Ayah Tiriku

Ayah Tiriku
Terakhir kali


__ADS_3

Dewi menatap perempuan yang tengah duduk di samping suaminya dengan tatapan siap menerkam dan membunuh wanita itu dengan ganas. Ingin sekali tangannya itu mencakar tubuh wanita itu hingga hancur. Tapi dia hanya bisa diam mematung tak mampu berbuat apa-apa, seketika tubuhnya terasa kaku dan mengeras, lidahnya juga terasa kelu. Hanya air mata yang menjadi saksi luka hatinya.


Dewi membalikkan badan berlari menuju kamar dan membanting pintu dengan keras. Dia sudah tak peduli dengan teriakan Arya yang terus memanggilnya dari balik pintu kamar. Dewi terduduk menangis di atas lantai, penampilannya yang semula cantik sekarang telah berganti rupa menjadi menakutkan. Dia benar benar hancur harus menerima kenyataan pahit itu. Entahlah apakah dia sanggup untuk bertahan atau mundur secara perlahan. Untuk saat ini dia hanya bisa menangis.


Arya berdiri tegak di depan pintu yang terkunci dari dalam. Dia tak berani memanggil nama istrinya itu ataupun sekedar mengetuk pintu. Dia benar benar bingung harus berbuat apa. Dia sadar dirinya salah , ia telah melakukan kesalahan besar, mengkhianati istrinya dan memilih wanita lain sebagai pelampiasan nafsunya. Tapi semua ini di luar kemampuannya, ia tak kuasa menolak pesona Winda yang sudah memikat hatinya. Arya menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Dew...maafin mas, mas tau mas salah tolong maafin mas!" ujar Arya gugup


Dewi menghentikan tangisnya dan mengelap air matanya menggunakan jemari. Dia menutup kedua telinga tak ingin mendengar penjelasan dari mulut Arya. Semua itu percuma, apapun alasannya ia tak akan mau mendengarnya. Dewi membuang muka muak.


"ngapain kamu kesini mas , pergi sana kamu urus wanita simpananmu itu" jawab Dewi sinis dengan menekan kata wanita simpanan.


"Aku tahu aku salah tapi kamu jangan bawa bawa dia, dia tidak salah. disini yang salah aku dew bukan dia ". kata Arya sedikit kasar


"ooo jadi kamu belain dia daripada aku istri kamu sendiri?" teriak Dewi dari balik pintu dengan sinis


Arya mengacak rambutnya dengan kasar "arggghhh" teriak Arya sambil mengepalkan tangan.


Dewi beranjak bangun dan melangkah gontai menuju jendela kaca dan bersandar di dinding sambil menatap luar yang terlihat gelap.Tiada satupun bulan maupun bintang yang bersinar kecuali awan hitam berwarna gelap yang menambah suasana semakin kelam sekelam hatinya saat ini. Dewi terhanyut menatap langit yang tampak mendung , ia tersenyum miris seolah alam pun ikut berduka cita atas duka yang menimpa dirinya.


"Kenapa kamu tega mas, kamu tega mengkhianatiku, apa salahku apa dosaku...hingga kau tega menyakiti.. ?" tanya Dewi sedih (upss udah kaya lirik lagu aja)


Arya yang masih berdiri di balik daun pintu merasa khawatir karena ia tak mendengar suara Dewi. Takut terjadi sesuatu pada Dewi, Arya mendobrak secara paksa pintu kamar itu.


Brakkk.... kluntinggg.... !!!


suara daun pintu dan baut yang terlepas dari engselnya terdengar melukai lantai kamar. Dewi yang masih sibuk dengan pikirannya terkejut dan menatap pintu kamar yang telah tergeletak dilantai dengan kondisi yang sangat menggenaskan.


setelah pintu itu tergeletak berdamai dengan lantai Arya langsung menerobos masuk kedalam kamar dan menemukan Dewi tengah bersandar pada dinding kaca menatap pintu yang telah ia dobrak tadi dengan wajah tak suka.


