Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Tragedi


__ADS_3

Dewi menuruni anak tangga dengan sangat cepat. Dia langsung menuju ke kamar Kayla mengambil koper dan memasukkan semua baju baju Kayla kedalam koper. Kayla menatap bingung dengan apa yang dilakukan oleh sang mama


"Mama kita mau kemana sih? kok baju Kayla dimasukkin kedalam koper semua?" tanya Kayla penasaran


"kita akan pergi jauh dari sini sayang, kamu sayangkan sama mama?" tanya Dewi sambil menarik koper Kayla kearah pintu keluar.


"iya Kayla sayang banget sama mama" jawab Kayla sendu


"kalau Kayla sayang sama mama ayo kita berangkat!" sahut Dewi tersenyum miris


Kayla mengangguk, sejenak ia menatap kamarnya dengan wajah sedih, bagaimana tidak dia akan meninggalkan kamar itu demi mengikuti mamanya pergi. Kayla menyambar sebuah boneka beruang besar berwana putih, dan mendekapnya dengan erat. Boneka itu adalah pemberian papanya saat ulang tahun dia yang ke delapan.


Dengan gerakan cepat Kayla dan dewi telah berada di dalam mobil. Kayla menatap rumah megah di depannya dari balik kaca mobil. Terlihat papanya terduduk lemas dilantai menatapnya dengan raut wajah sedih yang sangat mendalam.


"maafin mama sama Kayla ya papa, Semoga papa bahagia sama dedek bayi yang ada di perut Tante Winda. selamat tinggal papa" bisik Kayla sambil melambaikan tangannya dengan gerakan lemah.


Kayla yang masih polos tak tau apa yang telah terjadi pada kedua orang tuanya. Dia hanya bisa menangis mengingat papa mamanya akan berpisah. Sedangkan Dewi tampak cuek fokus menyetir . Selama di perjalanan Kayla terus menangis hingga akhirnya ia tertidur kelelahan karena terlalu banyak menangis.


Waktu telah menunjukkan pukul dua belas malam. Dewi melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, membelah kesunyian jalan yang hanya ditumbuhi pepohonan jati dan semak belukar. Dewi sempat merasa takut karena suasana jalan tampak mencekam dan mengundang bulu kuduknya berdiri, apalagi dia seorang perempuan, menyetir mobil sendirian hanya ditemani putri kecilnya. Namun ia mencoba untuk tetap positif thinking bahwa semua akan baik baik saja.


Dewi menoleh kearah Kayla yang sudah terlelap memeluk boneka besar beruang putih, wajahnya yang polos tampak kelelahan karena terlalu banyak menangis, apalagi kalau bukan menangisi Arya. Dewi berdecak kesal jika mengingat Arya yang telah membuat Kayla dan dirinya seperti ini. Ingin rasanya ia menangis tapi air matanya sudah habis, dan iapun tak akan membuang air matanya secara percuma hanya untuk menangisi seorang laki laki penghianat seperti Arya.


Dewi tertawa miris sambil memukul mukul setir mobil


"hahaha Arya..! bodoh sekali kau, lihat saja nanti setelah kepergianku ini kau akan hancur oleh wanita itu, kau bodoh Arya sangat bodoh kau rela melepaskan permata hanya demi mempertahankan sebuah perunggu"


ucap dewi meracau sambil tertawa seperti orang gila.


Ia benar benar muak untuk mengingat Arya. Dan dia sebagai perempuan juga tak ingin harga dirinya direndahkan hanya untuk mengemis cinta seorang Arya. Sampai kapanpun dia tak akan memaafkan seorang penghianat, baginya sekali penghianat tetap penghianat.


Dewi menatap jalan depan yang hanya diterangi lampu mobilnya, suasana jalan masih tampak mencekam ,hanya ada satu dua mobil yang berlalu lalang itupun dengan kecepatan tinggi.


