Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Simpang Empat


__ADS_3

"Guys sepulang sekolah ngamen yuk, lumayan nanti uangnya bisa buat nyumbang korban bencana Nusa Tenggara!" ucap Dilan sambil memilin tissue bekas ditangannya.


"ide bagus tuh, tumben jiwa sosial Lo muncul!" cibir Jhondy heran, karena sebelumnya Dilan itu tipe orang yang cuek dengan lingkungan sekitar.


"Yeww gini gini gua juga manusia kali, punya hati punya perasaan, punya rasa perikemanusiaan. Dan gue tu paling enggak tega lihat orang yang lagi kesusahan. Jiwa sosial gue sebenernya tinggi cuma kalian aja yang enggak tau. Kalian cuma tau dari kulitnya aja tapi enggak tau isinya. Ya bukannya gue mau sombong atau mau pamer ke kalian, tapi itulah kenyataannya. Apalagi kehidupan gue yang dibilang lebih dari cukup, membuat hati gue slalu terketuk untuk membantu orang yang tengah membutuhkan uluran tangan kita".


"Masakkk!!" ledek Vanda


"la gue tiap hari menderita kelaparan..! tapi elo enggak peduli sama gue!" tambahnya lagi seraya memajukan bibir beberapa centi ke depan.


"Apa Lo bilang! Dih ogah gue nraktir badak hamil!" tolak Dilan seraya melempar senyum sinis


"halah ngomong aja kere, dasar kere tapi banyak lagak!" sahut Vanda ketus, sebal dikatai badak hamil.


"Gajah hamil!" cibir Dilan


"cowok kereeeeeeee!!" balas Vanda tak mau kalah


"Badan udah kek gajah hamil makan mulu kerjanya, udah gendut item jelek, sok cantik lagi!" sahut Dilan sengit


"Stoppppp! kuping gue gatel denger kalian ribut. Udah pada tua ribut mulu kek anak kecil tau nggak!, elo lagi jadi cowok kok rempong amat udah kaya emak emak nagih utang telat tiga bulan." teriak Tristan menengahi


" mungkin kalian jodoh!" celetuk Jesica pelan


" Oh no! I don't want this to happen!!! kagak Sudi gua jodohan sama gajah bengkak !"


" Jangan terlalu benci sama dia Lan! apalagi gara gara fisik. Fisik kapan aja bisa berubah, remember physical can change anytime. Don't use it as a benchmark".


"bodoamat! karung beras ya karung beras". ucap Dilan pongah


PLUUKKK


Saos sambal itu mendarat tepat mengenai mulut Dilan yang masih nyerocos kaya rel kereta. Heran laki laki kok mulutnya lemes.


"Rasain! makanya jangan sok ganteng!" cibir Vanda tertawa puas. Puas karena udah membungkam mulut lemes itu dengan sambal satu sendok.


"Eh gimana lanjutan nya?" tanya Jhondy mencoba kembali ke pembicaraan awal yang sempat terjeda.


" Hemz lumayan juga buat ngisi waktu kita yang kosong ini, biar ada kerjaan yang berfaedah, daripada rebahan di kamar sambil mijitin hp ga jelas. Itung itung refreshing otak biar besok pas kita tempur semuanya lolos dengan nilai baik " sahut Tristan bersemangat disambut teriak Aamiin dari yang lain.


"Sippp!! nanti kita mangkal di simpang empat depan SMA". ujar Vanda memberi saran


"Boleh, lebih dekat lebih baik, jadi kita ga repot. jawab Jhondy setuju.


"Oke sekarang bagi tugas. Tristan gitaris, gue drumm , Vanda pembawa kencreng, Jhondy vokalis, Sita sebagai penari latar, dan yang terakhir Cyka pembawa kotak sumbangan. Gimana ada yang keberatan ?" Tanya Dilan


"enggak ada" jawab mereka serentak.


Selang beberapa menit kemudian mereka sudah berada di pinggir jalan menuju simpang empat yang hanya tinggal beberapa meter. Kehadiran mereka mengundang perhatian pengguna lalu lintas. Pasalnya mereka masih menggunakan seragam dengan menenteng alat musik.


Sesampai di simpang empat mereka langsung melancarkan aksinya. Suara lagu dan dentuman musik mulai terdengar mengalun memenuhi jalan.


Kalau cinta sudah di buang


Jangan harap keadilan akan datang


Kesedihan hanya tontonan


Bagi mereka yang diperkuda jabatan

__ADS_1


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Sabar sabar sabar dan tunggu


Itu jawaban yang kami terima


Ternyata kita harus ke jalan


Robohkan setan yang berdiri mengangkang


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Penindasan serta kesewenang wenangan


Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan


Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan


Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan


Dijalanan kami sandarkan cita cita


Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya


Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta


Oh oh


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Oh oh ya oh ya oh ya bongkar


Kok bisa?


Bisa kok!


Jhondy terus melantunkan tembang lawas tersebut dengan semangat empat lima. Suaranya yang indah berhasil menghipnotis para penonton. Bahkan ada beberapa yang sampai merinding karenanya. Jhondy sebelumnya merupakan vokalis grup band bergenre rock. Ditambah suaranya yang serak serak basah menambah nilai plus, jadi kalau denger dia nyanyi kaya seksi seksi gimana gitu hehehe.