Arya berjalan melangkah mendekati Dewi. Namun baru beberapa langkah Dewi berteriak


"stopp berdiri disitu dan jangan mendekat..! kalau tidak aku akan terjun kebawah sana" teriak Dewi dengan lantang. Arya terpaksa berdiri ditempat takut Dewi benar benar akan melakukan apa yang barusan ia katakan.


Arya menatap Dewi dengan tampang memelas melebihi tampang seorang pengemis yang kelaparan tak pernah makan selama berhari hari.


"Stop jangan memperlihatkan wajah palsumu itu padaku, sampai kapanpun aku tak akan pernah percaya lagi dengan apa yang kau katakan. dan kamu harus ingat Arya sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan mu" ucap Dewi lantang dengan nada penuh penekan pada setiap kata.

__ADS_1


"Sayang maafkan aku, aku khilaf sayang, aku memang bodoh aku memang suami tak berguna" kata Arya dengan suara serak.


Tanpa aba aba Arya berlari kearah Dewi dan langsung bersujud mencium kaki Dewi Apapun akan dia lakukan termasuk bersujud di kaki Dewi sekalipun.


Dewi berdecak kesal memandang tubuh Arya yang tengah bersujud di bawah kakinya. "Berdiri kamu !" perintahnya dengan kasar


Arya berdiri dan memandang wajah sang istri. Arya mendekatkan wajahnya dan ******* bibir Dewi dengan rakus . Dewi yang terkejut dengan serangan Arya mencoba meronta melepaskan diri, namun kekuatan Arya terlalu kokoh. Dan akhirnya dia hanya diam membisu menahan amarah yang telah memenuhi ubun ubunnya dan siap meletus.


Dewi mencakar punggung Arya karena kehabisan nafas namun Arya tampak tak peduli, dia terlihat kesetanan. Dewi terus mencakar punggung Arya hingga kemeja yang dipakai Arya sobek sobek.


"Mas lepaskan!" teriak Dewi marah


Arya menghentikan aksinya dan menatap wajah Dewi yang begitu dekat tanpa penghalang. Ia menatap bola mata Dewi yang tampak memerah menahan amarah yang sudah tak terbendung.


" Jangan pernah lakukan ini lagi, aku tak sudi untuk kau sentuh, aku telah jijik dengan tubuhmu itu yang telah kau kotori dengan keringat noda perzinahan !" ucapnya sambil mendorong dada Arya dengan keras hingga membuat Arya terjungkal ke lantai


"Dew maafkan aku , tolong beri aku satu kesempatan lagi, aku janji aku akan menebus dan memperbaiki semua kesalahanku!" pinta Arya dengan suara menahan tangis


Dewi tersenyum samar "aku telah memaafkan mu kok mas tapi..." ucap Dewi menggantung


"tapi apa dew?" tanya Arya cemas


"Gak aku gak mau.. ini ga boleh terjadi dan itu tak akan pernah terjadi" tolak Arya keras


"Terserah jika itu keputusanmu, tapi keputusanku sudah bulat, nasi telah menjadi bubur semua telah terlanjur dan sekarang kamu terima akibat dari perbuatanmu, ingat laki laki yang baik adalah laki laki yang bertanggung jawab bukan malah lari dari tanggung jawab, dan kamu telah berbuat kesalahan maka tebuslah kesalahanmu itu jangan jadi pria pengecut, biar bagaimanapun juga anak yang ada dalam rahim wanita simpananmu itu adalah darah dagingmu buah hasil dari perzinahan kalian. kamu telah berdosa menghadirkan anak itu dengan cara yang tidak halal. Dan jangan menambah dosamu itu dengan menelantarkan dia.!"ucap Dewi panjang kali lebar sambil beranjak menuju almari dan mengambil koper besar berwana hitam. Dewi langsung memasukkan semua baju baju kedalam koper besar itu, tidak lupa juga peralatan make up di meja rias ia campur aduk menjadi satu bersama pakaian kedalam koper.


"Tapi mas tak mau kalau harus menceraikanmu" kata Arya tertekan dan semakin tertekan saat melihat Dewi mengemasi barang barangnya dan memasukkannya kedalam koper besar


"kenapa tidak bukankah ini yang kamu inginkan? kau sudah mengotori pernikahan kita dengan benih yang ada dalam rahim wanita simpananmu itu!" sahut Dewi dengan sinis dan melangkah menuju kamar mandi.