Dewi kembali menatap putrinya yang masih terlelap memeluk boneka kesayangannya. Dewi menyunggingkan bibir tersenyum. Ia beringsut mendekati Kayla dan mengecup pipi Kayla dengan lembut.

__ADS_1


"Maafin mama ya sayang ,mama terpaksa bawa kamu pergi dari kehidupan papa, mama ga mau kehilangan kamu nak mama sayang sama kamu" gumamnya sambil membelai rambut panjang Kayla.


Karena terlalu fokus Dewi lupa kalau dia sedang menyetir, tanpa disadari mobilnya telah berada di jalur kanan, sebuah truk barang datang dari arah berlawanan. Dewi terkejut dan langsung membanting setir namun naas mobilnya terpelanting dan terguling ke jurang.


Suara jerit seketika terdengar miris membuat siapa yang mendengar menutup telinga. Mobil berwarna silver itu terus terjun bebas ke dalam jurang dan jatuh dengan keadaan terbalik.


Dewi yang masih setengah sadar mencoba merangkak meraba raba sekitar, mencari keberadaan Kayla dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu mobilnya yang tampak semakin meredup. Matanya menangkap sosok tubuh mungil tengah memeluk boneka yang tergelatak di tanah dengan keadaan menggenaskan. Ia menjerit histeris dan memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Ia mengecup kening Kayla, bau anyir darah menusuk hidungnya. Dia meraba tubuh Kayla yang basah oleh darah.


Sedangkan Dewi sendiri dia tidak tahu dirinya sudah seperti apa, rasa sakitnya tak ia rasakan saat melihat tubuh putri kecilnya bersimbah darah.


Dewi merasakan kepalanya berat dan ngilu, ia meraba dan tangannya menyentuh cairan kental, ia mencium cairan itu "darah" ucapnya sambil tertawa.


Dewi menatap nanar ke sekeliling, Ia tak menemukan kehidupan kecuali pohon pohon besar yang tampak mengerikan tengah mengelilingi dirinya dan Kayla.


"Tolongggg.....! tolonggg....! tolongggg...!" teriaknya ketakutan sambil memeluk Kayla dengan erat. Dewi terus mengulang teriakannya namun tak ada satupun yang mendengar teriakannya. Suaranya telah habis dan tenaganya juga terkuras, Dia hanya bisa menangis ketakutan dalam sunyi.


Dan akhirnya dia tak sadar diri karena sakit pada kepala semakin menjadi.


Sedangkan jasad Kayla telah raib entah kemana. Apakah dimakan binatang buas atau diculik jin penguasa jurang itu, tidak ada yang tahu, hanya Tuhanlah yang tahu kita mah ga usah pusing pusing mikirin kemana raibnya Kayla mending mikirin aku gimana guys🙊


 


🍁🍁🍁


 


Di sebuah rumah sakit....


Seorang pria berumur dua puluhan tampak mondar mandir di depan ruang ICU dengan raut wajah gusar, sesekali ia mengacak acak rambutnya dan meremas tangannya dengan keras.


Seorang dokter wanita berpakaian serba putih diikuti oleh dua orang suster dibelakangnya keluar dari ruang itu dan menatap pria yang tengah mondar mandir dengan penampilan yang sangat kacau. "permisi apakah anda saudara dari pasien?" tanya dokter itu keras, karena dia merasa kesal sudah mengulang pertanyaan yang sama untuk ketiga kalinya.


"Eh iya dok saya suaminya" jawab pria itu terkejut menatap dokter yang tiba tiba nongol di depan wajahnya dengan ekspresi melotot kesal. Pria itu tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia melirik pin nama yang terpasang di dada dokter itu " Dr. Alia" gumamnya dalam hati

__ADS_1


"Mari ikut saya ke ruangan" ujar dokter Alia berlalu meninggalkan pria itu yang masih diam mematung.


"Silahkan duduk dulu!" ucap dokter Alia menyilahkan David untuk duduk. David menurut dan langsung mendaratkan pantatnya yang sudah pegal itu ke kursi putar.


