gimana. nggak bosan coba, dari tadi yang dibahas itu itu mulu, bikin panas kuping. Apalagi sekarang merambah ke dunia selebriti.


"Eh jeng tau nggak ada kabar terbaru lho dari Andin" ujar Kinan bersemangat


"Eh apaan jeng?" balas Vera penasaran.


"Kemarin pas ibunya meninggal Si Billy mantan kekasihnya datang melayat."


"Terus terus jeng!"


"Ya nggak ada terusan nya!, Tapi menurut aku jangan sampai dech mereka bersatu kembali"


"lah kenapa?"


"Ya nggak papa sih jeng, Andin tu lebih cocok sama Mas All."


"eh ngomong ngomong tadi malam gimana kelanjutan cerita Andin dan All, soalnya semalam aku ketiduran jadi ketinggalan ceritanya!.


Duh duh emang ya jaman sekarang kalo ngomongin tentang selebriti ga ada habisnya. Apalagi kedua ibu ibu di depannya merupakan pecinta berat sinetron Ikatan Cinta yang lagi bumming. Awalnya Melinda juga suka dengan tu sinetron, karena berbeda dengan sinetron lain. tapi ternyata sama aja bahkan semakin kesini semakin menyebalkan juga. Menurutnya sinetron Indonesia kurang bermutu dalam penyajian. Selain tidak mendidik juga suka berbelit belit, yang menjadikan ceritanya mencapai beribu-ribu episode.


Melinda menghembuskan nafasnya dengan kesal. Kesal dengan acara yang tak kunjung dimulai. Ini juga hal yang paling ia benci dari orang orang Indonesia. Jam nya ngaret, molornya kepanjangan.


Tapi tak berselang lama terdengar pembawa acara mulai bersuara menghentikan keramaian yang sudah membuat Melinda kesal. Suasana yang tadinya ramai kini berubah gelap senyap sepi mirip kuburan. Lampu yang tadinya benderang diganti dengan cahaya lampu remang remang. Seluruh tamu undangan duduk khidmat di bangku yang telah tersedia.


Sayup sayup mulai terdengar alunan musik klasik bernada romantis menyapa telinga. Semua mata terhipnotis pada pemeran utama yang mulai melangkah dengan elegan ke tengah panggung.


"Mas kamu kok ga pernah seromantis Rey sih" bisik Kinan tepat ditelinga Arman.


"apa sih ma" bisik Arman bloon


"ihh dasar laki laki es" gerutu Kinan kesal.


"apa mama bilang!" tanya Arman kesal


Kinan memberenggut tak menggubris perkataan Arman , fokus pada acara. Sedangkan Melinda terkikik geli melihat tingkah mama dan papanya.


"eistt tunggu dulu, diaa....!" ucap Melinda terkejut. kedua tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Matanya melotot menatap sosok pria yang berdiri di atas panggung itu. Seketika hatinya hancur luluh karena ternyata pujaan hatinya sudah beristri. Selama ini yang dia tahu pujaan hatinya masih single oh ternyata eh ternyata udah beristri, mana ini yang ke sepuluh tahun lagi.


Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan, tapi tidak untuk Melinda, suara tepuk tangan itu seolah olah tengah menertawakan kebodohannya selama ini. Ya gara gara sang pujaan Melinda memutuskan untuk tidak menikah dengan siapapun kecuali dengan dia. Tapi ternyata semua pupus dalam sekejap.


Tanpa suara Melinda beranjak keluar meninggalkan ruang gedung itu. Sedangkan Kinan didalam celingukan mencari batang hidung Anak perempuannya yang tiba tiba raib.


"masssss" desis Kinan panik


"hemmm"

__ADS_1


"Melinda ilang"


"palingan juga pulang duluan ma, ah udahlah Melinda juga udah gede bukan bayi lagi, dia juga udah tau mana rumahnya sendiri" jawab Arman sewot. Ia merasa terganggu karena masih fokus pada sambutan pemilik acara.


Kinan memasang wajah cemberut dan tangannya menarik kulit Arman dan memelintirnya dengan keras. Arman mengaduh kesakitan.


"apa sih ma jangan kaya bocah napa" ucap Arman kesal


"lagian anaknya ilang malah cuek, kalo terjadi apa apa sama Melinda gimana papa mau tanggung jawab?" Isak Kinan lirih


Arman mendesah pelan dan memeluk Kinan dengan mesra.


" udah ma maafin papa, papa salah" ucap Arman pelan


Kinan mendorong tubuh suaminya itu dan mengusap pipinya yang sempat basah oleh air mata.


" Tumben amat nih mesra ,apa karena suasana mendukung jadi agak encer ga lempeng lempeng amat kaya biasanya " guman Kinan dalam hati bukannya senang dia malah bingung dengan sikap Arman yang berubah tiga puluh lima persen.


Tapi sayangnya itu hanya bertahan beberapa menit. Arman kembali lempeng seperti biasa. Kinan pun mendesah kecewa, karena dia sebagai istri juga ingin diperlakukan istimewa oleh suaminya sendiri. Saat saat seperti ini dia hanya gigit jari melihat pasangan lain saling menggenggam tangan. lah ini tangannya cuma ditumpuk di atas paha.


" nasib nasib" gumam kinan pasrah


🌿🌿🌿


Melinda melangkah menuju taman di belakang gedung. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke bangku besi dan menyenderkan punggungnya. Kepalanya tengadah ke atas langit yang tampak gelap., tak ada satupun bintang terlihat.


" kenapa nasib gue gini amat, kesel gue" sungut Melinda gusar


Kedua matanya masih tetap fokus menatap langit. Sedangkan fikirannya masih pusing memikirkan pujaan hatinya.


Tanpa ia sadari sosok seorang pria tengah berdiri tepat disampingnya dengan senyum misterius.


" ngapain elo disini sendiri?" tanya cowok itu


Melinda menoleh cuek tak menjawab pertanyaan pria itu.


" kenalin nama gue Bara" ucap pria itu mengulurkan tangannya.


" Melinda " jawabnya singkat tanpa menerima uluran tangan Bara.


Bara menarik tangannya kembali tersenyum getir. Dan dia memilih ikut duduk di samping Melinda.


" elo suka sama kakak gue ya!" ucap bara penasaran


"ngaco siapa gue ga kenal"


"yakin? kalau enggak kenapa tadi elo langsung pergi saat kakak gue ....."


"diem lo gue ga butuh pendapat dari elo" potong Melinda judes


"apa yang elo liat tak seperti bayangan, ada sesuatu yang elo tidak tahu". bisik bara pelan


"ah udah sana pergi gue lagi pengen sendiri,


hust....hust... sana pergi ganggu orang aja" usir Melinda kesal


Bara beranjak dari bangku dan meninggalkan Melinda dengan segudang pertanyaan di otaknya. Melinda hanya menatap acuh kepergian bara. Ia tak peduli.

__ADS_1


__ADS_2