"Cukup hentikan jangan kau sebut dia wanita simpanan!" teriak Arya marah. Entah mengapa Arya tak rela jika Winda dikatakan wanita simpanan walaupun itu istrinya sendiri.


Dewi tertawa frustasi" hahahaha cihhhh sebegitu cintakah kau pada pelakor itu" kata Dewi sambil membuang ludah di lantai


Arya menatap kosong ke arah Dewi. Dia benar benar dihadapkan dua pilihan yang sulit. Di satu sisi dia sangat mencintai Winda apalagi Winda tengah mengandung anaknya, tapi di satu sisi dia juga mencinta Dewi istri yang telah setia menemaninya dari nol hingga sukses sampai sekarang. Istri yang selalu menemani nya disaat suka maupun duka


Arya menjambak rambutnya dengan kasar , dia merasa pria paling bodoh karena telah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya.

__ADS_1


Kesalahan yang akan membuat ia melepaskan sesuatu yang sangat berharga.


"apa tidak ada pilihan lain" tawar Arya kecewa


Dewi tersenyum dan menggeleng tanda tak ada pilihan lain.


"Dan satu lagi ini adalah malam terakhir pertemuan kita setelah itu aku akan pergi dan tak akan pernah kembali, dan jangan pernah mencariku apapun itu alasannya, Dewi menjeda ucapannya menarik nafas yang terasa sesak.


"dan setelah ini kau bebas, bersenang senanglah dengan wanita simpananmu itu" ucap Dewi berlalu masuk ke kamar mandi.


Sepasang mata menatap kamar itu dengan senyum puas. Akhirnya dia bisa memiliki Arya sepenuhnya tanpa harus jadi istri kedua, lagipula dia juga tak mau harus menjadi istri selingannya Arya. Dan yang lebih menyenangkan dia tak harus bersusah payah memisahkan mereka berdua.


"Tunggu waktu mainnya mas aryaku sayang, aku akan membuatmu melupakan istrimu yang sialan itu dan aku akan membuatmu hanya mencintaiku sepenuhnya". bisik Winda sambil menyeringai licik dan berlalu meninggalkan tempat itu.


Sedangkan di dalam kamar Arya masih berdiri mematung menatap nanar pada Dewi yang sibuk memakai jaket dan sepatu.


"kamu mau kemana dew jangan tinggalin mas! kata Arya sedih


"Sudahlah jangan bersikap seperti anak kecil kau!" jawab Dewi ketus.


"baiklah tapi katakan kamu mau kemana?" tanya Arya kecewa


"terserah aku mau kemana dan itu bukan urusanmu lagi, lebih baik kau urusi saja wanita calon istrimu itu" jawab Dewi lagi lagi dengan nada ketus


"Tapi ini rumahmu Dew kenapa kamu malah meninggalkan rumah ini" kata Arya frustasi


"oh maaf aku kembalikan rumah pemberianmu ini dan berikanlah pada istri barumu itu karena kita sudah bukan siapa siapa lagi" sahut Dewi sambil menyeret kopernya menuju pintu keluar.


"Dan aku juga mau bawa Kayla pergi! sampai jumpai di pengadilan tuan Arya, selamat tinggal" kata Dewi sambil berlalu meninggalkan Arya yang masih terdiam mencerna ucapan Dewi. Setelah sadar dia langsung beranjak mengejar Dewi menuruni tangga dengan cepat. Dia sangat takut kehilangan dua orang yang ia cintai melebihi apapun.


Namun sayang Dewi dan Kayla telah masuk ke dalam mobil dan pergi berlalu meninggalkan rumah mewah itu. Arya menatap nanar mobil istrinya yang semakin menjauh. Sesal dan maaf tak mampu menghalangi Dewi untuk tetap berada di sisinya.


"Maafkan aku sayang aku telah melukaimu dan Kayla. bisik Arya lirih


 


🌿🌿🌿

__ADS_1


 


__ADS_2