"Gimana dok keadaan istri saya?" tanya pria itu menatap serius pada dokter Alia yang masih tampak sibuk mencatat sesuatu di buku besar. Sedangkan dokter Alia hanya menatap sekilas dan melanjutkan mencatat. Pria itu tersenyum miris karena merasa diacuhkan, ia menghembus nafas kesal.


Dokter Alia menaruh buku besarnya bersama tumpukan buku tebal lain yang tampak memenuhi mejanya. Dia menatap pria di depannya yang tampak kesal, dengan seksama ia meneliti setiap lekuk wajah pria itu. Dia tidak percaya jika pria di depannya itu suami dari wanita korban kecelakaan.


"oke dengan bapak siapa?" tanya dokter Alia kalem


"David dok" jawab pria itu tersenyum kecut. Ia merasa risih di panggil bapak karena mengingat umurnya yang masih sangat muda.


"gue kan belum nikah kenapa gue dipanggil bapak sih, emang gue terlihat begitu tua ya, kalau iya sebentar lagi gue mati donk, ehh jangan gue belum ngerasain nikah belum ngerasain indahnya malam pertama, ngerasain enaknya dilayani istri. gak gak gue masih muda kok dan umur gue juga masih panjang, jadi gak mungkin gue secepat itu akan mati kecuali kalau gue minum obat nyamuk sampai mulut berbusa atau mendadak ketabrak kereta" gerutunya sambil ngedumel dalam hati. hahaha sepertinya dia lupa dengan apa yang telah diucapkannya, dasar pikun!"


Dokter Alia tersenyum melihat ekspresi David, terbongkar sudah kalau sebenarnya David bukan suami dari korban.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya David sedikit kesal karena harus mengulang ulang pertanyaan yang sama.


"istri bapak sekarang dalam keadaan kritis, dan sekarang dia koma" jawab dokter Alia menatap David serius


David membulatkan matanya melotot menatap dokter Alia terkejut. "Ampun dach cobaan apalagi ini , kenapa nasib gue gini amat sih , gara gara wanita itu gue jadi sengsara" human david menyesali diri.


Dia bingung harus bagaimana, sedangkan ia tidak mengenal korban kecelakaan di tepi jurang malam itu. Ia merasa khawatir dengan wanita itu.


"Dan kondisi istri bapak cukup parah, dia mengalami benturan yang sangat keras pada kepala bagian belakang dan ini juga menyebabkan istri bapak amnesia, Bapak sebagai suaminya harus membantu mengembalikan ingatannya yang hilang tujuh puluh persen" ucap dokter Alia panjang lebar


David memijit keningnya yang tiba tiba mendadak kram, dia benar benar frustasi dan hampir gila untung ga gila beneran bisa bisa dia jadi penghuni rumah sakit jiwa kalau hal itu terjadi. Niat hati hanya ingin menolong malah sekarang ia harus membantu wanita tak dikenal itu untuk mengembalikan ingatannya. Bagaimana dia bisa mengembalikan ingatan wanita itu sedangkan dia tak tau siapa wanita itu dan bagaimana kehidupannya dimasa lalu. David tersenyum kecut. "Baik dok saya akan membantunya" kata David datar


"Kalo tahu gini tadi gue bilang bukan siapa siapa cuma nemu di jurang terus dia bawa kesini, ah bodoh kau vid" gerutu David meruntuki kebodohannya.


David berjalan menyusuri lorong lorong sunyi dengan langkah gontai plus penampilannya yang kusut. Sudah satu hari satu malam ia mendekam di rumah sakit itu hanya demi seorang wanita tak dikenalnya.


Langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang ICU. Dia menatap getir wanita yang tengah terbaring lemah dengan tubuh yang dipenuhi oleh perban dan juga selang selang besar yang tampak menempel memenuhi tubuhnya itu. David bergidik ngeri melihatnya. Dia melihat bagaimana wanita itu mengalami nasib yang menggenaskan saat itu.

__ADS_1


__ADS_2