Suasana simpang empat tampak ramai oleh barisan motor dan mobil yang berjajar rapi menunggu lampu hijau. Jesica dengan langkah cepat menyodorkan kotak kardus dengan tulisan sumbang dana untuk NNT kearah mereka. Tentunya dengan senyum Pepsodent.


TOK TOK TOK


Jemari Jesica mengetuk kaca jendela sebuah mobil mewah dengan pelan. Si empu mobil membuka kaca jendela mobilnya dan menatap Jesica angkuh seraya melempar beberapa lembar uang berwana merah ke wajah Jesica.


Jesica terkejut diperlakukan seperti itu. Penghinaan itu namanya. Ia menggelengkan kepala, lalu memunguti uang yang berceceran jatuh di atas aspal itu. Mulutnya tak berhenti ngedumel menyumpahi Orang tadi.


setelah semua terpungut Jesica kembali berdiri dan menatap Si angkuh dengan tajam.

__ADS_1


" Nich Tan... aku kembalikan, karena kami tak butuh pemberian yang didasari dengan ketidakikhlasan" cerca Jesica seraya melempar uang itu kembali tepat ke wajah si Tante Angkuh itu.


" Kurang ajar, anak kecil gak ada sopan santunnya sama orang tua!" hardik Tante angkuh itu melotot kesal ke arah Jesica


"Hahaha yang tuapun gak ada sopan santun sama yang kecil, harusnya yang tua jadi panutan jadi kalo saya tidak sopan jangan salahkan saya karena andapun tak ada sopan sopannya dengan saya. Pengen dihargai tapi sama orang lain gak pernah menghargai!" sahut Jesica memutar bola mata jengah


"Dasar tengil sudah baik aku beri uang ini tapi kau menolak, dan kamu malah cari masalah denganku, rupanya kamu belum tau siapa saya hah?!" gertaknya marah


"Sombong sekali anda, jangan mentang mentang kaya bisa menginjak injak orang kecil, dan terserah mau siapapun anda saya tidak peduli" cibir Jesica melirik sinis


Si Tante angkuh terlihat mulai kesal dan naik pitam ingin menantang duel Jesica. Tapi untung ada suami disampingnya yang berusaha menenangkannya.


" Winda,sayang! udah abaikan dia, bisa bisa kau jadi gila hanya karena meladeni orang ga penting kaya dia". ujar laki laki disampingnya dengan lembut. Sepertinya itu suaminya.


Disisi lain Jesica menatap si pria yang duduk di samping Tante angkuh itu dengan dahi berkerut. Wajah itu ? kenapa mirip sekali dengan...... ah mungkin perasaanku saja" batin Jesica terus menatap istri si angkuh tanpa berkedip.


"Kamu benar mas, kita bisa gila hanya karena meladeni anak ingusan kaya dia". ucap Si Tante angkuh seraya melempar wajah sinis ke Jesica.


"Istrinya siapa dulu gitu loh!"


"Ya istrikulah masak Paijo!" jawab sang suami terkekeh menggoda si Tante angkuh


"Hey ngapain masih berdiri disini hust..... hust.... hust.... sana pergi" ucap si Tante angkuh seraya mengibas ngibaskan tangannya mengusir Jesica untuk menjauh, lalu menutup kaca jendela mobilnya tetapi sebelumnya ia melempar senyum mengejek ke arah Jesica yang masih diam mematung. Hingga akhirnya mobil mewah itu berlalu pergi.


sebuah tangan mendarat dipundaknya membuat ia terkejut, hampir saja ia melempar kardus itu ke sembarang tempat. Ia menoleh ke pemilik tangan itu yang ternyata milik Vanda pantesan kok empuk kaya kasur. kayaknya enak tuh buat bantal hehehe.


"Elo nggak papa Cyk?" tanya Vanda dengan wajah serius


"Gue nggak papa kok!" jawab Jesica tersenyum


"Tapi tadi gue lihat elo dica...."


"Iya, tapi gue baik baik aja kok!" potong Jesica cepat seraya mencubit pipi chubby Vanda yang tiba tiba menggemaskan.


"ah sakit Cyk!" rintih Vanda cemberut


"hehehe pipi Lo empuk gemesin!"


"emang gue gemesin kok!"


"njirrrr kegeeran Lo!" cibir Jesica seraya menjulurkan lidahnya ke depan.


"Cyk elo tau nggak orang yang tadi marah marah sama kamu?" tanya Vanda dengan wajah serius


"enggak emang kenapa?"


" Masa nggak tau!, dia itu model terkenal yang udah go internasional tauk!"


"oh terus hubungannya sama gue apa" sahut Jesica cuek seraya menggoyang goyangkan kardus ditangannya.


"Dia itu Windata Alexsa model cantik kelas internasional yang wajahnya mirip elo!" ucap Vanda dengan nada hati hati takut Jesica tersinggung


"Ah masak, enggak ah, nggak sudi gue dikembarin sama Tante angkuh itu. Dan gue nggak mau wajah gue ada yang ngembarin, dikira ikut ikutan nanti, padahal gue dari dulu emang kayak gini. Gue paling nggak suka dibilang mirip sama orang, gue ya gue bukan orang". sahut Jesica tegas


"iya iya maaf!" ucap Vanda menunduk serba salah


"Hem ya udah lanjut lagi yok! anak anak yang lain pada kemana?"


"itu lagi istirahat di bangku" ucap Vanda seraya berjalan menuju sekawanan anak berseragam yang tengah duduk tepar di bangku pinggir jalan.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁


__ADS_2